Original story
by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Ryo Cho Mu, Jung Sa Ka, Seo Dana, Hyo So Ta
Other cast: Han Hiya, Park Keli, Kim Luna
Genre : Hurt
romance
Januari 2016
Pandangan kedua mataku hanya tertuju
kesebuah objek yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Seperti waktu berhenti dan terhenti kepadamu dan karenamu.
Entah mungkin karena aku terlalu
hanyut didalamnya atau bagaimana? Ketika kedua matanya menyipit, bibirnya
tersenyum lebar, gigi putih susunya yang terlihat saat ia tertawa dan itu semua
membuatku benar-benar hanyut karenanya.
Akupun mulai memikirkan suatu
hal, disaat tahun 2015 aku telah patah hati. Menyukai seorang sahabatku sendiri
dan itu membuatku sangat sakit.
Saat itu aku sedang duduk
sendirian didalam kelas, moodku sedang down. Pikiranku sedang tidak normal
mungkin lelah atau stress. Seseorangpun datang ia duduk didepanku, dengan cara
entah bagaimana ia membuat bibirku menggambarkan sebuah senyuman.
Saat aku tertawa iapun menatapku,
entah ia memikirkan hal apa. Waktupun
begitu cepat setelah mengetahui aku baik-baik saja iapun meninggalkanku.
Februari 2016
Aku terus memikirkan perasaanku
yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit ini. Tetapi aku tidak terlalu banyak
untuk memikirkannya. Tetapi ada kalanya juga aku memikirkannya hal kecil ini.
Mungkin aku masih labil kadang bertingkah laku tidak sesuai perkataan yang
telah aku ucapkan.
Pikiranku sedang kosong saat itu,
aku hanya bermain dengan menggeser berulang kali layar ponselku. Iapun datang
lalu duduk disampingku, aku menatap wajahnya sepertinya ia sedang memikirkan
sesuatu. Entah apa...
Cukup lama ia duduk disampingku,
sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang sedang ia alami karena aku teman
perempuan sekelasnya yang bisa dikatakan cukup dekat dengannya, mungkin jika
aku cukup dekat ia bisa sedikit terbuka denganku dan mungkin juga aku bisa
memberikan saran jika ia ada masalah. Tetapi aku terus memikirkannya berulang
kali sampai...
“Kau tidak apa-apa?”
Ia hanya menatapku tetapi aku
mengalihkan pandanganku dengan menggeser berulang kali layar poselku. Tanpa
aba-aba ia pergi begitu saja.
Itulah pertama kalinya volume
detak jantungku tidak karuan karna ia menatapku hanya beberapa detik saja, ia bisa membuat
jantungku terkoyak.
Maret 2016
Perasaanku mulai tidak karuan,
aku sangat membencinya. Apa mungkin benar tentang perasaanku ini? Bagaimana
bisa aku menyukai sahabatku lagi? Apa aku tidak takut jika kejadian tahun lalu
terulang kembali? Jelas! Sudah terjawab! Aku tidak mau kejadian tahun lalu itu terulang
kembali dengan menyukai sahabatku sendiri. Aku sangat membencinya, semua
tentang perasaanku saat ini.
Ini membuat perasaanku
benar-benar seperti terulang ke masa lalu dimana aku menyukai seseorang tetapi
dengan egoisnya ia tidak memikirkan perasaaku sama sekali. Aku takut semua itu
terulang kembali. Ini semua membuatku gelisah hingga...
“Dana... Kau tidak apa-apa?”
Akupun menoleh, ia sedikit
khawatir denganku. Ia adalah teman sebangkuku Han Hiya, dia mengetahui semua
tentang perjalanan cerita cintaku. Dimana karena hanya aku menyukai seseorang
aku jarang masuk sekolah karena sakit. Ia sangat khawatir. Mungkin aku sungguh
berlebihan karena menyukai seseorang saja aku bisa sakit, tapi itulah yang
terjadi waktu itu aku tidak bisa mengelak.
Kuceritakan semua yang aku
rasakan dan ia berkata “Gwenchana. Tidak apa-apa.”
“Aniya! Tidak mungkin. Bagaimana
bisa aku menyukainya?” Tanyaku.
“Apanya yang tidak mungkin. Sudah
jelas sekarang ini kau bimbang menyukainya atau tidak. Hya’ dengarkan
kata-kataku ini, manusia berkata tidak mungkin hanya untuk pertama kalinya.
Lalu bagaimana untuk kesempatan yang kedua nanti? Tidak mungkin itu akan
menjadi mungkin.” Jawab Han Hiya.
April 2016
Sesuai berjalannya waktu. Aku
harus menjawab sedang apa dan kenapa dengan perasaaku ini yang selalu membuatku
gelisah. Memang tahun lalu adalah masa terkelam dalam hidupku dan aku tidak mau
mengulanginya lagi. Aku telah berjanji menutup hati dan persaanku untuk
menyukai orang lain.
Tetapi aku hanyalah seorang
manusia, seorang perempuan yang lemah yang tidak bisa lari dari sebuah
kenyataan bahwa aku menyukai sahabatku. Ryo Cho Mu...
Aku pernah mengatakan dengan nada
tinggi “Untuk apa menyukai Cho Mu? Namja seperti Cho Mu saja! Hah!”
“Apa yang disukai dari Cho Mu?
Kenapa kau menyukai Cho Mu coba?”
Semua perkataanku itu keluar
begitu saja dari mulutku pada tahun lalu dan apa sekarang? Aku malah berbalik
arah menyukainya. Aku menarik semua perkataanku. Aku menelan sendiri semua
perkataanku terhadap Cho Mu. Apakah ini hukuman? Atau sebuah kebiasaan jika
seorang tidak menyukai seseorang itu dan ia menjelek-jelekannya ia akan
berbalik rasa benci itu menjadi rasa suka? Apakah seperti ini?
Akupun berusaha bersikap seperti
biasa dengan tidak terlalu menampakkan perasaanku.
Mei 2016
Kamipun berkumpul seperti
biasa bermain bersama meluangkan waktu bersama untuk menikmati hari. Entah
bagaimana awalnya topikpun berganti menjadi tentang perasaan. Kami memang dekat Aku, Jung Sa Ka, Hyo
So Ta dan Ryo Cho Mu. Karena kami selalu bermain, mengerjakan tugas dan keluar
bersama-sama mungkin itu yang membuat kami ber-4 menjadi dekat. Suatu ketika
topikpun menjadi...
“Kemarin Cho Mu memikirkan So Ta.” Sa Ka.
“Hee? Aku pikir itu tidak mungkin.” So Ta.
“Hya’ kau memikirkan hal itu? Mana mungkin aku memikirkan
So Ta, kau tahu bukan kami sudah berteman sejak sekolah dasar.” Cho Mu.
Akupun hanya menatap Cho Mu dengan tatapan sayu, apa
mungkin kejadian tahun lalu akan terjadi kembali? Seperti dulu aku menyukai Sa
Ka tetapi kenyataanya Sa Ka menyukai So Ta?
Dengan lirih sebuah perkataan muncul lewat bibirku “Apa
itu benar?”
Iapun menatapku dengan ekspresi wajah sedang memikirkan
sesuatu lalu “Ne. Benar aku tidak memikirkan So Ta.”
~Keesokan harinya~
“Dana-ya...” Sa Ka.
Dari kejadian tahun lalu hubungan pertemanan kami menjadi
dekat dan kami telah benar-benar melupakan kejadian itu. Mungkin tidak
sepenuhnya tapi setidaknya kami telah menghilangkan rasa canggung kami dan dia adalah
orang pertama yang mengetahui kalau aku menyukai Cho Mu.
“Kemarin Cho Mu mengatakan sesuatu kepadaku.”
“Mwo? Mengatakan apa?”
“Ia mengatakan “Sa Ka-ya sepertinya Dana menyukaiku.” Dia
mengatakan seperti itu kepadaku.”
Kedua mataku membulat sempurna dan degup jantungku
semakin cepat. Aku bingung harus melakukan apa, karena itu merupakan reaksi
pertamaku dalam menghadapi perasaanku yang baru.
Juni 2016
Bulan dimana pesta perayaan sekolah. Ada bebagai pentas
seni didalamnya. Kelas kamipun mendapatkan flashmop jadi kami sekelas harus
menampilkannya saat hari jadi sekolah nanti.
Akupun menjadi dekat dengan Cho Mu tapi tidak sepenuhnya.
Akupun terus memendam perasaanku. Akupun membicarakannya kepada So Ta, Keli dan
Luna merekapun terkejut dengan apa yang aku bicarakan kalau sebenarnya aku
menyukai Cho Mu.
Tetapi mereka memakluminya dan mereka mulai mendukungku.
Juli 2016
Kami telah duduk di bangku kelas 2 menengah atas. Kami
telah beranjak tumbuh dewasa walaupun tidak sepenuhnya, tetapi perasaanku masih
tetapi ada.
Akupun mulai overprotectif dengannya. Karena orang yang
menyukai Cho Mu tidaklah hanya aku seorang di sekolah. Dari kelas 1 sampai
kelas 3 pasti ada dan aku memakluminya. Sifatnya yang perhatian dan membuat
tertawa orang itulah yang membuatnya disukai banyak orang. Disukai dalam hal keterampilannya
dan menyukainya dalam hal perasaan untuk memilikinya.
Agustus 2016
Bulan kelahiranku. Tanggal 04 agustus 2016 akupun
mendapatkan ucapan dan doa dari banyak orang yang mengenalku, aku sangat senang
bahkan berali-kali aku mengucapkan banyak terimakasih kepada orang yang telah
mengucapkan kata, keinginan dan doa untuk umurku yang ke 16 tahun ini.
Tetapi aku menunggu seseorang untuk mengucapkan sesuatu
di hari spesialku ini. Akupun merebahkan tubuhku ditempat tidur empukku.
Kupasang earphone ditelingaku sesekali kubuka aplikasi komik online di ponselku
dan membalas chat group kelas hanya untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan.
Kedua mataku telah mengisyaratkan untuk menutup tetapi
aku berusaha menolaknya. Ku berusaha bangun sampai tengah malam. Aku benar-benar
menunggunya hingga tengah malam hari inipun berganti esok pukul 00:01. Yah,
benar ia tidak mengucapkannya. Akupun menutup kedua mataku.
~Keesokan
harinya~
Kami sekelas mendapatkan sebuah proyek membuat mading 3
dimensi. Akupun duduk didepannya iapun menatapku lalu kembali mengerjakan
proyek kami.
Aku hanya menatap apa yang sedang ia kerjakan lalu...
“Heum, hya orang ini ulang tahun bukan?”
“Hya’ So Ta, apakah orang ini berulang tahun kemarin?”
Ia hanya mengatakan hal itu berulang kali tanpa
mengucapkan kata apapun. Tanpa memberi embel-embel “Kau ulang tahunkan kemarin?
Selamat ulang tahun ya.” atau “Ciee ulang tahun. Selamat ya. Traktiran jangan
lupa.” Itupun tidak.
Fakkk! Hanya batin yang bisa bercerita.
~Beberapa hari kemudian~
“Ini mau pada kemana?” Cho Mu Noona.
“Traktiran Dana. Dana ulang tahun.” Cho Mu.
“Jinjja?” Cho Mu Noona.
“Noonaku juga ulang tahun tanggal 17 kemarin.” Cho Mu.
“Saengil Chukkae Dana.”
What the... Apa itu barusan? Noonanya mengucapkan ulang
tahun kepadaku? Hash ini mimpi atau?God? Apa tadi? Bagaimana ekspresiku?
Seperti apa wajahku? Apa aku seperti orang bodoh?
“Nugu? Siapa yang ulang tahun?” Cho Mu Eomma.
“Dana, Eomma..” Cho Mu.
“Selamat ulang tahun ya..” Cho Mu Eomma.
AAAAA, sekeluarga tahu aku ulang tahun. Mereka mengucapkan
dihari yang sama Oh god kenapa aku terlalu membawa perasaanku disini? Mereka
hanya mengucapkan ulang tahun saja dan itu wajar bukan?
September 2016
Aku selalu chat dengan Sa Ka dengan tujuan memantau secara
tidak langsung seperti apa saja yang ia lakukan dirumah, sedang apa? Jika Sa Ka
tidak membalas aku akan chat terus menerus sampai ia membalas chatku. Aku
mungkin telah over terhadapnya tetapi secara tidak sadar itu terlalu menonjol
dan sepertinya Cho Mu telah mengetahuinya.
Terlalu terbawa soal perasaan atau takut kehilangannya
aku terus seperti ini memantaunya melalui Sa Ka. Ketakutanku adalah jika ia
mengetahui kalau aku menyukainya dan ia akan menjauhiku. Tetapi saat aku
mendekatinya atau berbicara dengannya responya hanya biasa saja. Mungkin dia
belum mengetahuinya.
“Dana-ya...” So Ta.
“Wae?”
“Apa kau benar-benar menyukai Cho Mu?”
“Heum, Ne. Wae?”
“Hm, bukannya apa. Tetapi aku merasa kasihan kepadamu.
Sampai kapan kau akan seperti ini? Lihatlah Cho Mu dia namja kurang ajar, aku
bingung harus menggambarkan sifatnya seperti apa dan bagaimana. Apa kau benar
menyukainya?”
Aku hanya terdiam sesaat dan memikirkan pertanyaan So Ta.
“Ne. Naega johaeyo.”
“Geurae. Aku akan mendukungmu.”
Oktober 2016
Kebiasaan stalkingku mulai berhenti di bulan oktober ini.
Aku telah menyimpulkan bahwa Cho Mu telah mengetahui perasaanku kepadanya.
Tetapi aku membiarkanya selama aku masih dekat dengannya tidak masalah bukan?
Banyak perempuan yang menyukai Cho Mu. Tetapi aku tidak
menghiraukannya silahkan kalian menyukainya toh aku teman sekelasnya dan teman
dekatnya, jadi akulah yang mendapatkan hal yang paling banyak dengan Cho Mu.
Bukannya aku ingin memamerkan atau menyombongkan apa yang aku punyai tetapi ini
adalah sebuah fakta yang dimana aku harus mensyukuri dengan apa yang aku
rasakan dan aku punyai sekarang.
Apakah kalian pernah tertawa bersama? Digonceng? Bermain
kerumahnya? Diucapkan selamat ulangtahun dengan Eonni dan Eommanya? Mengerjakan
tugas bersama? Bermain hingga larut malam bersama? Makan bersama?
Kalian belum pernah bukan?
Aku telah merasakannya.
Tetapi chinguku pernah
mengatakan kepadaku sebuah kata-kata yang selalu membuatku terbayang-bayang “Mendung
belum tentu hujan dan Dekat belum tentu jadian.”
Akupun mulai lelah
menunggunya dan selalu memperhatikannya. Sampai kapan ceritaku seperti ini?
Apakah akan seperti ini terus hingga akhir? Sekejab pikiranku memikirkan hal
apakah aku harus move on?
Hai!! Itu tidak segampang
seperti kau membalikkan telapak tanganmu. Tapi aku memulainya dengan menganti
nama kontaknya yang dulu Bantet menjadi Cho Mu.
~Keesokan harinya~
Aku mulai berpikir oke aku
akan memperhatikannya sampai dihari ulang tahunnya. Setelah itu aku akan benar-benar
meninggalkannya dan mengubur perasaanku ini dalam-dalam.
Didalam kelas aku terus
terfokus dengan layar laptopku karena tugas yang belum selesai. Seseorangpun
dengan percaya dirinya duduk disampingku dan itu terlalu dekat. Akupun menoleh
dan what?
Itu Cho Mu! Wae? Wae? Kenapa
kau tidak memberikanku sedikit ruang untuk aku berusaha meninggalkan
perasaanku. Aku berusaha keras walaupun itu baru dimulai.
Degan spontan aku
mengarahkan posisi dudukku agak menjauh darinya. Aku ingin benar-benar pergi
dari perasaanku ini.
November
2016
Bulan kelahiran Cho Mu.
Secara fisik aku telah merasakan semua hal kesenangan bersamanya. Tertawa,
sedih, pergi, bermain semua telah aku rasakan bersamanya. Aku telah bersyukur
karena Tuhan telah memberikanku izin untuk merasakan hal itu tetapi ada sedikit
rasa kurang puas di dalam diriku. Aku belum merasakan satu hal yaitu rasa
perhatiannya terhadapku.
Tanggal 13 November 2016
aku rela bangun hinga tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun
terhadapnya dan apa? Ia membalasnya pagi sekitar jam 7. Semua chat dari Cho Mu
tidak pernah ku hapus aku selalu membiarkannya.
Akupun berinisiatif
menyatakan perasaaku karena aku sudah merancangnya dari tempo hari yang lalu.
Akupun menyatakannya “ Hm,
mianhae jika selama ini aku menyukaimu seburuk ini. Aku membuat rasa canggung
seandainya kita bertemu atau berkumpul bersama. Aku tahu maksudmu kau pura-pura
tidak tahu perasaanku ini. Gwenchana, jika kau tidak menyukaiku. Tapi setiap
canggunng tolong kau juga jangan ikut canggung karena itu juga akan membuatku
canggung. Aku takut kejadian tahun lalu itu saat aku menyukai Sa Ka terulang
kembali. Mianhae, jinjja mianhae jika aku membuatmu tidak nyaman dengan perasaanku.
Semisalnya kau sudah mengajakku bicara atau tertawa bersama tolong tetaplah
seperti itu, jangan tiba-tiba kau mendiamkanku tanpa sebab itu membuatku semakin
bingung.”
Aku sudah menjelaskannya
dan merangkai kata sebaik mungkin tetapi ia hanya membalas “Yaelah slow aja
Dana. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
Fakkk sumpah ini. Tetapi
gwenchana setidaknya aku telah menyatakannya dan responnya sejauh ini baik-baik
saja kepadaku.
Sejak itulah aku dan Cho
Mu semakin dekat. Cho Mu selalu chat menanyakan tugas kepadaku dan kami
akhir-akhir ini mendapatkan kelompok tugas yang bersamaan dan itu juga membuat
kami semakin dekat.
Disaat ia meminta untuk
mengirimi foto tugas dengan bodoh dan senangnya aku mengiriminya jelas-jelas kuota
internetku sedang menipis dan apa? Keesokan harinya ia tidak mengerjakaanya dan
untuk apa aku mengiriminya kemarin?
Lalu disaat malam hujan
deras aku mengurungkan niatku untuk pergi les tetapi ia memintaku untuk datang
dan mengajarinya. Jelas-jelas hujan dan itu malam, aku sangat tidak suka disaat
aku berkendara montor sendiran saat malam hari ditambah lagi hujan, aku sangat
membencinya karena suatu trauma dahulu. Dan dengan bodohnya lagi aku
melakukannya aku pergi les. Setelah aku mengajarinya susah payah pada akhirnya
ia mengatakan “Sepertinya aku sudah tidak mood untuk belajar.”
Hya’ aku rela kehujanan
demi kau bodoh! Hanya demi kau bisa mendapatkan nilai baik, aku ingin
membantumu dan aku tulus tapi kau menyia-nyiakannya!
Apa aku terlalu baik dan aku
terlalu bodoh? Akupun menjawabnya sendiri itu tidak beda tipis. Semua hal
disaat ia datang kepadaku dan meminta pertolongan aku selalu dengan tangan
terbuka menolongnya tetapi disaat aku meminta tolong kepadanya atau meminta
sedikit perhatianya dia menghilang entah kemana. Ucapan terimakasihpun bahkan
tidak pernah ia katakan kepadaku, aku tidak butuh barang apa-apa darimu aku
hanya ingin rasa terimakasihmu karena aku sudah menolongmu pun itu tidak!
Kenapa aku sebigitu
bodohnya? Wae naega jinjja jinjja paboya? Wae? Sudah jelas ia tidak pernah
merespon perasaanmu tetapi kau selalu memperhatikannya.
***
Semua yang aku rasakan
tidak semudah apa yang aku jabarkan dalam tulisan ini. Begitu sulit aku
gambarkan lalu aku tuangkan dalam bentuk kata-kata. Cho Mu sekarang bukanlah
Ryo Cho Mu yang dulu seperti yang kalian kenal. Sekarang telah berbeda semua
orang mengatakan jalan pikirnya sulit ditebak, pemikiranya luas bahkan hitam seperti
dalam gegelapan kalian tidak akan bisa melihat apa-apa seperti itulah
bentuknya. Kadang kami tidak menyangka bila ia melakukan hal yang tidak seperti
yang kami bayangkan.
Kalian hanya tahu dari
luar fisiknya Cho Mu seperti apa bukan? Kalian hanya mengetahui jika ia supel, banyak
teman dan banyak orang yang mengenalinya, pemikirannya luas, jago dance, bisa
membuat orang tersenyum atau istilahnya moodboster. Itulah yang kalian ketahui
dari luarnya. Tetapi ketahuilah semua itu busuk! Kau tahu memang benar ia
mempunyai banyak teman tapi kadang kalanya ia masa bodoh dengan teman yang
sangat dekat dengannya contohnya teman sekelasnya bagaimana ia
memperlakukannya. Ia hanya ingin dilihat dari sudut pandang orang lain atau
yang tidak begitu mengenalnya bahwa ia sebenarnya namja yang cool, keren dan
tampan. Tapi ia juga ingin dilihat dari sudut teman dekatnya bahwa sebenarnya
ia iblis. Cho Mu sangat mempunyai banyak wajah asalkan kalian tahu. Jadi kalian
jangan sekali-kali bermain dengannya. Karena ia begitu licik.
***
Desember 2016
Sepertinya acara move onku itu
benar-benar gagal malah sekarang perasaanku mulai terbiasa dengan keadaan. Aku
telah mengikuti semua seperti alurnya, sedikit demi sedikitku ikuti alurnya bahkan
aku tidak tahu bagaimana berakhirnya alur yang aku ikuti itu. Apakah indah atau
buruk? Aku tidak tahu.
Biasanya aku selalu chat Sa Ka
untuk memantau Cho Mu sekarang aku benar-benar jarang bahkan tidak pernah
melakukannya lagi. Dulu selalu bingung ingin chat dengan Cho Mu atau bingung
kenapa Cho Mu tidak chat tetapi sekarang aku telah terbiasa apabila tidak chat
atau Cho Mu tidak chat.
Seorang teman sekelaskupun
mengatakan hal kepadaku “Dana-ya jika ku perhatikan perjuanganmu itu tidak
kecil dan tidak sedikit. Kau tahu perjuanganmu sangat besar.”
Apa karena semua tergantung bagaimana
waktu dan keadaan yang membawa kita kemana? Dan dalam keadaan seperti apa?
“Dana-ya...” So Ta.
“Ne, wae?”
“Aku ingin menceritakan sesuatu
kepadamu.” So Ta.
“Ne, ceritalah aku akan
mendengarkannya.”
“Kemarin sore setelah kau pulang.
Aku dan kelompokknya Keli masih disini teryata Cho Mu datang kemari dan pertama
kali yang ia tanyakan adalah kau. “Dana eodi?” Seperti itu.” So Ta.
“Jinjja? Mungkin ia ingin meminta
tolong sesuatu.” Jawabku.
“Lalu aku menyuruhnya untuk
mengatarkanku untuk mejilid tugas. Sesampainya ia datang kerumahku dan aku
mendekatinya ia berkata “Sebenarnya aku ingin mengerjakan tugas bersama Dana.”
Itulah yang ia katakan Dana. Jinjja aku mengatakan dengan sungguh-sungguh aku
tidak berbohong.” So Ta.
Aku hanya terdiam. Lantas apa
semua itu? Apakah hanya permintaan sebatas pertolongan atau yang lainnya? Kali
ini aku menjawabnya lagi, ini adalah permintaan pertolongan sebuah teman.
Ujian semester awalpun tiba.
Dihari pertama ujianpun aku bertemu dengan seorang namja, dia adalah Hoobae. Tingkahnya
hasshh sangat menjengkelkan dan aku sangat tidak menyukai tingkah lakunya. So
Ta pernah berkata kepadaku kalau hoobae itu bisa melihat sesuatu yang tidak
bisa kita lihat.
Suatu ketika ia mengatakan
kepadaku “Eonni aku sangat kasihan kepadamu. Aku benar-benar kasihan kepadamu.
Kau selalu memperhatikannya dari bagian terkecil hingga terbesar terdalam
maupan luar tetapi dia tidak.”
Deg! Akupun hanya bisa terdiam apakah seperti
itukah? Kau? Cho Mu? Perjuangku selama ini tidak pernah kau perdulikan? Aku
rela melakukan semua hal bahkan sampai hal yang aku takuti dan aku benci aku
rela untuk melampauinya.
Akupun menatapnya, ia sedang
mengisi lembar kerjanya. “Apa sedikit saja kau tidak pernah memikirkannya
seperti apa perjuanganku? Aku telah mengikuti alurnya sebisa yang aku bisa, aku
juga lelah mengikutinya. Tetapi sedikit saja kau tidak pernah menoleh untuk
melihatku.”
Haripunku lewati dengan duduk
dekat dengan hoobae aneh itu dan ia terus mengangguku. Tapi itu membuat aneh
bagiku. Di hari pertama ujian saat aku melihat Cho Mu, Cho Mu akan mengatakan
sudah selesai? Kurang berapa nomer? Tetapi ini berbeda ia malah memalingkan
wajahnya.
Apa dia marah denganku? Karena
apa? Hm, mungkin moodnya sedang down atau ada masalah mungkin dirumah. Akupun tidak
menghiraukannya, tetapi ini berjalan terus kamipun tidak berbicara sama sekali.
Biasanya entah sedang apa ia
memanggil namaku karena hanya membicarakan hal yang tidak penting sama sekali.
Tetapi ini tidak. Oh god apa lagi ini? Kau Cho Mu yang telah memulai
permainannya dan aku dengan senang hati mengikuti permainanmu lalu pada
akhirnya kau menghilang dari permainan dan membiarkanku sendirian menanggung
akhir permainannya.
Akupun berbicara dengan So Ta dan
So Ta juga menyadarinya. Lalu ia mengatakan apa karena hoobae yang duduk
disampingku itu yang selalu menganggumu? Dan membuat Cho Mu cemburu kepadamu?
Haish tidak mungkin seorang Cho
Mu seperti itu. Mungkin hanya moodnya yang sedang tidak membaik dan aku juga
tidak ingin terlalu percaya diri dan terlalu membawa perasaan dalam hal ini.
Hingga saat ini dia masih tidak
berbicara denganku. Berulang kali aku mencoba membantunya dan aku juga mencoba
untuk mengajaknya berbicara tetapi usahaku sepertinya sia-sia, ia tidak meresponya
sama sekali.
Entah sampai kapan ia akan
mendiamkanku tanpa sebab seperti ini. Kurang sabar seperti apa aku ini? Aku
tahu aku hanya bisa menunggu, sabar dan selalu menerima kenyataan bahwa pada
akhirnya dan sampai sekarang hanya akulah yang berjuangan sendirian sampai
akhir.
Kenapa aku sangat dan benar-benar
bodoh seperti ini? Dari awal hingga akhir hanya aku yang memperjuangkan
perasaan ini. Banyak chingu seperti So Ta, Keli, Han Hiya, Luna dan teman namja
yang lainnya sudah memberiku nasehat dan memperingatiku berhentilah menyukai
Cho Mu tetapi aku tidak menghiraukannya dan malah mengikuti hawa nafsuku saja.
Memang semua ini salahku, semua permasalahan berawal padaku. Kenapa aku juga
harus menyukai Cho Mu bila awalnya aku telah tahu jika aku tidak bisa
memilikinya.
Tapi cobalah untuk mengahargai
cara prosesku sampai sekarang. Perjuanganku mempertahankan perasaanku
terhadapmu. Aku tulus dalam semua hal tentangmu, aku tidak ingin imbalan apapun
darimu. Aku hanya ingin kau berbalik, menoleh lalu melihat semua perjuanganku
kepadamu selama ini. Itu tidak semudah yang kau bayangkan. Ini sangat sulit dan
begitu sakit melebihi tahun lalu.
Aku hanya ingin rasa perhatianmu
entah itu dalam bentuk perkataan atau perbuatan bahkan tak terlihat. Aku akan
menghargainya walaupun itu kecil. Seandainya sedikit saja kau melihat perjuanganku
seperti apa dan sesuli apa? Hah, apakah aku terlalu suka meninggikan
imajinasiku? Semua yang aku inginkan mungkin hah bahkan tidak akan pernah
terjadi. Itu hanyalah fantasi imajinasi dalam pikiranku.
END.







