Senin, 27 Juni 2016

Who Do You Choose?

Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
Cover by leenArt design
FF ONESHOOT
Main cast : Park Jimin (BTS), Suga (BTS), Seo Dana, Ryu Soo Jeong (Lovelyz)
Othercast : Park Leen.a , Jungkook (BTS)
Genre : Frienship, Hurt romance
Rating : Maybe teen
Sepasang siswa siswi sekolah menegah atas sedang menyusuri lorong sekolah. Dimana seorang siswi itu terus meminum minuman yang ia beli dari kantin bersama seorang siswa yang dimana adalah teman sekelasnya.
Seorang siswapun mencoba menjahilinya dengan menarik rok minim siswi yang didekatnya itu.
“Ya’ Jimin-na!” Dana. Jimin tersenyum.
“Habisnya kau sibuk dengan minumanmu. Sehingga aku disini tidak kau hiraukan. Lagian juga lihat rok minimmu itu apa kau mencoba menggodaku?” Jimin.
“Ne. Aku mencoba menggodamu. Wae Park Jimin?” Dana
“Apa kau selalu menghiraukan tentang perasaanku?” Tambah Dana.
“Mwo?” Jimin.
“Aniya.... Ttttt...dakkk usah kau pikirkan.” Dana.
“Hm, aku rasa itu penting.” Jimin yang terus menguras habis pikirannya dengan perkataan Dana.
“Apa kau ingin tahu?” Dana.
Jimin menoleh kearah Dana. Danapun langsung mengecup bibir Jimin tanpa aba-aba lalu berlari meninggalkan Jimin.
Jimin yang beberapa detik mematungpun mulai sadar akan hal yang dilakukan Dana.
 “Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bisa?” Suara Jimin yang begitu nyaring. Dana hanya menganggukan kepalanya dan  terus berlari.
Ya itulah nama panggilanku Dana. Aku duduk di kelas 2 sekolah mengah atas, aku mempunyai seorang namjadongsaeng dan dulu aku mempunyai seorang Oppa. Ah, aniya sampai sekarang aku mempunyai Oppa dia selalu bersamaku biarpun banyak orang tidak pernah menganggapnya ada. Aku merupakan seorang yeoja yang bisa dikatakan sedikit nakal. Tapi jika itu dilihat dari penampilanku. Jika kau melihat dalamnya entah kau akan berkata apa, mungkin kau akan mengatakan hal yang lain.
~Sepulang sekolah~
“Dana, kau duduklah disini.” Jimin sambil memberikan sebuah lollipop ke Dana. Danapun duduk disamping Jimin.
“Oh, Gumawoyo. Sebenarnya kau ingin berbicara apa denganku?” Dana sambil menjilati sebuah permen lollipop yang diberi Jimin. Berharap Jimin lupa dengan apa yang Dana lakukan tadi terhadapnya.
“Cuaca sore ini sangat indah bukan? Bila aku tanya sesuatu kepadamu kau pasti bisa langsung menjawabnya.” Jimin.
“Tergantung.” Dana sambil terus menjilati permen lollipop.
“Sebenarnya aku ingin menyatakan isi hatiku.” Jimin. Dana mulai berhenti menjilati permen lollipop dan mulai menoleh kearah Jimin.
“Menyatakan isi hatimu?” Dana. Jimin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Senyuman yang dibuat Jimin itu membuat tempo degupan jantung Dana semakin bertambah dan terus bertambah saat Jimin ingin mengatakan isi hatinya. Dana seperti tidak percaya dengan kaliamat apa yang dikeluarkan dari mulut Jimin barusan.
Danapun memandangi terus wajah Jimin tanpa mengedipkan salah satu kelopak matanya. Seperti tidak ingin melewatkan satu detikpun kenangan yang tercipta hari ini.
Aku ingin menyatakan isi hatiku kepada Soo Jung teman yang selalu dekat denganmu itu.” Jimin.
Permen lollipop yang Dana genggampun terjatuh dari tangannya. Beberapa detik Dana mencuri pandangannya dari Jimin sampai Jimin menoleh kearah Dana karena permen lollipop yang Dana jatuhkan. Dana dengan segera memalingkan wajahnya, membuang-buang jauh pandangannya terhadap Jimin.
“Wae? Kenapa kau menjatuhkannya?” Jimin.
“Rasa dari lollipopnya seketika mulai hambar.” Dana.
“Jadi bagaimana apa kau bisa membantuku dekat dengannya?” Jimin.
“Asal kau tahu Soo Jung bukanlah teman dekatku!” Dana.
“Apa kau lupa dengan kejadian 3 tahun yang lalu? Tentang Taehyung Oppa?” Tambah Dana.
“Kenapa dengan kejadian 3 tahun yag lalu? Bukankah semua telah selesai? Jangan mengungkit-ungkit kenangan itu kembali jika itu membuatmu semakin terpuruk.” Jelas Jimin.
Danapun beranjak dari tempat duduk dan menghadap ke Jimin “Apa sebegitu mudahnya menghilangkan kenangan yang begitu buruknya didalam kehidupanku? Oppaku mati dipenjara karena mulut jalang itu!” Air mata Dana telah membasahi pipinya.
“Apa salah jika Oppaku tidak menyukai Soo Jung? Kenapa jalang itu harus mengatakan kalau Oppaku memperkosanya sampai dia tidak berdaya? Tidak mungkin Oppaku melakukan hal sekeji seperti itu!” Tambah Dana.
Jiminpun memeluk Dana dengan sangat erat. Dana yang merasa kenyamanan itu berhenti berbicara sesaat dan menikmatinya dengan memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Jimin.
“Aku tahu yang kau rasakan sampai sekarang ini. Aku mengerti semua kesusahan yang kau lalui, aku berjanji aku selalu berada disampingmu. Setiap kau menemui masalah aku selalu bersama denganmu dan menolongmu. Tapi kumohon untuk satu kali ini saja bantulah aku dekat dengan Soo Jung.” Jimin.
Danapun membelalakan kedua matanya dan langsung mendorong tubuh Jimin. Dana masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jimin. Dana hanya menatap wajah Jimin dengan pandangan kosong, tidak tahu apa lagi yang ingin dikatakan oleh Dana.
Dana mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya lalu meninggalkan Jimin. Jiminpun menghalanginya dengan memegang lengan Dana.
“Kumohon Dana...” Jimin.
Dana membalikkan tubuhnya dan melepas genggaman tangan Jimin “Kumohon hargailah perasaanku juga Jimin-sshi.” Dana yang langsung melanjutkan langkah kakinya.
Jimin berusaha mengolah perkataan Dana yang terakhir Dana ucap mencoba menghargai perasaannya.
~Perjalanan kerumah~
Cuacapun mulai mendung dan berawan abu-abu  sepertinya cuaca mengerti perasaan Dana saat ini. Awan yang mulai menggunduk berwarna abu-abu pekat itupun mulai meneteskan sedikit demi sedikit air.
“Dana-ya…”Panggil seseorang dari belakang dan Dana membalikkan badannya.
 “Bagaimana tadi? Apa Jimin mengatakan isi hatinya kepadamu?” Leen A.
“Mengatakan isi hatinya? Dengkulmu itu.” Dana.
“Lantas kalau begitu dia mengatakan apa tadi sampai begitu lamanya denganmu?” Leen A.
“Dia menyuruhku untuk membantunya dekat dengan Soo Jung.” Dana.
“Soo Jung? Cuihh si jalang bedebah itu?” Leen A, Dana hanya menganggukan kepalanya.
“Ya’ tersenyumlah. Mungkin dia belum menyadarinya.” Leen A.
“Belum menyadarinya bagaimana Leen A? Aku sudah menyukainya sejak sekolah menegah pertama dan itu dia tidak menyadarinya. Apa dia tidak tahu? Aku selalu menyeritakan semua masalahku terhadapnya. Setiap hari aku selalu pergi kepadanya. Pergi kepundaknya untuk mengeluhkan semua masalahku. Semua itu lakukan karena aku menyukainya sangat menyukainya.”Dana.
Hujan turun begitu deras tanpa ada peringatan apapun. Dana tetap saja berjalan santai meninggalkan Leen A.
“Dana-ya hujan turun begitu lebat kau berteduhlah saja disini.” Teriak Leen A.
“Hujan tidak akan mebuatku mati, mebuat Jimin suka terhadapku dan membuat Oppaku kembali dari kematiaan.” Dana.
Leen A yang mendengar perkataan yang dilontarkan Dana langsung tercengang diam hanya melihati Dana berjalan menerobos hujan.
~Sementara itu…~
Seorang namja sedang melihat Dana yang menerobos derasnya hujan pada sore hari itu.
“Dana apa kau tidak melihat salah satu namja yang berada didekatmu ini yang sedang terus melihatmu? Kenapa kau harus menyukai seseorang yang bahkan seseorang itu tidak membalasmu?” Batin Suga sambil membawa payung yang melindunginya dari derasnya hujan.
“God, aku tidak tahu sampai kapan aku harus menyukai Jimin. Bahkan Jimin sendiri tidak pernah membalas perasanku yang selalu aku berikan kepadanya? Apa memang ini takdirku? Jika memang aku tidak bersama Jimin, aku ingin cepat melupakan semua ini dan memendamnya dalam-dalam.” Batin Dana sambil menyusuri jalan dengan menundukkan kepalanya.
Hujan yang tambah begitu deras ditambah petir yang begitu menggelegar tidak mematahkan Dana untuk berhenti lalu berteduh. Dana berhenti ditengah jalan menuju arah rumahnya lalu mendangakkan kepalanya keatas untuk melihat hujan yang jatuh mengenai seluruh badannya.
Rasa sakit di matanya akibat tetesan air hujan itulah yang hati Dana rasakan saat ini. Lalu Dana memejamkankan matanya seketika hujan tidak lagi membasahi seluruh tubuhnya. Dana membalikkan badannya.
“Suga Oppa… Kenapa hujan-hujan seperti ini kau ada disini.” Dana sambil membersihkan air hujan yang membasahi wajahnya. Suga hanya tersenyum.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu saat ini. Kenapa hujan deras seperti ini kau belum sampai rumah juga?” Suga.
“Aniya, tidak kenapa-kenapa.” Lalu Dana membalikkan badannya.
Suga membalikkan badan Dana dan langsung memeluknya. Tangan kanan Suga masih terus mengenggam badan payung dan tangan kirinya mencoba memeluk erat Dana.
Dana hanya terdiam tidak tahu maksud dari pelukan yang dia rasakan saat ini.
“Oppa...” Suara Dana dibalik tubuh Suga.
“Biarkan seperti ini dulu.” Suga.
“Oppa aku tidak bisa bernafas.” Rintih Dana. Sugapun melepas pelukannya sedangkan Dana menarik banyak-banyak udara dari sekitar.
“Akan kuantar kau sampai rumah.” Suga.
Apa tidak apa-apa Oppa?” Dana sambil menoleh kearah Suga, Suga menganggukan kepalanya.
***
“Noona, kenapa kau murung seperti itu? Apa kau sakit?” Tanya Jungkook yang melihat Noonanya berjalan lalu duduk dipinggir kasur.
“Noona apa kau mau makan? Akan aku ambilkan.” Jungkook. Dana hanya menidurkan badannya ke tempat tidurnya.
Jungkookpun melihat Noonanya dari balik skat kayu yang menutupi ruang kamarnya dimana tempat tidurnya satu ruangan dengan Noonanya.
“Noona...” Panggil Jungkook yang lalu menghampiri Noonanya.
“Noona lalu apa yang terjadi? Katakanlah.”Jungkook yang duduk didekat Dana.
“Apa kau tahu Park Jimin, Jungkook?” Dana. Jungkook menganggukkan kepalanya.
“Dan kau tahu kalau aku berteman dengannya sejak kau belum lahir dan aku mulai menyukainya sejak SMP.” Dana, Jungkook berulang kali hanya menganggukan kepalanya.
“Ne Noona, arraseo. Tapi apa yang salah?” Jungkook sambil mendirikan Dana.
“Dia telah menyukai seseorang.” Dana, seketika itu Dana meneteskan air matanya.”
“Mwo??? Noona apa yang kau katakan itu benar?” Jungkook.
“Ne, jungkook aku pulang terlambat karna Jimin mengajakku untuk pulang dengannya. Lalu ia mengatakan ia menyukai Soo Jung dan dia menyuruhku untuk mendekatkannya dengan Soo Jung.” Dana.
“Soo Jung yang membunuh Hyung?” Jungkook. Dana mengangguk.
“Bahkan dia tidak pernah melihat perasaanku yang selalu ada untuknya. Dia bahkan tidak melihatku sebagai yeoja pada umumnya, dia melihatku hanya sebagai teman masa kecilnya. Dan itu membuatku sakit hati Jungkook.” Dana yang mulai menagis tanpa henti.
Lalu Jungkook mengambilkan sebuah tissue untuk Noonanya “Noona aku tahu Jimin Hyung hanya belum menyadarinya kalau sebenarnya ada yeoja yang sangat berharga.” Jungkook membenarkan rambut Noonanya yang tidak karuan.
“Noona percayalah padaku, sebenarnya Jimin Hyung hanya terlambat menyadarinya saja. Noona jika kau memerlukan seseorang untuk bersandar mengatakan semua keluh kesalmu. Datanglah kepadaku dan bersandarlah dipundakku, aku akan selalu mendengarkanmu dan menjagamu Noona.” Jungkook yang menepuk-nepuk pundak Dana.
“Noona istirahatlah, bukankah besok kau harus lebih berusaha lagi?” Jungkook sambil mencium kening Noonanya.
“Terimakasih telah menjadi dongsaengku.” Dana yang mengelus-elus rambut Jungkook.
~Keesekon harinya~
Dana berjalan dengan rangkul lengan Jungkook. Dana terus menundukkan kepalanya disepanjang perjalanan menuju kesekolah.
“Noona dangakkanlah kepalamu.” Jungkook yang mengayunkan tangannya dan mengarahkan wajah Noonanya.
Sampai Leen A berjalan menuju ke Jungkook dan Dana.
 “Dana... Jungkook..” Panggil Leen A. Dana dan Jungkook berhenti dan menoleh.
Dana yang melihat kehadiran Leen A langsung memulai pembicaraan “Leen A maafkanlah aku karna kemarin aku telah membentakmu.” Dana.
“Oh, gwenchana. Aku menegerti kok, kemarin perasaanmu sedang kacau balau jadi aku bisa mengertinya.” Leen A.
“Gumawo Leen A (Danapun teringat dengan kejadian sewaktu ia berhenti di tengah jalan dan bertemu dengan Oppanya Leen A) dan sampaikan ucapan terimakasihku untuk Oppamu karna kemarin dia telah mengantarkanku sampai kerumah.” Dana. Leen A menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Dana….” Panggil Jimin dari kejauhan sambil melambaikan tangan yang telah menunggu didepan gerbang sekolah.
Dana membuang pandangannya dan terus merangkul Jungkook.
Jimin yang seperti diacuhkan oleh Dana langsung beralan cepat menuju ke Dana.
“Apa kau sudah siap untuk membantuku?” Jimin. Dana hanya terdiam. Sedangkan Jungkook dan Leen A mengeluarkan pandangan sinis kearah Jimin.
 “Wae? Kenapa Dana dan kalian seperti ini? Dana kau kenapa sejak kemarin seperti ini? Kalau kau tidak mau membantuku, oke tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan acuhkan aku seperti ini, bukankah kita teman?” Jimin. Dana menambah erat rangkulan tangannya ke Jimin.
“Apa yang seperti itulah yang dinamakan teman?” Jungkook.
“Apa kau tidak menyadarinya? Bahwa...” Dana langsung menarik lengan Jungkook untuk berjalan.
 “Noona apa kau akan terus menutupi perasaanmu seperti ini?” Jungkook.
“Ya’ Jimin-sshi kau diberikan sebuah hati dan perasaan yang sempurna oleh Tuhan tanpa ada cacat sedikitpun. Kenapa kau masih tidak bisa merasakan apa yang telah Dana rasakan sejak dulu lamanya terhadapmu. Sebenarnya apa kau itu punya hati?” Leen A.
Jiminpun menoleh kearah Dana dimana yang masih berjalan dengan Jungkook dan langsung berlari kearah mereka. Jiminpun memegang lengan Dana. Danapun terkejut.
“Dana apa kau menyukaiku?” Jimin.
Danapun menoleh wajah Jugkook. Jungkookpun menganggukkan perlahan kepalanya mengisyaratkan katakanlah yang ingin kau katakan.
Dana memandang Jimin penuh dengan rasa amarah dan bercampur hati yang begitu rapuh “Ne! Naega johaeyo! Wae? Aku menyukaimu sejak kita duduk di sekolah menegah pertama. 5 tahun aku mencoba memendam perasaanku terhadapmu. Aku mencoba bersabar dengan semua yang aku rasakan sampai sekarang. Aku lelah Jimin, apa kau tidak pernah melihat semua usahaku terhadapmu? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku yang selalu aku berikan terhadapmu setiap harinya?” Dana yang mencoba menyeka air mata yang sempat belum menetes dipipinya.
“Apa aku salah? Apa aku bodoh sampai mau menunggumu begitu lamanya?” Dana berlari meninggalkan Jimin, Jungkook dan Leen A.
“Hyung aku harap kau tidak akan membuat Noonaku menambahkan daftar kenangan terburuk didalam hidupnya setelah kematin Taehyung Hyung.” Jungkook yang berlari mengikuti Noonanya. Sedangkan Leen A hanya menyasikkan drama yang terjadi dihadapannya.
~Sewaktu didalam kelas~
“Mwo? Dana menyukaiku? Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Aish, pabo!!! Seharusnya aku mengetahuinya terlebih dahulu dan mengatakan padanya agar dia tidak semakin menyukaiku. Hah, senyumnya itu, perasaan itu, perhatiaanya terhadapku itu semua karena dia menyukaiku?Batin Jimin sambil menampar-nampar wajahnya.
“Jimin bisakah aku meminjam buku catatanmu?” Dana. Jimin terkejut dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas.
“ Ya’ Jimin-na, kau ingin kemana?” Leen A yang meneriaki Jimin karena pekerjaan kelompok mereka belum selesai.
“Oh, Oh, cinta bertepuk sebelah tangan ya?” Soo Jung.
“Haha, cinta bertepuk sebelah tangan aku kira hanya di dalam serial drama di Tv saja. Teryata disini ada juga yang seperti itu? Hah, omong kosong.” Soo Jung.
“Ya’ kau ini berbicara apa?” Dana.
“Memang benarkan dirimu sebenarnya menyukai Jimin, tetapi Jimin tidak.” Soo Jung.
*PLAAK* “Apa kau ingin lebih dari ini?” Dana.
“Aku bisa melakukan lebih dari ini.” Dana sambil mendorong Soo Jung sampai terjatuh.
“Ya’, dasar wanita jalang.” Soo Jung ingin menapar balik Dana tapi itu dihalangi oleh Jimin.
“Siapa yang kau anggap jalang? Hah? Lalu bagaimana dengan Oppaku yang mati 3 tahun lalu karena mulut bedebahmu itu? Sekarang siapa yang kau sebut jalang hah? Nugu-nde?” Dana yang berusaha menjambak Soo Jung tetapi segera Jimin menarik tangan Dana dan mengajaknya keluar dari kelas.
~Ditaman sekolah~
“Mianhae, aku tidak bisa menerimamu.” Jimin. Seketika air mata Dana ingin keluar tetapi itu ditahannya.
“Aku sudah tidak memikirkannya lagi.” Dana.
“Apa secepat itukah kau tidak menyukaiku lagi?” Jimin.
Dana mengangguk “Lantas apa aku harus menunggumu lagi? Berapa tahun lagi aku harus menunggumu dan terus menahan sakit?” Dana.
“Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan perasaanmu terhadapku seutuhnya. Sisakan perasaanmu terhadapku sebagai teman yang sesungguhnya.” Jelas Jimin.
“Aku lelah. Aku tidak mau membahas ini lagi.” Dana yang langsung berjalan meninggalkan Jimin.
“Kau tidak mengerti Dana!” Jimin.
“Memang aku tidak mengerti!” Dana yang menambah tempo jalannya yang diamana air mata sedikit demi sedikit telah terbendung.
“Kau bodoh!” Jimin.
“Memang aku bodoh! Bodoh telah menunggu seorang namja sepertimu sebegitu lamanya!” Dana yang langsung berlari dan mengeluarkan air matanya.
Jimin terus menahan air mata yang telah membendung di kedua kelopak matanya. Jiminpun menggigit ujung bibirnya,menundukkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
~Sementara itu…~
“Noonaku ada dimana?” Jungkook yang menghampiri Noonanya.
“Itu dia.” Leen A. Dana masuk kekelas dengan mengusap air matanya berulang kali.
“Noona neon gwenchana?” Jungkook. Dana menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Haha, sudah kubilang percuma saja kau mencintai Jimin. Jimin itu sebenarnya tidak menyukaimu.” Soo Jung.
“Ya’, wanita jalang. Berani sekali kau mengatakan hal itu kepada Noonaku? Apa kau lupa kejadian 3 tahun yang lalu? Kaulah yang jalang! Kau membunuh Hyungku dengan mulut jalangmu itu! Bahkan sedikitpun saja Hyungku jijik melihat tubuhmu! Apalagi menyentuhnya bagaiamana bisa kau memenjarakan seorang yang tidak salah sampai membusuk dipenjara hah JALANG?” Jungkookpun wajahnya dengan Soo Jung hampir menempel.
“Sekali lagi aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulutmu dan itu tidak baik untuk Noonaku, jangan harap kau menpunyai kesempatan hidup. Biarpun aku masuk penjara karena aku membunuhmu itu tidak apa asalkan Noonaku tidak akan pernah mendengar perkataan dari mulut bedebahmu itu. Maupun itu untuk Namja ataupun Yeoja mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk melihat hari esok.” Jungkook.
Lalu Jungkook mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya, Jungkook yang tidak tega melihat keadaan Noonanya menarik tangan Noonanya untuk pulang.
Sampai didepan halaman sekolah, semua orang yang satu kelas dengan Dana tetap melihat dari jendela kelas. Seketika Jungkook berhenti melangkahkan kakinya.
“Noona apa kau lelah?” Jungkook.
“Jika kau lelah naiklah kepunggungku, aku akan menggendongmu.” Lalu Dana mengikuti perkataan dongsaengnya itu.
~Sementara itu Jimin kembali didalam kelas…~
“Teryata kematian Taehyung sunbae itu akibat ulahmu?” Tanya seorang yeoja teman sekelasnya.
“KAU PEMBUNUH!” Teriak seorang yeoja.
“JALANG PEMBUNUH! PERGILAH DARI KELAS KAMI!” Tambah seorang namja. Sekarang teman sekelas Soo Jungpun berbisik-bisik tentang kejadia 3 tahun lalu.
“PERGILAH KE NERAKA JALANG BUSUK!!!” Teriak yeoja teman sekelasnya.
“Kenapa kalian semua melihat kejendela dan sangat berisik?” Jimin. Lalu semua teman sekelasnya berbalik dan melihat Jimin.
“Jimin, aku tidak habis pikir dengan perbuatanmu itu. Kaukan temannya Dana sejak masa kecilnya tetapi kenapa kau melakukan hal ini sampai membuat Dana seperti itu.” Leen A.
“Bahkan baru kali ini aku melihat Dana seperti ini.” Tambah Leen A yang mengemasi barang sekolahnya. Lalu Soo Jung mendekati Jimin.
“Sepertinya yang dikatakan Leen A itu benar.” Soo Jung, lalu Leen A sontak terkejut dan melihat kearah Soo Jung.
“Aku bahkan tidak mengerti semua hal ini. Setelah Jungkook mengatakan semua hal itu kepadaku, aku sadar bahwa dia sangat menyayangi dan menjaga Noonanya lebih dari menyanyangi dan menjaga dirinya sendiri.” Soo Jung.
“Aku mengatakan seperti ini bahwa aku sadar semua perkataanku dan kelakuaanku tadi salah ke Dana. Aku melupakan kejadian 3 tahun yang lalu terhadap keluarganya Dana. Aku sangat merasa berdosa sekarang.” Tambah Soo Jung.
“Jadi Jimin mianhae, aku tidak bisa menerimamu. Aku adalah pilihan yang salah jika kau memilihnya, aku adalah yeoja yang tidak seharusnya kau pilih dan kau sukai. Dan aku adalah apa yang tidak kau butuhkan. Aku adalah yeoja yang tidak pantas kau pilih dan kau miliki.” Tambah Soo Jung yang lalu meninggalkan Jimin untuk mengemasi barangnya sama seperti yang dilakukan Leen A.
Detik, menit, jam telah berlalu. Hari, minggu telah dijalani Dana dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Sewaktu Dana bertemu dengan Jimin, Jimin selalu memalingkan wajahnya atau menghindar darinya. Seakan-akan Dana musuh baginya.
“Jimin, sebenarnya apa yang kau lakukan ini? Aku sudah lelah dengan semua ini, aku benar-benar lelah Jimin. Tidak bisakah kita menjadi teman selamanya jika kau tidak mau menerimaku, nafasku seakan- akan mulai berhenti dengan semua ini. Kumohon Jimin aku tidak mau seperti ini, jika kau tidak mau menerimaku bertemanlah saja denganku. Berteman saja itu sudah lebih dari cukup biarpun itu membuatku sakit hati setidaknya aku sudah bisa dekat denganmu.” Batin Dana.
~Keesokan harinya, saat ditaman~
Dana duduk ditaman dekat rumahnya yang menemani Jungkook disana. Dana berusaha untuk menghilangkan semua perasaannya kepada Jimin.
Lalu ada seorang namja yang tiba-tiba duduk disamping Dana dan menyandarkan kepalanya kepundak Dana. Dana sontak terkejut…
“Jimin-na….” Dana.
“Jimin?” Suga.
“Oh, Mianhae Oppa aku kira kau Jimin.” Dana.
“Lantas dimana Leen A?” Tambah Dana. Lalu Suga menunjuk kearah Leen A yang sedang membeli ice cream bersama Jungkook.
“Apa kau masih memikirkan namja yang kau sukai itu?” Suga.
“Oppa, aku sudah berusaha untuk melupakannya dan memendamnya. Tetapi itu sangat sulit.” Dana sambil mendagakkan kepalanya melihat awan.
“Lantas kau bagaimana sekarang?” Suga sambil memberikan sebuah permen lollipop kepada Dana.
“Ini untukmu, makanlah mungkin ini bisa melupakan sedikit demi sedikit masalahmu.” Suga. Dana menoleh kearah pemberiaan Suga tadi. Dan tess, sebuah air mata langsung saja jatuh membasahi pipinya.
“Mwo? Kenapa denganmu? Apa kau sakit?” Suga sambil memegang kening Dana.
“Singkirkan benda itu dariku, aku tidak mau melihatnya.” Dana.
Jungkook dongsaengnya yang melihat Noonanya seperti itu seketika berhenti menjilati ice creamnya dan Leen A yang melihat itu hanya bisa terdiam saja dan menoleh kearah Jungkook.
“Oh, mianhae. Aku tidak tahu soal itu.” Suga.
“Dana sebenarnya aku menyukaimu.” Tambah Suga.
“Mwo Oppa? Kau menyukaiku?” Dana. Suga menganggukkan kepalanya.
“Tapi Oppa aku…” Dana.
Suga memotong pembicaraan Dana “Tidak usah dijawab aku tahu, kau pasti akan menolakku.” Suga.
“Oppa mianhae, bagaimanpun juga aku masih saja menyukai Jimin bahkan Jimin tidak menyukaiku.” Dana.
~Sementara itu…~
“Apa kau sangat menyayangi Noonamu?” Leen A, Jungkook menganggukkan kepalanya
“Seberapa besar?” Leen A.
“Bahkan aku berani menaruhkan nyawaku untuk Noonaku.” Jungkook kembali menjilati ice creamnya kembali layaknya anak kecil.
“Jika ada seorang yeoja yang menyukaimu? Apa kau akan juga menaruhkan nyawamu untuk yeoja yang menyukaimu itu?” Leen A.
“Hm, mungkin aku akan menaruhkan nyawaku saja kepada Noonaku. Karna Noonaku merupakan saudara kandungku jadi aku akan terikat dengan Noonaku selamanya dan jika ada yeoja yang menyukaiku mungkin aku tidak bisa menaruhkan nyawaku kepadanya karna yeoja itu tidak akan selamanya meyukaiku dan suatu saat dia akan bosan kepadaku dan akan meninggalkanku begitu saja. Jadi aku tidak mau menaruhkan nyawaku untuk yeoja yang menyukaiku dan jika itu terjadi kehidupanku selama didunia ini percuma saja.” Jelas Jungkook.
“Oh, daebak aku kagum denganmu.” Leen A yang dengan perlahan-lahan mendekati Jungkook.
“Wae Noona? Kau menyukaiku?” Jungkook.
“Mwo?? Omo kenapa kau sangat percaya diri seperti ini?” Leen A.
“Bukankah aku mengatakan hal yang sebenarnya, lihatlah pipimu bersemu merah.” Jungkook sambil menunjuk kepipi Leen A. Leen A menutupi pipinya.
Sedangkan Jungkook hanya tersenyum “Yasudah Noona aku akan pulang dahulu, aku akan menjemput Noonaku.” Jungkook yang tiba-tiba memeluk Leen A. dan mengatakan sesuatu…
“Gamsahamnida Noona telah berteman dengan Noonaku dan selalu menjaganya selama ini.” Bisik Jungkook dan melepaskan pelukannya.
“Daaa Noona, kapan-kapan kita membicarakan hal ini lagi. Saat ini aku belum bisa menjawab karna Noonaku masih menyuruhku untuk belajar dulu.” Jungkook sambil berlari menghampiri Noonanya.
~1 tahun kemudian~
Bel pulang sekolahpun berbunyi, hujanpun turun begitu deras. Jungkook sudah pulang lebih dahulu karna Dana ada tambahan jam pelajaran jadi ia tidak bisa pulang dengan Jungkook. Dana tidak merasa takut dengan hujan, setelah keluar dari pintu sekolahan Dana begitu saja berjalan diantara derasnya hujan yang begitu banyak dilihat seluruh sekolah.
Dana tetap saja berjalan dan terus berjalan berharap hujan dapat menghapus semua memori yang ada dipikirannya. Berhentilah disebuah jalan sepi, Danapun melihat lurus kedepan dan teryata tepat dihadapannya ada seorang namja yang membuat hidupnya berlayar hilang arah. Ya Park Jimin.
Jimin tetap saja terus berjalan begitu saja dengan Dana yang melanjutkan jalannya tiba saat mereka berjalan berdekatan…
“Jimin-na…” Sebuah kata muncul dari mulut Dana. Dan Jimin berhenti lalu membalikkan badannya begitu juga Dana.
“Kenapa kau lakukan ini kepadaku?” Dana sambil memegangi tali tas yang ada dikedua pundaknya.
“Karna aku tidak mau kau menyukaiku Dana.” Jimin.
“Setidaknya kalau kau tidak mau menerimaku, tidak bisakah kita menjadi teman seperti dahulu? Bukankah kita teman? Kau pernah bilang kepadaku disebuah sore yang cerah bahwa kau akan selau berada untukku jika aku menemukan masalah. Lantas sekarang aku menemukan masalah itu, kau pergi kemana Jimin-na?” Dana.
“Jimin-sshi apa kau tahu, aku sangat lelah bahkan tidak satupun orang yang dapat membuatku sembuh seperti dulu kecuali kau.” Tambah Dana.
“Cobalah kau melihat hujan yang jatuh membasahi tubuhmu.” Tambah Dana lagi. Lalu Jimin melakukannya.
“Ini sangat sakit. Jika terkena mata. Apa kau selalu melakukan hal itu?” Jimin sambil mengusap-usapkan tangan dimatanya.
“Itulah yang saat ini aku rasakan, jika kau menghindariku seperti ini.” Dana.
“Lalu cobalah pejamkan matamu. Apa yang kau rasakan?” Tambah Dana. Lalu Jimin memejamkan matanya.
Sambil memejamkan mata “Tidak ada yang aku rasakan, cuma hitam dan gelap.” Jimin.
“Itulah yang kurasakan saat ini gelap, kesepian tanpa kau didalam hari-hariku. Dunia ini serasa mati tidak ada kehidupan didalamnya. “ Dana.
Lalu Jimin membuka matanya dan Dana seketika memeluk Jimin “Lalu sekarang apa yang kau rasakan?” Dana.
“Sebuah kehangatan dan kenyamanan.” Jimin.
“Itulah yang aku rasakan jika aku berada disampingmu, dimana itu, saat apapun itu juga. Biarpun itu hanya dekat denganmu inilah yang aku rasakan.” Dana, lalu Dana melepaskan pelukannya.
“Aku hanya ingin berteman denganmu lagi Jimin, jika kau tidak bisa menerimanku itu tidak apa-apa meskipun akhirnya aku sakit karna itu. Tapi setidaknya berteman denganmu dan dekat denganmu seperti dulu itu sudah lebih dari cukup.” Dana. Lalu Dana berjalan dan meninggalkan Jimin.
Jimin hanya melihat Dana meninggalkannya begitu saja sampai bayangan Dana tidak terlihat lagi. Seketika Jimin baru sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan seseorang yang telah lama menyukainya. Lalu Jimin berlari dan mencari Dana.
Akhirnya Jimin menemukan Dana yang sedang duduk disebuah halte bus sendirian. Dana berusaha untuk menahan air matanya dan itu gagal berulang kali Dana mengusap air matanya tetapi air matanya tetap saja mengalir begitu saja. Lalu Jimin menghampirinya lalu duduk jongkok didepannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Jimin yang mengusap-usap kepala Dana.
Lalu Dana mendanggakkan kepalanya dan melihat kearah Jimin, begitu terkejutnya Dana. Dan Dana hanya terdiam.
“Aniya! Aku tidak baik-baik saja. Aku hanya berusaha kuat didepanmu! Arra!” Dana yang menyeka air matanya
“Mianhae Dana telah menyia-nyiakanmu, aku baru menyadari saat ini. Mianhae aku baru menyadarinya saat ini.” Jimin yang mengenggam kedua tangan Dana dengan tangan kirinya lalu tangan kanan Jimin mengusap air mata Dana.
“Mianhae yang telah membuat air matamu terus mengalir keluar, seharusnya aku temanmu sejak masa kecil tidak seharusnya melakukan hal sperti ini.” Jimin.
“Dana mianhae, aku memang namja yang bodoh yang menyia-nyiakan yeoja sepertimu. Yeoja yang mau lama menungguku, dan bodohnya dia mau membantuku untuk mendapatkan yeoja lain.” Jimin tersenyum.
“Lantas apa? Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Aku telah pasrah tentang semua jalan alur takdirku sekarang ini! Kau mau aku apa Jimin? Enyah dari kehidupanmu?” Dana yang berusaha melepaskan genggaman Jimin.
“Dana, maafkanlah aku. Jinnja mianhae, sekarang aku telah sadar bahwa kau adalah yeoja pilihanku dan bukanlah Soo Jung, kau adalah yang seharusnya aku pilih dan aku sukai dan bukanlah Soo Jung dan kau adalah yeoja pilihanku yang benar dan yang akan aku miliki selamanya dan bukanlah Soo Jung. Dan kau adalah yeoja yang benar bagiku, aku beruntung mempunyai yeoja sepertimu Dana dank au adalah yeoja yang aku butuhkan untuk selamanya.” Jelas Jimin.
 “Apa yang kau katakan itu benar Jimin?” Dana yang tidak percaya.
“Lalu apa yang membuatmu agar percaya denganku?” Jimin.
Seketika Dana memeluk Jimin dan berkata “Gumawo sudah menerimaku.” Dana.
Dana terus memandangi wajah Jimin begitu juga dengan Jimin memandangi raut wajah Dana. Jiminpun mendekatkan wajahnya lalu menciup bibir Dana dimana ditemani oleh suasana derasnya hujan.
“Jimin gumawo telah menerimaku, aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakanmu butuh waktu lama aku bisa mendapatkanmu dan membutuhkan banyak perjuangan bisa mendapatkanmu. Jimin Gumawo sudah menjadi tempat bersandarku.”
Seo Dana.
“Dana Gumawo, kau sudah mau menungguku. Begitu lama dan waktu yang terbuang bagimu hanya untuk menungguku. Aku memang namja yang bodoh yang menyia-nyiakan teman bahkan yeoja sepertimu, aku berjanji Dana aku tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu. Saranghae Dana.”
Park Jimin.

End.
Categories: , ,

0 komentar:

Posting Komentar