Original story by Shyqilla Nabiila
Daffa (SN.d)
Cover by leenArt design
FF ONESHOOT
Main cast : Park Jimin (BTS), Suga (BTS),
Seo Dana, Ryu Soo Jeong (Lovelyz)
Othercast : Park Leen.a , Jungkook
(BTS)
Genre : Frienship, Hurt romance
Rating : Maybe teen
Sepasang siswa siswi sekolah menegah atas sedang menyusuri lorong sekolah.
Dimana seorang siswi itu terus meminum minuman yang ia beli dari kantin bersama
seorang siswa yang dimana adalah teman sekelasnya.
Seorang siswapun mencoba menjahilinya dengan menarik rok minim siswi yang
didekatnya itu.
“Ya’ Jimin-na!” Dana.
Jimin tersenyum.
“Habisnya kau sibuk
dengan minumanmu. Sehingga aku disini tidak kau hiraukan. Lagian juga lihat rok
minimmu itu apa kau mencoba menggodaku?” Jimin.
“Ne. Aku mencoba
menggodamu. Wae Park Jimin?” Dana
“Apa kau selalu
menghiraukan tentang perasaanku?” Tambah Dana.
“Mwo?” Jimin.
“Aniya.... Ttttt...dakkk
usah kau pikirkan.” Dana.
“Hm, aku rasa itu
penting.” Jimin yang terus menguras habis pikirannya dengan perkataan Dana.
“Apa kau ingin tahu?”
Dana.
Jimin menoleh kearah Dana. Danapun langsung mengecup bibir Jimin tanpa
aba-aba lalu berlari meninggalkan Jimin.
Jimin yang beberapa detik mematungpun mulai sadar akan hal yang dilakukan
Dana.
“Aku ingin membicarakan
sesuatu denganmu. Bisa?” Suara Jimin yang begitu nyaring. Dana hanya menganggukan
kepalanya dan terus
berlari.
Ya itulah nama
panggilanku Dana. Aku duduk di kelas
2 sekolah mengah atas, aku mempunyai seorang namjadongsaeng dan dulu aku
mempunyai seorang Oppa. Ah, aniya sampai sekarang aku mempunyai Oppa dia selalu
bersamaku biarpun banyak orang tidak pernah menganggapnya ada. Aku merupakan seorang yeoja yang bisa dikatakan sedikit nakal. Tapi jika itu dilihat
dari penampilanku. Jika kau melihat dalamnya entah kau akan berkata apa, mungkin kau
akan mengatakan hal yang lain.
~Sepulang
sekolah~
“Dana, kau duduklah disini.” Jimin sambil
memberikan sebuah lollipop ke Dana. Danapun duduk disamping Jimin.
“Oh, Gumawoyo. Sebenarnya kau ingin berbicara apa denganku?”
Dana sambil menjilati sebuah permen lollipop yang diberi Jimin. Berharap Jimin lupa dengan apa yang Dana lakukan
tadi terhadapnya.
“Cuaca sore ini sangat indah bukan? Bila aku tanya sesuatu
kepadamu kau pasti bisa langsung menjawabnya.” Jimin.
“Tergantung.” Dana sambil terus menjilati
permen lollipop.
“Sebenarnya aku ingin menyatakan isi
hatiku.” Jimin. Dana mulai berhenti menjilati permen lollipop dan mulai menoleh kearah Jimin.
“Menyatakan isi hatimu?” Dana. Jimin menganggukkan
kepalanya sambil tersenyum.
Senyuman yang dibuat Jimin itu membuat tempo degupan jantung Dana semakin
bertambah dan terus bertambah saat Jimin ingin mengatakan isi hatinya. Dana
seperti tidak percaya dengan kaliamat apa yang dikeluarkan dari mulut Jimin
barusan.
Danapun memandangi terus wajah Jimin tanpa mengedipkan salah satu kelopak
matanya. Seperti tidak ingin melewatkan satu detikpun kenangan yang tercipta
hari ini.
“Aku ingin menyatakan isi hatiku kepada Soo Jung
teman yang selalu dekat denganmu itu.” Jimin.
Permen lollipop yang Dana genggampun terjatuh dari tangannya. Beberapa detik Dana mencuri pandangannya dari
Jimin sampai Jimin menoleh kearah Dana karena permen lollipop yang Dana
jatuhkan. Dana dengan segera memalingkan wajahnya, membuang-buang jauh pandangannya terhadap Jimin.
“Wae? Kenapa kau menjatuhkannya?” Jimin.
“Rasa dari lollipopnya seketika mulai
hambar.” Dana.
“Jadi bagaimana apa kau bisa membantuku
dekat dengannya?” Jimin.
“Asal kau tahu Soo Jung
bukanlah teman dekatku!” Dana.
“Apa kau lupa dengan
kejadian 3 tahun yang lalu? Tentang Taehyung Oppa?” Tambah Dana.
“Kenapa dengan kejadian 3
tahun yag lalu? Bukankah semua telah selesai? Jangan mengungkit-ungkit kenangan
itu kembali jika itu membuatmu semakin terpuruk.” Jelas Jimin.
Danapun beranjak dari tempat duduk dan menghadap ke Jimin “Apa sebegitu
mudahnya menghilangkan kenangan yang begitu buruknya didalam kehidupanku?
Oppaku mati dipenjara karena mulut jalang itu!” Air mata Dana telah membasahi
pipinya.
“Apa salah jika Oppaku
tidak menyukai Soo Jung? Kenapa jalang itu harus mengatakan kalau Oppaku
memperkosanya sampai dia tidak berdaya? Tidak mungkin Oppaku melakukan hal
sekeji seperti itu!” Tambah Dana.
Jiminpun memeluk Dana dengan sangat erat. Dana yang merasa kenyamanan itu
berhenti berbicara sesaat dan menikmatinya dengan memejamkan matanya sambil
menghirup aroma tubuh Jimin.
“Aku tahu yang kau
rasakan sampai sekarang ini. Aku mengerti semua kesusahan yang kau lalui, aku berjanji aku selalu
berada disampingmu. Setiap kau menemui masalah aku selalu bersama denganmu dan
menolongmu. Tapi kumohon untuk satu kali ini saja bantulah aku dekat dengan Soo
Jung.” Jimin.
Danapun membelalakan kedua matanya dan langsung mendorong tubuh Jimin. Dana
masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jimin. Dana hanya menatap
wajah Jimin dengan pandangan kosong, tidak tahu apa lagi yang ingin dikatakan
oleh Dana.
Dana mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya lalu
meninggalkan Jimin. Jiminpun menghalanginya dengan memegang lengan Dana.
“Kumohon Dana...” Jimin.
Dana membalikkan tubuhnya
dan melepas genggaman tangan Jimin “Kumohon hargailah perasaanku juga
Jimin-sshi.” Dana yang langsung melanjutkan langkah kakinya.
Jimin berusaha mengolah
perkataan Dana yang terakhir Dana ucap mencoba menghargai perasaannya.
~Perjalanan
kerumah~
Cuacapun mulai mendung dan berawan abu-abu sepertinya cuaca mengerti perasaan Dana saat
ini. Awan yang mulai menggunduk berwarna abu-abu pekat itupun mulai meneteskan sedikit demi sedikit air.
“Dana-ya…”Panggil seseorang dari belakang dan Dana
membalikkan badannya.
“Bagaimana
tadi? Apa Jimin mengatakan isi hatinya kepadamu?” Leen A.
“Mengatakan isi hatinya? Dengkulmu itu.” Dana.
“Lantas kalau begitu dia mengatakan apa
tadi sampai begitu lamanya denganmu?” Leen A.
“Dia menyuruhku untuk membantunya dekat dengan Soo Jung.”
Dana.
“Soo Jung? Cuihh si jalang bedebah itu?” Leen
A, Dana hanya menganggukan kepalanya.
“Ya’ tersenyumlah. Mungkin dia belum
menyadarinya.” Leen A.
“Belum menyadarinya bagaimana Leen A? Aku
sudah menyukainya sejak sekolah
menegah pertama dan itu dia tidak menyadarinya. Apa dia
tidak tahu? Aku selalu menyeritakan
semua masalahku terhadapnya. Setiap hari aku selalu pergi kepadanya. Pergi
kepundaknya untuk mengeluhkan semua masalahku. Semua itu lakukan karena aku
menyukainya sangat menyukainya.”Dana.
Hujan turun begitu deras tanpa ada peringatan
apapun. Dana tetap saja berjalan santai meninggalkan Leen A.
“Dana-ya hujan turun
begitu lebat kau berteduhlah saja disini.” Teriak Leen A.
“Hujan tidak akan
mebuatku mati, mebuat Jimin suka terhadapku dan membuat Oppaku kembali dari
kematiaan.” Dana.
Leen A yang mendengar perkataan yang dilontarkan Dana langsung tercengang
diam hanya melihati Dana berjalan menerobos hujan.
~Sementara
itu…~
Seorang namja sedang melihat Dana yang menerobos derasnya hujan pada sore
hari itu.
“Dana apa kau tidak melihat salah satu
namja yang berada didekatmu ini yang sedang terus melihatmu? Kenapa kau harus
menyukai seseorang yang bahkan seseorang itu tidak membalasmu?” Batin Suga sambil membawa payung yang melindunginya dari derasnya
hujan.
“God, aku tidak tahu sampai kapan aku harus
menyukai Jimin. Bahkan Jimin sendiri tidak pernah membalas perasanku yang
selalu aku berikan kepadanya?
Apa memang ini takdirku? Jika memang aku tidak
bersama Jimin, aku ingin cepat melupakan semua ini dan memendamnya
dalam-dalam.” Batin Dana sambil menyusuri jalan
dengan menundukkan kepalanya.
Hujan
yang tambah begitu deras ditambah petir yang begitu menggelegar tidak mematahkan Dana untuk
berhenti lalu berteduh. Dana berhenti ditengah jalan menuju arah rumahnya lalu mendangakkan kepalanya keatas untuk melihat hujan yang jatuh
mengenai seluruh badannya.
Rasa sakit di matanya akibat tetesan air hujan itulah
yang hati Dana rasakan saat ini. Lalu Dana memejamkankan matanya seketika hujan
tidak lagi membasahi seluruh tubuhnya. Dana membalikkan badannya.
“Suga Oppa… Kenapa hujan-hujan seperti ini
kau ada disini.” Dana sambil membersihkan air hujan yang membasahi wajahnya. Suga
hanya tersenyum.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu
saat ini. Kenapa hujan deras seperti ini kau belum sampai rumah juga?” Suga.
“Aniya, tidak kenapa-kenapa.” Lalu Dana
membalikkan badannya.
Suga membalikkan badan Dana dan langsung memeluknya. Tangan kanan Suga
masih terus mengenggam badan payung dan tangan kirinya mencoba memeluk erat
Dana.
Dana hanya terdiam tidak
tahu maksud dari pelukan yang dia rasakan saat ini.
“Oppa...” Suara Dana
dibalik tubuh Suga.
“Biarkan seperti ini
dulu.” Suga.
“Oppa aku tidak bisa
bernafas.” Rintih Dana. Sugapun melepas pelukannya sedangkan Dana menarik
banyak-banyak udara dari sekitar.
“Akan kuantar kau sampai rumah.” Suga.
“Apa
tidak apa-apa Oppa?” Dana sambil menoleh kearah Suga, Suga menganggukan
kepalanya.
***
“Noona, kenapa kau murung seperti itu? Apa
kau sakit?” Tanya Jungkook yang
melihat Noonanya berjalan lalu duduk dipinggir kasur.
“Noona apa kau mau makan? Akan aku
ambilkan.” Jungkook. Dana hanya menidurkan badannya ke tempat tidurnya.
Jungkookpun melihat Noonanya dari balik skat kayu yang menutupi ruang
kamarnya dimana tempat tidurnya satu ruangan dengan Noonanya.
“Noona...” Panggil
Jungkook yang lalu menghampiri Noonanya.
“Noona lalu apa yang terjadi?
Katakanlah.”Jungkook yang duduk didekat Dana.
“Apa kau tahu Park Jimin, Jungkook?” Dana. Jungkook menganggukkan kepalanya.
“Dan kau tahu kalau aku berteman dengannya
sejak kau belum lahir dan aku mulai menyukainya sejak SMP.” Dana, Jungkook
berulang kali hanya menganggukan kepalanya.
“Ne Noona, arraseo. Tapi apa yang salah?”
Jungkook sambil mendirikan Dana.
“Dia telah menyukai seseorang.” Dana,
seketika itu Dana meneteskan air matanya.”
“Mwo??? Noona apa yang kau katakan itu
benar?” Jungkook.
“Ne, jungkook aku pulang terlambat karna
Jimin mengajakku untuk pulang dengannya. Lalu ia mengatakan ia menyukai Soo Jung dan dia menyuruhku untuk
mendekatkannya dengan Soo Jung.” Dana.
“Soo Jung yang membunuh
Hyung?” Jungkook. Dana mengangguk.
“Bahkan dia tidak pernah melihat perasaanku yang selalu ada untuknya. Dia bahkan
tidak melihatku sebagai yeoja pada umumnya, dia
melihatku hanya sebagai teman masa
kecilnya. Dan itu membuatku sakit hati Jungkook.” Dana
yang mulai menagis tanpa henti.
Lalu Jungkook
mengambilkan sebuah tissue untuk Noonanya “Noona aku tahu Jimin Hyung hanya
belum menyadarinya kalau sebenarnya ada yeoja yang sangat berharga.” Jungkook
membenarkan rambut Noonanya yang tidak karuan.
“Noona percayalah padaku, sebenarnya Jimin
Hyung hanya terlambat menyadarinya saja. Noona jika kau memerlukan seseorang
untuk bersandar mengatakan semua keluh kesalmu. Datanglah kepadaku dan
bersandarlah dipundakku, aku akan selalu mendengarkanmu dan menjagamu Noona.”
Jungkook yang menepuk-nepuk pundak
Dana.
“Noona istirahatlah, bukankah besok kau
harus lebih berusaha lagi?” Jungkook sambil mencium kening Noonanya.
“Terimakasih telah
menjadi dongsaengku.” Dana yang mengelus-elus rambut Jungkook.
~Keesekon
harinya~
Dana berjalan dengan rangkul lengan Jungkook. Dana
terus menundukkan kepalanya disepanjang perjalanan menuju kesekolah.
“Noona dangakkanlah
kepalamu.” Jungkook yang mengayunkan tangannya dan mengarahkan wajah Noonanya.
Sampai Leen A berjalan menuju ke
Jungkook dan Dana.
“Dana... Jungkook..” Panggil Leen A. Dana dan
Jungkook berhenti dan menoleh.
Dana yang melihat
kehadiran Leen A langsung memulai pembicaraan “Leen A
maafkanlah aku karna kemarin aku telah membentakmu.” Dana.
“Oh, gwenchana. Aku menegerti kok, kemarin
perasaanmu sedang kacau balau jadi aku bisa mengertinya.” Leen A.
“Gumawo Leen A (Danapun teringat dengan kejadian sewaktu ia
berhenti di tengah jalan dan bertemu dengan Oppanya Leen A) dan sampaikan ucapan terimakasihku untuk Oppamu karna kemarin dia
telah mengantarkanku sampai kerumah.” Dana. Leen A menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Dana….” Panggil Jimin dari kejauhan sambil
melambaikan tangan yang telah menunggu didepan gerbang sekolah.
Dana membuang pandangannya dan terus merangkul
Jungkook.
Jimin yang seperti diacuhkan oleh Dana langsung beralan cepat menuju ke
Dana.
“Apa kau sudah siap untuk membantuku?”
Jimin. Dana hanya terdiam. Sedangkan
Jungkook dan Leen A mengeluarkan pandangan sinis kearah Jimin.
“Wae? Kenapa Dana dan kalian seperti ini? Dana
kau kenapa sejak kemarin seperti ini? Kalau kau tidak mau membantuku, oke tidak
apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan acuhkan aku seperti ini,
bukankah kita teman?” Jimin. Dana menambah erat rangkulan tangannya ke Jimin.
“Apa yang seperti itulah
yang dinamakan teman?” Jungkook.
“Apa kau tidak
menyadarinya? Bahwa...” Dana langsung menarik lengan Jungkook untuk berjalan.
“Noona apa kau akan terus menutupi
perasaanmu seperti ini?” Jungkook.
“Ya’ Jimin-sshi kau
diberikan sebuah hati dan perasaan yang sempurna oleh Tuhan tanpa ada cacat
sedikitpun. Kenapa kau masih tidak bisa merasakan apa yang telah Dana rasakan
sejak dulu lamanya terhadapmu. Sebenarnya apa kau itu punya hati?” Leen A.
Jiminpun menoleh kearah Dana dimana yang masih berjalan dengan Jungkook dan
langsung berlari kearah mereka. Jiminpun memegang lengan Dana. Danapun
terkejut.
“Dana apa kau menyukaiku?” Jimin.
Danapun menoleh wajah Jugkook. Jungkookpun menganggukkan perlahan kepalanya
mengisyaratkan katakanlah yang ingin kau katakan.
Dana memandang Jimin penuh dengan rasa amarah dan bercampur hati yang
begitu rapuh “Ne! Naega johaeyo! Wae? Aku menyukaimu sejak kita duduk di
sekolah menegah pertama. 5 tahun aku mencoba memendam perasaanku terhadapmu.
Aku mencoba bersabar dengan semua yang aku rasakan sampai sekarang. Aku lelah
Jimin, apa kau tidak pernah melihat semua usahaku terhadapmu? Apa kau tidak
pernah memikirkan perasaanku yang selalu aku berikan terhadapmu setiap
harinya?” Dana yang mencoba menyeka air mata yang sempat belum menetes
dipipinya.
“Apa aku salah? Apa aku
bodoh sampai mau menunggumu begitu lamanya?” Dana berlari meninggalkan Jimin, Jungkook dan Leen A.
“Hyung aku harap kau
tidak akan membuat Noonaku menambahkan daftar kenangan terburuk didalam
hidupnya setelah kematin Taehyung Hyung.” Jungkook yang berlari mengikuti
Noonanya. Sedangkan Leen A hanya menyasikkan drama yang terjadi dihadapannya.
~Sewaktu
didalam kelas~
“Mwo? Dana menyukaiku? Kenapa aku baru mengetahuinya
sekarang? Aish, pabo!!! Seharusnya aku mengetahuinya terlebih dahulu dan mengatakan
padanya agar dia tidak semakin menyukaiku. Hah, senyumnya itu, perasaan itu,
perhatiaanya terhadapku itu semua karena dia menyukaiku?” Batin Jimin sambil menampar-nampar wajahnya.
“Jimin bisakah aku meminjam buku
catatanmu?” Dana. Jimin terkejut dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan
keluar dari kelas.
“ Ya’ Jimin-na, kau ingin kemana?” Leen A yang meneriaki Jimin karena pekerjaan kelompok
mereka belum selesai.
“Oh, Oh, cinta bertepuk sebelah tangan ya?”
Soo Jung.
“Haha, cinta bertepuk sebelah tangan aku
kira hanya di dalam serial drama di Tv saja. Teryata disini ada juga yang
seperti itu? Hah, omong kosong.” Soo Jung.
“Ya’ kau ini berbicara apa?” Dana.
“Memang benarkan dirimu sebenarnya menyukai
Jimin, tetapi Jimin tidak.” Soo Jung.
*PLAAK* “Apa kau ingin lebih dari ini?”
Dana.
“Aku bisa melakukan lebih dari ini.” Dana
sambil mendorong Soo Jung sampai terjatuh.
“Ya’, dasar wanita jalang.” Soo Jung ingin
menapar balik Dana tapi itu dihalangi oleh Jimin.
“Siapa yang kau anggap
jalang? Hah? Lalu bagaimana dengan Oppaku yang mati 3 tahun lalu karena mulut
bedebahmu itu? Sekarang siapa yang kau sebut jalang hah? Nugu-nde?” Dana yang
berusaha menjambak Soo Jung tetapi segera Jimin menarik
tangan Dana dan mengajaknya keluar dari kelas.
~Ditaman
sekolah~
“Mianhae, aku tidak bisa menerimamu.”
Jimin. Seketika air mata Dana ingin keluar tetapi itu ditahannya.
“Aku sudah tidak
memikirkannya lagi.” Dana.
“Apa secepat itukah kau
tidak menyukaiku lagi?” Jimin.
Dana mengangguk “Lantas
apa aku harus menunggumu lagi? Berapa tahun lagi aku harus menunggumu dan terus
menahan sakit?” Dana.
“Aku tidak menyuruhmu
untuk melupakan perasaanmu terhadapku seutuhnya. Sisakan perasaanmu terhadapku
sebagai teman yang sesungguhnya.” Jelas Jimin.
“Aku lelah. Aku tidak mau
membahas ini lagi.” Dana yang langsung berjalan meninggalkan Jimin.
“Kau tidak mengerti
Dana!” Jimin.
“Memang aku tidak
mengerti!” Dana yang menambah tempo jalannya yang diamana air mata sedikit demi
sedikit telah terbendung.
“Kau bodoh!” Jimin.
“Memang aku bodoh! Bodoh
telah menunggu seorang namja sepertimu sebegitu lamanya!” Dana yang langsung
berlari dan mengeluarkan air matanya.
Jimin terus menahan air
mata yang telah membendung di kedua kelopak matanya. Jiminpun menggigit ujung
bibirnya,menundukkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
~Sementara itu…~
“Noonaku ada dimana?” Jungkook yang menghampiri Noonanya.
“Itu dia.” Leen A. Dana masuk kekelas
dengan mengusap air matanya berulang kali.
“Noona neon gwenchana?” Jungkook. Dana menganggukkan
kepalanya berulang kali.
“Haha, sudah kubilang percuma saja kau
mencintai Jimin. Jimin itu sebenarnya tidak menyukaimu.” Soo Jung.
“Ya’, wanita jalang. Berani sekali kau
mengatakan hal itu kepada Noonaku?
Apa kau lupa kejadian 3 tahun yang lalu? Kaulah yang jalang! Kau membunuh
Hyungku dengan mulut jalangmu itu! Bahkan sedikitpun saja Hyungku jijik melihat
tubuhmu! Apalagi menyentuhnya bagaiamana bisa kau memenjarakan seorang yang
tidak salah sampai membusuk dipenjara hah JALANG?”
Jungkookpun wajahnya dengan Soo Jung
hampir menempel.
“Sekali lagi aku mendengar kata-kata yang
keluar dari mulutmu dan itu tidak baik untuk Noonaku, jangan harap kau
menpunyai kesempatan hidup. Biarpun
aku masuk penjara karena aku membunuhmu itu tidak apa asalkan Noonaku tidak
akan pernah mendengar perkataan dari mulut bedebahmu itu. Maupun itu untuk Namja ataupun Yeoja mereka tidak akan mempunyai
kesempatan untuk melihat hari esok.” Jungkook.
Lalu Jungkook
mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya, Jungkook yang tidak
tega melihat keadaan Noonanya menarik tangan Noonanya untuk pulang.
Sampai didepan
halaman sekolah, semua orang yang satu kelas dengan Dana tetap melihat dari
jendela kelas. Seketika Jungkook berhenti melangkahkan kakinya.
“Noona apa kau lelah?” Jungkook.
“Jika kau lelah naiklah kepunggungku, aku
akan menggendongmu.” Lalu Dana mengikuti perkataan dongsaengnya itu.
~Sementara itu
Jimin kembali didalam kelas…~
“Teryata kematian
Taehyung sunbae itu akibat ulahmu?” Tanya seorang yeoja teman sekelasnya.
“KAU PEMBUNUH!” Teriak
seorang yeoja.
“JALANG PEMBUNUH!
PERGILAH DARI KELAS KAMI!” Tambah seorang namja. Sekarang teman sekelas Soo
Jungpun berbisik-bisik tentang kejadia 3 tahun lalu.
“PERGILAH KE NERAKA
JALANG BUSUK!!!” Teriak yeoja teman sekelasnya.
“Kenapa kalian semua melihat kejendela dan sangat berisik?”
Jimin. Lalu semua teman sekelasnya berbalik dan melihat Jimin.
“Jimin, aku tidak habis pikir dengan
perbuatanmu itu. Kaukan temannya Dana sejak masa kecilnya tetapi kenapa kau
melakukan hal ini sampai membuat Dana seperti itu.” Leen A.
“Bahkan baru kali ini aku melihat Dana
seperti ini.” Tambah Leen A yang mengemasi barang sekolahnya. Lalu Soo Jung
mendekati Jimin.
“Sepertinya yang dikatakan Leen A itu
benar.” Soo Jung, lalu Leen A sontak terkejut dan melihat kearah Soo Jung.
“Aku bahkan tidak mengerti semua hal ini.
Setelah Jungkook mengatakan semua hal itu kepadaku, aku sadar bahwa dia sangat
menyayangi dan menjaga Noonanya lebih dari menyanyangi dan menjaga dirinya
sendiri.” Soo Jung.
“Aku mengatakan seperti ini bahwa aku sadar
semua perkataanku dan kelakuaanku tadi salah ke Dana. Aku melupakan kejadian 3 tahun yang lalu terhadap
keluarganya Dana. Aku sangat merasa berdosa sekarang.”
Tambah Soo Jung.
“Jadi Jimin mianhae, aku tidak bisa
menerimamu. Aku adalah pilihan yang salah jika kau memilihnya, aku adalah yeoja
yang tidak seharusnya kau pilih dan kau sukai. Dan aku adalah apa yang tidak kau butuhkan. Aku adalah yeoja yang tidak pantas kau pilih dan kau miliki.” Tambah Soo Jung yang lalu
meninggalkan Jimin untuk mengemasi barangnya sama seperti yang dilakukan Leen
A.
Detik, menit,
jam telah berlalu. Hari, minggu telah dijalani Dana dengan perasaannya yang
bertepuk sebelah tangan. Sewaktu Dana bertemu dengan Jimin, Jimin selalu
memalingkan wajahnya atau menghindar darinya. Seakan-akan Dana musuh baginya.
“Jimin, sebenarnya apa yang kau lakukan
ini? Aku sudah lelah dengan semua ini, aku benar-benar lelah Jimin. Tidak
bisakah kita menjadi teman selamanya jika kau tidak mau menerimaku, nafasku
seakan- akan mulai berhenti dengan semua ini. Kumohon Jimin aku tidak mau
seperti ini, jika kau tidak mau menerimaku bertemanlah saja denganku. Berteman
saja itu sudah lebih dari cukup biarpun itu membuatku sakit hati setidaknya aku
sudah bisa dekat denganmu.” Batin Dana.
~Keesokan
harinya, saat ditaman~
Dana duduk
ditaman dekat rumahnya yang menemani Jungkook disana. Dana berusaha untuk
menghilangkan semua perasaannya kepada Jimin.
Lalu ada seorang
namja yang tiba-tiba duduk disamping Dana dan menyandarkan kepalanya kepundak
Dana. Dana sontak terkejut…
“Jimin-na….” Dana.
“Jimin?” Suga.
“Oh, Mianhae Oppa aku kira kau Jimin.”
Dana.
“Lantas dimana Leen A?” Tambah Dana. Lalu Suga
menunjuk kearah Leen A yang sedang membeli ice cream bersama Jungkook.
“Apa kau masih memikirkan namja yang kau
sukai itu?” Suga.
“Oppa, aku sudah berusaha untuk
melupakannya dan memendamnya. Tetapi itu sangat sulit.” Dana sambil mendagakkan
kepalanya melihat awan.
“Lantas kau bagaimana sekarang?” Suga
sambil memberikan sebuah permen lollipop kepada Dana.
“Ini untukmu, makanlah mungkin ini bisa
melupakan sedikit demi sedikit masalahmu.” Suga. Dana menoleh kearah pemberiaan Suga tadi. Dan
tess, sebuah air mata langsung saja jatuh membasahi pipinya.
“Mwo? Kenapa denganmu? Apa kau sakit?” Suga
sambil memegang kening Dana.
“Singkirkan benda itu dariku, aku tidak mau
melihatnya.” Dana.
Jungkook
dongsaengnya yang melihat Noonanya seperti itu seketika berhenti menjilati ice
creamnya dan Leen A yang melihat itu hanya bisa terdiam saja dan menoleh kearah
Jungkook.
“Oh, mianhae. Aku tidak tahu soal itu.” Suga.
“Dana sebenarnya aku menyukaimu.” Tambah Suga.
“Mwo Oppa? Kau menyukaiku?” Dana. Suga
menganggukkan kepalanya.
“Tapi Oppa aku…” Dana.
Suga memotong pembicaraan Dana “Tidak usah dijawab aku
tahu, kau pasti akan menolakku.” Suga.
“Oppa mianhae, bagaimanpun juga aku masih
saja menyukai Jimin bahkan Jimin tidak menyukaiku.” Dana.
~Sementara
itu…~
“Apa kau sangat menyayangi Noonamu?” Leen
A, Jungkook menganggukkan kepalanya
“Seberapa besar?” Leen A.
“Bahkan aku berani menaruhkan nyawaku untuk
Noonaku.” Jungkook kembali menjilati ice creamnya kembali layaknya anak kecil.
“Jika ada seorang yeoja yang menyukaimu?
Apa kau akan juga menaruhkan nyawamu untuk yeoja yang menyukaimu itu?” Leen A.
“Hm, mungkin aku akan menaruhkan nyawaku
saja kepada Noonaku. Karna Noonaku merupakan saudara kandungku jadi aku akan
terikat dengan Noonaku selamanya dan jika ada yeoja yang menyukaiku mungkin aku
tidak bisa menaruhkan nyawaku kepadanya karna yeoja itu tidak akan selamanya
meyukaiku dan suatu saat dia akan bosan kepadaku dan akan meninggalkanku begitu
saja. Jadi aku tidak mau menaruhkan nyawaku untuk yeoja yang menyukaiku dan
jika itu terjadi kehidupanku selama didunia ini percuma saja.” Jelas Jungkook.
“Oh, daebak aku kagum denganmu.” Leen A
yang dengan perlahan-lahan mendekati Jungkook.
“Wae Noona? Kau menyukaiku?” Jungkook.
“Mwo?? Omo kenapa kau sangat percaya diri
seperti ini?” Leen A.
“Bukankah aku mengatakan hal yang sebenarnya, lihatlah
pipimu bersemu merah.” Jungkook sambil menunjuk kepipi Leen A. Leen A menutupi pipinya.
Sedangkan Jungkook hanya
tersenyum “Yasudah Noona aku akan pulang dahulu, aku
akan menjemput Noonaku.” Jungkook yang tiba-tiba memeluk Leen A. dan mengatakan
sesuatu…
“Gamsahamnida Noona telah berteman dengan
Noonaku dan selalu menjaganya selama ini.” Bisik Jungkook dan melepaskan
pelukannya.
“Daaa Noona, kapan-kapan kita membicarakan
hal ini lagi. Saat ini aku belum bisa menjawab karna Noonaku masih menyuruhku
untuk belajar dulu.” Jungkook sambil berlari menghampiri Noonanya.
~1 tahun kemudian~
Bel pulang
sekolahpun berbunyi, hujanpun turun begitu deras. Jungkook sudah pulang lebih
dahulu karna Dana ada tambahan jam pelajaran jadi ia tidak bisa pulang dengan Jungkook. Dana tidak
merasa takut dengan hujan, setelah keluar dari pintu sekolahan Dana begitu saja
berjalan diantara derasnya hujan yang begitu banyak dilihat seluruh sekolah.
Dana tetap saja
berjalan dan terus berjalan berharap hujan dapat menghapus semua memori yang
ada dipikirannya. Berhentilah
disebuah jalan sepi, Danapun melihat lurus kedepan dan
teryata tepat dihadapannya ada seorang namja yang membuat hidupnya berlayar hilang arah. Ya Park
Jimin.
Jimin tetap saja
terus berjalan begitu saja dengan Dana yang melanjutkan jalannya tiba saat
mereka berjalan berdekatan…
“Jimin-na…” Sebuah kata muncul dari mulut Dana. Dan Jimin
berhenti lalu membalikkan badannya begitu juga Dana.
“Kenapa kau lakukan ini kepadaku?” Dana
sambil memegangi tali tas yang ada dikedua pundaknya.
“Karna aku tidak mau kau menyukaiku Dana.”
Jimin.
“Setidaknya kalau kau tidak mau menerimaku,
tidak bisakah kita menjadi teman seperti dahulu? Bukankah kita teman? Kau pernah bilang kepadaku disebuah sore yang cerah
bahwa kau akan selau berada untukku jika aku menemukan masalah. Lantas sekarang
aku menemukan masalah itu, kau pergi kemana Jimin-na?”
Dana.
“Jimin-sshi apa kau tahu, aku sangat lelah bahkan tidak
satupun orang yang dapat membuatku sembuh seperti dulu kecuali kau.” Tambah
Dana.
“Cobalah kau melihat hujan yang jatuh
membasahi tubuhmu.” Tambah Dana lagi. Lalu Jimin melakukannya.
“Ini sangat sakit. Jika terkena mata. Apa kau selalu melakukan hal itu?” Jimin sambil mengusap-usapkan tangan dimatanya.
“Itulah yang saat ini aku rasakan, jika kau
menghindariku seperti ini.” Dana.
“Lalu cobalah pejamkan matamu. Apa yang kau
rasakan?” Tambah Dana. Lalu Jimin memejamkan matanya.
Sambil memejamkan mata “Tidak ada yang aku
rasakan, cuma hitam dan gelap.” Jimin.
“Itulah yang kurasakan saat ini gelap, kesepian
tanpa kau didalam hari-hariku. Dunia ini serasa mati tidak ada kehidupan
didalamnya. “ Dana.
Lalu Jimin membuka matanya dan Dana
seketika memeluk Jimin “Lalu sekarang apa yang kau rasakan?” Dana.
“Sebuah kehangatan dan kenyamanan.” Jimin.
“Itulah yang aku rasakan jika aku berada
disampingmu, dimana itu, saat apapun itu juga. Biarpun itu hanya dekat denganmu
inilah yang aku rasakan.” Dana, lalu Dana melepaskan pelukannya.
“Aku hanya ingin berteman denganmu lagi
Jimin, jika kau tidak bisa menerimanku itu tidak apa-apa meskipun akhirnya aku
sakit karna itu. Tapi setidaknya berteman denganmu dan dekat denganmu seperti
dulu itu sudah lebih dari cukup.” Dana. Lalu Dana berjalan dan meninggalkan
Jimin.
Jimin hanya
melihat Dana meninggalkannya begitu saja sampai bayangan Dana tidak terlihat
lagi. Seketika Jimin baru sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan seseorang yang
telah lama menyukainya. Lalu Jimin berlari dan mencari Dana.
Akhirnya Jimin
menemukan Dana yang sedang duduk disebuah halte bus sendirian. Dana berusaha
untuk menahan air matanya dan itu gagal berulang kali Dana mengusap air matanya
tetapi air matanya tetap saja mengalir begitu saja. Lalu Jimin menghampirinya
lalu duduk jongkok didepannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Jimin yang
mengusap-usap kepala Dana.
Lalu Dana
mendanggakkan kepalanya dan melihat kearah Jimin, begitu terkejutnya Dana. Dan
Dana hanya terdiam.
“Aniya! Aku tidak
baik-baik saja. Aku hanya berusaha kuat didepanmu! Arra!” Dana yang menyeka air
matanya
“Mianhae Dana telah menyia-nyiakanmu, aku
baru menyadari saat ini. Mianhae aku baru menyadarinya saat ini.” Jimin yang mengenggam kedua tangan Dana dengan tangan
kirinya lalu tangan kanan Jimin mengusap air mata Dana.
“Mianhae yang telah membuat air matamu
terus mengalir keluar, seharusnya aku temanmu sejak masa kecil tidak seharusnya
melakukan hal sperti ini.” Jimin.
“Dana mianhae, aku memang namja yang bodoh
yang menyia-nyiakan yeoja sepertimu. Yeoja yang mau lama menungguku, dan
bodohnya dia mau membantuku untuk mendapatkan yeoja lain.” Jimin tersenyum.
“Lantas apa? Apa yang
ingin kau lakukan sekarang? Aku telah pasrah tentang semua jalan alur takdirku
sekarang ini! Kau mau aku apa Jimin? Enyah dari kehidupanmu?” Dana yang
berusaha melepaskan genggaman Jimin.
“Dana, maafkanlah aku. Jinnja mianhae, sekarang
aku telah sadar bahwa kau adalah yeoja pilihanku dan bukanlah Soo Jung, kau
adalah yang seharusnya aku pilih dan aku sukai dan bukanlah Soo Jung dan kau
adalah yeoja pilihanku yang benar dan yang akan aku miliki selamanya dan
bukanlah Soo Jung. Dan kau adalah yeoja yang benar bagiku, aku beruntung
mempunyai yeoja sepertimu Dana dank au adalah yeoja yang aku butuhkan untuk selamanya.”
Jelas Jimin.
“Apa
yang kau katakan itu benar Jimin?” Dana yang tidak percaya.
“Lalu apa yang membuatmu
agar percaya denganku?” Jimin.
Seketika Dana memeluk Jimin dan berkata
“Gumawo sudah menerimaku.” Dana.
Dana terus memandangi wajah Jimin begitu juga dengan Jimin memandangi raut
wajah Dana. Jiminpun mendekatkan wajahnya lalu menciup bibir Dana dimana
ditemani oleh suasana derasnya hujan.
“Jimin gumawo telah menerimaku, aku
berjanji aku tidak akan menyia-nyiakanmu butuh waktu lama aku bisa
mendapatkanmu dan membutuhkan banyak perjuangan bisa mendapatkanmu. Jimin
Gumawo sudah menjadi tempat bersandarku.”
Seo Dana.
“Dana Gumawo, kau sudah mau menungguku.
Begitu lama dan waktu yang terbuang bagimu hanya untuk menungguku. Aku memang
namja yang bodoh yang menyia-nyiakan teman bahkan yeoja sepertimu, aku berjanji
Dana aku tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu. Saranghae Dana.”
Park Jimin.
End.







