Selasa, 14 April 2015

Moonlight




Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Park Jimin (BTS), Kim Taehyung (BTS), Seo Dana, Victoria (f(x))
Genre : Horor Romance
Rating : Maybe teen
                   Ya aku Seo Dana, itulah namaku. Entah aku harus memulai darimana, inilah kisah cintaku dengan seorang manusia.
Hampir setiap malam aku selalu melihatinya dari dahan pohon yang berada didepan rumahnya. Bahkan aku saja tidak mengetahui namanya, dia sangat tampan, polos dan juga manis. Terlihat dari balik jendela kamarnya hampir setiap malam dia belajar dan itu ia lakukan setiap hari.
Ketika suatu malam saat dia belajar lalu menatap keluar jendela kamarnya dengan cepat aku menghilang begitu saja dikeheningan malam, karna aku tidak mau dia mengetahuiku.
“Taehyungie…” Panggil Eommanya.
“Ne Eomma.” Taehyung menjawab dari kamarnya
“Malam ini Eomma akan pergi, mungkin selama 1 bulan soalnya dikantor Eomma sedang ada proyek besar. Kau tak apakan Eomma tinggal sendirian?” Eommanya.
“Ne Eomma, nae gwenchana. Aku akan memanggil temanku jika aku takut.” Taehyung.
“Eomma sudah menyiapkan makan malam untukmu, kalau begitu Eomma akan pergi dulu.” Eommanya.
Taehyung tetap saja mengerjakan tugas dan belajar terus tanpa henti, akhirnya perutpun telah mengeluarkan isyarat. Taehyung keluar dari persembunyiannya dan pergi menuju ke ruang makan.
Setelah sampai ruang makan Taehyung melihat seorang yeoja yang sedang duduk dikursi meja makannya, Taehyung melihat yeoja misterius itu sengan menundukkan kepalanya lalu Taehyung memberanikan diri untuk mendekatinya.
“Chuk… chukkiyo, neon nuguseyo?” Taehyung sambil gemetar.
Seketika lampu diruang makan itu hidup, mati dan hidup. Taehyung tidak dapat melihat apapun akhirnya Taehyung jatuh tersungkur. Taehyung tidak dapat melakukan apapun karna takut, lampu menyala. Dengan cepat Taehyung membawa makanan yang telah disiapkan oleh Eommanya dan berlari dengan kencang menuju kamarnya.
Taehyung kembali duduk untuk mengerjakan kembali tugas-tugas sekolahnya, seketika jendela kamar Taehyung terbuka begitu saja. Angin mulai berhembus begitu kencang menuju kamar Taehyung, lembaran-lembaran kertas tugas Taehyung mulai berhamburan dan lampu kamar Taehyung mulai hidup, mati, hidup, mati dan begitu seterusnya. Bulu kuduk Taehyung mulai berdiri, Taehyung mulai merinding. Sampai…
“Ya’ sebenarnya kau ini siapa? Tolong jangan ganggu aku! Jika aku mempunyai salah denganmu tolong maafkanlah aku.” Taehyung yang bergemetar ketakutan setengah mati.
Setelah Taehyung berkata seperti itu, anehnya semua kembali seperti semula. Tidak ada lembaran-lembaran kertas yang berhamburan dimana-mana, lalu Taehyung melihat sebuah kertas didepannya dan…
Irreummeun mwoeyo?” Sebuah tulisan dengan menggunakan tinta merah menanyakan nama Taehyung.
“Kim Taehyung imnida, kau sudah tahu namaku jadi kau jangan ganggu aku lagi.” Taehyung.
Seketika sebuah tangan memeluk Taehyung dari belakang, jantung Taehyung mulai berdetak sangat kencang. Sebuah kata terdengar oleh telinga Taehyung.
“Gumawo, Bangapta.” Suara itu terdengar jelas ditelinga Taehyung, akhirnya Taehyung pingsan.
~Keesokan harinya~
“Taehyung… Taehyunga bangunlah!” Jimin. Taehyung masih belum terbangun dari pingsannya.
Lalu Jimin mengambil segelas air lalu menyiramkannya ke Taehyung, terbangunlah Taehyung.
“Ya’ Hyung, kau menginaplah dirumahku. Jebal!!!” Pinta Taehyung yang setelah bangun dari pingsannya..
“Ne, bahkan kau mengirimkan pesan singkat berulang kali. Ne, ne aku akan menginap dirumahmu.” Jimin.
“Mwoya?? Pesan singkat? Bahkan kemarin malam aku tidak sama sekali memegang ponselku.” Taehyung.
“Taehyunga apa kau bodoh? Apa ada ponsel yang mengirim pesan singkat sendiri?” Jimin.
“Hyung, aku rasa rumahku mulai ada yang aneh. Apa kau percaya dengan hantu?” Taehyung yang memegang erat tangan Jimin.
“Taehyung cepat lepaskan tanganmu dariku, kau ini berbicara apa? Apa kau ini ngelantur? Aku tidak percaya dengan hal semacam itu. Sudah cepatlah mandi kita akan terlambat kesekolah.” Jimin.
Mungkin aku akan hampir mati tertawa, bagaimana bisa dia menyebutku hantu. Haha, aku mulai menyukainya bahkan disaat dia ketakutan dia sangat lucu. Disaat itu juga aku mulai mengikuti dia kemanapun dia pergi.
~Di kelas~
“Hyung, kemarin aku hampir mati konyol. Serasa aku mulai diikuti oleh arwah yang penasaran.” Taehyung.
“Ya’ Taehyung jika kau mengatakan hal-hal seperti itu lagi, aku akan membatalkan niatku untuk menginap dirumahmu.” Ancam Taehyung.
“Mwo?? Apa kau gila Hyung? Aku tahu kau pintar, tampan, dan juga tidak penakut sepertiku, tapi apa kau akan membiarkan dongsaengmu ini mati konyol Hyung?” Taehyung.
“Haha, aniya aku akan menginap dirumahmu.” Jimin yang tersenyum licik.
Taehyung melihat kearah pojok kelasnya, seketika Taehyung membulatkan kedua kelopak matanya.
“Hyung!!!! Dia mengikutiku sampai kesini, aku tidak mau hidup seperti ini.” Taehyung menjerit.
“Taehyunga, kau ini kenapa? Kau membuatku malu!” Jimin.
“Hyung,cepat kau lihatlah dipojok sana. Lihatlah!!!” Taehyung histeris sambil menunjuk kearah pojok kelas.
“Taehyunga, coba lihatlah tidak ada apa-apa disana.” Jimin.
“Mwo? Tadi ada seperti yeoja dipojok sana dengan wajah tertutup oleh semua rambutnya.” Taehyung ketakutan sambil terus menunjuk kearah pojok kelasnya.
*CUP* “HYA….. Hyung apa kau tidak dengar tadi ada seperti yang menciumku.” Taehyung yang histeris lagi.
“Taehyunga coba tenangkanlah dirimu! Aku mulai malu jadi Hyungmu.” Taehyung.
~Malam harinya~
“Taehyunga bisa tidak kau tidur agak kesana? Ini sempit karna kau terus saja menempel kediriku.” Jimin.
“Ah, mian Hyung. Aku takut setelah semua teror itu.” Taehyung.
“Sudahlah cepatlah tidur Taehyunga, bukankah kau besok mengajakku untuk membuat sarapan?” Jimin.
“Oh, ne aku lupa Hyung.” Taehyung.
“Taehyunga, matikan lampunya!” Jimin.
Beberapa menit kemudian…
“Hyung apa kau sudah tidur?” Taehyung sambil mengoyang-goyangkan badan Jimin tetapi Jimin tidak menghiraukannya.
                Taehyung terpaksa untuk tidur dan memejamkan matanya dengan terpaksa tetapi itu sangat sulit akhirnya Taehyung tertidur sampai ketika ditengah malam Taehyung terbangun dari tidurnya.
Taehyung melihat sosok yeoja yang sedang duduk dikursi miliknya, seluruh tubuhnya terkena cahaya bulan. Yeoja itu sedang melihat bulan yang menyinari seluruh tubuhnya sambil menekukan kakinya serta kepalanya ia sadarkan kekedua kakinya.
Taehyung hanya melongo melihat semua itu, siapa dia? Kenapa dia berada disitu? Apa yang sedang ia lakukan disitu? Semua pertanyaan itu sekarang sedang berada dipikiran Taehyung. Lalu yeoja itu menoleh dan tersenyum kepada Taehyung.
“Ya’ neon nuguseyo?” Taehyung yang bertanya sambil gemetar.
Lalu yeoja itu menghilang begitu saja.
“Ya’ kau dimana? Kau belum menjawab pertanyaanku?” Taehyung. Tiba-tiba yeoja itu berada disampingnya lalu…
“Seo Dana imnida. Annyeong!” Jawab yeoja itu. Seketika Taehyung ingin menjerit dan ingin membangunkan Jimin tapi seluruh tubuhnya tidak ingin melakukan itu.
Lalu aku berada dibelakang tubuh Taehyung dan menutupi mulut Taehyung dengan tanganku lalu aku juga menutupi matanya dengan tanganku. Taehyung akhirnya tertidur kembali.
~Keesokan harinya~
“Hyung!!!!!” Taehyung berteriak histeris. Jimin sontak terkejut dan terbangun dari tidur lelapnya.
“Taehyunga, tidak bisakah kau membangunkanku dengan pelan.” Jimin.
“Hyung, kemarin malam aku bertemu dengan seorang yeoja yang sangat cantik. Namanya Seo Dana dia duduk dikursi sana sambil melihat cahaya bulan, lalu dia mendekatiku dan menutup mulutku serta mataku entah setelah itu apa yag terjadi aku tidak tahu.” Taehyung.
“Taehyunga kau ini berbicara apa lagi? Sudah aku ingin kekamar mandi.” Jimin.
Jimin pergi meninggalkan Taehyung lalu sebelum kekamar mandi ada sebuah ruangan dengan pintu yang terbuka, Jimin dengan santai berjalan melewatinya tetapi setelah melewatinya Jimin merasa kalau diruangan itu disaat dia berjalan ada yang mengikuti gayanya berjalan.
Jimin kembali keruangan itu tetapi tidak ada siapa-siapa, Jimin masuk kedalam ruangan itu dan pintu tertutup dengan sangat kencang. Seketika bulu kuduk Jimin mulai berdiri dan Jimin merasa aneh. Ruangan itu sangatlah gelap bahkan cahayapun tidak dapat masuk didalamnya itu semua membuat  Jimin berulang kali menggedor-ngedor pintu tetapi tidak ada orang yang mendengarnya lalu Jimin juga berulang kali memanggil-manggil nama Taehyung, akhirnya Taehyung datang dan membukakan pintunya.
Jimin dan Taehyung kembali kekamar untuk berganti baju lalu bersiap untuk membuat sarapan, tapi setelah Jimin dan Taehyung kembali Jimin melihat kalau Taehyung sedang berganti baju dikamar. Lalu Jimin menoleh kebelakang tidak ada orang yang bersamanya. Lantas siapa tadi yang pergi menolongnya?
“Taehyunga tadi apa kau pergi mencariku?” Jimin.
“Aniya, wae aku mencarimu?” Taehyung balik.
“Lantas tadi siapa yang pergi menolongku terkunci diruangan?” Jimin.
“Mwo? Kau terkunci? Aku berani bersumpah aku tidak menguncimu Hyung.” Taehyung.
“Ne, ne arra.” Jimin.
“Hyung apa kau berusaha untuk menakutiku?” Taehyung.
“Aniya, memang tadi aku terkunci begitu saja dan kau tadi menolongku untuk membukakan pintu.” Jelas Jimin.
“Hyung!!!” Taehyung berlari mendekat Jimin.
“AISH, sebenarnya kau ini namja atau yeoja sih? Kajja kita kedapur.” Jimin.
Jimin dan Taehyung berjalan menuju kedapur tetapi sebelum menuju kedapur, Jimin tidak salah melihat sosok yeoja yang misterius yang sedang duduk melihat tv. Lalu Jimin ingin tahu dengan berani Jimin mendekatinya, Taehyung hanya bersembunyi dibalik tubuh Jimin.
“Chukkiyo, neon nuguseyo?” Jimin yang dengan berani memegang pundak yeoja itu. Yeoja itu beranjak dari tempat duduknya dan…
“Chakkaman, jangan menghilang! Apa kau benar Seo Dana?” Jimin.
Lalu Yeoja itu membalikkan badannya, Jimin dan Taehyung seketika menutup kedua matanya karna takut.
“Gwenchana, bukalah matamu. Aku tidak seburuk seperti yang kalian pikirkan.” Dana. Jimin dan Taehyung membuka kedua matanya dengan pelan.
“Jinjja neon? Kau tidak seperti hantu.” Taehyung yang berbicara dari balik tubuh Jimin.
“Apa kau benar hantu?” Jimin.
“Aniya, aku tidak hantu. Aku hanyalah vampire.” Dana.
“Mwo? Mwo? Kau vampire?? Hyung, eotheohkae??” Taehyung histeris ketakutan.
“Aniya, aku bukanlah vampire yang seperti kalian pikirkan.” Dana.
“Tapi kenapa kau selalu menganggu kami?” Jimin.
“Mian, jika kalian ketakutan setengah mati. Sebenarnya aku hanya ingin berteman dengan kalian karna aku tidak mempunyai teman sama sekali. Aku bingung ingin berteman dengan kalian itu dengan cara apa.” Jelas Dana.
“Tapi wae? Kenapa harus aku ataupun kami?” Taehyung.
“Molla, aku hanya menginginkan saja. Apa kau tidak mau?” Dana. Seketika mata Dana mulai memerah.
“Hm, aku… aku mau kok.” Taehyung yang menjawab dengan gemetar. Mata Dana mulai kembali menjadi coklat.
“Gumawo. Apa aku boleh tinggal disini?” Dana.
“Mwo? Tinggal disini??” Taehyung.
“Ne, kau boleh tinggal disini.” Jimin. Taehyung terus saja mendorong-dorong badan Jimin karna Taehyung tidak ingin kehadiran Dana dirumahnya.
“Gumawo, oh siapa namamu?” Dana.
“Park Jimin imnida, tapi apa kenapa kau ingin tinggal disini? Apa keluargamu nanti tidak akan mencarimu?” Jimin.
“Aniya, aku tidak mempunyai lagi. Mereka telah mati semua karna pembunuh vampire, sekarang hanya akulah satu-satunya penerus keluargaku. Makannya aku jarang menampakkan diriku karna aku takut dibunuh oleh pembunuh vampire.” Jelas Dana.
“Oh, aku turut berduka atas kematian keluargamu. Hm, kajja kita membuat sarapan.” Ajak Jimin.
“Kau tidak memakan daging manusia dan meminum darah manusiakan?” Taehyung yang berusaha memberanikan diri.
Dana tertawa “Haha, aniya aku tidak seperti itu. Aku dilahirkan dari keluarga vampire tidak seperti itu.” Dana.
Dana duduk di meja makan lalu Jimin serta Taehyung memasak didadapur, Dana hanya melihat jari jemari mereka berdua mulai beraksi didapur. Dana tersenyum lalu…
“Taehyunga, sepertinya dimasakanmu kurang garam.” Dana. Lalu Dana mengayunkan tangannya menuju tempat garam dan tempat garam itu melayang lalu berhenti didepan Taehyung.
“Apa itu kau yang melakukannya?” Taehyung. Dana hanya tersenyum.
~2 minggu kemudian~
Dana mulai semakin akrab dengan Jimin dan Taehyung. Taehyung yang awalnya takut serta merinding didekat Dana sekarang hampir mulai tidak merasakannya lagi.
“Danaya, nanti malam akan ada kerja kelompok. Aku mohon kau jangan menakuti teman-temanku, arra?” Taehyung.
“Aish, neon pabo? Apa aku ini seperti hantu? Aku sebenarnya hanya manusia tapi dilahirkan dari keturunan vampire, arra?” Dana.
~Malam harinya~
Semua kelompok belajar Taehyung telah berkumpul dirumahnya termasuk dengan Jimin, Dana hanya duduk disamping Jimin dan terdiam. Tidak ada satupun orang yang mengajaknya bicara sampai…
“Danaya apa kau tau namja itu?” Jimin yang berbisik ditelinga Dana.
“Hah? Namja itu? Wae?” Dana.
“Aku sangat membencinya, dia telah mnusukku dari belakang dan membuatku sakit.” Jimin.
“Membuatmu sakit bagaimana? Coba jelaskan kepadaku?” Dana berbicara perlahan-lahan.
“Dia telah merebut yeojaku dan membuat hubunganku hancur. Semua itu dia lakukan hanya untuk mendapatkan yeojaku.” Jelas Jimin.
“Jinjja?? Sagat licik! Apa kau mau dia juga merasakan sakit yang kau rasakan?” Dana. Jimin menganggukan kepalanya.
Tiba-tiba Dana membuat seperti gerakan meremas dikedua tangannya dan seketika itu namja yang membuat hubungan Jimin hancur dengan yeojanya merasakan kesakitan yang sangat luar biasa.
“Tolong!!! Sakit, Appo. Kenapa tubuhku menjadi seperti ini?” Rintih namja itu. Semua orang yang berada dirumah Taehyungpun terkejut dan berusaha menolongnya kecuali Dana dan Jimin yang hanya duduk melihat kejadian itu.
“Daebak!!! Bagaimana bisa kau melakukan itu?” Jimin.
“Hebatkan? Aku punya kekuatan untuk mengendalikan darah. Jadi aku bisa mengendalikan tubuhnya karna didalam tubuh manusia ada darah jadi aku bisa melakukan semua itu. Bahkan aku bisa membuat darah manusia berenti begitu saja dan akhirnya manusia itu kehilangan nyawa dengan sia-sia.” Jelas Dana.
“Jinjja? Wah, kau Daebak.” Jimin tertawa dan langsung memeluk Dana.
“Apa kau tidak takut denganku, bahkan aku juga bisa menghentikan darahmu saat ini juga jika aku mau.” Dana.
“Ah, aniya. Kitakan berteman kenapa aku harus takut denganmu?” Jimin
Tiba-tiba…
“Taehyung Oppa, kumohon jadilah namjaku!” Pinta Victoria sambil merangkul tangan Taehyung dengan erat.
Seketika Dana menghentikan perbuatannya dan menoleh kearah Taehyung dan Victoria.
“Kenapa denganku ini? Aku sudah tidak merasa sakit lagi.” Bilang Namja yang dibeci oleh Jimin.
“Ya’ apa kau cuman mengada-ada? Itu sangat tidak lucu!” Victoria.
“Tapi aku tadi merasakan sakit sungguhan.” Bilang namja itu.
“Oppa tidak usah didengarkan, bagaimana Oppa apa kau mau?” Tanya Victoria lagi.
“Ya’ Taehyunga, trima… trima…” Semua teman kelompok belajarnya megatakan hal itu secara bersamaan.
“Tapi, aku tidak….” Taehyung.
“Cium, cium…. Cium. Ya kajja Taehyunga… ayo cium Victoria.” Semua teman kelompok belajarnya juga mengatakan hal itu. Akhirnya tanpa aba-aba Victoria mencium Taehyung begitu saja dan itu membuat Dana terkejut.
Tiba-tiba gelas yang berada di atas meja untuk mereka belajar bersama semua pecah, semua sontak terkejut dengan kejadian itu. Lampu mulai hidup, mati, hidup dan mati, lalu lampu menyala Dana sudah tidak ada didekat Jimin lagi.
“Ya’ Jiminie dimana yeoja yang ada didekatmu tadi?” Tanya teman namjanya.
“Mwo? Danaya?.” Jimin bingung.
Akhirnya semua tugas telah selesai dan semuanya telah pulang. Dana melihat Victoria dari balik jendela kamar Taehyung. Lalu Victoria tidak salah juga melihat kamar Taehyung dari luar rumah tapi Dana sudah tidak ada lagi.
“Danaya… Neon Eodiseo?” Panggil Jimin dari jendela kamar Taehyung.
Tiba-tiba tubuh Jimin melayang keluar dari kamar Taehyung lalu berhenti diatas atap rumah Taehyung.
“Hah, aigo… omo,omo. Jantungku.” Jimin yang terus saja melihat kebawah rumah Taehyung dari atas atap.
“Oppa wae neon mencariku?” Dana, sontak Jimin langsung menoleh kearah Dana.
“Oppa?? Bukannya kau lebih tua dariku?” Jimin yang masih menepuk-nepuk dadanya.
Dana tertawa “Sebenarnya aku lebih muda daripada Taehyung.” Dana.
“Mwo? Jinjja neon?” Jimin.
“Tapi kenapa kau mencariku Oppa? Seharusnya Taehyung Oppalah yang mencariku.” Dana.
“Hm, bukankah kita bertiga berteman. Aku hanya tidak mau saja temanku terlukai, aku tahu sebenarnya tujuanmu kerumah ini bukanlah untuk berteman melainkan kau sebenarnya menyukai Taehyung.” Jimin.
“Akhirnya salah satu dari kalian sudah mengetahuinya.” Dana berjalan mendekat kearah Jimin.
“Ya’ ya’ ya’ kau bisa jatuh.” Jimin. Dana duduk sangat dekat dengan Jimin bahkan tidak ada batas diri.
“Oppa apa kau bisa merasakannya cahaya bulan itu? Disaat cahaya bulan itu menyinari tubuhku dan aku selalu melihatinya terasa bulan itu memberikanku kekuatan untuk menjalani ini semua.” Dana.
“Hm, aku terkadang juga merasakannya. Disaat aku telah mengakhiri hubunganku dengan yeojaku disaat itu juga aku mendengarkan lagu lewat headsheet lalu aku menatap bulan pada malam hari itu dan semua rasa sakitku perlahan-lahan mulai hilang.” Jimin.
“Oppa bisakah aku memelukmu? Banyak orang bilang berpelukan dengan seseorang selama 15-20 menit akan membuat strees kita hilang dan membuat kita nyaman.” Dana.
“Memelukku? Hm, bolehlah kalau itu bisa membuatmu tersenyum kembali.” Jimin, lalu Jimin melapangkan kedua tangannya kearah Dana. Dana langsung saja memeluk Jimin pada malam hari itu.
~Saat itu…~
Jimin dan Taehyung telah tidur lelap, Dana berdiri melihati mereka berdua.
Setiap hari aku selalu menghabiskan waktu bersama mereka berdua, bahkan aku tidak menyangka bisa berteman dengan manusia. Padalah diantara bangsa mereka telah membunuh semua keluargaku, mereka adalah makhluk yang sangat bodoh melakukan sesuatu hal yang awalnya tidak pernah difikirkan terlebih dahulu. Apa mereka tidak merasakan bagaimana kehilangannya diriku, aku merasa kehilangan dengan kematian semua keluargaku, tapi disamping itu aku juga berfikir diantara manusia seperti mereka ada yang baik seperti mereka berdua.
Lalu Dana menyelinap tidur diantara Jimin dan Taehyung, Dana tidur menghadap Taehyung.
“Oppa kau tahu sebenarnya aku menyukaimu? Oppa kau sangat manis dan begitu polos, saranghae.” Lalu Dana mencium Taehyung tepat dibibir Taehyung.
Pagi harinya Taehyung terbangun, Taehyung melihat Dana tidur disampingnya. Taehyung melihati Dana lalu mengusap-usap rambutnya. Taehyung beranjak dari tempat tidurnya, jimin disaat itu masih tidur terlelap sama dengan Dana. Akhirnya Taehyung menyelimuti mereka berdua.
“Kalian berdua adalah malaikatku. Bahkan kalian sangat cocok jika bersama.” Taehyung berjalan keluar kamar.
Beberapa menit kemudian Dana dan Jimin sama-sama terbangun. Dana menghadap ke Jimin sambil mengusap-usap matanya begitu juga dengan Jimin.
“Hya’ Oppa apa yang kau lakukan denganku? Kenapa kita berdua tertutup selimut seperti ini?” Dana.
“Mwo? Apa maksudmu?” Jimin.
“Lihatlah!!” Dana memukul kepala Jimin.
“Aish, Appo. Yasudah kalau begitu kita berdua mencoba saling melihat milik kita masing-masing.” Jimin.
“1, 2, 3!!!” Jimin dan Dana menghitung bersamaan. Dana tertawa…
“Oppa kita berdua seperti orang bodoh.” Dana. Lalu Dana mendekat ke Jimin.
“Oppa apa kau tahu sewaktu Taehyung terbangun dari tidurnya di mengusap-usap rambutku.” Dana malu.
“Jinjja??” Jimin, Dana menganggukkan kepalanya sambil tersenyum malu.
“Oppa kajja kita bermain, bukankah didekat rumah Taehyung Oppa ada tempat bermain?” Dana. Lalu tanpa berfikir lama Dana langsung menarik tangan Jimin.
~Sesampainya ditempat bermain~
Dana berlari layaknya seorang anak kecil, disana ada sebuah air mancur. Dana berlari sambil tersenyum disekitar air mancur itu, Jimin melihat Dana berlarian seketika Jimin mulai tersipu oleh Dana. Jimin terus saja melihati Dana.
“Hyung kau melihati apa?” Taehyung yang sedikit mendorong tubuh Jimin.
“Ah, aniya. Aku tidak melihati apa-apa.” Jimin yang menundukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Oh…” Taehyung.
“Danaya…” Panggil Taehyung. Lalu Dana berlari menuju Taehyung.
“Ne Oppa…” Dana.
“Mwo? Oppa??” Taehyung.
“Apa aku tidak boleh memanggilmu Oppa?” Dana.
“Aniya, Aniya. Gwenchana kau memanggilku Oppa.” Taehyung yang merangkul Dana sambil mengusap-usap rambut Dana. Dana tersenyum.
***
“Jiminnie Oppa kenapa kau memanggilku?” Dana.
“Hm, aku ingin mengataan sesuatu kepadamu.” Jimin.
“Mwoyo Oppa?” Dana.
“Aku menyukaimu.” Jimin.
“Oppa apa kau ngelantur?” Dana yang memegang kening Jimin.
“Aniya, aku mengatakan hal yang sebenarnya.” Jimin.
“Tapi Oppa, bukannya kau sudah mengetahui kalau aku menyukai Taehyung Oppa? Dimana pikiranmu sekarang?” Dana.
“Mian Oppa, tujuanku kemari bukanlah untuk bertemu denganmu bahkan menyukaimu.” Dana yang langsung saja menghilang begitu saja.
Taehyung datang “Hyung Dana eodiseyo?” Taehyung.
“Molla, kau cari saja sendiri.” Jimin yang langsung meninggalkan Taehyung.
“Hya’ Hyung, kenapa denganmu?” Taehyung yang berteriak dari kejauhan.
~Malam harinya~
Kelompok belajar merekapun kembali datang lagi dirumah Taehyung dan itu sebenarnya membuat Dana sangat jengkel. Apalagi Dana bertemu dengan Victoria. Dana tidak lagi duduk didekat Jimin melainkan duduk disamping Taehyung.
Pada malam hari itu minumanpun datang untuk menghilangkan haus karna lelah berfikir mengerjakan tugas sekolah.
“Danaya ini untukmu.” Victoria.
“Kenapa kau mengambilkan minuman untukku? Aku bisa mengambilkannya sendiri.” Dana dingin.
“Jika kau tidak mau aku akan meminumnya.” Jimin yang tiba-tiba datang dan meminum minuman untuk Dana.
“Oppa, hajiaman!!!” Teriak Victoria.
Tiba-tiba gelas yang dipegang Jiminpun jatuh kebawah, Jimin merasakan sakit tepat dijantungnya.
“Danaya apa yang kau lakukan?” Taehyung.
“Mwo? Nae?” Dana bingung.
“Bukankah kau yang memberikan minuman untuk Jimin?” Taehyung.
 “Mwoya? (Semua barang yang berada didekat Dana mulai jatuh dan berserakan dimana-mana)  Aku tidak melakukannya. Victoria Eonni yang membuat minuman itu!” Dana membela diri.
Semua teman Taehyungpun terkejut dan mulai takut dengan kejadian malam itu.
“Aniya, sekarang kau keluar dari sini! Jangan lagi kembali kesini lagi, lihatlah apa yang kau perbuat kepada Jimin!! Danaya kau bukanlah malaikat kau sangatlah berbahaya, kau adalah monster.” Taehyung yang berbicara dengan nada yang tinggi.
Angin malam yang sangat dingin itupun muai masuk dari semua jendela rumah Taehyung, angin berhembus begitu kencang. Semua orang dirumah Taehyungpun mulai ketakutan.
Jimin begitu saja tubuhnya mulai sanat dingin seperti es, wajahnya berubah menjadi putih pucat seperti orang mati.
“Ne, baiklah Oppa jika itu maumu.” Dana menghilang begitu saja. Anginpun mulai berhenti berhembus.
***
Sudah seminggu sejak kepergian Dana, Dana menepati janjinya dia bahkan tidak pernah sekalipun datang kerumah Taehyung lagi sejak kejadian itu. Taehyung Eommapun belum juga pulang dari proyek pekerjaannya. Jimin sekarang hidup dengan rasa sakit yang dideritanya, Taehyung yang saat itu merawatnya. Karna Jimin sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, Jimin hidup dari harta kekayaan yang dimiliki oleh kedua orangtuanya. Taehyung merasa kasihan dengan Jimin.
Taehyung bahkan sudah menganggap Jimin adalah Hyung kandungnya, tapi sebenarnya mereka tidak sedikitpun terikat apapun. Pada malam itu Jimin terus saja memangil Dana tanpa henti, didalam rintihan sakit yang dideritanya dia terus saja memanggil nama itu terus.
“Hyung sudahlah dia tidak akan datang. Dia yeoja yang sangat berbahaya bagimu.” Taehyung.
“Aniya Taehyunga, sebenarnya dia yeoja yang sangat baik.” Jimin.
“Hyung lihatlah dirimu, sekarang kau sakit tolog pikirkanlah dirimu sendiri Hyung.” Taehyung.
Dibibir yang berwarna begitu pucatnya Jimin terus saja memanggil nama Dana.
~Sementara itu…~
Victoria berjalan sendiri di gegelapan malam hari. Untuk menghilangkan rasa takutnya Victoria mengambil sebuah headsheet dari dalam tasnya. Sampai saat Victoria mencaari headsheetnya ada seseorang yang memakai sebuah jubah sampai menutupi seluruh wajahnya yang berjalan sengaja menubruknya dari belakang dan membuat Victoria terjatuh. Tetapi seseorang itu tetap saja berjalan.
“Hya’ neon.. kau yang menabrakku. Chakkaman!!!” Teriak Victoria sambil berdiri. Lalu seseorang itupun berhenti, Victoria langsung saja berjalan menuju kearah seseorang itu untuk meluapkan emosinya.
“Hya’ neon!! Sangat tidak sopan menabrak orang begitu saja, apa kau tidak diajari sopan santun oleh keuargamu?” Victoria.
“Keluarga?? (Seseorang itupun tertawa) Bahkan kelargaku sudah tiada karna Eommamu…” Jawab seseorang itu.
“Apa kau yeoja? Eomma? Apa maksudmu? Hya’ kau menghadaplah kemari!” Teriak Victoria.
Lalu seseorang itu membalikkan badannya“Bukankah Eommamu seorang pembunuh vampire? Apa kau tahu vampire yang dibunuh itu adalah keluargaku. Apa kau tahu betapa kehilangan diriku atas kematian semua keluargaku?” Dana.
“Tapi bukankah semua itu impas keluargamu mati dan Eommaku juga telah tiada?” Victoria.
“Mwo??” Dana. Seketika jubah yang dikenakan Danapun terlepas karna kencangnya angin, rambut Danapun mulai terbang karna hembusan angin yang sangat kencang disekitarnya. Mata Danapun mulai sangat memerah, taring Danapun mulai keluar. Dana pun mulai geram dan…
***
“Hyung sudahlah, coba kau minum sebentar ini.” Taehyung memberikan air putih.
Keadaan Jiminpun mulai semakin memburuk, mungin kehidupan Jimin akan hilang pada malam malam itu juga. Jimin hanya melihat Jendela kamar Taehyung terus menerus dari tempat tidur Taehyung.
Tiba-tiba jendela kamar Taehyung terbuka dan menghantam dinding sangat kencang. Taehyung dan Jiminpun sontak. Danapun masuk dari Jendela kamar Taehyung lalu menghantamkan Victoria kelantai kamar Taehyung sampai membuat Victoria merintih kesakitan.
Taehyung yang berusaha ingin membantu Victoria, Dana tahan dan menghantamkan Taehyung ke dinding kamarnya dan membuat Taehyung tidak bisa bergerak seperti ada lem yang melekat dibadan Taehyung yang membuat dia terus menempel kedinding.
Lalu Dana berjalan menuju ke Jimin.
“Hya’ makhluk aneh, apa yang akan kau lakukan kepada Hyungku?” Taehyung.
“Enyalah kau dan cepat lepaskan aku!!!” Teriak Taehyung.
Tetapi Dana tidak menghiraukannya “Jimin Oppa apa kau masih bisa melihku? Apa kau masih bisa mendengarku?” Dana.
Seketika saat itu juga Jimin telah menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya.
“Hyung…..!!!! Aniya, Aniya…. Makhluk gila!!!” Taehyung.
Akhirnya Dana mendekatkan wajahnya menuju leher Jimin, lalu Dana menggigit leher Jimin dan meminum sedikit Darah Jimin. Alu Dana mengusap bibinya dan mendekat ke Taehyung, masih terlihat dibibir Dana ada Darah Jimin disana.
“Dasar kau!!! Sebenarnya kau ini makhuk macam apa?” Taehyung.
“Apa kau tahu dia menderita karna apa? Dia menderita karna dia yeoja yang telah membunuh semua keluargaku. Apa kau tahu sebenarnya Eommanya adalah pembunuh vampire, dia yang menuangkan racun didalam minumanku dan ingin membunuhku! Tetapi Jimin Oppalah yang tiba-tiba datang dan langsung meminum minuman yang dibuat oleh yeoja itu.” Jelas Dana.
“Apa kau mau merasakan darah terakhir yang dimiliki oleh Jimin?” Dana.
Tangan Dana langsung menyentuh kedua pipi Taehyung, Dana mendekatkan bibirnya ke bibir Taehyung yang berwarna merah tomat agar Taehyung merasakan darah Jimin yang terakhir kalinya.
“Apa kau sudah merasakannya?” Dana.
“Oppa apa kau tahu sebenarnya aku menyukaimu, setiap malam aku selalu melihat dari balik jedela kamarmu. Setiap malam aku duduk diatas dahan pohon yang berada didepan rumahmu, aku sangat menyukaimu Oppa. Mian…” Dana yang memeluk Taehyung.
Dana mengambil beberapa langkah kebelakang “Oppa selamat tinggal, saranghae…” Tambah Dana.
Seketika Dana berjalan kearah Victoria yang dari tadi meritih kesakitan dan Dana membuat gerakan meremas di tangan kanannya dan pada malam itu juga Taehyung melihat kematian Victoria.
Dana pergi lewat jendela kamar Taehyung, seperti angin yang berhembus dimalam hari. Bahkan tidak ada suarapun, setelah beberapa menit kepergian Dana. Taehyungpun jatuh tersungkur, Taehyung merasa tidak percaya dengan semua kejadian ini. Kedua temannya telah tiada dengan waktu yang bersamaan Taehyung hanya bisa menangisinya, berulang kali dia memukul-mukul lantai kamarnya karna menangisi kepergian teman-temannya.
Tiba-tiba Jimin terbangun, Jimin sekarang bukanlah Jimin yang dulu mata Jimin seketika berubah menjadi merah. Jimin beranjak dari tempat tidur. Jimin lalu bejalan kearah Taehyung dan memegang pundaknya.
“Taehyunga, sudahlah jangan menangisiku aku sudah kembali lagi…” Jimin.
Lalu Jimin mendangakkan kepala “Hyung apa ini benar kau?” Taehyung.
“Ne, ini benar aku.” Jimin.
“Tetapi kenapa matamu berubah seperti itu? Apa kau sekarang sama seperti Dana?” Taehyung.
“Ne sekarang aku sama seperti Dana dan bukan seperti dirimu lagi.” Jimin.
“Tapi Hyung apa kau akan meninggalkanku?” Taehyung.
“Aniya, aku akan tetap menemanimu selamanya sampai kau menemukan yeojamu. Dan kumohon jangan pernah kau membenci Dana, dia hanya ingn menolongku karna racun yang dituangkan Victoria diminuman Dana yang telah aku minum sendiri.” Jelas Jimin. Begitu juga dengan Jimin menghilang begitu saja.
***
Dana duduk didedekat air mancur yang telah datangi oleh Jimin dan Taehyung tempo hari yang lalu, Dana menangisi seorang telah menyukainya. Dana hanya berfikir itulah jalan satu-satunya membuat Jimin hidup kembali merubahnya menjadi makhluk sepertinya.
Dana terus saja menangis, Dana merasa kecewa kenapa dulu dia tidak menerimanya saja. Padahal ada aseorang namja yang telah menyukainya tetapi ia menyia-nyiakannya begitu saja malah ia mencari seorang Namja yang tidak pernah menyukainya.
“Kenapa kau menangis?” Tanya seorang namja yang memegang pundak Dana dari samping.
“Aku telah menyia-nyiakan seseorang yang menyukaiku.” Dana.
“Apa kau menyesalinya?” Tanya seorang namja itu.
“Apa kau bodoh? Jelas saja kau menyesalinya!!” Dana yang langsung membalikan badannya.
“Oh, Jimin Oppa kau sembuh?” Langsung Dana memeluk Jimin dengan erat.
“Gumawo kau sudah menyelamatkan aku.” Jimin sambil mengusap-usap rambut Dana.
“Sekarang apa kau mau menerimaku?” Jimin.
“Ne Oppa aku mau menerimamu.” Dana yang masih terus saja memeluk Jimin sangat erat.
Bahkan aku sendiri juga bingung kenapa aku harus menyukai seorang namja yang tidak dari bangsaku sendiri melainkan dai bangsa manusia, tapi itulah namanya cinta. Kadang menyakitkan, menyenangkan, membuat kita bingung atapun gelisah bahkan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apa makna arti sebuah kata cinta. Itulah cerita kisah cintaku dengan manusia dan akhirnya aku bersama dengan seorang vampire dan bukanlah dengan manusia.

The End.

Selasa, 07 April 2015

"24/7 = Milk Box" (Chapter 3 = Ending)



Chapter 3
Bertemu denganmu di hari minggu, menunggu untuk hari minggu ini.”
~Keesokan harinya~
Jungkook telah bangun dari tidurnya, setelah selesai mandi dan berpakaian dengan cepat Jungkook berjalan menuju kesebuah kaca dikamarnya untuk merapikan dirinya lagi.
“Aku terus melihat ke kaca
Hatiku tetap berpacu
Aku tidak mau mengatakannya lagi
Terasa seperti aku tidak mau mengatakannya lagi
oh kau, membuat
Hariku seperti dalam film
Hari ini hari minggu, hari demi hari, hari minggu
Tiba-tiba Tersenyum beberapa waktu sehari
Aku pikir aku akan tersenyum.”
Jungkookpun tersenyum malu jika memikirkannya terus.
***
“Eonni sudah jam 9 pagi kau tidak pergi?” Tanya Dana yang duduk melihat acara di tv.
“Aniya, seseorang yang aku ajak tidak bisa pergi karna dia ada urusan yang juga akan pergi hari ini.” Hye Ri.
“Yasudah kalau begitu aku saja yang akan pergi keluar.” Dana.
“Pergilah kalau kau mau pergi.” Hye Ri.
“Jinjja? Gwenchana?” Dana, Hye Ri menganggukan kepalanya.
“Ne pergilah, tapi kau akan pergi dengan siapa?” Hye Ri.
“Kau tidak usah perlu tahu eonni, kaupun pergi aku tidak perna menanyakan hal seperti itu.” Dana.
“Hya’ bocah tengik! Jika kau pulang nanti akan kukunci pintu masuk rumah.” Ancam Hye Ri.
“Kuncilah, aku akan tetap bisa masuk.” Ejek Dana. Danapun langsung saja pergi meluncur keluar.
“Hya’ bocah, awas kau!!!” Hye Ri.
Dana masih menunggu kedatangan 2 namja yang telah membuat janji kepadanya untuk pergi di hari minggu. Danapun menoleh kearah kanan dari kejauhan Nampak seorang namja yang melanbaikan tangannya kearah Dana dan datang mendekatinya.
“Jungkookkie…” Dana membalas lambaianya.
“Apa kau menunggu lama?” Jungkook.
“Aniya, mungkin aku saja yang terlalu bersemangat untuk bermain dengan kalian berdua.” Dana. Jungkookpun tersenyum.
“Hm, selanjunya kita akan kemana?” Jungkook.
“Apa kau lupa Jimin Oppa belum datang.” Dana.
“Oh mian, aku lupa.” Jungkook tersenyum sambil menggaruk-garuk belakang lehernya.
“Hari ini, hari minggu, matahari memanggilmu untuk bersinar di hari minggu
Kencan pertamaku denganmu, hatiku terus berdebar seperti anak kecil
Sepanjang malam
Aku memikirkanmu sepanjang malam
Aku akan melihatmu, kapan besok datang
Dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan”

Tiba-tiba…
“Hya’ kalian berdua…” Panggil Jimin sambil berlari.
“Apa aku terlambat?” Jimin.
“Aniya Oppa, kau tepat waktu kami juga baru datang.” Dana. Lalu tangan kanan Dana menggandeng tangan kiri Jimin dan tangan kiri Dana menggandeng tangan kanan Jungkook.
“Kajja, kita menghabiskan hari minggu kita bersama.” Dana.
“24/7 semua hari, aku hanya memikirkanmu
Kencan pertama kita yang aku tunggu-tunggu
Aku rasa ini  akan manjadi hari yang spesial, aku bisa jadi gentleman
Karena aku pacarmu
Setelah berpikir tentang itu untuk beberapa saat
Aku terbangun sepanjang malam
Kapan matahari tebit
Kenapa sangat lama? Aku marah pada jam
Namun sejak aku mulai berkencan denganmu, aku merasa seperti terisi penuh”

Lalu mereka bertigapun berjalan menyusuri taman kota bersama, mereka bertiga memang benar menepati janji mereka masing-masing untuk pergi menghabiskan waktu hari minggu mereka.
“Jungkook, Jimin Oppa apa kau tahu hanya dalam 7 hari dan 1 harinya yaitu 24 jam kita bisa melakukan ini, kajja aku tidak mau menyia-nyiakan 24 jam dalam 7 hari itu.” Dana. Jimin dan Jungkookpun tersenyum.
Mereka bertiga layaknya seorang merebutkan sepasang kekasih, tetapi mereka tidak menampakkannya. Mereka bertiga sangat bahagia dan benar-benar menikmati hari minggu mereka bersama.
“Oppa bisakah kau mendapatkan gantungan susu kotak itu?” Tiba-tiba Dana melepaskan tangan Jungkook dan masih menggandeng tangan Jimin. Jungkookpun terkejut.
“Ne kajja kita dapatkan itu.” Jimin, lalu Dana berjalan dengan Jimin dan Jungkook berjalan dibelakang mereka.
“Ahjussi berikan bolanya, aku ingin melemparkannya.” Jimin.
“Hm, ahjussi jika Oppa ini dapat menjatuhkan semuanya ketiga gantungan susu kotak itu harus menjadi milik kita.” Dana.
“Ne, aku setuju. Aku memberikan 3 bola untuk kalian.” Jawab Ahjussi itu, Jungkook hanya diam melihatnya.
Jiminpun melempar tapi gagal lalu “Mana Hyung berikan bolanya kepadaku, begitu saja kau tidak bisa.” Jungkook. Lalu Jungkook melemparnya dengan sangat kencang dan BRAKK kaleng yang dilemparnya dengan bolapun terjatuh semua.
“Wah jungkookkie kau daebak!!!” Jimin.
“Oppa, kita menang….” Teriak Dana yang langsung memeluk Jimin.
“Danaya kau tidak memberi ucapan selamat kepadaku? Misalnya memelukku seperti yang kau lakukan kepada Jimin Hyung?” Jungkook.
“Kau ingin? Kemarilah.” Dana melapangkan kedua tangannya.
“Chukkae, kau memang hebat namja susu kotak.” Dana sambil menepuk-nepuk Jungkook, Jungkookpun tersenyum malu, jiminpun juga ikut tersenyum.
“Ini aku berikan kepada kalian, ambilah.” Ahjussi.
“Gamsahamnida Ahjussi.” Jungkook.
“Kajja kita pakai gantungan ini di ponsel kita masing-masing.” Jimin. Dan mereka bertigapun melakukannya.
~Setelah lamanya mereka bermain…~
“Oppa aku lapar, tidak bisakah kalian para namja membelikanku sebuah makanan.” Gerutu Dana.
“Ne, ne aku akan membelikanmu makanan. Kalian duduklah disini, aku akan mencarikan makanan untuk kita.” Jimin.
“Yasudah Oppa, cepatlah perutku mulai lapar.” Dana. Lalu Jungkook dan Danapun duduk bersama untuk mennggu kedatangan makanan mereka. Mereka duduk dikursi pinggir jalan yang sudah disediakan disana.
Beberapa menit kemudian…
“Danaya apa kau ingat kemarin?” Jungkook.
“Ingat apa?” Dana.
“Yang aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Jungkook.
“Oh itu, mian kemarin aku tidak mendengar suaramu. Jadi aku tidak tahu.” Dana.
“Tetapi kenapa kau malah canggung seperti ini? Biasalah bukankah kita berteman? Coba katakanlah aku akan mendengarkannya.” Dana.
Jungkook menghembuskan nafasnya lalu menghadap kearah Dana serta memegang kedua tangan Dana “Danaya, aku menyukaimu.” Jungkook.
Sontak Dana terkejut “Kau menyukaiku? Apa kau ngelantur?” Dana.
Lalu tangan Jungkook menyentuh kedua pipi Dana dan Jungkook mencium kening Dana. Seketika bulu kuduk Dana mulai berdiri, Dana hanya melihat kebawah karna malu.
“Apa itu cukup?” Jungkook. Dana hanya terdiam malu.
“Apa kau akan menerimaku?” Jungkook. Dana tidak bisa mengatakan apa-apa karna malu dengan perbuatan Jungkook.
“Aku melakukan hal ini karna aku tidak mau melihatmu terus saja memendam rasa sakitmu sendiri Dana, aku ingin merubahnya.” Jungkook, seketika Dana menoleh kearah Jungkook.
“Apa yang kau katakan semua itu benar?” Dana.
Jungkook menganggukan kepalanya “Ne, aku mengatakan yang sebenarnya.” Jungkook, dengan cepat Danapun memeluk Jungkook.
“Ne aku akan menerimamu.” Dana.
“Gumawo.” Jungkook.
Tiba-tiba…
“Hya’, bocak tengik lepaskan pelukanmu dengan Jungkook!!” Hye Ri yang tiba-tiba muncul.
“Eonni kenapa kau disini?” Dana langsung berdiri.
“Noona, kenapa ada disini? Kau juga ikut untuk menghabiskan hari minggumu bersama kami?” Jungkookpun juga berdiri.
“Aniya, aku tidak menghabiskan waktu mingguku bersama kalian. Jungkookie bukankah kau sudah janji denganku untuk pergi bersama?” Hye Ri.
“Noona sebenarnya disaat kau mengajakku untuk pergi aku ingin menlaknya tapi aku merasa tidak enak denganmu.” Jungkook.
“Yasudahlah eonni kau bergabunglah dengan kami, kau pasti suka.” Sela Dana.
“Kau diamlah bocah tengik, bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu kalau aku menyukai Jungkook tetapi kau malah menerimanya menjadi namjamu! Keponakan macam apa kau ini?” Hye Ri.
“Eonni akupun sama sepertimu, apa kau lupa dulu aku juga sudah mengatakan hal yang sama sepertimu saat ini. Aku dulu menyukai Jimin Oppa tapi apa setelah aku mengajaknya bermain kerumah dan kau tahu kalau aku menyukainya dan saat itu dia menyukaimu kau juga menerimanya begitu saja, tanpa memikirkan perasaanku.” Dana.
Tiba-tiba Hye Ri menarik kerah baju Dana keatas “Hya’ kau seharusnya bersyukur kau mempunyai aku Dana, aku yang setiap hari selalu membutuhi kebutuhnmu.” Hye Ri.
“Eonni, kau menariknya sangat kencang. Leherku sakit aku hampir tidak bisa bernafas, eonni…” Dana.
“Noona tolong lepaskan tanganmu darinya!” Jungkook.
“Diamlah kau Jungkook jika kau mendekat aku akan menariknya lebih kencang.” Hye Ri.
“Seharusnya kau ini berterimakasih kepadaku Dana, karna aku kau bisa hidup sampai saat ini. Apa kau tidak bisa melihat eonnimu ini bahagia sedikit? Dan tidak selalu melihat eonnimu menderika karna harus menaggung biaya hidupmu!!!” Hye Ri.
“Eonni lepaskan, aku tidak bisa bernafas.” Dana sambil memukul-mukul tangan Hye Ri.
Akhirnya Hye Ri melepaskan tarikannya lalu setelah Hye Ri menarik Dana ia mendorongnya ke jalan.
“Kau seharusnya berterimakasih kepadaku Dana.” Hye Ri.
Dana masih menepuk-nepuk dadanya karna sesak akibat tarikan Hye Ri, lalu Dana melihat kearah Hye Ri dan BRAKK... Sebuah mobil menabrak Dana sangat kencang, Hye Ri yang berada didepan tepat Dana tertabrakpun terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Jungkookpun langsung berlari kearah Dana, Jimin yang saat itu datang tepat Dana tertabarak mobil makanan yang ia belipun jatuh kebawah. Dengan cepat Jimin juga berlari kearah Dana.
Danapun tertabarak dan terjatuh 2 m dari sebelum ia tertabrak, Jungkookpun datang dan meletakkan kepala Dana dipangkuannya.
“Danaya… Neon gwenchana? Danaya…” Teriak Jungkook.
Dana saat itu berlumuran darah disekujur tubuhnya, Jungkook tidak bisa berkata apa-apa air matanyapun mulai berjatuhan sampai seluruh baju Jungkookpun juga terkena darah. Jungkook melihat darah Dana berlumuran ditangannya begitu banyak.
“Dana, hajiman. Hajiman…!!! Bangun Dana palli bangun.” Jungkook yang mengoyang-goyangkan badan Dana.
“Jungkook, Dana Gwenchana?” Jimin.
“Hyung eotheohkae? Aku tidak mau kehilangannya.” Jungkook, lalu dengan cepat Jimin mengangkat Dana dan membawanya kerumah sakit.
~Di Rumah Sakit~
Jimin, Jungkook dan Hye Ri menunggu Dana didepan ruang UGD, Jungkookpun tidak henti-hetinya mengeluarkan air matanya. Jimin hanya bisa menenangkan Jungkook, sedangkan Hye Ri yang sudah dianggap sendiri sebagai eonni kandung oleh Danpun mulai khawatir dengan Dana.
Akhirnya Danapun bia diselamatkan dan dipindah ke kamar untuk pasien. Jungkookpun memegang erat tangan Dana terus menerus.
“Hyung aku tiak ingin kehilangannya.” Jungkook.
“Aku juga menginginkan hal itu, semoga Dana bisa bangun dari komanya.” Jimin.
Hye Ri hanya terdiam dan terus melihat serta berdiri disamping Dana.
“Noona apa kau puas? Apa kau puas dengan semua ini?” Jungkook.
“Aniya, aku tidak puas. Aku merasa bersalah, mianhae.” Hye Ri.
“Noona asalkan kau tahu, Dana telah berjuang untuk memendam rasa sukanya kepada Jimin Hyung. Bukankah sebenarnya disini yang jahat adalah kau karna kau menyakiti hatinya?” Jungkook.
“Mwo? Nae? Dana menyukaiku?” Jimin.
“Hyung apa kau tidak merasakan selama kalian dulu berteman sangat lama, bukankah Dana selalu memberikanmu hal yang sangat special dan apa kau tidak merasakan kalau kau itu dianggap Dana menjadi orang yang angat special untuk dirinya?” Jungkook.
“Apa dia bertahun-tahun memendam rasa sakitnya sendiri? Asih, yeoja pabo!” Jimin, lalu Jimin duduk disebuah sofa sambil menundukkan kepalanya.
“Hye Ri, kumohon bisakah kau pulang?” Jimin.
“Tapi Jimin-ah…” Hye Ri.
“Kumohon pulanglah, GHA!!” Jimin, Hye Ripun berjalan keluar membuka pintu kamar Dana.
~Keesokan harinya~
Keesokan harinya Jungkook melihat Dana sedang duduk diatas tempat tidur di ruang rawatnya dan tersenyum sambil melihat kearah Jendela.
Jungkook juga melihat Dana menghempuskan nafasnya sambil tersenyum bahagia. Dana menoleh kearahnya juga sambil tersenyum
“Jungkookie? Apakah itu kau?” Dana. Dengan cepat setelah Jungkook membuka pintu kamar rawat Dana ia langsung memeluknya.
“Dana, neon gwenchana? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Jungkook.
“Ne, nae gwenchana. Gumawo sudah menjagaku semalaman bersama Jimin Oppa.” Dana.
“Saat ini juga aku akan terus menjagamu, aku tidak mau hal ini terulang lagi.” Jungkook yang melepaskan pelukannya.
“Aku pikir kau tidak usah menjagaku lagi.” Dana tersenyum dihadapan Jungkook.
“Bagaimana maksudmu?” Jungkook.
“Aniya, gumawo sudah menjadi namjaku untuk terakhir kalinya.” Dana.
“Mwo? Kau ini berbicara apa?” Jungkook.
“Kemarilah aku ingin memelukmu.” Dana melapangkan tangannya seperti di hari minggu kemarin.
Setelah mereka berpelukkan Dana mengucapkan sesuatu ditelinga Jungkook “Jungkookkie gumawo telah menjadi namjaku yang terakhir untuk selamanya, gumawo. Saranghae Jungkookie.” Dana.
Tiba-tiba Jungkook terjatuh ditempat tidur dikamar rawat Dana dan Dana sudah tidak ada dipelukan Jungkook lagi.
 *NIT,NIT,NIT,NIT,NIT,NIT* Jungkookpun terbangun dari tidurnya yang masih memegang tangan Dana, alat itupun berbunyi sangat kencang sampai membangunkan Jungkook dan Jimin.
“Hyung, apa yang terjadi?” Jungkook.
Dokter dan perawatpun seketika mulai berdatangan dikamar rawat Dana, Jungkook dan Jiminpun keluar untuk menunggu didepan. Jungkook melihat dari balik pintu alat pacu jantungpun dikeluarkan semua alatpun telah dikeluarkan, Jugkookpun membalikkan badannya lalu dudk didekat Jimin.
“Hyung, eotheohkae? Aku takut.” Jungkook.
“Tenanglah Jungkook, aku yakin Dana pasti akan selamat.” Jimin yang terus menepuk punggung Jungkook.
Beberapa menit kemudian dokter dan seluruh perawat itupun keluar dari kamar rawat Dana. Jimin dan Jungkookpun terkejut.
Jungkookpun berlari kedalam kamar rawat Dana, Jungkook tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seluruh tubuh Dana telah ditutup oleh selimut putih, dokter dan seluruh perawat yang telah keluar itupun Nampak murung. Jiminpun juga ikut masuk kedalam.
“Danaya bangun… Danaya…!!!” Teriak Jungkook histeris.
Jiminpun meneteskan air matanya dan mendekat kearah Jungkook.
“Jungkook, aku tahu dia telah bahagia disana. Ikhlaskanlah kepergiannya.” Jimin.
“Hyung, kemarin aku baru saja menyatakan perasaanku kepadanya dan Dana telah menerimaku menjadi Namjanya lalu dengan cepatnya dia meninggalkanku?” Jungkook yang menangis sesengukkan.
Jimin hanya terdiam saja, Jimin tidak bisa lagi berkata apa-apa. Jungkook masih tetap menangis dan terus saja memegang erat tangan Dana yang tidak lagi bernyawa. Pada hari itu Dana telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Baru saja kemarin Dana bermain dengan Jungkook serta Jimin dengan begitu banya canda dan tawa tetapi Jungkook tidak menyangka begitu cepat Dana meninggalkannya.
~Dihari pemakamannya~
Pada hari itu semua mata berderai degan air mata yang mengalir begitu saja, Jungkook hanya pasrah dengan kepergian Dana. Jiminpun berjalan untuk pulang karna ia tidak tahan dengan orang selama ini memendam rasa suka kepadanya dan sekarang pergi meninggalkannya begitu saja. Jimin berjalan menuju kemobilnya dan menunggu Jungkook didalam mobil karna ia datang bersama Jungkook.
“Jiminnie…” Panggil Hye Ri.
Jimin menoleh kearah Hye Ri “Kumohon jangan berbicara dengan aku lagi, aku ingin semua hubungan kita berakhir sampai sini.” Bilang Jimin yang melanjutkan jalannya.
Hye Ripun hanya bisa terdiam lalu ia berjalan menuju tempat terakhir Dana, disana Hye Ri melihat Jungkook sendirian menangisi kepergian Dana lalu ia mendekatinya.
“Jungkookie… Neon Gwenchana?” Hye Ri.
Jungkook mengusap air mata yang jatuh dipipinya. Lalu menoleh kearah Hye Ri.
“Kenapa kau kesini?” Jungkook yang langsung berdiri.
 “Bukankah dia adalah keponakanku? Semua orang boleh mengunjunginya bukan?” Hye Ri.
“Kecuali kau noona.” Jungkook.
“Kenapa harus aku? Aku adalah eonninya yang selalu bersamanya, bagaimana bisa aku tidak diperbolehkan melihat dongsaengnya untuk terakhir kalinya?” Hye Ri.
“Kau bukanlah eonninya Dana, kau hanyalah keponakannya yang sangat kejam. Apa kau tidak melihatnya untuk terakhir kalinya kemarin? Setelah kau mendorongnya ke jalan dia sepat melihatmu dengan wajah yang bersalah, apa kau tidak melihatnya?” Jungkook.
Hye Ripun terjatuh kebawah “Danaya, mianhae. Maafkanlah eonnimu ini Dana, eonnimu ini memang bodoh. Bahkan aku tidak pernah merasakan perasaanmu diasaat aku menjalin hubungan degan Jimin, mianhae Dana. Jinjja Mianhae.” Hye Rin.
“Noona mulai saat ini, berhentilah menjadi guru private belajarku. Aku lelah noona.” Jungkook yang berjalan menuju ke mobil Jimin.
Jungkoook masih tidak percaya atas kepergian Dana yang sangat begitu cepat, Jiminpun juga seperti itu tidak percaya dengan apa yang ia alami.
“Gumawo Jungkook namja susu kotak serta namjaku dan gumawo Jimin Oppa, disaat hari terakhirku aku sempat tertawa bercanda gurau dengan kalian berdua. Gumawo kalian telah memberikan kenangan yang tidak pernah akan aku lupakan untuk selamanya.”
Seo Dana.

The End.