Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
Main cast : Park Jimin (BTS), Jungkook (BTS), Seo
Dana, Choi Hye Ri
Genre : Sad and Hurt Romance
Chapter : 1-3
Rating : Maybe teen
Chapter
1
“Irreummeun
mwoeyo?”
“Ya’ Danaya, kau mau kemana?” Hye Ri.
“Wae? Tumben kau bertanya.” Dana.
“Apa tidak boleh? Ya’ palliwa kesini!” Hye Ri.
“Wae? Sebenarnya kau ingin apa?” Dana yang berjalan menuju
ke Hye Ri.
“Hm, besok lusa bukankah malam minggu?” Hye Ri.
“Ne wae?” Dana cuek.
“Kau tahukan artinya itu?” Hye Ri.
“Mwo? Sebenarnya apa yang kau bicarakan ini? Aku tidak
mengerti sudah langsung ke intinya saja tidak usah banyak prolog.” Dana.
“Hya’ kau ini sudah baik kauku beri tumpangan jika tidak kau
ingin tidur dimana?” Hye Ri.
“Hya’ ini bukanlah rumahmu ini milik Ahjumma, nasib kita
memang sama. Keluarga kita telah tiada semuanya jadi kau tidak usah
mengatur-atur aku kau hanyalah keponakanku saja dan bukan Eommaku, aku juga
mempunyai hak atas tempat tinggal dirumah ini karna kita telah hidup dengan
Ahjumma sejak kita kecil!” Dana membela diri.
“Tapi apa kau ini sudah bisa mencari uang? Kalau cuman
membeli rumahpun aku juga bisa tapi untuk menghidupi kebutuhan kita sehari-hari
itu pakai uang siapa? Pabo!” Hye Ri sambil memukul kepala Dana.
“Aish!! Eonni!! Mianhae.” Dana.
“Yasudah, besok pada hari minggu tugasmu seharian untuk
menjaga rumah.” Hye Ri.
“Mwoya? Eonni apa kau gila? Aku harus menunggu Eonni
seharian penuh? Shiro!!” Dana yang pergi begitu saja.
“Hya’ dasar bocah tengik!” Hye Ri.
***
Dana keluar dari rumah yang
dianggapnya sebagai neraka, Dana berjalan menyusuri jalanan yang berada di
dekat rumahnya dengan menggunakan headsheet yang ia pakai ditelinganya Dana
dengan santainya menyusuri jalan.
“Memangnya dia siapa dengan PDnya mengatur-atur hidupku,
Eonniku saja bukan Oppaku saja bukan bahkan Appa dan Eommaku saja dia bukan.
Enak saja dia mengatur-atur!” Gerutu Dana.
“Ah, lagu ini memang sangatlah bagus.” Saking terbawanya
dengan alunan lagu yang ia dengarkan ia berjalan dengan menutup matanya.
“Hya’ yeoja kau minggirlah!!!” Teriak seorang namja yang
menaiki sepeda. Dana yang hanya mendengar samar-samar ia dengan pelan membuka
kedua matanya dengan perlahan-lahan.
*BRUKK* Danapun terjatuh “Hya’ neon apa kau ini ingin mati?
Aish Appo…” Dana yang merintih kesakitan. Namja yang mengendarai sepeda itupun
juga terjatuh.
“Aish, neon yang disana!! Kemarilah bantu aku!!” Dana, tapi
namja itu tidak mengeluarkan sepatah kata apapun dan tidak bergerak sama
sekali.
Lalu Dana mencoba untuk berdiri
dan berjalan perlahan-lahan untuk mendekat namja yang menabraknya.
“Hya’ neon gwenchana?” Dana menggoyang-goyangkan badan namja
itu, tapi namja itu tidak bergerak sama sekali.
“Ya’ apa kau mati?” Dana mencoba mengecek nafasnya tetapi
namja itu masih mengeluarkan nafas. Lalu Dana mencoba mengecek detak jantungnya
dengan mendekatkan telinganya kedada namja itu tetapi detak jantungnya juga
stabil.
Beberapa menit kemudian…
Namja yang menabrak itupun siuman
dan melihat Dana meminum susu yang berada dikeranjang sepeda namja itu. Sontak
namja itupun mendirikan badannya dan berdiri didepan Dana yang sedang meminum
susu kotak.
“Hya’ apa kau gila, itu susu yang aku bawa dan akan aku
jual!” Teriak namja itu.
Dana telah menghabiskan susu kotaknya “Hya’ ssstttt (Jari
telunjuk Dana berada dibibirnya), apa kau bisa diam? Aku mencoba untuk meminum
susu kotak ini. Oh, apa kau mau?” Dana
sambil mengarahkan susu kotak ke namja itu.
“Hya’ yeoja bodoh itu susu kotak itu milikku!” Namja itu
menolak susu pemberian Dana dan membuangnya lalu susu kotak itu jatuh kebawah
tepat didekat kaki Dana. Dana dan Namja itu melihat susu kotak jatuh kebawah.
“Oh, yasudah jika kau tidak mau.” Dana cuek, Dana megambil
susu kotak dari keranjang sepeda namja itu lagi.
“Mwo? Kenapa dengan celana jinsmu? Kenapa hanya warna merah
dibagian sisi sebelah kiri saja?” Tanya namja itu.
“Cihh, apa kau sudah lupa. Kau tadikan menabrakku dan kau
pingsan, apa kau lupa?” Dana sambil meminum susu kotak milik namja itu.
“Jinjja?” Dengan cepat namja itu melipat celana jins Dana
keatas.
Dana terkejut “Hya’ apa yang kau lakukan?” Dana.
“Mianhae, sudah menabrakmu.” Bilang Namja itu.
“Oh, gwenchana. Mungkin besok lukanya juga sudah sembuh.”
Dana.
“Aniya, kajja aku akan membawamu kerumah sakit.” Bilang
Namja itu.
“Shiro! Gwenchana. Sudahlah kau duduklah disini, nikmatilah
susu kotak ini.” Dana sambil mengarahkan susu kotak. Lalu namja itu duduk
didekat Dana.
Namja itu meminum susu kotak yang diberikan oleh Dana “Irreummeun mwoeyo?” Tanya namja itu.
“Seo Dana imnida, neon?” Tanya Dana balik.
“Jeon Jungkook imnida.” Jawab namja itu.
“Oh, itu namamu.” Dana.
“Memangnya kau ingin kemana?” Jungkook.
“Nae? Sebenarnya aku tidak kemana-kemana, aku hanya bosan
dengan Eonniku. Tapi sebenarnya dia bukan Eonniku hanya keponakanku saja dan
dia lebih tua dariku. Dia selalu mengatur-atur hidupku, jika aku mengatur
hidupnya balik dia pasti akan memarahiku. Jika aku kembali lagi kerumah bagiku
itu merupan neraka didunia, jadi makannya aku keluar dari rumah untuk menghirup
udara sebentar.” Jelas Dana yang masih saja terus meminum susu kotak milik
Jungkook.
“Apa kau tidak mempunyai tempat tujuan yang lainnya?”
Jungkook.
“Molla mungkin sudah tiada, soalnya aku dan Eonniku itu
sudah dirawat oleh Ahjummaku sejak kecil jadi aku tidak punya tujuan lain
lagi.” Dana.
“Yasudah aku ingin balik pulang dulu, mungkin Eonniku sudah
mencariku.” Tambah Dana sambil berjalan pelan untuk pulang.
“Jinjja semua ini?” Jungkook yang terkejut.
“Ne? Wae?” Dana membalikkan badannya kearah Jungkook.
“Kau menghabiskan semua susu kotak milikku?” Jungkook.
“Aniya aku tidak menghabiskannya, tadi aku lihat ada 10 susu
kotak. Tadi yang pertama kau membuangnya dan yang kedua aku menawarkannya
kepadamu jadi aku tidak meminum semuanya hanya 8 susu kotak saja yang aku minum.”
Jelas Dana.
“Apa perutmu tidak sakit?” Jungkook.
“Aniya, perutku tidak sakit. Oh, ini aku lupa untuk membayar
semua susu kotakmu.” Dana.
“Ah, Aniya tidak apa-apa kau meminum semuanya. Itu sebagai
tanda maafku karna sudah menabrakmu.” Jungkook.
“Apa kau nanti tidak dimarahi oleh pemilik susu kotak ini?”
Dana.
“Aniya.” Jungkook sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh, gumawo. Yasudah aku pulang dulu.” Pamit Dana. Dana
berjalan dengan perlahan-lahan sambil merintih kesakitan.
“Cihh, dasar yeoja pabo! Jelas-jelas itu sakit.” Jungkook,
akhirnya Jungkook menaiki sepedanya dan mengayuhnya mendekati Dana.
“Neon gwenchana? Hari sudah hampir malam, mungkin saat aku
pingsan kau menungguku sangat lama.” Jungkook sambil mengayuh sepedanya.
“Ah, nae gwenchana kau pulanglah.” Dana yang berjalan dengan
perlahan-lahan.
“Lagian kenapa kau mengumpulkan susu kotak yang sudah aku
minum tadi?” Tabah Dana sambil berjalan.
“Hm, tidak apa-apa. Lagian sia-sia bukan jika dibuang,
inikan bisa didaur ulang.” Jungkook.
Lalu Jungkook berhenti menghayuh
dan menarik tangan Dana untuk duduk di goncengan sepedanya.
“Apa susahnya kau tinggal duduk dan memberi tahu dimana
jalan menuju rumahmu?” Jungkook. Dana hanya terdiam saja.
~Sesampainya dirumah~
“Ah, gumawo. Mian sudah merepotkanmu.” Dana sambil
membungkukkan badannya.
“Aniya, seharusnya aku yang mengatakan seperti itu.”
Jungkook, Jungkookpun kembali mengayuh sepedanya untuk pulang dan Dana membuka
pintu pagar rumahnya. Setelah membuka pintu pagarnya Dana mencoba untuk membuka
pintu rumahnya tetapi tidak bisa.
“Mwo? Wae? Kenapa ini tidak bisa terbuka?” Dana berulang
kali mencobanya, Dana geram lalu menendang pintu dengan kaki kananya.
“Eonni wae kau melakukan semua ini kepadaku? Apa kau ini
sangat membenciku!!!” Teriak Dana. Akhirnya Dana mendudukkan dirinya disebelah
pintu rumahnya dengan kaki yang masih terluka sampai akhirnya Dana tertidur.
***
“Omo, omo. Mengejutkanku saja dasar bocah tengik! Hya’ neon
kenapa kau tidur disini?” Hye Ri mengoyang-goyangkan badan Dana dengan kakinya.
Lalu Hye Ri menjajarkan tubuhnya sama seperti Dana.
“Aigo, bocak ini kenapa dengan kakimu? Oh, dia tertidur.”
Lalu Hye Ri berdiri dan membuka pintu rumahnya dan masuk begitu saja
meninggalkan Dana diluar.
Beberapa menit kemudian Dana
terbangun. Dana mengeluarkan sebuah udara dari mulutnya dan mengusap-usap kedua
matanya.
“Mwo? Apa ini?” Dana membuka selembar kertas kecil yang
terselip diantara jari tangannya.
“Hya’
bocah tengik, jangan tidur saja. Palli bangun kau belilah bahan kebutuhan kita,
jika sudah selesai tempatkan semua bahan didalam lemari es. Jika kau lapar aku
sudah membelikanmu makanan ambilah didalam lemari es.”
“Apa boleh buat, jika aku tidak menurutinya aku akan teridur
diluar semalaman.” Bilang Dana. Lalu Dana beranjak dari tempat yang ia tiduri
dan berjalan untuk membeli kebutuhan yang mereka butuhkan.
“Mwo?? Kenapa dengan kakiku ini? Cihh, mungkin nenek lampir
itu.” Bilang Dana. Lalu Dana melanjutkan jalannya.
~Setelah membeli kebutuhan yang mereka
butuhkan~
Dana mencari sesuatu disebuah
saku jaketnya, berulang kali Dana mencarinya tetapi tetap saja tidak ada. Dana
juga mencari disaku satunya tetapi tetap saja tidak ada.
“Jinjja? Dimana aku menaruhnya tadi?” Dana masih saja
mencari disemua saku yang ia miliki.
“Pabo (Dana sambil menepuk keningnya) Bukankah aku tadi
menaruh ponselku dikeranjang siapa tadi namaya, aish jinjja aku lupa nama namja
tadi.” Gerutu Dana.
“Tapi coba, hm… hya’ akhirnya mp3ku.” Akhirnya Dana pulang
dengan mendengarkan alunan music lagi tapi kali ini Dana mendengarkannya tidak
terlalu kencang.
Dana melewati sebuah taman yang
berada dekat di rumahnya, tapi ada seseorang yang membuat Dana penasaran. Dia menagis
dikesuyian malam hari, akhirnya Dana berjalan mendekatinya. Lalu dengan PDnya
Dana duduk didekatnya.
“Neon gwenchana?” Dana sok kenal.
“Nae gwenchana.” Jawab seseorang itu yang menoleh kearah
Dana.
“Jimin Oppa?? Wae kau menangis? Ada masalah apa lagi kau
dengan Eonniku?” Dana.
“Aku sudah putus dengannya Dana.” Jimin.
“Mwo? Jinjja? Terus kenapa kau menangis Oppa, bukankah masih
ada banyak yeoja?” Dana.
“Molla Dana.” Jimin.
“Oppa cobalah kau menghadap ke kepadaku!” Perintah Dana.
Lalu Dana mengusap air mata Jimin.
“Oppa apa kau tahu seorang namja itu harus kuat menghadapi
semua hal, jika kau namja tidak seharusnya kau seperti. Kau harus kuat
menghadap suatu hal, jika pada akhirnya suatu hal itu tidak berpihak kepadamu
yasudah mungkin itu belum menjadi milikmu.” Jelas Dana yang terus saja mengusap
air mata Jimin.
Lalu Dana melepaskan headsheet sebelah kanan dan memakaikannya
kepada Jimin. “Oppa coba kau dengarkanlah lagu ini, mungkin lagu ini bisa
membantu menghilangkan sedikit rasa sakit hatimu.” Dana.
Dana menyandarkan tubuhnya dikursi yang ia duduki “Oppa coba
kau sandarkan tubuhmu dan mendengarkan lagu ini dengan menutup kedua matamu.”
Dana. Dan Jimin melakukan semua yang Dana bilang.
“Dana apa kau merasakannya?” Jimin, tetapi Dana tidak
menjawabnya. Jimin membuka kedua matanya dan menoleh kearah Dana tetapi Dana
sudah tidak ada disana.
Dana menyusuri jalan pulang
rumahnya dengan wajah yang murung dengan membawa barang kebutuhan yang mereka
butuhkan dikedua tangannya, tiba-tiba mata Dana berkaca-kaca dan air mata mulai
mengalir begitu saja.
“Oppa jika kau tahu sebenarnya aku menyukaimu, kenapa kau
tidak melihatku sama sekali? Aku disini telah lama melawan rasa sakit Oppa, aku
telah memendam rasa sukaku kepadamu Oppa itu semua aku lakukan hanya karna
Eonniku.” Bilang Dana pada malam hari itu.
To Be
Continue…







.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar