Senin, 30 Maret 2015

I Swear Baby



Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Park Jimin (BTS), Suga (BTS), Seo Dana, Krystal Jung (f(x))
Genre : Hurt romance
Rating : Maybe teen

“Jiminnie aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Krystal.
“Oh, kau ingin mengatakan apa noona?” Jimin.
“Aku ingin memutuskan hubungan kita.” Krystal.
“Mwo?? Wae Noona? Memangnya kenapa denganku sampai kau ingin putus denganku?” Jimin polos.
“Aku tidak mau mempunyai namja anak kecil sepertimu, aku ingin mempunyai namja yang dewasa daripada aku.” Krystal.
“Tapi Noona, berikan aku kesempatan sekali lagi. Aku akan mengubah sikapku menjadi namja yang dewasa.” Jimin.
“Aniya, sudah terlambat! Kau pergilah dan cari yeoja lain.” Lalu Krystal beranjak dari tempat duduk dan meninggalkan Jimin.
“Noona chakkaman!!” Jimin berlari menuju Krystal dan memegang tangan Krystal.
“Lepaskan tanganku Jimin, enyahlah!!” Krystal.
“Shiro!! Noona berikan aku kesempatan satu kali lagi.” Jimin sambil duduk tersungkur. Tapi Krystal tidak menghiraukan dan tetap berjalan meninggalkan Jimin di antara turunya salju dimalam itu.
~1 bulan kemudian~
“Oppa nanti kita pulang akan makan apa? Ramen?” Dana.
“Hm, Ne aku nanti akan membuatkanmu ramen.” Suga.
“Jinjja Oppa?” Dana, lalu Oppanya menganggukkan kepalanya.
“Oppa, apa kau punya yeoja?” Dana sambil berjalan dengan Oppa.
“Ne, wae? Apa kau cemburu?” Suga.
“Jinjja?? Oppa teryata kau punya yeoja? Sepertinya aku akan cemburu.” Dana.
“Ya’, masak kau suka dengan Oppamu sendiri?” Suga sambil mengacak-acak rambut dongsaengnya itu.
“Aniya Oppa, aku tidak menyukaimu. Bahkan aku sendiri juga mempunyai namja.” Ejek Dana.
“Jinjja, yeoja sepertimu juga mempunyai namja?” Ejek Oppanya balik.
“Oppa!!!” Dana sambil memasang wajah marahnya.
“Apa kau punya fotonya? Aku ingin melihatnya.” Suga.
“Ne aku punya.” Lalu Dana mengambil ponsel didalam jas sakunya dan memperlihatkan foto namjanya.
Lalu Oppanya mendekatkan dirinya ke Dongsaengnya “Oh, kau serasi dengannya.” Suga.
“Jinjja? Gumawo.” Dana.
~Keesokan Harinya~
“Danaya…” Panggil seorang namja, lalu Dana dan Oppanya membalikkan badannya.
Lalu Namja itu langsung memeluk Dana “Jiminnie…” Dana sambil tersenyum.
“Omo, apa aku akan menjadi obat nyamuk untuk kalian” Suga. Dana dan Jimin tersenyum.
“Kalau gitu nanti selepas pulang sekolah kita adakan makan malam, kalian nanti pulanglah dulu. Aku akan mengajak yeojaku.” Suga.
Sesampainya didepan rumah Dana dan Jimin seketika berhenti. Lalu Suga dan yeojanya juga berada didepan rumah.
“Krystal Noona?” Jimin terkejut.
Lalu Krytal agak memalingkan wajahnya.
“Apa kalian sebelumnya sudah saling kenal?” Suga.
“Aniya, aku tidak mengenalnya. Mungkin dia salah mengenali seseorang.” Jelas Krystal.
“Oh, kalau gitu kenalkan Jimin namjaku. Dan neon?” Dana.
“Dan kenalkan Krystal yeojaku.” Suga, mereka saling mengenalkan. Lalu mereka semua masuk kedalam rumah.
~Saat dimeja makan~
Jimin duduk berhadapan dengan Krystal. Begitu juga dengan Dana yang berada disamping Jimin, yang duduk berhadapan dengan Oppanya sendiri.
Jimin terus saja melihat kearah Krystal tanpa henti saat Krystal memakan makanan yang disediakan, minum, dan bercanda dengan Suga. Jimin tetap saja melihat Krystal dan Danapun menoleh kearah Jimin lalu ke Krystal. Dana mulai merasakan hal yang aneh pada malam itu.
“Jimin…” Panggil Dana sambil menepuk pundak Jimin. Tetapi Jimin masih saja melihat kearah Krystal.
Lalu Dana memanggil Jimin lagi “Jiminnie…” Dana. Tetapi tetap saja Jimin tidak menghiraukannya.
Dan Dana memanggil Jimin berulang kali tapi tetap saja tidak dihiraukan lalu Dana mengambil segelas air dan menyiramkannya ke Jimin. Dan Dana meninggalkan mereka begitu saja.
“Dana…” Jimin sambil membersihkan air diwajahnya dan mengikuti Dana.
~1 Minggu kenudia~
Mereka ber-4 selalu saja bersama dimanapun mereka dan disaat apapun mereka selalu bersama.
“Jiminnie, bisakah kita nanti pergi keperpustakaan kota? Bukankah kita ada tugas?” Dana dari telphone.
“Ne, aku akan menemanimu..” Jimin.
“Gumawo, changiya. Nanti aku tunggu kau didepan perpustakaan kota jam 4 sore, Arra?” Dana.
Sementara itu Jimin sedang perjalanan menuju ke perpustakaan, lalu tiba-tiba ponsel Jimin berdering dan…
“Krystal Noona?? Wae dia melphoneku?” Jimin, lalu Jimin mengangkat telphone dari Krystal.
“Wae Noona?” Angkat Jimin.
“Jimin tolong datanglah ke taman kota, aku membutuhkanmu.” Krystal.
“Tapi…” Jimin.
“Tolonglah Jimin, bantulah aku.” Krystal. Lalu Jimin pergi menuju ke krystal.
Dana telah menunggu Jimin berjam-jam, Dana mulai melihat jam tangan yang ia pakai dan ia mulai merasa bosan untuk menunggu. Lalu Dana menundukkan kepalanya dan menolehkan kepalanya ke kakanan dan kekiri serta kedepan tapi…
“Bukankah itu Jimin? Tapi siapa yang menyandarkan kepalanya ke pundak Jimin itu?” Dana.
“Aniya, pasti itu bukan Jimin.” Dana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Tapi bukankah itu topi musim dingin yang aku berikan kepada Jimin.” Dana sambil menggigit kukunya lalu Dana berjalan menyebrang Jalan tanpa melihat keadaan sekitarnya.
Dan terus saja berjalan, setelah itu sampailah Dana. Sesampainya Dana disana namja yang dikira Jimin oleh Dana mengusap-usap kepala yeoja yang menyandarkan kepala dipundaknya sambil tertawa bersama yeoja itu.
Lalu Dana memegang pundak namja itu dan setelah namja itu menoleh betapa terkejutnya Dana, apa yang diduga Dana selama ini benar.
“Dana…” Krystal. Dana menutupi mulutnya degan kedua tangannya karna terkejut.
“Apa yang aku lihat ini benar?” Dana. Seketika air mata Dana terjatuh begitu saja, Lalu Dana berlari meninggalkan Jimin.
***
“Dana, kajja bogo.” Ajak Oppanya yang berdiri didepan pintu kamar Dana. Tapi Dana tidak menjawab ajakan Oppanya.
“Oh, tidak dikunci?” Suga.
“Dana, kajja bogo…. Wae?? Kenapa kau mematikan lampu kamarmu?” Suga. Dana masih saja tidak menjawab lalu Oppanya menyalakan lampu kamar dongsaengnya itu.
“Mwo? Neon Gwenchana?” Suga sambil mengusap-usap kening dongsaengnya.
“Oppa Jimin mmenyakitiku.” Dana sambil mengusap air matanya.
“Mwo? Menyakitimu bagaimana?” Suga. Lalu Dana menbangunkan badannya.
“Dengan yeojamu Oppa, Krystal Eonni. Aku tadi sedang ada janji dengan Jimin dan aku sudah menunggunya sangat lama lalu aku tidak salah melihat Jimin, awalnya aku kira itu bukan Jimin tapi setelah aku mendekatinya dia sedang bersama Krystal Eonni yeojamu sendiri.” Jelas Dana.
“Dana, apa yang kau katakan. Tarik kembali semua perkataanmu. Tidak mungkin krystal melakukan semua itu kepadaku dia sangat baik.” Suga.
“Lalu Oppa, apa menurutmu aku ini gila bisa menangis seperti ini?” Dana.
“Tapi aku tidak percaya kalau Krystal melakukan hal seperti itu.” Suga.
“Aku bersumpah Oppa, semua yang aku katakan ini benar.” Dana.
“Tapi ini bukanlah bukti Dana.” Suga.
“Lebih baik Oppa keluar dari kamarku.” Dana.
~Keesokan harinya~
Dana duduk sendirian ditaman sekolahannya, Dana masih memikirkan hal kemarin yang selalu menghantui pikirannya.
“Danaya, ini minuman untukmu.” Jimin yang tiba-tiba memberikan minuman kaleng diantara tangan Dana.
Lalu Dana membuangnya dan beranjak dari tempat duduknya.
“Dana hanjiman, tolong dengarkan penjelasanku.” Jimin sambil memegang tangan Dana.
“Apa yang harus dijelaskan lagi?” Dana.
“Sebenarnya kemarin aku sedang perjalanan ke perpustakaan dan tiba-tiba Krystal noona menelphoneku dan butuh batuanku.” Jimin.
“Apa membutuh bantuan harus kedirimu Jimin, lalu bagaimana dengan namjanya? Apa gunanya mempunyai namja kalau dia membutuhkan bantuanmu? Jimin apa kau tahu aku telah menunggumu disana begitu lama dan hampir mati kedinginan. Apa kau tak tahu setelah aku menunggumu disana begitu lama dan melihatmu dengannya? Aku begitu kecewa denganmu Jimin.” Dana yang jatuh tersungkur.
“Aku begitu tulus mencintaimu bahkan menyukaimu tapi apa balasmu? Ini semua?” Dana sambil mengusap air matanya.
Tiba-tiba Suga Oppanya melihat semua kejadian itu.
“Mianhae Dana, sebenarnya aku telah melupakan masa laluku. Aku sudah berusaha untuk melupakannya.” Jimin menjajarkan dirinya sama dengan Dana.
“Mwo? Lantas apa yang kau sembunyikan dariku?” Dana.
“Sebenarnya aku adalah mantan namja krystal Noona, dia dulu memutuskanku karna dia tidak mau mempunyai namja yang kekanak-kanakan sepertiku ini.” Jimin.
“Mwo?? jadi Jimin namja dongsaengku sendiri dulu adalah mantan namja yeojaku sendiri? Tapi dia tidak pernah bilang kepadaku kalau dulu dia pernah punya namja selain aku. Dan katanya akulah namja yang pertama kali mendapatkan hatinya.” Bantin Suga.
*PLAK* “Kenapa kau menyembunyikannya dariku Jimin?” Dana. Lalu Dana beranjak dan berjalan, tapi itu dicegah oleh Jimin.
“Mwo?? Dana menampar Jimin?” Batin Suga yang bersembunyi tidak jauh dari Dana dan Jimin.
“Aniya, Dana aku sudah melupakannya. Dia merupakan masa laluku, aku tidak mau mengungkit-ungkitnya itu sangat sakit.” Jimin yang memeluk Dana dari belakang.
“Tolong maafkanlah aku.” Tambah Jimin. Lalu Jimin melepaskan pelukannya.
“Ne aku memaafkanmu, kumohon jangan ulangi lagi.” Dana.
“Jinjja?? Kau memaafkanku? Gumawo.” Jimin sambil tersenyum.
“Kau memang seperti anak kecil, tapi naega johaeyo.” Dana sambil mencubi pipi Jimin.
“Kalau begitu sebagai gantinya kau maukan kita pergi ke tempat hiburan di kota? Kalau kau tahu disana sangat banyak permainannya.” Jimin.
“Hm, yasudahlah aku mau karna kau mengajakku.” Dana.
~Malam harinya~
“Dana kau tidak memakai sarung tangan?” Jimin.
“Oh, tak apalah nanti aku akan memasukkan tanganku ke dalam kantung jaketku.” Dana.
“Aish, Pabo. Kau bisa sakit, kau pakailah sarung taganku sebelah kanan.” Jimin sambil memakaikannya ke Dana.
“Oh, lalu bagaimana dengan tangan kiriku dan tangan kirimu? Bukankah akan sama- sama kedinginan?” Dana.
“Aniya.” Lalu Jimin memegang tangan Dana dan memasukkannya bersamaan dengan tangannya kedalam saku jasnya.
“Mwo? Apa ini?” Dana sambil tersenyum.
“Kajja, kita berangkat.” Jimin.
~Sesampainya di taman Hiburan kota~
“Wow, daebak Jimin coba lihat ada banyak mainan.” Dana sambil menunjuk kesegala arah. Dan membuat Jimin tersenyum.
“Dana aku ingin mengabadikan moment ini.” Jimin lalu mereka berdua berkali-kali megambil foto pada malam itu.
“Jimin jika suatu saat dimanapun itu kalau kita berpapasan dengan Krystal Eonni kau jangan-jangan dekat dengannya ya?” Dana.
“Ne, pokoknya aku akan langsung menghindar drinya dan mendekat ataupun menempel seperti prangko denganmu.” Jimin.
Tiba-tiba…
“Jiminnie…” Panggil Krystal yang langsung merangkul tangan Jimin.
“Oh, noona. Kenapa kau disini?” Jimin yang langsung melepaskan rangkulan Krystal.
“Hm, aku disini dengan Suga.” Krystal tersenyum.
Lalu Dana mendekat ke Oppanya sambil memegang tangan Jimin karna Dana tidak kejadian tempo lalu terulang kembali.
“Oppa maksudmu ini apa? Akukan sudah bilang kalau semisalnya kau dan yeojamu itu ingin pergi pada mala mini jangan ke taman hiburan kota. Karna aku dan Jimin sedang ada disana.” Dana.
“Aku juga tidak tahu Dana, awalnya dia mengajakku untuk pergi membeli keperluannya tapi dia malah berubah pikiran dan ingin kesini.” Jelas Suga.
“Aniya Hyung, pokoknya bawalah dia jauh dariku aku muak dengannya. Mian seperti itu terhadap yeojamu tapi itulah yang sekarang aku rasakan.” Jimin.
Lalu Suga mengajak Krystal untuk pergi tapi Krystal tidak mau dan ingin tetap dekat dengan Jimin. Akhirnya Jimin menarik tangan Dana dan mengajaknya pergi tapi itu tetap diikuti oleh Krystal.
Disetiap Dana dan Jimin berhenti untuk melihat-lihat Krystal juga ikut berhenti, setiap Dana dan Jimin ingin melakukan apapun Krystal juga melakukan hal yang dilakukan oleh Dana dan Jimin. Sampai…
“Hah, Jimin aku lelah bisakah kau membelikanku minuman?” Dana.
“Oh, kau haus? Kau tunggulah disini, aku akan membelikannya.” Jimin sambil mengusap-usap kepala Dana.
Lalu tiba- tiba Krystal mendekati Dana…
“Apa kau haus? Minumlah ini.”Tawar Krystal.
“Shiro!! Mending kau minum saja sendiri, aku sudah dibelikan minumam oleh namjaku.” Dana.
“Tapi itu masih lama.” Krystal.
“Eonni!!! Sebenarnya kau kenapa selalu mencampuri urusanku?” Dana.
“Karna aku masih menyukai Jimin.” Krystal.
“Jika kau menyukainya kenapa kau dulu menyia-nyiakannya disaat dia sangat menyukaimu? Dan sekarang setelah dia mulai tidak menyukaimu dan membuka lembaran baru dengan orang lain kau malah mengejar-ngejarnya? Sebenarnya apa yang kau inginkan?” Dana.
Jimin telah kembali untuk membeli minumam tetapi dia berjalan dengan pelan sambil mendengarkan apa yang sedang dikatan oleh Dana dan Krystal.
“Aku ingin kau mati agar kau tidak bisa dekat lagi dengan Jimin.” Krystal.
“Mwo?? Mati?? Eonni sadarkan pikiranmu kau ini sudah terlambat seharusnya kalau kau ingin kembali lagi dengan Jimin saat dia belum denganku tapi sekarang Jimin telah bersama denganku dan sekarang aku benar-benar menyukainya apa adanya dirinya.” Dana.
“Tutup mulutmu!!! Aku muak dengan semua perkataanmu dengan Jimin. Semua perkataanmu itu omong kosong!!!” Krystal yang mengambil sebuah pisau dari balik jaketnya.
Jimin mulai mendekat dan mulai hampir sampai.
“Eonni… Apa kau ini sadar dengan perbuatanmu ini? Eonni!!!” Dana lalu…
“Eonni….!!! Apa yang kau lakukan.” Dana. Teryata pisau yang ingin ditusukkan kepada Dana itu dihalangi oleh Jimin. Suga datang…
“Jiminnie…. Kajja bangun!!” Dana. Jimin hanya setengah sadar saja.
“Apa ini? Siapa yang melakukan ini?” Suga.
“Dia, dongsaengmu sendiri.” Krystal.
“Mwo? Nae? Aniya Oppa, bagaimana bisa aku menusuk namjaku sendiri? Apa aku mulai gila?” Dana yang sambil bingung dengan keadaan Jimin.
“Oppa, tolonglah Jimin kumohon dia harus dibawa ke rumah sakit dahulu.” Dana.
“Hyung dia pelakunya.” Jimin yang setengah sadar sambil menunjuk kearah Krystal.
~Saat diumah sakit~
“Dana sebenarnya apa yang terjadi?” Suga kebingungan.
“Oppa apa kau buta dan juga tuli? Sudah jelas Jimin dikeadaannya yang seperti itu dia masih bisa menunjukkan siapa pelakunya. Sudah jelas Krystal Eonni, dia pelakunya.” Dana sambil menunjuk ke Krystal.
“Dia harus masuk kepenjara.” Dana.
“Eonni, jika didalam sana Jimin terjadi sesuatu aku juga tidak akan segan-segan akan membunuhmu. Kau pergilah dari sini, enyahlah. Putuskanlah hubunganmu dengan Oppaku, aku tidak setuju dengan hubungan kalian berdua. GHA!!!” Dana sambil meneteskan air matanya.
“Dana sudahlah tahanlah semua emosimu.” Suga.
“Oppa aku bersumpah, Krystal yeojamu itu bersalah sebenarnya dia masih menyukai Jimin yang bahkan sekarang Jimin sudah menjadi namjaku. Dan lihatlah dia ingin membunuhku tapi itu terhalang dan mengenai Jimin. Oppa apa kau tidak bisa melihatnya dengan jelas? Oppa apa kau ini sebenarnya bodoh apa pura-pura bodoh?” Dana yang berbicara dengan nada yang agak tinggi.
“Dana. Aku ini Oppamu berbicaralah yang sopan sekarang aku benar-benar tidak bisa mempercayaimu.” Suga yang lalu menarik tangan Krystal untuk pergi.
“Oppa chakkaman, sekarang aku tahu kau bukanlah Oppaku yang dulu. Kau terlalu menyukai Krystal sampai hati dan semua pikiranmu sudah tertutup olehnya.” Dana yang meninggalkan Oppanya.
***
“Krystal chakkaman!!!” Suga.
Lalu Krystal membalikkan badannya.
“Sebenarnya aku ini hanya tempat pelampiasmu, oke?” Suga.
“Ya, kau tempat pelampiasku.” Krystal.
“Dulu aku begitu bodoh memutuskan hubunganku dengan Jimin begitu gampangnya. Lalu aku baru menyadarinya setelah aku bertemu denganmu, mempunyai namja sepertimu dan Jimin itu lebih enak mempunyai namja seperti Jimin sangat membosankan jika memppunyai namja sepertimu.” Tambah Krystal.
“Lantas sekarang kau ingin membunuh dongsaengku lalu kau akan hidup bahagia dengan Jimin, begitu?” Suga, dan Krystal menganggukan kepalanya.
“Mwo? Dan itu tidak akan pernah terjadi.” Suga.
“Tidak akan pernah terjadi disaat aku masih menjadi Oppanya Dana, lihatlah dirimu sebenarnya kau hanya tempat mainanku saja dan aku baru sadar setelah aku mempunyai yeoja sepertimu kau itu monoton dan membuatku bosan saja, tidak bisa seperti yeoja lainnya yang bisa membuatku bahagia.” Tambah Suga.
“Oh ya, Ahjussi tolong bawa dia karna dia telah malakukan tindak kejahatan yang menusuk seseorang dengan pisau.” Suga lalu Ahjussi dari pihak kepolisian membawa Krystal ke kantor polisi.
~Sementara itu~
Dana berada disamping Jimin yang masih tidur lemas dikamar Rumah sakit.
“Jimin, kumohon kau sembulah oke?” Dana.
“Aku masih ingin aniya selamanya besamamu, aku benar-benar menyukaimu Jimin. Aku berjanji tidak akan memarahimu lagi Jimin dan aku berjanji tidak akan membuang botol minuman lagi yang kau berikan kepadaku.” Dana yang menangis sambil memegang tangan Jimin.
Lalu Dana beranjak dan menuju ke balkon kamar Rumah sakit itu. Dana duduk jongkok dan menangis sebisanya disana.
“Jimin bagaimana jika kau tidak bersamaku lagi? Lalu aku nanti dengan siapa? Tolong Jimin jangan tinggalkan aku, aku hanya ingin denganmu saja. Aku janji, I swear tidak akan membuang botol minuman atau apapun itu yang kau belikan untukku jika kau kembali denganku lagi.” Dana yang menangis sesegukkan di balkon rumah sakit tepat dikamar Jimin.
“Apa yang kau katakan itu benar tidak akan membuang minuman yang aku belikan?” Jimin.
Seketika Dana melihat arah sampingnya lalu mendagakkan kepalanya dan…
“Jiminnie… Kau telah sadar syukurlah.” Dana memeluk Jimin.
“Aku tidak akan membuang minuman yang kau belikan untukku Jimin.” Dana. Dan Jimin tersenyum.
“Perkataan apa itu? Disaat aku tidur kritis seperti tadi apa kau terus saja mengatakan hal seperti itu?” Jimin, Dana menganggukan kepalanya. Jimin tersenyum lagi.
“Itu karna agar kau cepat tersadar, bukankah jika kau mengingat hal itu kau seharusnya merasa bersalah. Makannya aku terus saja mengulangi perkataan itu agar kau mendengarnya dan cepat sadar.” Dana sedikit malu. Lalu Jimin mencium kening Dana.
“Gumawo Dana, setelah semua masalah ini kau masih selalu berada disampingku. Entah kenapa kau adalah yeoja yang sangat tepat untukku, aku bersyukur mempunyai yeoja sepertimu.” Jimin, Danapun tersenyum.
“Aku juga beruntung serta bersyukur mempunyai namja sepertimu biarpun kau mempunyai tingkah laku seperti anak-anak itu tidak membuatku bosan ataupun tidak memnyukainya tapi itu membuatku sangat menyukainya. Suatu saat pasti ada waktunya kau akan jadi lebih dewasa.” Dana sambil mencubit pipi Jimin.
Lalu Jimin merangkul Dana sambil mengusap-usap rambut Dana begitu juga dengan Dana, Dana juga merangkul sambil mengusap-usap rambut Jimin serta melihat ramainya kota Seoul dari balkon.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan pelan tetapi Jimin dan Dana tidak mendengarnya.
“Mereka sangat serasi bahkan mereka berdua masih seperti anak kecil.” Batin Suga sambil berjalan mendekati Jimin dan Dana.
“Hm, Dana… Hm, Mianhae atas semuanya.” Suga.
“Oh, Hyung kau membuat kami terkejut saja.” Jimin.
“Gwenchana Oppa, mungkin sekarang kau baru tahu. Lagian aku sudah memaafkankanmu, Oppa aku tahu mungkin saat ini Krystal bukanlah yeoja pilihan yang tepat untukmu mungkin suatu saat kau akan mempunyai miss right yang sebenarnya. Seperti Jimin memilih aku.” Dana, lalu semua tertawa pada malam itu.
Yes you’re my only girl neoneun naege choego
Neoui harureul algo sipeo, neoui hansumi doego sipeo
Yes you’re my only girl neoneun naege choego
Yeonghwa sogeseona isseul geotman gatdeon geu saram
Baro neoya…

                                                              Park Jimin.
The End.

I'm the King in My House




Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast :Kim Nam Joon (Rapmonster BTS), Seo Dana, Kim Taehyung (BTS)
Genre : Frienship, hurt romance
Rating : Maybe teen
“Eomma sementara ini kita mau tinggal dimana?” Dana sambil menarik tas kopernya.
“Sementara ini kau akan tinggal dirumah teman Eomma.” Dana Eomma.
“Mwo? Bukankah itu merepotkan Eomma.” Dana.
“Aniya, dia malah menawari Eomma sendiri untuk tinggal disana.” Dana Eomma.
“Shiro!! Kita cari tempat peginnapan saja Eomma.” Dana, lalu Eommanya berhenti.
“Dana seharusnya kau itu bersyukur telah diberikan tempat tinggal, masih untung teman Eomma ini menawari dan gratis jika tidak? Kalau kau mau marah, marahlah saja kepada Appamu yang sudah menjual rumah kita karna untuk membayar utang main judinya.” Jelas Eommanya, Dana hanya terdiam saja.
“Ne Eomma mianhae.” Dana.
“Ne gwenchana, tetapi sewaktu disana kau bisakan menahan kebiasaanmu itu?” Dana Eomma.
“Ne Eomma aku akan menahannya agar tidak terjadi.” Dana.
“Nah kita sudah sampai.” Dana Eomma.
~Masuk kedalam rumah~
“Jinjja ini anakmu? Wah yeobo.” Teman Dana Eomma.
“Gamsahamnida Ahjumma.” Dana sambil tersenyum.
“Namamu siapa?” Teman Dana Eomma.
“Seo Dana Imnida.” Dana.
“Dan aku Park Nam Ya, teman ibumu.” Teman Dana Eomma.
“Oh, ya akan aku kenalkan dengan anakku. Kim Nam Joon, kemarilah…” Panggil Eommanya. Dan Nam Joonpun menuruni anak tangga dirumahnya.
“Kenalkan ini anakku Kim Nam Joon.” Lalu Nam Joon mengayunkan tangannya ke Dana sebagai tanda perkenalan. Setelah Dana juga mengayunkan tangannya untuk berjabat tangan Nam Joon tersenyum dan terlihat dipipinya ada sebuah lesung pipi yang membuat dia terlihat manis.
Seketika Dana bersin “Hsin, Hsin… Ah Mianhae.” Dana.
“Apa kau baik-baik saja?” Nam Joon.
“Ah, Ne. Hsin, Hsin…” Berulang kali Dana bersin.
“Apa anakmu baik-baik saja?” Tanya Nam Ya ibu Nam Joon kepada ibu Dana.
“Oh, dia hanya bersin kalau melihat seorang namja yang mempunyai lesung pipi. Dia tidak apa-apa kok.” Jelas Dana Eommanya. Lalu Nam Joonpun tersenyum lagi.
“Hsin, Hsin… Bisakah kau Hsin.. Berhenti tersenyum Hsin…” Dana sambil mengusap-usap hidungnya.
~Saat Makan malam~
“Danaya…” Panggil Nam Joon Eomma.
“Ne Ahjumma.” Dana sambil menoleh ke arahnya.
“Besok aku dan ibumu akan pergi keluar negri untuk mengurus sesuatu disana selama 2 bulan, jadi kau dan Nam Joon hati-hati dirumah. Dan kau Nam Joon jagalah Dana, Arra?” Nam Joon Eomma.
“Ne Eomma.” Nam Joon.
“Mwo?? Eomma kenapa Eomma tidak memberiku tahuku sebelumnya? Bukankah itu snagat lama?” Dana.
“Nam Joon Eomma mengatakannya baru saja, sebelum makan mala mini.” Dana Eomma, seketika Dana hanya terdiam saja.
~Seminggu kemudian.~
“Akhirnya selesai juga membersikan rumah ini. Biarpun bukan rumahku aku akan tetap menjaganya agar bersih.” Dana, selesai membersihkan lalu berjalan kearah Tv.
“Haish, Eomma dan Nam Ya Ahjumma sudah pergi. Jadi aku akan tinggal dirumah ini dengan Nam Joon seorang. Haish membosankan.” Gerutu Dana saat melihat acara Tv.
“Aish kenapa berisik sekali dihalam belakang rumah?” Lalu Dana beranjak dan melihat kebelakang rumah Nam Joon.
“Mwo?? Apa-apaan ini?? Ya’ hancur semua, Ya’ berantakan semuanya, Ya’ kotor lagi.” Teriak Dana, lalu Dana keluar dan mencari Nam Joon.
“Ya’ Nam Joonya neon eodiseyo?” Panggil Dana, Nam Joon tidak bisa mendengarkannya karena suara music yang begitu kencang.
“Ya’ yeoja culun kau mau mencari siapa?” Tanya seorang yeoja yang memakai bikini.
“Mwo?? Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?” Dana.
“Memangnya salah?” Jawab yeoja yang memakai bikini itu.
Seketika dada Dana mulai sesak dan hampir sulit bernafas tetapi dia tahan “Aku ingin mencari Kim Nam Joon, apa kau tahu?” Dana sambil menapuk-napuk dadanya.
“Dia ada disana.” Jawab yeoja itu sambil menunjuk kearah Nam Joon. Lalu Dana berjalan perlahan-lahan kearah Nam Joon.
Setelah sampai didekat Nam Joon, seketika Dana memegang tangan Nam Joon dan terjatuh kebawah. Terkejutnya Nam Joon.
“Ya’ Dana, neon gwenchana?” Nam Joon, Dana hanya mendengarkan samar-samar saja.
Lalu dengan cepat Nam Joon mengangkat Dana dan membawanya kedalam.
~Saat makan malam~
Dana duduk berhadapan dengan Nam Joon dengan ekspresi yang sangat marah, sampai-sampai sendok yang ia pegang akan bengkok. Sampai piring yang ia pegang akan pecah begitu saja.
“Ya’ jangan melihatku seperti itu.” Nam Joon.
“Wae? Apa maksudmu tadi?” Dana.
“Ne, Mianhae. Maafkanlah aku yang telah berbuat seperti itu tadi.” Nam Joon.
“Apa sebegitu mudahnya kau tinggal mengucapkan kata-kata maaf?” Dana.
Lalu Nam Joon berhenti mengambil makanan pada malam itu “Sebenarnya apa masalahmu? Baru seminggu saja kau sudah seperti ini, sekarang kau mau memaafkan aku atau tidak?” Nam Joon, lalu Nam Joon pergi begitu saja.
***
“Padahalkan aku cuman ingin mengobrol saja, habisnya tidak ada topic pembicaraan.” Gerutu Dana pada malam hari itu sambil membawa beberapa cemilan untuk persediaan makanannya.
“Ah aku akan duduk dulu disini. Aku lelah dengan semua ini.” Dana, lalu Dana melihat-lihat keadaan sekitar tetapi ada seorang yang sedang menundukkan wajahnya. Lalu karna Dana ingin tahu akhirnya Dana mendekatinya.
“Mwo? Kenapa kau menangis?” Dana yang langsung duduk disamping seorang yang tidak ia kenal.
Lalu seorang itu menoleh kearah “Omo, Omo.. Kau namja? Wae kau menangis?” Dana sok akrab.
“Siapa kau? Aku tidak mengenalmu.” Taehyung.
“Ah, Seo Dana Imnida. Panggil saja aku Dana. Ini pakailah sapu tanganku, tidak usah dikembalikan juga tidak apa-apa. Pakailah.” Dana.
“Oh, Gumawo.” Taehyung.
“Apa kau lapar?” Dana, Taehyung menganggukan kepalanya dan Dana tersenyum, lalu Dana mengambil sebuah cemilan yang baru ia beli tadi.
“Ini makanlah.” Dana.
“Oh, Gumawo. Kenapa kau sangat baik kepadaku? Kenal denganmu saja aku tidak.” Taehyung.
“Ah, kata Eommaku kita harus baik, saling menolong dan membantu kepada semua orang. Jika kita nanti dalam kesulitan suatu saat nanti kita juga akan bibantu balik.” Dana.
“Dan kenapa kau malam-malam seperti ini menangis disini? Kaukan namja seharusnya kau tidak menagis.” Tambah Dana.
“Aku baru saja putus dengan yeojaku, aku tidak tahu kenapa. Aku melihatnya sedang berjalan dengan namja lain saat aku mengajaknya jalan juga.” Taehyung.
“Dan sewaktu aku menanyakannya, dia malah menyakal dan menggali semua kesalahanku. Lalu memintaku putus dengannya, padahal aku sangat menyukainya.” Tambah Taehyung.
Lalu Dana memukul kepala Taehyung “Apa kau bodoh, jelas saja yeoja itu tidak mau mengakuinya karna dia merasa bersalah. Dasar pabo.” Dana.
“Aish, Appo. Ne aku memang namja yang bodoh.” Taehyung. Lalu Dana beranjak dan ingin pulang.
“Yasudah kau renungkanlah atau tidak kau lupakanlah semua kejadian ini, apa kau lupa yeoja di korea ini dan didunia inikan tidak hanya dia saja.” Dana lalu berjalan meninggalkan Taehyung.
“God, siapa yeoja tadi. Apa tadi seorang malaikat yang kau kirimkan kepadaku? God, jika iya aku mulai menyukainya.” Batin Taehyung.
~Keesokan harinya~
“Ya’ aku lelah, berjalan sampai kesekolah. Aish, kenapa sih Eomma harus memindahkanku kesekolah yang sama seperti Nam Joon. Jarak dari rumah inikan tambah jauh.” Gerutu Dana yang berjalan kaki.
“Dan menuju ke halte bus saja juga jauh, apalagi kalau setiap hari aku naik bus uangku akan habis. Ya’ apa ini??” Dana.
“Hm, mianhae. Telah mengotori bajumu.” Nam Joon yang menaiki montornya.
“Aish, Jinjja!! Jinjja…” Dana.
“Apa kau mau kesekolah denganku?” Nam Joon. Dana hanya terdiam saja.
“A..aa.. Aku…” Dana.
“Ya, waktunya habis. Yasudah dulu.” Nam Joon mengegas montornya.
“Ya’ namja gila!!!” Teriak Dana. Lalu ada seorang yang menaiki sepeda yang memiliki tempat duduk 2 yang berhenti tepat disampingnya.
“Apa kau mau pergi kesekolah denganku?” Taehyung.
“Neon?? Bagaimana bisa kau tahu…” Dana kebingungan.
“Yaps, perkenalkan namaku Kim Taehyung. Dan aku tinggal tepat didepan rumah namja itu.” Taehyung.
“Didepan rumah Nam Joon?” Dana, dan Taehyung menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
“Yasudah kau naiklah kita pergi bersama-sama.” Lalu Taehyung menarik tangan Dana serta memakaikan helm sepeda ke Dana.
~Sewaktu disekolah~
“Dimana ruang kelasmu?” Taehyung yang terus mengikuti Dana.
“Hm, kita sampai. Kata Nam Joon Eomma kelasku sama seperti Nam Joon, disini.” Dana. Lalu Dana masuk kedalam kelas bersama Taehyung.
“Jinjja?? Ini kelasmu Dana?” Taehyung, Dana menganggukkan kepalanya.
“Ini juga kelasku, jika kau mau kita bisa berangkat dan pulang bersama setiap hari.” Tawar Taehyung.
“Apa itu tidak merepotkanmu?” Dana.
“Aniya, dimana tempat dudukmu? Wah, pasti disini dibelakangku.” Taehyung.
Nam Joon yang mendengar hal itu merasa tidak suka dan hanya cemberut lalu memsang muka bosan.
“Oh, Nam Joon kau berada disampingku?” Dana.
“Ne.” Nam Joon sambil tersenyum yang melihatkan lesung pipinya.
“Hsin,, Hsin… Kenapa kau Hsin,, Hsin.. lakukan itu? Hsin..” Dana.
“Kenapa kau Dana?” Taehyung menghampiri Dana.
“Apa kau baik, baik saja?” Taehyung.
“Hsin,, Ne. Nae Hsinn gwenchana.” Dana.
“Cobalah kau menutup lubang hidungmu dengan satu jarimu, itu akan menghilangkan bersinnya.” Taehyung. Lalu Dana mengikuti apa yang dikatakan Taehyung.
“Oh, bersinnya hilang. Gumawo.” Dana. Taehyung tersenyum.
~1 bulan kemudian~
Hujanpun turun begitu deras, Dana yang menunggu diidepan rumah khawatir karna Nam Joon belum juga pulang. Dan beberapa menit kemudian Nam Joon pulang dengan menaiki montornya yang basah kuyub.
“Neon gwenchana?” Dana.
“Minggirlah dari hadapanku.” Nam Joon yang terus saja berjalan. Semua itu terlihat jelas dari jendela kamar Taehyung. Taehyung terus saja melihat.
“Biarkan aku membawa tasmu.” Lalu Dana memegang tas Nam Joon.
“Shiro!! Sebenarnya kau ingin apa?” Nam Joon. Sambil melepaskan tangan Dana yang begitu kencang dan terjatuhlah Dana. Taehyung yang melihat itu sebenarnya mau menolongnya tapi dia menahannya.
Lalu Nam Joonpun masuk kedalam rumah. Malam harinya Nam Joonpun demam tinggi dan Dana mengkompresnya agar demam turun.
“Apa kau tidak mempunyai obat penurun demam?” Dana, Nam Joon hanya terdiam.
Lalu Dana keluar dari rumah, diluar hujan sangat lebat. Dana tidak membawa payung maupun Jas hujan. Karna hanya ingin membeli obat untuk Nam Joon. Dan setelah pulang membawa obat dengan basah kuyub Dana terkejut ada seorang yeoja yang menemani Nam Joon dikamarnya.
“Oh, kau Dana? Gumawo sudah menjaga Nam Joon. Perkenalkan aku yeojanya Jung Min A.” Perkenalan Min A kepada Dana sambil tersenyum.
Lalu Dana hanya terdiam dan berjalan mendekat sambil memberikan obat kepada Nam Joon tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.
~Keesokan harinya~
Nam Joon berjalan mencari Dana dan teryata Dana berada didapur sedang memasak sebuah makanan.
“Biar Nam Joon cepat sembuh akan aku buatkan bubur untuknya.” Dana.
Nam Joon sembunyi dibalik tembok dan sambil melihatnya “Aku tidak tahu, apa dia pura-pura bodoh atau memang benar-benar bodoh sudah 1 bulan aku selalu menyia-nyiakannya, memarahinya, membuat dia selalu bersin tetapi dia malah merawatku dan tidak membenciku sama sekali.” Batin Nam Joon.
“Ahirnya sudah jadi. Aku akan membangunkan Nam Joon, mungkin dia sudah sembuh.” Dana, lalu Dana berjalan kekamar Nam Joon tapi sebelum sampai kekamar Nam Joon. Bel rumah berbunyi.
“Oh, siapa pagi-pagi seperti ini bertamu?” Dana. Lalu Dana menuju ke pintu depan dan…
“Taehyung….?? Kenapa pagi-pagi seperti ini kau kesini?” Dana.
“Hm, aku ingin bermain saja kesini. Mumpung hari liburkan?” Taehyung. Lalu mereka berdua masuk dan terlihat Nam Joon sudah duduk dimeja makan.
“Oh, Nam Joon kau sudah duduk disitu. Yasudah jadi aku tidak jadi ke kamarmu.” Dana.
“Ya’, kau siapa memperbolehkan seseorang masuk begitu saja ke dalam rumah. Kaukan bukan pemilik rumah seharusnya kau izin dahulu kepadaku.” Nam Joon.
“Ah, sudahlah Nam Joon aku yang sebenarnya memaksa ingin masuk.” Taehyung.
“Dana bolehkah aku ikut makan ini.” Tambah Taehyung. Dana menganggukan kepalanya dan mereka semua memakan bubur dipagi hari itu.
“Daebak, bisakah kau mengajariku. Bubur ini sangat enak.” Taehyung.
“Jinjja? Apa benar enak? Ne, aku akan mengajarimu.” Dana sambil tersenyum.
“Hm, bubur ini lumayan.” Sela Nam Joon.
“Mwo?? Oh, gumawo. Saran dan kritik seperti apapun akan aku terima.” Dana sambil tersenyum manis ke Nam Joon. Dan itu membuat Nam Joonm tersipu dan…
“Oh, kenapa bubur ini jadi sangat enak?” Nam Joon.
“Mwo?? Apa kau mau lagi aku akan mengambilkannya.” Dana, Nam Joon memakannya dengan lahap karna tersipu malu dengan Dana.
~Minggu terakhir~
“Taehyunga…” Panggil Dana sewaktu duduk disamping Taehyung ditaman rumah Nam Joon.
“Ne.” Taehyung menoleh kearah Dana.
“Aku menyukai seseorang.” Dana.
“Jinjja?? Nuguyo?” Taehyung.
“Kim Nam Joon.” Dana sambil menyandarkan kepalanya kepundak Taehyung.
“Oh, apa kau berani menyatakan isi hatimu ke Nam Joon.” Taehyung.
“Molla.” Dana sambil tersenyum,Nam Joon yang melihat berdua seperti itu malah tidak menghiraukannya.
~2 bulan kemudian~
“Danaya…” Panggil Eommanya.
“Mwo?? Eomma benarkah kau itu?” Lalu Dana memeluk Eommanya dan duduk diruang keluarga.
“Dana, Eommamu telah membeli rumah diseoul sana.” Bilang Nam Joon Eomma.
“Mwo??” Dana terkejut.
“Ne, kan kau pernah bilang bukankah disini akan merepotkan Nam Joon Eomma dan Nam Joon bila lama-lama disini? Dan kau juga bilang menyewa tempat penginapan saja dan sekarang aku telah membeli sebuah rumah.” Dana Eomma.
“Tapi Eomma…” Dana.
“Yasudah Eomma dan Nam Joon Eomma capek, kau cepatlah kemasi barang-barangmu mulai besok kita pindah kesana.” Eommanya.
“Mwo Eomma?? Beso?? Apa kau tidak salah?” Dana terkejut.
“Iya, cepatlah kau pindah dari sini. Selama ini kaukan selalu merepotkan aku.” Nam Joon.
~Malam harinya~
Dana duduk di sebuah taman tepat pertama kali dia bertemu Taehyung. Seketika air mata Dana mengalir begitu saja tanpa henti, kebetulan Taehyung pada malam hari itu juga melihat seseorang sedang menangis seperti dirinya dulu. Lalu Taehyung mendekatinya.
“Dana, apa kau baik-baik saja?” Taehyung, Dana menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Taehyung, besok aku akan pindah ke seoul. Jadi besok aku sudah tidak bisa bertemu denganmu dan Nam Joon.” Dana.
“Mwo?? Tapi bagaimana bisa??” Taehyung bingung.
“Eommaku sudah membeli rumah disana, Taehyung bagaimana ini aku sudah terlanjur nyaman dirumah itu, nyaman berteman denganmu dan aku telah nyaman bila didekat Nam Joon. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya.” Dana.
“Tenangkanlah dirimu Dana, lalu sekarang apa yang kau ingin lakukan?” Taehyung.
“Molla…” Dana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengusap air matanya.
“Dana sebenarnya aku menyukaimu saat pertama kali kau bertemu denganku disini, tapi aku terus saja memendamnya karna kau mengatakan padaku kalau menyukai Nam Joon. Jadi sebenarnya aku tidak mau mengatakan hal ini, aku tahu sebenarnya Nam Joon adalah namja yang baik hanya luarnya saja dia seperti itu jadi lebih baik aku memendam perasaanku demi kebahagianmu Dana.” Taehyung.
Seketika Dana berhenti mengusap air mata yang jatuh dari matanya dan menoleh ke Taehyung.
“Taehyung, mianhae karna aku tidak menyadarinya.” Dana.
“Ne gwenchana.” Taehyung sambil menundukkan kepalanya. Lalu Dana memeluk Taehyung sambil berkata…
“Gumawo Taehyung telah menyukaiku selama ini, dan maafkanlah aku karna aku tidak menyadarinya. Kau adalah teman namjaku yang sangat baik, aku sanagat beruntung mempunyai teman sepertimu. Maafkanlah aku juga karna kau telah memendam perasaanmu dan membuatmu sakit hati, kalau begitu aku akan tetap menyukai Nam Joon dan tidak akan menyia-nyiakan perjuanganmu selama ini Taehyung.” Dana sambil melepaskan pelukannya.
~Sementara itu…~
“Kenapa denganku ini? Seketika Dana akan pindah dari rumah ini aku merasa kehilangan sesuatu. Apa ada yang salah?” Batin Nam Joon
Lalu Nam Joon mencoba untuk mengatur pernafasannya dan berdiam diri.
“Kenapa denganku ini? Perasaanku masih tetap saja.” Gerutu Nam Joon.
~Keesokan harinya~
“Eomma akan ergi dahulu, jika kau masih ingin bermain disini. Bermainlah.” Eommanya.
“Tapi sore nanti kau pulanglah, aku sudah menuliskan alamat rumahnya.” Tambah Eommanya dan Dana hanya menundukkan kepalanya sambil mengemasi barangnya.
Setelah megemasi barangnya Dana pergi ke rumah Taehyung untuk pamit pulang.
“Taehyung jika suatu saat nanti aku masih tetap saja tidak bisa mendapatkan hati Nam Joon, tolong maafkanlah aku.” Dana, Taehyung mencoba menahan air matanya.
“Dan tolong juga maafkanlah aku karna tidak bisa mendapatkan hati Nam Joon, pengorbananmu menjadi sia-sia saja.” Tambah Dana. Lalu Dana membalikkan badannya dan berjalan untuk kembali ke rumah Nam Joon untuk mengambil barangnya.
“Dana….” Panggil Taehyung. Lalu Dana membalikkan badannya.
“Dana kau adalah teman yeojaku yang sangat cantik, pintar dan baik. Aku tidak akan melupakanmu. Kapan-kapan kau datanglah kerumahku.” Tahyung sambil mengusap air matanya dan melambaikan tangannya. Dan  Dana tersenyum lalu Dana melanjutkan jalannya.
***
*TOK,TOK,TOK…* “Apa aku boleh masuk?” Dana.
“Masuklah.” Nam Joon.
“Nam Joon, selamat tinggal. Mungkin aku tidak akan merepotkanmu lagi dan jagalah dirimu, dan aku kesini ingin memberikanmu ini. Tolong jangan dibuka sampai aku keluar dari rumahmu. Yasudah, selamat tinggal Nam Joon. Senang mempunyai teman sepertimu.” Lalu Dana berjalan meninggalkan Nam Joon.
Setelah Dana keluar dari rumahnya Nam Joon…
“Mwo?? Apa ini?” Nam Joon terus saja melihat benda yang diberikan Dana kepadanya.
“Kotak music? Tapi ini seperti perekam suara.” Lalu Nam Joon menekan sebuah tombol untuk menyalakan benda yang diberikan Dana kepadanya.
“Nam Joon gumawo selama ini kau telah menerimaku dan Eommaku dirumahmu. Meskipun aku telah banyak merepotkanmu selama ini. Nam Joon sebenarnya aku tidak mau pindah dari rumahmu karna aku sudah terlalu nyaman disini dan begitu nyaman bila dekat denganmu. Entah mulai kapan aku mulai menyukaimu sebenarnya aku ingin menyatakan perasaanku kepadamu tetapi sejak ada seorang yeoja yang bersamu itu, jadi aku menahan semua peasaanku dan memilih untuk memendamnya saja. Biarpun kau selalu meyia-nyiakanku, memarahiku membuat aku bersin tetapi aku tidak merasa benci kepadamu itu malah membuatku semakin dekan denganmu Nam Joon. Gumawo Nam Joon aku sangat beruntung bisa berkenalan denganmu. Selamat tinggal Nam Joon mungkin suatu saat nanti aku bisa bertemu lagi denganmu. Saranghae Nam Joon.”
Akhir dari rekaman yang dibuat Dana untuk Nam Joon, seketika Nam Joon merasa bersalah dengan semua perbuatannya keapada Dana. Lalu Nam Joon beranjak dari tempat tidurnya dan berlari mencari Dana.
***
“Danaya…!!!!” Panggil Nam Joon, lalu Dana membalikkan badannya.
Lalu Nam Joon mengatur nafasnya “Kenapa kau lakukan semua ini?” Nam Joon.
“Kenapa kau tidak menyatakannya saja didepanku? Kenapa kau baru menyatakannya sekarang? Apa kau mau membuatku merasa bersalah dan kehilanganmu?” Nam Joon.
“Dan apa itu, beruntung bisa berkenalan denganku? Suatu saat nanti bisa bertemu denganmu lagi? Apa itu ucapan selamat tinggal yang baik?” Nam Joon.
“Sebenarnya apa yang kau katakan?” Dana.
“Aku juga menyukaimu Dana.” Nam Joon. Seketika Dana membulatkan matanya menandakan tidak percaya akan yang didegarnya.
“Aku benar-benar menyukaimu Dana, maafkanlah aku yang selalu melakukan hal yang tidak baik kepadamu. Aku melakukan itu karna aku merasakan kesepian selama ini, jadi dengan adanya kau ada seseorang teman yang membuat kesepian yang aku derita selama ini hilang.” Nam Joon. Lalu Nam Joon memeluk Dana dengan tiba-tiba.
“Jadi kumohon jangan tinggalkan aku Dana, kumohon jangan hilangankan perasaanmu kepadaku. Karna aku sekarang telah menyukaimu, maafkanlah aku telah membuatmu seperti ini. Aku janji tidak akan melakukan hal ini kepadamu lagi.” Nam Joon.
“Lalu bagaimana dengan yeojamu itu.” Dana.
“Sebenarnya dia bukan yeojaku, dia hanyalah orang yang selalu mengaku-ngaku menjadi yeojaku.” Nam Joon.
“Nam Joon aku sangat beruntung bisa mengenalmu.”
Seo Dana.

The End.