Minggu, 20 Desember 2015

Love is Hurt

Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Junhoe (Ikon)  a.k.a Park Myu Li, Wonhoe (MONSTA X) a.k.a Jung Sa Ka, Seo Dana, Krystal Jung (f(x)) a.k.a Hyo So Ta
Genre : Frienship, Hurt romance
Rating : Maybe teen
(INSPIRED BY SND STORY)
Hai namaku Seo Dana, umurku 15 tahun dan sekarang aku duduk dikelas 1 SMA. Hah masa SMA adalah masa yang sangat melelahkan, kelas 1 SMA merupakan masa beradaptasi dari itulah takdirku mulai berjalan.
Akupun diterima di kelas 1 Science 6, kesan awal aku masuk dikelas itu sangatlah buruk bahkan aku mulai berpikir bahwa kelas itu adalah kelas kutukan. Tetapi aku berusaha beradaptasi seperti banyak orang lainnya karena selama 3 tahun kelas tidak akan berubah-ubah.
Kegiatan mengajarpun sudah mulai aktif, tetapi setiap kelas kami mengadakan ujian harian hanya kelas 1 Science 6lah yang paling jelek. Kelaskulah yang selalu mendapat cemoohan dari sana sini termasuk guru-gurupun juga membenci kelasku.
Akupun juga merasa tertekan disana, teman-temanpun hah aku merasa tidak nyaman dengan mereka. Akupun seperti ingin menyendiri jika bertemu dengan mereka. Tetapi semakin lama aku mulai nyaman entah sejak kapan aku mulai nyaman mempunyai kelas seperti ini.
Hari-haripun telah aku lewati berawal dari tertekan menjadi nyaman, tetapi suatu ketika perasaanku tertarik kepada sesuatu. Hal ini aneh entak sejak kapan perasaanku ini timbul, setiap hari aku selalu memikirkan hal ini. Lalu aku menyimpulkan bahwa aku menyukai seseorang.
~4 Bulan kemudian~
Setelah kami bersama, kamipun seperti keluarga besar. Suatu hari kemudian sekolah mengadakan kegiatan bersih kelas. Lalu kelas 1 Science 6pun sangat berantusias dengan hal itu dan seakan tidak ingin kalah.
“Oke kelas kita sudah bersih sekarang.” Hyo So Ta.
“Ne kelas kita telah bersih.” Dana.
Hyo So Ta dia adalah teman dekatku, ia adalah temanku sejak aku duduk dikelas 1 SMP dan sekarang kami bertemu lagi lalu menjadi sahabat yang sangat dekat bahkan dia adalah sahabat pertamaku yang mengetahui bahwa aku menyukai seseorang bahkan orang lain saja tidak mengetahuinya.
Tiba-tiba Sunbae kamipun datang dan langsung mengambil mading yang berada dikelas kami, akhirnya kelas kamipun menjadi kotor lagi disaat penilaian kelaspun dimulai. Kamipun merasa kecewa akan hal ini, kami sudah bekerja keras sampai waktu istirahat kamipun tersita untuk hal ini tetapi apa akhirnya yang kami dapat?
“Dasar pecundang!” So Ta.
“Apa mereka sengaja agar kelas kita menjadi kotor saat penilaian?” Dana.
“Sudahlah, tidak usah dipikirkan. Kajja kita bekerja lagi untuk membuat mading yang lebih bagus.” Park Myu Li.
Park Myu Li dia adalah namja chinguku tepatnya dia adalah sahabatku yang kedua, hah dia sangat tolol, konyol dan idiot tapi disisi lain dia adalah sahabat yang membuatku nyaman. Kami bersahabat sewaktu kami masuk di kelas 1 Science 6 ini.
“Tapi kelas kita sudah kotor saat penilaian!” So Ta.
“Bukankah penilaian kebersihan kelas itu dilakukan secara berkala? Jadi tenanglah kita bisa melakukan bersih-bersih lagi untuk penilaian yang akan datang.” Sela Jung Sa Ka.
Dan Jung Sa Ka dia adalah namja chinguku yang terakhir, dia adalah tukang nasihat. Sewaktu kami ber-4 kumpul kami selalu diberi nasihat oleh dia, ia bagaikan Appa di dalam persahabatan kami. Lalu kami bersahabat juga sewaktu masuk di kelas 1 Science 6 ini.
~Seminggu kemudian~
“Hah aku lelah banyak tugas sewaktu SMA ini beda dengan SMP!” So Ta.
“Ne kau benar, banyak tugas aku sangat lelah ditambah lagi dengan proyek kelas kita yang belum selesai.” Dana.
“Hya’ aku lelah!” Danapun yang mulai berkaca-kaca.
“Bukan hanya kau saja yang lelah kita semua juga lelah dengan semua ini!” So Ta.
Sunshiniempun datang “Hm, kalian sedang membuat mading kelas?” Sunshiniem.
“Oh ya maaf sebelumnya sehubung dengan kegiatan bersih kelas, sekolah kita juga ada kegiatan penghijauan setiap kelas jadi setiap kelas harus mempunyai taman di didepan maupun belakang kelas mereka.” Sunshiniem.
***
“Shitt, ini benar benar membuatku kesal!” So Ta.
“Hah aku lelah! Sekarang sudah ada proyek lagi! Bahkan mading kita belum selesai!” Dana.
“Sekarang kita bagi saja, ada proyek mading dan proyek penghijauan kelas. Jadi biar kita tidak kerja 2 kali, kita bagi menjadi 2 kelompok ada kelompok mading dan kelompok penghijauan.” Myu Li.
Akhirnya pembagian kelompokpun telah selesai, aku menjadi satu kelompok dengan Myu Li dan So Ta menjadi satu kelompok dengan Sa Ka.
Selama hampir 1 bulan kelompok mading bekerjakeras sama halnya dengan kelompok penghijauan kelas juga bekerja untuk taman kelas. Pada akhirnya mading kelaspun telah selasai dan kerjakeras kamipun tidak sia-sia selama ini.
Sebagian dari kelompok madingpun berinisiatif untuk membantu kelompok penghijauan kelas termasuk aku dan Myu Li.
***
“Danaya mianhae…” So Ta.
“Mwo? Mianhae? Wae?” Dana.
“Sepertinya Myu Li mengetahui percakapanku denganmu yang berada di pesan singkat diponselku.” So Ta.
“Mwo? Bagaimana bisa seperti itu?” Dana.
“Sewaktu tadi aku kerumah Myu Li, dia dengan iseng membuka buka ponselku.” So Ta.
“Seharusnya jika kau tahu kalau itu penting, kau seharusnya memberi sandi pada ponselmu! Seperti ini siapa yang arus disalahkan! Kau ini bagaimana?” Dana.
“Mianhae Danaya.. Au sudah memberi pola pada ponselku!” So Ta.
“Apa kau tahu lebih aman kau memberi sandi berupa huruf atau angka.” Dana.
 “Kau tahu! Kau adalah temanku yang pertama mengetahui kalau aku menyukai dia dan kau juga tahu kalau Myu Li tidak dapat dipercaya dan kau juga tahu kalau orang yang aku sukai itu dekat dengannya!”  Tambah Dana.
So Tapun hanya terdiam.
“Danaya kami datang” Myu Li. Yang langsung duduk dengan Sa Ka.
“Oh ternyata ini rumahmu Dana.” Sa Ka.
Akupun hanya terdiam, aku hanya takut jika suatu saat nanti Myu Li memberitahu yang sebenarnya.
“Myu Li kenapa kau membuka ponselku tadi? Apa kau membuka pesan singkatku dengan Dana?” So Ta.
“Ne aku membukanya.” Myu Li.
“Wae?!” Dana.
“Karena aku hanya ingin tahu saja!” Myu Li.
“Hya’ kalian berisik sekali, sebenarnya kalian ber-3 ini sedan membicarakan apa sih?” Sa Ka.
“Hm, tadi sewaktu kau mandi aku membuka ponsel So Ta dan melihat percakapan singkat antara So Ta dan Dana bahwa…” Myu Li.
“Aniya! Bisa tidak kau ini diam! Kenapa kau selalu mengatakan hal tidak penting seperti ini?” So Ta.
Akupun hanya terdiam saja yang melihat So Ta marah kepada Myu Li.
 “Oh jadi maksudnya kau… OMG! Jadi kau menyuruh kita pulang lewat Jalan Pakty itu karna itu! OMG ya ampun kalian sama-sama…” Myu Li.
“Hya’ sekarang kalian bermain rahasia dibelakangku? Ne? Cepat katakana apa isi percakapan itu!” Sa Ka.
“Aniya bukan apa-apa, apa itu sangat penting bagimu?” Dana.
“Hm, tidak terlalu.” Sa Ka.
~Keesokan harinya~
Bel pulang sekolahpun telah berbunyi kamipun telah bersiap-siap untuk kembali mengerjakan proyek kelas kami. Aku, Myu Li, So Ta dan Sa Ka lalu ditambah teman lainnya pergi ke Busan untuk membeli bunga hias.
Akupun mulai gelisah, aku bingung, takut dan ingin marah semua perasaa itu tercampur jadi satu lalu membuat diam. Sa Kapun mulai bingung dengan tingkah anehku ini. Kamipun telah selesai membeli bunga, sewaktu pulang hujan deras mengguyur kami dan kamipun berpisah dimana Saka dan So Ta bersama sedangkan aku bersama dengan teman yeojaku yang lain.
Akhirnya aku kembali kerumah Myu Li untuk berteduh, akupun mempunyai pikiran mungkin mereka sudah sampai disana. Lalu beberapa menit kemudian aku telah sampai disana tetapi So Ta, Sa Ka dan Myu Li belum juga datang lalu aku berinisiatif untuk pergi kesekolah mungkin mereka pergi kesana untuk menaruh bunga yang telah kita beli tadi. Tapi setelah aku pergi ke sekolah, sepi tak ada seorangpun yang berada dikelas kami.
Akupun kembali kerumah Myu Li lagi tetapi tetap saja ketiga sahabatku itu tak juga datang, akupun putus asa. Aku khawatir bagaimana jika terjadi sesuatu aku merasa bersalah dengan semua ini akhirnya akupun duduk jongkok didepan rumah Myu Li menunggu mereka datang.
Yeoja chinguku berulang kali mengatakan “Danaya berteduhlah hujan sangat deras!” Tetapi aku tidak menghiraukannya. Lalu ia juga megatakan “Danaya apa kau lapar aku ingin memakan sesuatu?” Tetapi aku menolaknya dan aku menyuruhnya balik untuk makan dan tidak usah menghiraukanku.
Detik, menit telah aku lalui sampai akhirnya Myu Li datang dan memberi tahu kalau motor yang dinaiki Sa Ka dan So Ta bocor. Akupun degan cepat mengikuti Myu Li dari belakang dan sampailah.
“Myu Li dimana Sa Ka dan So Ta?” Dana.
“Kajja, Tarrawa.” Myu Li.
Berhentilah didepan toko ramyeon, akupun berjalan mendahului Myu Li lalu langkahku terhenti seketika melihat Sa Ka dan So Ta duduk berdua bersampingan sedang memakan ramyeon berdua. Merekapun terkejut lalu aku langsung duduk didepan toko ramyeon itu.
Diantara kesal dan marah, aku telah memikirkan hal negatif tentang mereka bertiga bagaimana jika mereka ber-3 terjadi sesuatu lalu aku sudah basah kuyub seperti ini dan ini yang aku lihat?
“Danaya kajja kita makan ramyeon!” So Ta.
“Aniya, kau makanlah saja! Aku susdah kenyang!” Dana.
“Palliwa! Kajja bogo.” So Ta.
Sa Kapun datang dan menghampiri kami berdua.
“Ada apa? Kenapa kau tidak mau makan?” Sa Ka.
“Aniya! Gwenchana kau makanlah saja!” Dana.
“Kajja bogo, jika kau tidak makan . Kami juga tidak makan!” Sa Ka.
Dengan terpaksa aku mengikuti kemauan mereka berdua.
***
“Danaya kau goncengan saja dengan Sa Ka!” So Ta.
“Mwoya? Aniya kau saja So Ta setelah ini aku ingin cepat-cepat pulang.” Dana.
“Aniya! Bukankah kita masih akan kerumahnya Myu Li? Jadi kau goncengan dulu saja dengan Sa Ka.” So Ta.
Akhirnya akupun pergi kerumah Myu Li dengan Sa Ka sedangkan So Ta dengan yeoja chinguku yang lainnya, aku sudah tahu jalan pikir bocah itu. Dasar licik kau So Ta!
~Saat diperjalanan~
Montor yang kunaiki dengan Sa Kapun lama kelamaan kecepatan menjadi lambat sedangkan So Ta sudah melewati kami terlebih dahulu. Suasanapun menjadi hening tak ada satupun yang memulai percakapan disepanjang perjalanan kami berdua hanya terdiam ditambah cuaca yang mendung seperti ini, hah aku benci suasana seperti ini.
“Hm, Danaya sebenarnya isi percakapan yang berada diponsel So Ta apa sih?” Sa Ka.
“Memangnya kenapa? Sejak kemaren kau merasa ingin tahu saja.” Dana.
“Aniya, tak apa-apa. Tapi disini kalian ber-3 menyembunyikan sesuatu dariku.” Sa Ka.
“Aniya, kami ber-3 tidak menyembunyikan sesuatu darimu. Aku hanya curhat tentang seseorang yang aku sukai saja kepada So Ta, So Ta malah menjadi pedengarku.” Dana.
Sa Kapun hanya terdiam dan terus fokus kedepan.
~Keesokan harinya~
“Hah aku lelah setiap hari kita harus bersih-bersih kelas saja!” So Ta sambil mengelap kaca jendela kelas.
“Ne.” Dana yang sambil duduk karna lelah.
Sa Kapun datang dan berdiri tidak jauh dari So Ta, entah berawal dari mana percakapan ke-3 sahabat itu dimulai lalu…
“Hm, aku ingin mempunyai seorang yeoja yang tinggi lebih dari aku, mempunyai hidung mancung. Agar bisa memperbaiki keturunanku.” Sa Ka.
“Apa kau ini ngelindur? Kau ini sedang berbicara apa?” Dana.
“Lebih baik kau membantu kami daripada ngoceh tidak berguna seperti itu!” So Ta.
“Chakkaman Sa Ka bilang, dia ingin mempunyai yeoja yang tinggi lebih darinya, mempunyai hidung mancung. Agar bisa memperbaiki keturunanya. Lalu tempo hari yang lalu Myu Li bilang Sa Ka mengajaknya pulang lewat jalan Pakty saja. Bukankah itu semua menuju kearah So Ta, apa Sa Ka selama ini menyukai So Ta?” Batin Dana.
“Danaya kau ini kenapa?” So Ta.
“Aniya, hah aku ingin masuk kekelas saja disini panas!”  Dana.
~Seminggu kemudian~
“So Ta jalan menuju rumahmu sangat mengerikan! Gelap! Huh horror!” Dana.
“Hah itu biasa daripada jalan menuju ruma Don Ma. Huh itu malah horror disana tak ada lampu satupun dan disana katanya juga angker.” Myu Li.
“Jinjja?” Dana.
“Ne. Apa kau tidak percaya?” Myu Li.
“Aniya.” Dana.
“Kalau begitu kapan-kapan kita kesana.” Sa Ka yang menyela pembicara.
“Kau ini sukanya menyela saja!” So Ta.
“Myu Li tolong antarkanku fotocopy ini, aku belum dapat tugas ini.” Dana.
“Kajja kita berangkat!” Myu Li.
***
~Diperjalanan~
“Danaya sebelumnya, hm mianhae. Selama ini aku salah presepsi aku kira So Talah yang menyukai Sa Ka tetapi selama ini kaulah yang menyukai Sa Ka. Mianhae Danaya!” Myu Li.
“Mwo? Mwoya? Kau ini berbicara apa Myu Li?” Dana.
“Aku berbicara yang sebenarnya disini! Aku sudah terlanjur bilang kepada Sa Ka kalau So Ta juga menyukainya padahal yang sebenarnya So Ta tidak menyukainya dan disisi lain Sa Ka sudah nyaman menpunyai chingu seperti So Ta jadi ia juga menyukai So Ta.” Myu Li.
“Apa So Ta juga sudah megetahui kalau  Sa Ka menyukainya?” Dana.
“So Ta sudah mengetahuinya Dana.” Myu Li.
“Kalau So Ta sudah mengetahuinya seharusnya So Ta memberitahuku agar aku tidak menyukai Sa Ka!” Dana.
“Mungkin dia menjaga perasaanmu Danaya.” Myu Li
“Tapi dia seharusnya  juga memikirkan perasaanku, seperti ini aku terlanjur menyukai Sa Ka. Seharusnya So Ta memberitahuku lalu aku tidak akan pernah menyukai Sa Ka sampai saat ini!” Dana.
***
“Eotthokae? Apa kau sudah fotocopy?” So Ta.
“Fotocopy tutup malam ini.” Myu Li.
“Danaya tolong kau setel lagu Day6 – Congratulation.” Sa Ka.
“Males!” Dana. Sa Kapun langsung terdiam.
“So Ta jam berapa sekarang?” Dana.
“Jam 08.30pm, memang kenapa?” So Ta.
“Aku ingin pulang sekarang!” Dana.
“Danaya kenapa kau cepat-cepat pulang?” So Ta.
“Sa Ka antarlah Dana pulang!” Tambah So Ta.
“Aniya aku bisa pulang sendiri!” Dana.
Akupun membereskan barang-barangku dan segera berpamitan pulang, setelah itu aku pulang dengan menaiki montor. Kecepatan montorku ku pertambah dan terus ku tambah lagi aku bingung dengan semua alur cerita ini jadi selama ini Sa Ka menyukai temanku sendiri.
Air mataku menetes disaat aku mengendarai montor, kenapa aku harus menangis disaat seperti ini? Kenapa aku harus mengeluarkan air mata untuk namja seperti dia? Bukankah ini percuma saja?
Setelah sampai rumah aku mengunci diriku didalam kamar, aku masih mengingat semua perkataan Myu Li bahwa Sa Ka sebenarnya menyukai So Ta. Air mataku mulai menetes lagi, serasa aku ingin menjerit dan mengatakan kepada dunia kenapa semua ini terjadi kepadaku?
Mataku seakan-akan rabun tidak bisa melihat, akupun masih menangis aku memutuskan menelphone yeoja chinguku yang lain. Ya Eun Ri Ah dia cukup dekat denganku.
“Yeoboseyo, Eun Ri jadi selama ini semua yang aku fikirkan teryata itu benar.” Dana.
“Mwo? Benar bagaimana maksudmu?” Eun Ri.
“Selama ini Sa Ka menyukai So Ta, aku sudah mempunyai fikiran kalau Sa Ka sebenarnya menyukai So Ta dari sewaktu Myu Li salah bilang kalau Sa Ka ingin pulang lewat jalan Pakty saja, kau tahu kalau jalan Pakty itu jalan menuju rumah So Ta. Lalu Sa Ka juga pernah bilang kalau dia ingin mempunyai yeoja yang tinggi lebih dari dia, mempunyai hidung mancung. Agar bisa memperbaiki keturunannya, bukankah itu sagat menuju ke So Ta. Dan dia juga pernah bertanya kepadaku apakah So Ta masih menyukai Sunbae kita itu.” Dana.
“Mwoya? Aniya, pasti kau bercanda tidak mungkin Sa Ka menyukai So Ta!” Eun Ri.
“Aku berbicara yang sebenarnya Eun Ri-ya, aku harus bagaimana sekarang? Kenapa semua ini malah seperti ini? Aku lelah Eun Ri kenapa Sa Ka harus menyukai So Ta temanku sendiri?” Dana.
“Hm, bagaiamana ini Dana? Aku juga tidak tahu harus bagaimana, aku juga bingung dan aku masih tidak percaya dengan semua ini. Aku tidak bisa memberi saran kepadamu Dana.” Eun Ri.
“Tapi sebaiknya kau tetaplah tabah dan menerima semua ini, lalu esok mulailah hari dari awal anggaplah semua ini tidak pernah terjadi.” Tambah Eun Ri.
~Keesokan harinya~
Akupun bergegas untuk pergi kesekolah. Hah, seakan aku tidak ingin hari ini terjadi. Aku ingin terus tertidur lelap dan tidak ingin bertemu dengan Sa Ka, semua moodku mulai down dan aku hanya ingin sendiri.
“Danaya!” Panggil So Ta. Akupun hanya terdiam, semua ini membuatku malas dan tidak ingin berinteraksi dengan seseorang bahkan siapapun itu.
“Danaya sebenarnya ada apa? Katakan padaku.” So Ta.
“So Ta apa kau sudah tau kalau Sa Ka sebenarnya menyukaimu?” Dana.
“Sa Ka menyukaiku? Naneun?” So Ta.
“Ne.” Dana.
“Andwae, itu tidak mungkin. Danaya aku dengan Sa Ka hanyalah berteman saja!” So Ta.
“Tapi dia menyukaimu! Harus bagaimana lagi?” Dana.
“Tapi juga aku hanya ingin berteman dengannya, aku tidak suka padanya. SHIREO! Aku tetap tidak mau!
So Ta.
Myu Li datang “Danaya, sudahlah kau lupakanlah semua rasa sukamu kepada Sa Ka karena Sa Ka bilang kepadaku kalau Sa Ka ingin kau melupakan rasa sukanya padanya.” Myu Li.
“Mwoya? Kapan dia mengatakan hal itu? Dan kenapa kau membahas tentang itu?” So Ta.
“Kemarin, karna aku hanya ingin tahu saja jadi aku memberikan topic itu kepada Sa Ka.” Myu Li.
*PLAKK* “Sebenarnya kau ini bodoh atau bagaimana? Bagaimana jika dia menghindar dariku? Belum ada 1 semenster dia menghindar dariku. Sebenarnya kau ini punya otak atau tidak? Hah!” Dana.
“Ahh! Appo! Hya’ DASAR PERUSAK PERSAHABATAN!” Myu Li yang langsung meninggalkanku dengan So Ta.
“Mwo? Naega? Hya’ coba kau pikir siapa yang menjadi perusak persahabatan disini? Jika kau tidak memberitahunya dari awal dia tidak akan seperti itu!” Dana.
~Malam harinya~
“Appa, bisa aku mengatakan sesuatu?” Dana yang sambil duduk.
“Kau ingin mengatakan apa?” Appa.
“Hm, Appa kau tau Sa Ka teman sekelasku yang biasanya main kesini dengan So Ta dan Myu Li?” Dana.
“Oh, ne. Wae?” Appa.
“Naega johaeyo. Aku menyukainya tapi dia menyukai temanku sendiri So Ta, aku harus bagaimana lagi? Myu Li sudah mengataiku kalau aku menjadi perusak persahabatan, padahal seharusnya dia yang menjadi perusak persahabatan bukanlah aku Appa. Jika dia tidak memberitahu Sa Ka kalau aku menyukainya Sa Ka tidak seperti ini. Sekarang saja Sa Ka mulai menjauh dariku bahkan kami tidak pernah bebicara sekarang Appa. Eotthokae?” Jelas Dana.
“Lalu Appa aku benar- benar menyukainya tapi apa? Dia tidak memikirkan perasaanku kepadanya, dia tidak menghargai perasaanku sama sekali dan dia hanya memikirkan perasaanya ke So Ta hanya itu saja yang ia pikirkan. So Ta, So Ta dan So Ta. Itu yang membuatku hah aku bingun saat ini Appa, aku lelah aku capek.” Tambah Dana.
“Sebaiknya kau lupakanlah saja rasa sukamu kepada Sa Ka dan kau tetaplah berteman baik dengan So Ta. Karena tidak gampang mencari dan mempunyai seorang teman, Appa dulu juga seperti itu dulu sewaktu Appa SMA Appa mempunyai yeojachingu lalu tidak lama kemudian Appa begitu saja ditinggal olehnya karena ada seorang namja yang lebih tampan daripada Appa lalu apa yang terjadi hukum karma selalu tetap berlaku akhirnya dia disia-siakan oleh namjanya itu.” Appa.
“Gwenchana, hukum karma selalu berlaku dimana saja dan kapanpun itu anakku. Kajja, fighting anak Appa tidak seperti ini. Kau tahu anakku kenapa kau harus menunggu Sa Ka jika kau bisa berkenalan dengan namja lain? Asal kau tahu waktumu itu terbuang sia-sia saja karna hanya untuk menunggu Sa Ka, seharusnya kau berkenalan dengan namja lain tetapi waktumu habis hanya untuk menunggu Sa Ka.” Tambah Appa.
***
Yah, seperti ini aku menjalani kehidupanku. Benar Sa Ka lambat laun dia tidak pernah berbicara denganku dan lambat laun juga dia menghindar dariku, bagiku dia adalah orang asing yang berada dikelasku seperti juga dia menganggapku orang asing yang berada didekatnya. Bahkan sewaktu pembagian nilai fisika dia tidak langsung bertanya kepadaku berapa nilai yang aku peroleh tetapi dia malah bertanya kepada teman sebangkuku padahal disitu sangat jelas aku berada dekat dengannya. Bagimana itu tidak disebut dengan menghindar dariku?
Lalu apa yang sedang kau perbuat? Canggung? Kenapa kau harus canggung? Buat saja semua ini tidak pernah terjadi. Lalu apa yang kau fikirkan? Sekarang So Ta juga mulai tidak berbicara denganmu itu yang kau fikirkan? Sekarang kau pikir saja Sa Ka, semua ini berawal karena kau bersikap kikuk seperti itu. Hah aku benci kepadamu! Kenapa kau harus menyukai temanku sendiri dan itu So Ta, TEMAN SEKELASKU! Dan kau tahu juga bahwa KAU, AKU, SO TA dan MYU LI adalah teman sekelas. Lalu kau tidak menghargai perasaanku sama sekali dan kau juga tidak pernah memikirkan perasaanku! Yang kau pikirkan hanyalah perasaanmu saja ke So Ta, bagaimana pada akhirnya perasaanmu? Dibalas atau tidak dengan So Ta. Kau memang benar-benar namja yang egois Sa Ka, kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri tanpa pernah sekalipun melihat usaha orang lain yang sekarang mencoba menyukaimu.
“Eomma! Kenapa dadaku sangat sesak?” Dana.
“EOMMA!” Panggilku sangat keras.
Pada hari itupun aku tidak mengikuti pelajaran entah kenapa dadaku tiba-tiba sesak, 2 hari aku tidak mengikuti pelajaran. Akupun meletakkan bantalku didekat dinding lalu aku mennyandarkan tubuhku dibantal, akupun mencoba menutup mataku. Aku ingin menghilangkan semua beban masalahku yang sampai membuatku sakit seperti ini.
Detik, menit, jampun telah terlewati aku mencoba memikirkan hal yang membuat air mataku mengalir karnanya. Aku juga mengingat suatu kejadian yang membuatku sakit hati, semua kejadian yang membuat sakit seperti ini terus saja aku pikir agar aku membencinya dan melupakan rasa sukaku padanya.
Aku mulai berpikir kenapa aku harus menyukai seseorang yang telah membuatku sakit seperti ini? Kenapa aku harus menunggu seorang namja yang tidak pernah menghargai perasaanku dan hanya memikirkan perasaannya saja? Seharusnya aku tidak menyukai orang seperti itu karna dia telah menyia-nyiakanku! Akupun berusaha untuk melupakan semua perasaanku ini dan aku tidak mau terpuruk seperti ini.
~Keesokan harinya~
Dengan seiring berjalannya waktu akupun mulai dekat dengan Sa Ka kembali sebagai seorang sahabat sampai sekarang, kamipun menjalani persahabatan seperti dahulu tidak ada rasa suka. Entah jika Sa Ka masih menyukai So Ta, aku tidak memikirkannya. Aku hanya memikirkan aku ingin kita seperti dulu.
Bahkan rasa sukaku sekarang sebagai bahan lelucon begitu juga rasa suka Sa Ka kepada So Ta semuanya menjadi bahan lelucon dan membuat kami semua tertawa walaupun itu membuat kami sedikit canggung.
Perlahan-lahan aku mulai menghilangkan perasaanku kepada Sa Ka dan mecoba untuk menjadi sahabatnya seperti dahulu. Hari, Minggu bahkan  Bulan telah aku lewati rasa sukaku sedikit demi sedikit mulai pudar jika aku mendengar  kata- kata Sa Ka dengan So Ta seakan- akan telingaku mulai terbiasa dengan hal itu. Walaupun aku sedikit cemburu tetapi aku berusaha untuk menhilangkan perasaanku kepada Sa Ka.
Asal kau tahu Sa Ka, aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanku dibalas apa tidak olehmu. Aku hanya butuh jawaban, IYA atau TIDAK? Apa kata-kata itu sangat sulit kau ucapkan? Jika iya bagaimana jika tidak bagaiamana, jika tidak baiklah aku akan mundur lalu benar-benar berhenti menyukaimu dan aku berjanji akan menghilangkan rasa sukaku kepadamu. Tetapi ini tidak, kau malah menggantungku bahkan tidak melihat perjuanganku untuk menyukaimu seperti apa?
Sekarang aku mulai menghilangkan rasa sukaku kepadamu, aku lelah menyukaimu. Aku hanyalah seorang yeoja yang tidak pantas bagimu, jika aku tidak bisa menjadi seorang yang penting bagimu tetapi kita masih bisa bukan menjadi sahabat seperti dulu?

“Setidaknya aku sudah merasakan meyukaimu itu seperti apa?”
                                                                     Seo Dana.


The End.

Sabtu, 31 Oktober 2015

My Flower Boys (Chapter 5)

Chapter 5
“About dead!”
“Jungkook-ah kau sangatlah tampan hari ini.” Taehyung.
“Haha, hyung apa kau menggodaku saat ini?” Jungkook.
“Geurae, wae? Jungkook-ah apa malam ini kau bebas? Jika bebas tolong temani aku tidur.” Taehyung yang berbicara seperti wanita.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kalian berdua bisa saja.” Dana.
“Hah, kita sampai.” Jungkook.
“Oh, oke kami berdua akan menunggumu disini.” Dana.
“Jungkook-ah jangan lama-lama disana, Palliwa!!!” Taehyung.
Jungkookpun perlahan berjalan meninggalkan mereka berdua sambil melambaikan tangannya dan Dana membalas lambainya lalu…
“Dana-ya…” Taehyung.
“Hm, wae?” Dana yang masih terus terfokus kepada Jungkook.
“Apa kau sudah mengatakan isi hatimu kepada Jungkook?” Taehyung.
“Sudah.” Dana.
“Lantas apa yang ia katakan?” Taehyung. Lalu Dana mengalihkan pandangannya ke Taehyung.
“Dia hanya berkata ‘Dana-ya kau menyukaiku?’ hanya itu saja.” Dana.
“Jinjja? Tidak ada yang lain?” Taehyung.
“Ne, karna waktu itu aku menyelanya dengan memanggil namamu.” Dana.
~Sementara itu…~
Akupun berlari menuju ke tempat penginapan Irene dengan sangat cepat, akupun telah membulatkan tekatku untuk mengatakan hal ini kepadanya.
Akhirnya akupun telah sampai dipenginapan Irene dan aku telah berada di depan pintu penginapannya, tetapi anehnya pintu itu tidak terkunci. Lalu aku mencoba untuk membuka dan masuk kedalam, akupun perlahan-lahan melangkahkan kakiku.
Setelah aku sampai akupun melihat Irene sedang tertidur lelap tetapi tidak sendiri melainkan dengan namja lain. Akupun terkejut dengan semua yang aku lihat, tiba-tiba Irenepun terbangun dia juga terkejut saat melihatku disana.
Tubuhku mulai melemas bahkan serasa ingin jatuh, tetapi aku berusaha untuk pergi dan menjauh dari apa yang aku lihat tadi. Akupun keluar dari tempat yang menjijikkan itu, aku terus saja berjalan dan aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Dadaku serasa begitu sesak bahkan sakit, disaat aku akan memutuskan hubungan dengannya apa aku yang harus menerima rasa sakit ini dahulu?
>>>>>
Danapun melihat Jungkook yang telah keluar dari pintu penginapan Irene dan berjalan dengan cepat keluar, Danapun bingung dengan Jungkook.
Dana berpikir setelah kau sampai kesini ke aku dan Taehyung, kami akan membantumu menyelesaikan masalahmu itu.
Tetapi Jungkook tidak menuju kearah Dana dan Taehyung melainkan berjalan cepat kearah lain.
“Taehyung, Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Kau lihat Jungkook, dia tidak punya penyakit pikun dinikan?” Dana. Taehyungpun melihat kerah Jungkook.
“Hya’ bocah kau mau kemana?” Teriak Taehyung tetapi Jungkook tidak menghiraukannya.
“Dana kajja kita ikuti Jungkook, aku takut bila terjadi sesuatu kepadanya.” Teahyung.
Dana dan Taehyungpun mengikuti Jungkook berjalan tetapi semakin Dana dan Taehyung mendekat Jungkook semakin kencang ia berjalan.
“Jungkook-ah kau mau kemana?” Teriak Dana.
“Jungkook apa kau punya masalah ceritalah kepada kami!” Taehyung.
“Hyung, Dana berhentilah mengikutiku. Pergilah aku hanya ingin sendiri.” Jungkook yang tiba-tiba berlari kencang begitu saja dan langsung menaiki bus.
“Hya’ bocah!!!”  Taehyung.
“Taehyung-ah kajja!!!” Dana yang telah menaiki sebuah sepeda yang memiliki 2 tempat duduk dan 2 pasang pedal.
Mereka berduapun dengan sekuat tenaga mengayuh pedal sepeda, setelah lama mengejar Jungkook.
“Taehyung-ah bukankah ini menuju ke sebuah tebing pantai?” Dana.
“Ah, ne.” Taehyung yang menambah kecepatan sepeda mereka. Danapun mulai sangat khawatir.
~Sesampainya disana…~
Taehyungpun dengan cepat berlari menuju ke tebing yang berada disana tetapi tidak dengan Dana yang lumayan jauh dari tebing pantai.
Dana juga terus mencari Jungkook dan…
“Jungkook-ah!!! Andhwae!!!!” Teriak Dana.
Taehyungpun mendekat kearah Dana dan juga meneriaki Jungkook.
“Jungkook-ah apa kau gila? Tidak bisakah kau membicarakannya dengan baik-baik kepada kami?” Teriak Taehyung.
“Aniya Hyung, ini sudah tidak bisa lagi. Aku begitu menyukainya dan hari ini sebenarnya aku akan mengakhiri hubungan kami, tetapi dia telah menusukku dari belakang dari dulu lamanya dan aku baru mengetahuinya sekarang ini!!! Ini tidak adil Hyung!!!” Jungkook.
“Dunia memang tidak adil dari dulu Jungkook-ah.” Taehyung.
“Jungkook-ah sadarlah kau sudah kelewatan ada banyak yeoja di seoul kau bisa mencarinya nanti. Euh, dadaku sesak.” Dana memegang dadanya.
“Neon gwenchana?” Taehyung, Dana mengangguk.
“Tidak Dana-ya, aku sudah lelah dengan semua ini.” Jungkook.
“Bagaimana denganku? Bukankah aku malah beratusan, beribuan, berjuta-jutaan bahkan tidak bisa dihitung lagi aku lebih lelah daripada kau Jungkook-ah. Apa kau tidak tahu tentang semua perasaanku saat itu?” Dana.
“Dana-ya mianhae biarkan aku menanggung dosaku saat ini. Hyung, Dana biarkanlah aku pergi saat ini.” Jungkook.
“Jungkook-ahhh!!!!” Teriak Dana.
Jungkook telah menutup kedua matanya dan siap untuk terjut bebas mengakhiri kehidupannya tetapi…
“Jungkook-ah apa kau sudah gila? Taehyung yang dengan cepat tadi menarik Jungkook dan menghempaskannya ke belakang.
“Hyung!!! Kenapa kau menarikku? Wae? Biarkanlah saja aku mati!” Jungkook.
“Hya’ bocah dimana akal sehatmu? Lalu setelah kau mati dan kami pulang hanya berdua lantas apa yang harus kami berdua katakan kepada eommamu? Huh?” Bentak Taehyung.
“Jungkook-ah neon gwenchana?”  Dana yang memegang pipi Jungkook sambil melihat seluruh badan Jungkook.
“Gwenchana Jungkook-ah, aku ada disini. Kami berdua selalu bersamamu.” Dana yang memeluk Jungkook sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Hya’ kenapa kalian berdua menangis? Hya’ sudahlah kalian berdua.” Taehyung yang mulai mendekati Dana dan Jungkook.
“Jungkook-ah namja tidak boleh menangis!” Tetapi air mata Taehyungpun menetes dan mulai membasahi pipinya.
Lalu Taehyungpun memeluk mereka berdua “Jungkook-ah, kau benar-benar kelewatan. Bukan ini caranya, bukan ini.” Taehyung yang terus mengusap air matanya sambil memeluk kedua sahabat karibnya itu.
~Setelah itu…~
“Lebih baik kita pulang jalan kaki saja, mustahil menemukan kendaraan pada jam seperti ini.” Taehyung.
“Heum, jinjja?” Dana. Taehyung menganggukan kepalanya.
“Oke, arraseo kita jalan kaki saja toh berjalan kaki dari sini sampai kepenginapan tidak membuat kita matikan?” Dana.
“Dana-ya apa kau mengejekku?” Jungkook.
“Haha, aniya. Tapi jika kau merasa tak apalah.” Dana dan Taehyungpun tertawa.
“Dana-ya bisakah aku bertanya kepadamu?” Taehyung.
“Oh, bertanyalah.” Dana.
“Kenapa disaat kita sampai ke tebing kau tidak berlari menuju lebih dekat ketebing? Dan kenapa tiba-tiba dadamu sesak seperti itu?” Taehyung.
“Hm, itu. Heum, kalian tahukan tentang kematian Oppaku saat itu. Sebenarnya aku tidak menceritakan keseluruhannya kepada kalian.” Dana.
“Hm, kalau begitu ceritakanlah sekarang aku dan Hyung akan mendengarkannya.” Sela Jungkook.
“Hm okelah, saat itu kira-kira aku berumur 6 tahun dan Oppaku berumur 8 tahun. Oppaku sangatlah menyayangiku disaat apapun aku mengajaknya main atau aku bermain sendiri dia selalu mau ikut denganku dan menemaniku. Aku bermain dimanapun ia selalu menemaniku bahkan menjagaku dan pada suatu saat itu kami sekeluarga bermain di pantai, aku dan Oppaku sangatlah senang bahkan kami memamerkannya kepada teman kami sebelum kami pergi. Sama seperti kalian ber-2 yang suka kepada pantai, saat itu aku sedang bermain dipinggir tebing dan tebing itu tidak terlalu tinggi lalu Oppaku datang dan menemaniku.” Dana.
“Lalu apa yang terjadi?” Taehyung.
“Hm, kami sangat gembira dan menikmati suasana pantai bersama tetapi tiba-tiba ombak besar di pantai itu datang dan menghembaskan kami kelaut secara bersamaan. Meskipun aku tidak tahu, pasti keluargaku sangat mengkhawatirkan kami berdua. Aku masih mengingat saat aku berada didalam air laut saat itu. Akupun berusaha berenang tetapi waktu itu aku masik kecil dan tidak kuat untuk berenang menarik Oppaku tetapi aku terus saja memegang tangan kanan Oppaku, saat itu posisiku berada diatas dan Oppaku berada dibawah. Aku sangat ketakutan dan aku juga tidak mau kehilangan Oppaku, akupun terus saja memegang tangan Oppaku dengan erat tetapi tidak tahu kenapa ada sesuatu yang membuat pegangan kami terlepas.” Dana.
“Dana-ya sudah hentikan…” Jungkook.
“Akupun melihat sendiri dengan mata kepalaku, aku melihat Oppaku tersenyum kepadaku dan tenggelam semakin dalam di bawah laut yang begitu menyeramkan. Setelah itu ada sebuah tangan yang menarikku dan membawaku disebuah kapal, aku tahu itu adalah kapan penyelamat. Saat itu akupun masih setengah sadar dan aku masih mendengar dengan jelas tim penyelam kembali kebawah dan mencari Oppaku tetapi anehnya Oppaku belum juga ditemukan, padahal saat itu Oppaku denganku perpisah hanya beberapa menit sampai tim penyelamat menarikku keatas. Kira-kita mungkin dari setelah aku ditemuakan lewat satu jam dari itu Oppaku telah ditemukan dengan keadaan sudah tidak bernyawa.” Dana.
“Dana-ya aku tidak bermasud membuatmu mengenang masa lalumu itu.” Taehyung.
“Haha, gwenchana. Itu adalah masa lalu dan kejadian dari masa lalu itu terjadi untuk dijadika pelajaran di masa depan nanti, hah aku sangat menyesal waktu itu seharusnya aku memegang kedua tangan Oppaku seandainya waktu bisa diputar aku harap kejadian itu tidak akan pernah terjadi kepadaku dan Oppaku.” Dana.
“Dana-ya aku turut berduka atas kematian Oppamu.” Jungkook.
“Hah, gumawo. Hm, Jungkook-ah jika mungkin tadi kau mati aku dan Taehyung hari ini pasti akan berduka atas kematianmu.” Dana yang tertawa.
“Hah, jinjja!!” Jungkook.
“Eum, mungkin jika Seok Jin Oppaku sampai sekarang masih hidup pasti dia akan tumbuh menjadi namja yang tampan melebihi kalian.” Dana.
“Ne, arraseo!” Taehyung dan Jungkook yang berbicara secara bersamaan.
“Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian ber-2.” Dana.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Jungkook.
“Mwoyo?” Taehyung.
“Bisakah kita besok pulang ke Seoul?” Dana.
Taehyung dan Jungkookpun seketika menghentikan langkah kaki mereka.
“Kenapa kau ingin pulang begitu terburu-buru ke Seoul? Jungkook.
“Kita baru seminggu disini, apa ada sesuatu?” Sela Taehyung.
“Haha, aniya aku hanya rindu dengan eommaku dan masakannya saja.” Dana.
“Bagaimana? Jika kalian tidak mau, minggu ke-3 disini kita baru pulang. Aku tidak keberatan kok.”  Tambah Dana.
“Hm, aniya. Setidaknya sewaktu pulang ke Seoul kita masih bisa berkumpul bersama dan menghabiskan sisa liburan sekolah kita.” Taehyung.
“Hyung aku setuju denganmu, okelah besok kita akan pulang.” Jungkook.
>>>>>
Setelah mereka menghabiskan liburan sekolah bersama akhirnya hari dimana mereka masuk kesekolah kembalipun tiba, pada malam harinya saat keesokan harinya sekolah Dana menelphone Taehyung.
“Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Apa kau bersama dengan Jungkook?” Dana.
“Ne, aku bersamanya.” Taehyung.
“Hah, kalian berkumpul pasti tidak mengajakku.” Dana.
“Ini perkumpulan antara namja.” Sela Jungkook.
“Yasudahlah mumpung kalian berdua bersama, tolong loudspeaker ponselmu aktifkan agar kalian berdua bisa mendengarnya.” Dana.
“Memangnya kau ingin mengatakan apa? Sampai loudspeaker harus diaktifkan?” Jungkook.
“Hm, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada kalian berdua. Jadi tolong dengarkanlah!” Dana.  Taehyung dan Jungkookpun mulai mendengarkan.
“Hm, huh Taehyung-ah, Jungkook-ah aku sangat bersyukur terlahir dan bisa bertemu dengan kalian bahkan sekarang aku bersahabat dengan kalian.” Dana.
“Hya’ kenapa kau mengatakan hal ini membuat aku merinding saja.” Jungkook.
“Karna aku hanya ingin mengatakan hal ini saja kepada kalian, aku ingin kita selamanya menjadi sahabat tanpa pertengkaran lagi. Aku sangat menyayangi kalian bahkan mencintai kalian seperti keluargaku sendiri.” Dana.
“Apa kau menangis?” Jungkook.
“Dana-ya apa kau ingin pergi jauh?” Taehyung.
“Ne, aku menangis karna terharu melihat semua persahabatan kita dari awal hingga saat ini. Aniya aku tidak akan pergi jauh aku selalu dekat dengan kalian.” Dana.
“Apa kau berbohong kepada kami?” Taehyung.
“Aniya aku berkata sejujurnya kepada kalian, aku menyayangi kalian. Apa kalian sudah menyiapkan kebutuhan sekolah kalian untuk besok?” Dana.
“Ne.” Taehyung dan Jungkook berkata secara bersamaan.
“Okelah, sampai bertemu besok disekolah.” Dana yang mengakhiri percakapan begitu saja.
Setelah Dana mengakhiri percakapan…
“Hyung aku merasa tidak enak dengan keadaan Dana.” Jungkook.
“Ne, nado. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.” Taehyung.
“Yasudah Hyung kita tunggu saja dia besok di sekolah dan bertanya kenapa dia seperti itu.” Jungkook.
“Hm, oke.” Taehyung.
“Hyung kajja kita pulang sudah malam.” Jungkook.
To Be Continue…

Sabtu, 01 Agustus 2015

My Flower Boys (Chapter 4)

Chapter 4
“Can I Back Again?”
Hari liburan sekolahpun mulai tiba aku, Dana dan Jungkook memutuskan untuk pergi ke pulau Jeju. Aku ingin menghabiskan setengah dari liburan sekolahku dengan mereka ber-2, iya benar sahabat-sahabatku.
Sejak kejadian 1 bulan yang lalu sikap Dana mulai sangat berbeda kepada Jungkook, jika Jungkook bertanya kepadanya Dana tidak menghiraukannya. Jika Jungkook mendekatiku dan Dana, Dana akan memilih pergi begitu saja meninggalkanku dengan Jungkook. Seakan-akan Dana menghindar dari Jungkook.
Sejak kejadian 1 bulan itu juga hubungan kami be-3pun hampir mulai renggang, biasanya kami berkumpul bersama ber-3 sekarang hanya ber-2.  Jika Dana dan Aku sudah berkumpul lalu Jungkook datang Dana akan memilih untuk pergi begitu saja jika Aku dan Jungkookpun sudah berkumpul dan Dana datang, Dana memutuskan untuk pulang begitu saja padahal Dana sudah berada ditempat yang kami datangi.
Danapun hanya menganggap akulah sahabatnya saat ini tidak seperti dahulu aku dan Jungkook sahabatnya. Sepertinya Dana sangat membenci Jungkook sejak kejadian 1 bulan yang lalu.
“Jungkook-ah…” Panggilku saat kami berada dibandara yang disampingku telah ada Dana.
“Oh, Hyung.” Jungkook membalas lambaianku.
“Kajja!” Taehyung.
~Sesampainya di pulau Jeju~
Kamipun melanjutkan perjalanan kami dengan menaiki sebuah bus untuk sampai ke penginapan kami. Saking lelahnya diperjalanan kamipun duduk bersamaan dan tidur saling menyandarkan diri, Dana menyadar kepalanya dipundakku akupun menyadarkan kepalaku kekepala Dana dan Jungkook menyandarkan kepalanya dipundak Dana. Kamipun layaknya seperti anak kecil yang tidur bersamaan.
Akupun terbangun dari tidurku, aku melihat kedua sahabatku tertidur sangat nyenyak. Jika aku melihat mereka berdua mereka layaknya seperti dongsaengku, mereka layaknya anak kecil yang tidak mempunyai keluh kesal sama sekali. Tapi jika aku melihat mereka berdua telah bangun sebenarnya ada begitu banyak yang mereka simpan.
Seketika Dana terbangun dari tidurnya begitu juga dengan Jungkook.
“Taehyung-ah apa kita sudah sampai?” Dana sambil mengusap salah satu matanya.
“Ne, Hyung apa kita sudah sampai?” Sela Jungkook sambil menguap.
“Hm, ne kita sudah sampai. Kajja.” Jawabku.
~Di penginapan~
“Taehyung-ah, bisakah kita hari ini bersepeda? Aku ingin bersepeda di jalan dekat pantai.” Dana.
“Hm, aku sih bisa saja. Jungkook-ah apa kau mau bersepeda hari ini?” Taehyung.
“Ne hyung, joha.” Jungkook.
Merekapun telah meminjam sepeda yang telah disiapkan disana. Tetapi Dana memilih untuk membonceng dengan Taehyung.
“Kajja!!!” Teriak Dana senang.
Taehyung dan Jungkook mengayuh sepeda mereka masing-masing, sedangkan Dana hanya berpegangan erat ke Taehyung sambil mengayunkan kedua kakinya sesekali.
“Hya’ Dana-ya jangan lakukan itu!” Taehyung, Danapun langsung terdiam. Jungkookpun tertawa.
“Hm, bagaimana jika kita adu cepat sampai ke pantai?” Dana.
“Kajja!” Jungkook.
“Hanna, dul….” Sebelum Dana menyelesaikan.
“Hyung, Annyeong!” Jungkook.
“Hya’ bocah!! Kau curang awas saja kau bila sudah sampai sana!” Taehyung, Danapun tertawa.
Beberapa menit kemudian setelah mereka balapan sampai ke pantai sekilas Dana melihat seorang yeoja yang mengayuh begitu cepat meliwati Taehyung dan dirinya.
“Irene?” Batin Dana.
“Jika memang dia Irene apa yang dia lakukan disini? Aniya! Tidak mungkin dia berada disini. Dana tenangkanlah pikiranmu.” Batin Dana lagi.
~Sesampainya dipantai~
Danapun menggelar sebuah karpet yang ia bawa dari penginapan dan mengeluarkan makanan serta minuman yang ia bawa juga.
Jungkook merebahkan tubuhnya langsung di sebuah karpet yang telah Dana siapkan, Jungkookpun juga memejamkan matanya.
“Taehyung-ah…” Panggil Dana pelan.
“Hm, wae?” Jawab Taehyung keras.
Danapun mengayunkan jari telunjuknya dimulutnya sendiri, mengisyaratkan agar Taehyung tidak berbicara keras-keras. Lalu Taehyung mendekat dirinya ke Dana.
“Wae Dana-ya?” Taehyung.
“Hm, saat tadi bersepeda apa kau tahu yeoja yang mengayuh sangat cepat sepedanya lalu mengekor dibelakang Jungkook terus?” Dana.
“Ne, aku tahu. Wae?” Taehyung.
“Aku rasa itu…” Dana.
“Irene?” Taehyung. Dana menganggukan kepalanya.
“Jika dilihat dari bentuk tubuhnya, benar juga yeoja tadi seperti Irene. Tapi kenapa Irene harus berada disini? Bukannya Jungkook sudah bertanya kepada Irene kalau Irene tidak berlibur disini.” Taehyung.
“Benar juga apa yang kau katakan Taehyung-ah, tapi…” Dana.
“Sudahlah tidak usah kau pikirkan, mungkin kau salah liat.” Taehyung.
>>>>>
Malam haripun telah tiba, kami memutuskan untuk pergi keluar lagi untuk menikmati semua keramaian yang berada di pulai Jeju. Sebenarnya itulah tujuan kami kenapa kami berada dipulau Jeju saat ini, kami ingin melakukan hal bersama-sama.
Sejak kejadian itu, Dana mulai berbeda kepadaku. Aku merasa tidak enak bila mengingat hal itu, tapi setelah tadi kami datang dan melakukan balapan sepeda aku merasa mulai akrab kembali dengan Dana.
Hm, aku juga tidak mengerti kenapa Dana melakukan hal itu kepadaku? Bukankah kita ber-3 bersahabat? Kenapa hanya kepadaku? Dan kenapa tidak ia lakukan kepada Taehung hyung saja? Itulah pertanyaan yang selalu menghantui setiap saat.
Tapi saat aku memejamkan mata tadi, aku sedikit mendengar percakapan Dana dan Taehyung hyung. Sepertinya mereka mengatakan Irene, tapi Irene sudah bilang kepadaku kalau dia tidak berlibur disini. Tapi apa benar yang dikatakan Dana kalau tadi orang yang mengekor dibelakangku adalah Irene?
>>>>>
“Pertama-tama, ayo kita liat pentasan drama itu. Bukannya itu sangat bagus?” Dana.
“Oh, yang itu?” Taehyung sambil menunjuk kearah kesebuah pentasan Drama yang sudah banyak penontonnya. Dana mengangguk.
“Kajja! Joha.” Sela Jungkook.
“Hm, Chakkaman. Aku dan Taehyung akan membeli makanan dan minuman untuk kita makan saat pementasan mulai. Jungkook-ah kau carilah tempat duduk untuk kami ber-2, arra?” Dana.
Jungkookpun melakukan apa yang dikatakan oleh Dana sedangkan Dana dan Taehyung membeli makanan serta minuman untuk mereka ber-3.
~Setelah mereka membeli makanan dan minuman~
Dana dan Taehyung membawa makanan serta minuman dengan senda gurau. Danapun mencari Jungkook di keramaian penonton pentas drama pada malam hari itu, akhirnya Dana menemukan Jungkook yang sedang duduk ditempat duduk untuk penonton dan Jungkookpun telah mencarikan kursi untuknya dan Taehyung.
Danapun dan Taehyung berjalan menuju Jungkook. Danapun telah sampai ketempat Jungkook, Danapun berdiri tepat didepan Jungkook duduk. Tapi…
“Kenapa kau disini?” Dana.
“Mwo? Naega? Akukan berliburan denganmu dan Taehyung hyung.” Jungkook , lalu Jungkook melihat pandangan Dana tetapi tidak melihatnya namun melihat seorang yang berada dibelakangnya. Jungkookpun membalikkan badannya dan terkejutnya Jungkook.
“Irene? Wae? Kenapa kau disini? Bahkan aku tidak tahu kalau kau berada disini.” Jungkook.
“Kau juga Arin, kenapa kau juga berada disini?” Taehyung.
“Irene!! Bisa tidak kau tidak menganggu kami, sudah cukup dengan kejadiaan saat itu. Saat ini aku hanya ingin menghabiskan liburanku bersama mereka ber-2 apa itu salah bagimu? Huh?” Dana.
“Bukankah sudah cukup kau bertemu setiap hari dengan Jungkook? Sampai kegiatan yang biasanya kami lakukan bersama selama 3 - 5 kali setiap minggu, sekarang kami tidak melakukannya sama sekali.” Dana.
“Aku hanya ingin memastikan keadaan Jungkook saja Dana-ya.” Irene.
Lalu Dana yang membawa minuman langsung menyiramkannya tepat diwajah Irene “Aku tidak mau melihat kau Irene.” Dana lalu pergi begitu saja.
Jungkookpun menyusul Dana lalu Taehyungpun juga.
~Keesokan harinya~
Danapun berada dibalkon yang dimana balkon kamar mereka pemandangannya langsung menuju kepantai, Dana berusaha untuk menenagkan pikirannya. Danapun duduk disebuah kursi sambil memejamkan matanya dan menghirup udara pagi di Pulau Jeju itu.
“Dana-ya…” Panggil Jungkook yang tiba-tiba sudah duduk disampingnya.
“Hya’ Jungkook-ah, kau mengagetkanku saja.” Dana.
“Dana-ya, sebenarnya kenapa denganmu? Tolong ceritalah kepadaku aku juga ingin tahu masalahmu.” Jungkook.
“Apa kau benar-benar ingin mengetahui masalahku?” Dana.
Taehyungpun mendengarkan percakapan mereka ber-2 dari pintu geser dibalkon kamar mereka.
“Ne.” Jungkook sambil menganggukan kepalanya.
“Aku sedang patah hati Jungkook-ah.” Dana sambil menyandarkan tubuhnya lalu menoleh kearah Jungkook.
“Lantas kalau kau patah hati kenapa kau sampai menghindariku seperti ini, seharusnya kau juga menghindari Taehyung hyung.” Jungkook.
“Aku patah hati itu karna kau Jungkook-ah.” Dana yang lalu mengalihkan pandangannya menuju ke pantai.
“Naega? Wa… Wa.. Wae? Waeyo?” Jungkook yang tiba-tiba terkejut.
Danapun terdiam selama beberapa menit dan Jungkook terus saja melihat kearah Dana yang menunggu sebuah jawaban dari Dana.
“Saranghae Jungkook-ah.” Dana yang tersenyum sambil melihat terus kearah pantai.
“Kau menyukaiku Dana-ya?” Jungkook.
“Hah, sepertinya aku ingin keluar bermain saat ini. Taehyung-ah!!!” Panggil Dana.
>>>>>
“Wae? Wae? Waeyo? Kenapa harus naik kapal seperti itu? Kalian ber-2kan sudah tahu aku memang menyukai pantai tetapi aku tidak mau masuk kedalamnya.” Dana.
“Kajja!! Palliwa.” Bilang Jungkook yang menarik lengan Dana.
“Shireo!!!” Dana.
“Dana-ya kita akan ketinggalan!! Palliwa!!” Taehyung yang juga menarik lengan Dana.
“Andhwae!!! Aniya!!! Shireooo!!!!” Teriak Dana sangat kencang.
Taehyungpun berdiri dan terus menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya sambil memanyunkan bibirnya sedangkan Jungkook duduk Jongkok disamping Taehyung hanya menunggu Dana menyiapkan diri untuk naik kekapal.
“Ne, kajja aku sudah menyiapkan diriku.” Dana. Taehyung dan Jungkookpun tersenyum bahagia.
Danapun berjalan diatas kayu yang dimana itulah jalan menuju kekapal yang kan mereka ber-3 naiki. Danapun melangkakan satu kaki kanannya.
“Apa ini aman? Jika aku berjalan diatasnya apa kayu ini akan kuat?” Dana terus saja bertanya.
“Hya’ lihatlah orang sebanyak itu berjalan diatasnya.” Bentak Taehyung yang mulai kesal.
“Geurae, aku akan berjalan.” Bilang Dana.
Tiba-tiba seorang yeoja membalikkan tubuh Dana dan memegang kedua lengan Dana dengan sangat erat.
“Dana-ya!! Wae? Wae? Kenapa kau membuat hubunganku dengan Taehyung serumit ini? Huh?” Arin.
Danapun terkejut, Arinpun terus saja menggoncang-goncangkan tubuh Dana.
“Apa kau tidak tahu, aku sangat terpukul dengan semua ini!!!” Bentak Arin. Lalu akhirnya…
*BYURR* Danapun terjatuh kedalam laut, Danapun yang mendapati bahwa dirinya berada di air lautpun panik. Danapun berusaha berenang dan menggerakkan kakinya tetapi Dana merasa ada sesuatu yang memegangi kakinya, berulang kali Dana melambai-lambaikan tangannya untuk meminta tolong.
Danapun juga berusaha berteriak untuk meminta tolong tetapi air laut terus saja masuk kedalam mulutnya. Dana sangat merasa takut, Danapun serasa sudah diambang kematian didalam kehidupannya.
~5 hari kemudian pada malam harinya…~
Akupun duduk sambil menaikkan kedua lututku keatas dan memegangnya erat-erat. Angin malam saat ini lumayan sangat kencang  dan udara disini juga lumayan dingin. Selembar plester penurun panaspun telah tertempel didahiku untuk menurunkan suhu panas didalam tubuhku.
Aku juga masih teringat kejadian tadi pagi, aku serasa berada dipucuk semua kehidupanku. Hah, akupun menyandarkan kepalaku dikedua lututku. Aku juga tidak tahu kenapa kedua yeoja itu melakukan hal ini kepadaku. Tiba-tiba saat itu air mataku tiba-tiba mengalir, entah bagaimana aku merasa takut. Aku tidak ingin mati dahulu karna aku masih menyukai seseorang.
>>>>>
“Hyung eothokkae?” Tanya Jungkook ke Taehyung.
“Molla Jungkook-ah.” Taehyung yang terus saja melihat kearah Dana.
“Hyung apa kita akan terus melihat Dana dari belakang pintu balkon ini?” Jungkook. Tetapi Taehyung hanya terdiam saja.
Jungkookpun dengan berani menggeser pintu balkon itu dan berjalan mendekat kearah Dana.
“Jungkook-ah…” Dana.
“Apa aku boleh duduk?” Jungkook.
“Hah, kau tahu siapa saja boleh duduk disini.” Dana. Jungkookpun duduk disamping Dana.
Jungkook melihat kearah Dana terus lalu…
“Wae? Kenapa kau melihati aku terus?” Dana.
“Hm, aniya. Tidak ada apa-apa, kau sedang melihat apa?” Jungkook.
“Hm, aku hanya melihat kearah air yang berada di pantai itu.” Dana.
“Hm, memangnya ada apa dengan  itu?” Jungkook.
“Apa kau tidak merasa takut dengannya? Aku tahu dipandangan banyak orang pantai adalah tempat yang sangat indah, romantis dan menyenangkan tapi semua orang hanya melihat dari sisi baiknya saja. Bahkan semua orang jarang membahas tetantang sisi buruk pantai, bukankah kau dan Taehyung tahu kalau aku sangatlah takut dengan hal itu?” Jelas Dana.
“Hm, ne arraseo aku dan Hyung tahu kenapa kau sangat takut dengan hal itu.” Jungkook.
“Bukan maksudku aku tidak menyukai pantai tempat yang kalian berdua sukai sebenarnya aku menyukainya tetapi aku hanya takut dengan air yang berada disana itu.” Dana.
“Ne, arraseo. Hm, apa panasmu sudah turun.” Jungkook yang sambil memegang kening lalu pipi Dana.
“Aku rasa aku sudah agak mendingan dari yang tadi, Hm dimana Taehyung?” Dana.
“Kau memanggilku?” Taehyung.
“Taehyung-ah, kenapa kau tidak bergabung disini? Palliwa!” Dana.
Tahyungpun berjalan mendekati Dana dan Jungkook.
“Apa kau tidak marah denganku?” Taehyung.
“Wae? Kenapa aku harus marah denganmu?” Dana
“Hm, semua kejadian tadi adalah kelakuan dari mantan yeojaku. Seharusnya kau marah denganku.” Taehyung.
Lalu Danapun menarik tangan Taehyung kebawah agar Taehyung bisa duduk didepannya.
“Taehyung-ah gwenchana, aku tidak apa-apa kok. Lupakanlah masalah yang tadi toh kejadian tadi sudah terlewatkan.” Dana sambil memegang tangan Taehyung dengan kedua tangannya agar bisa meyakinkannya.
“Dana aku merasa tidak enak kepadamu.” Taehyung. Danapun tersenyum tepat didepan Taehyung.
“Dana-ya, Hyung. Hm bisakah besok aku menemui Irene sebentar aku ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Hm , aku tahu besok merupakankan jadwal kita pergi ke tempat taman bunga tapi jika Dana dan Hyung tidak mengizinkannya aku tidak akan pergi.” Jungkook.
“Kau boleh pergi, kita pergi ketaman bunga setelah kau bertemu dengannya.” Dana.
“Hm, Aku dan Taehyung akan mengantarmu bila perlu.” Tambah Dana.
“Jinjja Dana?” Jungkook. Dana menganggukkan kepalanya.
“Gumawo Dana-ya.” Jungkook yang sambil memeluk Dana. Taehyunpun mengusap-usap rambut Jungkook.
~Keesokan harinya~
Akupun bangun lebih awal dari biasanya, entah kenapa hari ini sangatlah berbeda dengan hari-hari biasanya. Akupun menarik kesamping kedua gorden yang berada dipintu balkon secara bersamaan, sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menembus melalui kaca yang berada dibalkon.
Dengan sangat senang akupun membuka pintu balkon dan menghirup udara pagi yang segar. Akupun terus menghirup sambil memejamkan mataku, hah hari ini memang sangatlah berbeda.
Aku merasa ingin berteriak dan mengatakan kepada dunia bahwa kami ber-3 adalah sahabat yang sangat luar biasa. God aku bersyukur kau telah melahirkanku dan memberikan teman seperti mereka ber-2, aku tidak akan pernah lagi membuat mereka kecewa. Aku benar-benar menyayangi mereka ber-2.
Dana-ya, Taehyung hyung aku sangat menyayangi bahkan mencintai kalian berdua, aku tahu sekarang apa yang harus aku lakukan

To Be Continue…

Senin, 20 Juli 2015

My Flower Boys (Chapter 3)

Chapter 3
“Your Promise…”
Jungkookpun berlari sangat kencang menuju kearah seorang namja yang berada didepannya lalu merangkulnya dengan erat.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kau membuatku terkejut. Paboo!!” Taehyung yang memukul kepala Jungkook dengan pelan.
“Mianhae, kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin?” Jungkook yang menyamakan langkah kakinya sama seperti Taehyung.
“Oh, Mian. Kemarin pulsaku habis.” Taehyung yang tersenyum kepada Jungkook.
“Hm, arraseo. Lalu kau ini ingin kemana hyung?” Tanya Jungkook.
“Seperti biasa menemui teman kecil kita.” Taehyung.
“Dana-ya hyung?” Jungkook, Taehyungpun menganggukkan kepalanya.
~Sementara itu…~
“Hya’, Arin-ah kau lihat namja kita?” Irene. Arin hanya menganggukan kepalanya.
“Kau tahukan mereka akan menuju kemana?” Tambah Irene.
“Ne, arraseo. Mereka pasti akan menuju ke Dana, kenapa mereka setiap hari selalu saja seperti itu? Apa mereka tidak bosan? Bahkan aku saja yang menjadi yeojachingunya Taehyung bertemu saja hanya beberapa menit paling lama hanya 1 jam. Dan tidak seperti Taehyung bertemu dengan Dana seharianpun Taehyung betah dengannya.” Arin yan mengeluarkan semua keluhannya.
“Nah itu kau tahu. Bahkan aku saja pernah melihat Dana memakai Beanie yang sama dengan Jungkook dan sepasang sapu tangan yang sama dengan Taehyung saat mereka berkumpul bersama, bukankah itu keterlaluan. Merekakan hanya berteman, apa harus sebegitu juga? Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau Jungkook dan Taehyunglah yang memakaikannya kepada Dana.” Irene.
“Mwo? Bahkan Taehyung saja tidak pernah menawariku sapu tangan, setelah aku memintanya baru Taehyung memberikannya. Bahkan aku sendiri yang memakai sapu tangan itu, sepertinya aku mulai benci kepada Dana. Aku baru mengetahuinya dasar yeoja jalang!” Arin.
“Nado, akupun sangat marah waktu itu. Tapi kaukan tidak melihatnya secara langsung tetapi aku melihatnya secara langsung. Seakan-akan jantungku hampir copot begitu saja.” Irene.
“Tapi bukankah kau setiap hari sudah bertemu dengan Jungkook? Seharusnya kau itu bersyukur, bahkan bukankah karna kau Jungkook sekarang jarang berkumpul dengan mereka.” Arin.
“Hya’ neon paboya! Jungkook harus tetap bersamaku agar Dana tidak merebutnya. Seharusnya Taehyung juga bersamu, tetapi kau malah merelakannya dia terus berjalan dengan Dana. Apa kau tidak takut?” Irene.
“Aku takut, Taehyung saja waktu itu yang tidak menyatakan perasaannya kepadaku melainkan aku yang menyatakan perasaanku kepadanya.” Arin.
“Geurae, kalau begitu ikutlah aku jika kau tidak mau kehilangan Taehyungiemu itu.” Irene.
>>>>>
Saat yang ditunggu semua muridpun telah tiba, bel pulang sekolahpun telah berbunyi. Danapun berjalan keluar kelasnya, Dana tidak sabar akan hal yang dijanjikan oleh Jungkook padanya sewaktu pagi tadi.
Dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan Danapun berjalan dengan sangat cepat sampai…
“Hya’ Dana-ya chakkaman!!” Irene menarik tangan Dana.
“Appo, ya’ kau mau apa?” Dana.
“Ya’ neon (Irene sambil mendorong-dorong kening Dana dengan jari telunjuknya) apa kau puas?” Irene.
“Irene kau mau membully Dana? Kenapa kau ikutkan aku disini?” Arin.
“Sudah kau diamlah!” Irene.
“Puas apa maksudmu?” Dana.
“Kau sudah merebut kedua namja kami dari kami, seharusnya kau malu dengan semua itu.” Irene. Arinpun hanya terdiam dam melihati terus Dana.
“Aku tidak merasa merebut kedua namja kalian, kami hanya bersahabat arraseo!” Dana.
“Halah, tidak usah banyak alasan. Apa berteman harus memakaikan beanie dan sepasang sapu tangan kepadamu? Huh?” Irene yang menarik kerah baju Dana.
“Memanglah begitu kami sejak kecil, apa kau baru tahu itu? Kami juga pernah makan bersama, pergi bersama, dan bahkan tidur bersama.” Dana.
“Nya’ neon!!!” Irene yang mengayunkan tangannya dan ingin menampar Dana.
“Irene, sudahlah tidak usah seperti ini.” Arin yang memegang tangan Irene.
“Hya’ sudah kau diamlah.” Irene. Irenepun kembali dan terfokus dengan tangannya dan ingin menampar Dana, Irenepun mulai mengayunkan tangannya dan…
“Irene!!!” Taehyung. Arinpun terkejut dengan kedatangan Tahyung pada sore itu.
“Taehyung-ah, jinjja aku tidak ikut melakukan hal ini.” Arin. Taehyungpun mendorong Irene dengan pelan lalu menarik lengan Dana.
“Dana-ya neon gwenchana?” Taehyung.
“Gumawo, jinjja nae gwenchana.” Dana.
“Hya’ Irene sebenarnya apa yang ada dipikiramu saat ini? Apa gara-gara Jungkook kau gila seperti ini?” Taehyung.
“Taehyung-ah, jinjja gwenchana. Gumawo sudah menolongku, tapi aku ada janji hari ini. Jadi aku harus pergi.” Dana lalu membalikkan badan dan berlari meninggalkan mereka ber-3.
Taehyung berganti arah melihat Arin.
“Taehyung-ah jinjja aku tidak ikut-ikut. Aku hanya, ini semua salah Irene aku dijebak oleh Irene.”  Arin sambil menunjuk kearah Irene.
“Sudah diamlah kau, ikuti aku.” Taehyung yang menarik lengan Arin.
>>>>>
Volume detak jantungku semakin cepat dan cepat saat Taehyung menarik tanganku. Akupun takut dengan kelakuan Taehyung seperti ini tapi disamping itu aku juga merasa senang.
Taehyungpun melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.
“Arin-ah…” Taehyung.
“Ne, Taehyung-ah.” Arin.
“Aku tidak akan berbicara panjang lebar padamu, jadi tolong dengarkanlah aku.” Taehyung. Akupun menganggukan kepalaku.
“Aku tidak suka dengan kelakuanmu tadi dengan Irene kepada Dana, sebenarnya apa yang kau masalahkan dengan Dana? Katakan kepadaku.” Taehyung yang melihatku dengan tatapan serius.
“Sebenarnya saat istirahat tadi aku dan Irene melihatmu bersama Jungkook menuju ke Dana, kalian ber-2 selalu bersama Dana. Bahkan aku yang menjadi yeojachingumu saja bertemu denganmu itu jarang aku lakukan, lalu aku merasa kau akan meninggalkanku Taehyung-ah jadi aku tidak mau kehilanganmu. Irene bilang kepadaku jika kalau aku tidak ingin kehilanganmu aku harus mengikutinya, tapi benar aku tidak tahu kalau Irene akan melakukan hal ini.” Jelasku kepada Taehyung.
“Arin-ah kau tahu aku juga menyukaimu, bukankah sudah cukup aku menjadi namjachingumu? Setidaknya kau berfikir aku adalah yeojachingunya Taehyung sedangkan Dana hanyalah sahabatnya Taehyung saja, bukankah aku nanti akan menjadi salah satu kehidupannya kelak (Taehyung menjelaskan dari sisi pandangan Arin kepada Taehyung). Dana hanyalah sahabatku sejak kecil Arin-ah, seharusnya kau tahu itu dan kau seharusnya juga tidak cemburu seperti ini.” Taehyung.
“Taehyung-ah mianhaeyo, seharusnya aku tidak cemburu seperti anak kecil.” Arin.
“Apa kau baru menyadarinya Arin-ah, ini sudah terlambat kau membahayakan diri sahabatku.” Taehyung.
“Taehyung-ah aniya, aku tidak mau mengahkiri hubunganku denganmu.” Arin.
“Begitu juga denganku Arin-ah aku juga tidak mau mengakhirnya denganmu tetapi kau yang memulainya, jadi terimalah akibat dari semua yang kau lakukan.” Taehyung yang mulai brjalan meninggalkanku.
“Taehyung-ah, apa karna dia sahabatmu sejak kecil kau terus saja membelanya? Huh?” Arin. Taehyungpun seketika berhenti setelah mendengarkan perkataan yang keluar dari muutku tadi.
“Bahkan aku saja yang menjadi yeojamu apa pernah sekali saja kau membelaku? Bahkan sekalipun kau melihatku sebagai yeojamu itu, TIDAK!” Teriakku kepada Taehyung. Lalu Taehyung membalikkan tubuhnya dan menatapku dari kejauhan.
Taehyung telah melihat air mataku mengalir kebawah pada pertama kalinya. Akupun sudah berusaha menahan semua air  mataku sejak awal aku mempunyai hubungan dengannya tetapi kali ini aku sudah lelah untuk menahannya. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa energi yang berada didalam tubuhku hanya untuk mengatakan sesuatu kepada Taehyung.
“Taehyung-ah, jawab pertanyaanku untuk terakhir kalinya.” Bilangku padanya sambil mengusap air mata yang telah sukses membasahi semua pipiku. Akupun perlahan berjalan mendekatinya sampai 3 langkah darinya.
“Apa kau menyukai Dana?” Tanyaku, setelah Taehyung mendengar pertanyaanku yang mungkin tidak diduganya seketika mata Taehyung itupun yang awal menyipit berubah menjadi bulat sempurna.
Akupun menunggu jawaban darinya, tetapi dia hanya terdiam. Sebenarnya aku sudah tahu jawaban apa yang ada didalam pikirannya.
“Aniya, aku tidak menyukainya.” Jawabnya.
“Kau berbohong kepadaku.” Jawabku.
Akupun langsung melangkahkan kakiku pergi untuk menjauh darinya.
“Arin-ah… Arin-ah!!! Chakkaman!!” Panggil Taehyung.
Akan aku ingat suara itu selamanya bukankah hari ini detik inipun juga aku akan mendengar suara itu untuk terakhir kalinya? Aku sangat sakit sekarang entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tahu Taehyung berkata bohong padaku sebenarnya dia menyukai Dana sahabatnya sendiri.
Akupun mendudukkan diriku disebuah tempat duduk, akupun menangis sepuasku disana. Aku telah berjuang cukup berat untuk mendapatkannya tetapi Taehyung tidak pernah menghargai perjuanganku untuk mendapatkannya.
 Berulang kali aku mengusap air mataku yang berjatuhan dan mengalir begitu saja, aku terus saja berpikir apa tidak adakah seseorang yang dapat menenangkanku saat ini dan menjadi tempat bersandarku saat ini?
>>>>> 
Aish, kurang ajar Irene. Apa dia tadi akan membullyku dengan mengajak Arin? Huh, membuatku terlambat saja. Akupun berjalan dengan cepat menuju ketaman kota tetapi setelah aku sampai namja yang berjanji denganku tadi pagi belumlah sampai.
Akupun memutuskan untuk duduk dan menunggunya saja disana, sesekali akupun juga menghidupkan ponselku dan melihat layar ponselku. Apakah ada pesan masuk atau telephone tak terangkat yang tidak aku ketahui, tetapi tidak ada satupun.
Jampun telah menunjukkan pukul 7 malam, akupun juga belum menganti seragam sekolahku dengan pakaian hangat. Berulang kali aku menggosok kedua telapak tanganku dan mengelus-elus lenganku, akupun juga menggerakkan sesekali kakiku agar udara dingin tidak menyelimuti tubuhku tapi udara masih tetap saja sangatlah dingin. Tetapi aku terus saja menunggu Jungkook.
~Sementara itu…~
Taehyungpun berjalan menikmati dinginnya kota Seoul pada malam hari itu, sambil memakan ddeukbokki yang ia beli ditaman kota. Tidak salah lihat Taehyung melihat seorang yeoja yang duduk sendirian yang memakai seragam sekolah yang sama ditempat ia sekolah.
Taehyungpun berinisiatif untuk mendekatinya terlihat yeoja itu sangat kedinginan.
>>>>>
Akupun terus saja mengelus-elus lengan tanganku dan menggerak-gerakan kecil kakiku, tapi udara dingin tidak mau hilang dari tubuhku. Seakan-akan udara dingin ini mulai seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk tubuhku satu persatu.
Dari kejauhan terlihat seorang namja mendekat kearahku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku masih tetap terfokus dengan menghangatkan tubuhku, mungkin setibanya Jungkook disini dia akan memberikan jaket hangat untukku.
“Hya’ Dana-ya!!” Panggil seorang namja, yang telah tahu itu aku. Dan berlari begitu cepat setelah ia tahu kalau ia mengenalku.
“Taehyung-ah?” Jawabku.
“Kenapa kau disini?” Dana.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu. Kenapa kau disini? Lihatlah bibirmu mulai pucat dan tanganmu sangat dingin.” Taehyung yang langsung duduk disampingku dan melihati diriku dari atas hingga bawah.
Akupun tersenyum “Aku sedang menunggu seseorang, dia telah berjanji padaku sewaktu pagi tadi kalau dia berjanji akan megajakku bermain hari ini.” Dana.
“Nuguya?” Taehyung.
“Jeon Jungkook.” Dana.
“Oh, tapi kau bawa pakaian hangatkan?” Taehyung, akupun menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Aish, yeoja pabo.” Taehyung yang mendorong kepala Dana kedepan dengan pelan.
“Hya’!!!” Pekikku.
“Yasudah kau pakailah ini.” Taehyung.
“Shireo!! Aniya, aniya. Kau pakailah saja, kaukan cuman memakai jaket hangat itu kalau aku memakainya bukankah sama saja kau juga akan kedinginan sepertiku?” Dana.
“Tidak apa-apa, aku masih memakai baju hangat.” Taehyung.
“Aniya, pakailah. Biar tubuhmu benar-benar hangat. Bukankah eommamu selalu mengkhawatirkamu jika kau kedinginan?” Dana.
“Jinjja? Kau tidak mau memakainya?” Tawar Taehyung lagi kepadaku. Akupun menganggukkan kepalaku berulang kali agar meyakinkannya.
“Oh, arraseo kalau itu maumu. Tapi kau makanlah dan minum ini setidaknya kau isi perutmu lalu hangatkan tubuhmu.” Taehyung.
“Gumawoyo, hari ini kau menyelamatkanku 2 kali.” Akupun tersenyum kepadanya.
“Palliwa kau pulanglah. Udara disini semakin dingin.” Tambahku. Lalu Taehyung menuruti apa yang aku katakan, akhirnya Taehyung berjalan pulang.
Berulang kali Taehyung berjalan lalu membalikkan badan untuk melihatku. Apakah aku baik-baik saja dengan keadaan udara dingin seperti ini.
“Jinja neon gwenchana?” Teriak Taehyung dari kejauhan.
“Ne, nae jinjja gwenchana Taehyung-ah.” Akupun melambaikan tanganku kepada Taehyung agar Taehyung percaya kepadaku. Taehyungpun akhirnya meninggalkanku.
Setelah Taehyung pergi, akupun menghela nafasku dalam-dalam lalu memakan ddeukbokki dan coffe latte yang diberikan Taehyung padaku.
~Sementara itu…~
Akupun berjalan meninggalkan Dana. Sepertinya Dana berbohong kalau dia mengucapkan tidak apa-apa kepadaku, mungkin dia mengatakan hal itu agar aku tidak mengkhawatirkannya. Tapi Jungkook-ah kau dimana? Sebenarnya ada apa denganmu? Jika kau sudah melakukan janji kepada Dana bukankah kau akan bertemu dengannya.
Tapi kau tidak ada disana, aku lihat tadi Dana spertinya sudah lama menunggu. Bahkan dia tidak mengganti seragam sekolahnya.
Akupun terus memikirkan Dana sampai…
“Mwoya? Jeon Jungkook!!!” Panggilku.
Jungkookpun menoleh kearahku sambil melambaikan tangannya.
“Hyung….” Jawab Jungkook yang juga tersenyum kepadaku.
Akupun melangkahkan kakiku dengan cepat menuju Jungkook, bukankah dia telah berjanji dengan Dana pada malam hari ini. Setelah aku sampai teryata tebakkanku selama ini benar.
“Oppa, annyeong!” Sapa Irene.
“Jungkook-ah kau benar-benar.”  Bilangku kepada Jungkook.
“Jangan panggil aku ini Oppa, aku seumuran dengan Jungkook. Arra!!” Betakku ke Irene. Akupun dengan cepat berlari meninggalkan Jungkook bersama yeojanya.
Beberapa kali aku menubruk orang dikeramaian taman kota, banyak orang disana sangatlah bahagia dan memamerkan kebahagian mereka satu sama lain . Tetapi setelah aku sampai disana seorang yeoja disanalah yang duduk sendirian, aku lihat dialah yang berbeda.
“Dana-ya…” Panggilku, nama itulah yang terus saja keluar dari mulutku. Aku hampir tidak bosan memanggil nama itu.
“Taehyung-ah? Kenapa kau balik kesini lagi?” Dana.
“Kajja, aku akan mengantarmu pulang.” Taehyung.
“Mwoya? Shireo! Jungkook akan mencariku disini.” Dana.
“Dia tidak akan datang! Percayalah!” Bentakku yang membuat Dana terkejut.
“Apa yang kau katakan itu benar?” Dana. Akupun menganggukkan kepalaku.
“Kajja, kau naiklah kepunggungku aku akan mengendongmu.” Tawarku, tetapi Dana berjalan begitu saja. Akupun memakaikan pakaian hangat ke tubuhnya, tetapi Dana hanya diam dan terus saja berjalan.
Bahkan coffe latte yang aku berikan sejak tadi lamanya, ia belum juga menghabiskannya. Tiba-tiba Danapun berhenti lalu tangannya seperti mengusap matanya, akupun mencoba mendekatinya.
“Taehyung-ah, apa kau tahu?” Dana.
“Dana-ya…” Aku memegang pundaknya, tetapi Dana jatuh tersungkur.
“Taehyung-ah, jebal…” Jerit Dana, akupun yang merupakan sahabat Dana sejak kecil baru melihat Dana menjerit seperti ini. Akupun duduk jongkok menyamakan diri seperti Dana.
“Dana-ya sudahlah, arraseo.” Bilangku mencoba menenagkan Dana sambil menepuk-nepuk punggung Dana.
Danapun menangis menghadap dadaku dan menarik baju hangatku berulang kali, Danapun tak henti-hentinya memukul-mukul dadaku. Akupun tidak kuat melihat Dana seperti ini, akupun mencoba menahan air mataku tetapi melihat sahabatku seperti ini. Aku tidak bisa.
Malam itupun aku baru mengetahui sebenarnya Dana menyukai Jungkook sudah begitu lama dan aku juga baru melihat Dana menangis lalu menjerit seperti itu. Akupun menggenggam tangan Dana dengan erat untuk menuntunnya pulang. Tapi sebelum itu…
Aku melihat Dana kembali, sekarang bukanlah aku yang mengekor dibelakangnya melainkahlah Dana yang sekarang mengekor dibelakangku. Dana masih saja menundukkan kepalanya dan tangan kanannya masih juga memegang gelas coffe yang aku beri tadi.
“Jeon Jungkook…” Taehyung.
“Hyung, kau kembali lagi.” Jungkook.
Akupun menarik kerah baju Jungkook dan menepatkan sebuah hantaman diwajahnya, Jungkookpun terjatuh dihadapan Dana. Danapun hanya terdiam, akupun menarik kerah baju Jungkok lagi dan berulang kali aku menepatkan hantamanku keperut Jungkook.
“Jungkook-ah Dana telah menunggumu sejak sore tadi, lihatlah bukankah kau sudah berjanji akan bermain dengannya? Lihaltah tubuhnya sudah sangat dingin hanya untuk menunggumu! Apa kau mau sahabat kita mati kedinginan hanya untuk menunggumu yang tak kunjung datang?Huh?” Bilangku kepada Jungkook.
Irenepun berlari kearah Dana dan meminta pertolongan darinya tetapi Dana melihat wajah Irene dan langsung menamparnya.
 “Mwoya? Kau menamparku?” Irene.
*PLAK* Suara itupun terdengar lagi olehku. “Apa kau masih berani berbicara kepadaku?” Dana.
Akupun mendorong Jungkook dan menghentikan semua ini. Akupun berusaha meredam emosiku, Danapun berjalan kearahku dan menarik lenganku.

To Be Continue…