Selasa, 06 Desember 2016

My Life In 2016



Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Ryo Cho Mu, Jung Sa Ka, Seo Dana, Hyo So Ta
Other cast: Han Hiya, Park Keli, Kim Luna
Genre : Hurt romance
 (INSPIRED BY SND STORY)
Januari 2016
Pandangan kedua mataku hanya tertuju kesebuah objek yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Seperti waktu berhenti dan terhenti kepadamu dan karenamu.
Entah mungkin karena aku terlalu hanyut didalamnya atau bagaimana? Ketika kedua matanya menyipit, bibirnya tersenyum lebar, gigi putih susunya yang terlihat saat ia tertawa dan itu semua membuatku benar-benar hanyut karenanya.
Akupun mulai memikirkan suatu hal, disaat tahun 2015 aku telah patah hati. Menyukai seorang sahabatku sendiri dan itu membuatku sangat sakit.
Saat itu aku sedang duduk sendirian didalam kelas, moodku sedang down. Pikiranku sedang tidak normal mungkin lelah atau stress. Seseorangpun datang ia duduk didepanku, dengan cara entah bagaimana ia membuat bibirku menggambarkan sebuah senyuman.
Saat aku tertawa iapun menatapku, entah ia memikirkan hal apa.  Waktupun begitu cepat setelah mengetahui aku baik-baik saja iapun meninggalkanku.

Februari 2016
Aku terus memikirkan perasaanku yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit ini. Tetapi aku tidak terlalu banyak untuk memikirkannya. Tetapi ada kalanya juga aku memikirkannya hal kecil ini. Mungkin aku masih labil kadang bertingkah laku tidak sesuai perkataan yang telah aku ucapkan.
Pikiranku sedang kosong saat itu, aku hanya bermain dengan menggeser berulang kali layar ponselku. Iapun datang lalu duduk disampingku, aku menatap wajahnya sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa...
Cukup lama ia duduk disampingku, sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang sedang ia alami karena aku teman perempuan sekelasnya yang bisa dikatakan cukup dekat dengannya, mungkin jika aku cukup dekat ia bisa sedikit terbuka denganku dan mungkin juga aku bisa memberikan saran jika ia ada masalah. Tetapi aku terus memikirkannya berulang kali sampai...
“Kau tidak apa-apa?”
Ia hanya menatapku tetapi aku mengalihkan pandanganku dengan menggeser berulang kali layar poselku. Tanpa aba-aba ia pergi begitu saja.
Itulah pertama kalinya volume detak jantungku tidak karuan karna ia menatapku  hanya beberapa detik saja, ia bisa membuat jantungku terkoyak.

Maret 2016
Perasaanku mulai tidak karuan, aku sangat membencinya. Apa mungkin benar tentang perasaanku ini? Bagaimana bisa aku menyukai sahabatku lagi? Apa aku tidak takut jika kejadian tahun lalu terulang kembali? Jelas! Sudah terjawab! Aku tidak mau kejadian tahun lalu itu terulang kembali dengan menyukai sahabatku sendiri. Aku sangat membencinya, semua tentang perasaanku saat ini.
Ini membuat perasaanku benar-benar seperti terulang ke masa lalu dimana aku menyukai seseorang tetapi dengan egoisnya ia tidak memikirkan perasaaku sama sekali. Aku takut semua itu terulang kembali. Ini semua membuatku gelisah hingga...
“Dana... Kau tidak apa-apa?”
Akupun menoleh, ia sedikit khawatir denganku. Ia adalah teman sebangkuku Han Hiya, dia mengetahui semua tentang perjalanan cerita cintaku. Dimana karena hanya aku menyukai seseorang aku jarang masuk sekolah karena sakit. Ia sangat khawatir. Mungkin aku sungguh berlebihan karena menyukai seseorang saja aku bisa sakit, tapi itulah yang terjadi waktu itu aku tidak bisa mengelak.
Kuceritakan semua yang aku rasakan dan ia berkata “Gwenchana. Tidak apa-apa.”
“Aniya! Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menyukainya?” Tanyaku.
“Apanya yang tidak mungkin. Sudah jelas sekarang ini kau bimbang menyukainya atau tidak. Hya’ dengarkan kata-kataku ini, manusia berkata tidak mungkin hanya untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana untuk kesempatan yang kedua nanti? Tidak mungkin itu akan menjadi mungkin.” Jawab Han Hiya.

April 2016
Sesuai berjalannya waktu. Aku harus menjawab sedang apa dan kenapa dengan perasaaku ini yang selalu membuatku gelisah. Memang tahun lalu adalah masa terkelam dalam hidupku dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Aku telah berjanji menutup hati dan persaanku untuk menyukai orang lain.
Tetapi aku hanyalah seorang manusia, seorang perempuan yang lemah yang tidak bisa lari dari sebuah kenyataan bahwa aku menyukai sahabatku. Ryo Cho Mu...
Aku pernah mengatakan dengan nada tinggi “Untuk apa menyukai Cho Mu? Namja seperti Cho Mu saja! Hah!”
“Apa yang disukai dari Cho Mu? Kenapa kau menyukai Cho Mu coba?”
Semua perkataanku itu keluar begitu saja dari mulutku pada tahun lalu dan apa sekarang? Aku malah berbalik arah menyukainya. Aku menarik semua perkataanku. Aku menelan sendiri semua perkataanku terhadap Cho Mu. Apakah ini hukuman? Atau sebuah kebiasaan jika seorang tidak menyukai seseorang itu dan ia menjelek-jelekannya ia akan berbalik rasa benci itu menjadi rasa suka? Apakah seperti ini?
Akupun berusaha bersikap seperti biasa dengan tidak terlalu menampakkan perasaanku.

Mei 2016
Kamipun berkumpul seperti biasa bermain bersama meluangkan waktu bersama untuk menikmati hari. Entah bagaimana awalnya topikpun berganti menjadi tentang perasaan. Kami memang dekat Aku, Jung Sa Ka, Hyo So Ta dan Ryo Cho Mu. Karena kami selalu bermain, mengerjakan tugas dan keluar bersama-sama mungkin itu yang membuat kami ber-4 menjadi dekat. Suatu ketika topikpun menjadi...
“Kemarin Cho Mu memikirkan So Ta.” Sa Ka.
“Hee? Aku pikir itu tidak mungkin.” So Ta.
“Hya’ kau memikirkan hal itu? Mana mungkin aku memikirkan So Ta, kau tahu bukan kami sudah berteman sejak sekolah dasar.” Cho Mu.
Akupun hanya menatap Cho Mu dengan tatapan sayu, apa mungkin kejadian tahun lalu akan terjadi kembali? Seperti dulu aku menyukai Sa Ka tetapi kenyataanya Sa Ka menyukai So Ta?
Dengan lirih sebuah perkataan muncul lewat bibirku “Apa itu benar?”
Iapun menatapku dengan ekspresi wajah sedang memikirkan sesuatu lalu “Ne. Benar aku tidak memikirkan So Ta.”
~Keesokan harinya~
“Dana-ya...” Sa Ka.
Dari kejadian tahun lalu hubungan pertemanan kami menjadi dekat dan kami telah benar-benar melupakan kejadian itu. Mungkin tidak sepenuhnya tapi setidaknya kami telah menghilangkan rasa canggung kami dan dia adalah orang pertama yang mengetahui kalau aku menyukai Cho Mu.
“Kemarin Cho Mu mengatakan sesuatu kepadaku.”
“Mwo? Mengatakan apa?”
“Ia mengatakan “Sa Ka-ya sepertinya Dana menyukaiku.” Dia mengatakan seperti itu kepadaku.”
Kedua mataku membulat sempurna dan degup jantungku semakin cepat. Aku bingung harus melakukan apa, karena itu merupakan reaksi pertamaku dalam menghadapi perasaanku yang baru.

Juni 2016
Bulan dimana pesta perayaan sekolah. Ada bebagai pentas seni didalamnya. Kelas kamipun mendapatkan flashmop jadi kami sekelas harus menampilkannya saat hari jadi sekolah nanti.
Akupun menjadi dekat dengan Cho Mu tapi tidak sepenuhnya. Akupun terus memendam perasaanku. Akupun membicarakannya kepada So Ta, Keli dan Luna merekapun terkejut dengan apa yang aku bicarakan kalau sebenarnya aku menyukai Cho Mu.
Tetapi mereka memakluminya dan mereka mulai mendukungku.

Juli 2016
Kami telah duduk di bangku kelas 2 menengah atas. Kami telah beranjak tumbuh dewasa walaupun tidak sepenuhnya, tetapi perasaanku masih tetapi ada.
Akupun mulai overprotectif dengannya. Karena orang yang menyukai Cho Mu tidaklah hanya aku seorang di sekolah. Dari kelas 1 sampai kelas 3 pasti ada dan aku memakluminya. Sifatnya yang perhatian dan membuat tertawa orang itulah yang membuatnya disukai banyak orang. Disukai dalam hal keterampilannya dan menyukainya dalam hal perasaan untuk memilikinya.

Agustus 2016
Bulan kelahiranku. Tanggal 04 agustus 2016 akupun mendapatkan ucapan dan doa dari banyak orang yang mengenalku, aku sangat senang bahkan berali-kali aku mengucapkan banyak terimakasih kepada orang yang telah mengucapkan kata, keinginan dan doa untuk umurku yang ke 16 tahun ini.
Tetapi aku menunggu seseorang untuk mengucapkan sesuatu di hari spesialku ini. Akupun merebahkan tubuhku ditempat tidur empukku. Kupasang earphone ditelingaku sesekali kubuka aplikasi komik online di ponselku dan membalas chat group kelas hanya untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan.
Kedua mataku telah mengisyaratkan untuk menutup tetapi aku berusaha menolaknya. Ku berusaha bangun sampai tengah malam. Aku benar-benar menunggunya hingga tengah malam hari inipun berganti esok pukul 00:01. Yah, benar ia tidak mengucapkannya. Akupun menutup kedua mataku.
~Keesokan harinya~
Kami sekelas mendapatkan sebuah proyek membuat mading 3 dimensi. Akupun duduk didepannya iapun menatapku lalu kembali mengerjakan proyek kami.
Aku hanya menatap apa yang sedang ia kerjakan lalu...
“Heum, hya orang ini ulang tahun bukan?”
“Hya’ So Ta, apakah orang ini berulang tahun kemarin?”
Ia hanya mengatakan hal itu berulang kali tanpa mengucapkan kata apapun. Tanpa memberi embel-embel “Kau ulang tahunkan kemarin? Selamat ulang tahun ya.” atau “Ciee ulang tahun. Selamat ya. Traktiran jangan lupa.” Itupun tidak.
Fakkk! Hanya batin yang bisa bercerita.
~Beberapa hari kemudian~
“Ini mau pada kemana?” Cho Mu Noona.
“Traktiran Dana. Dana ulang tahun.” Cho Mu.
“Jinjja?” Cho Mu Noona.
“Noonaku juga ulang tahun tanggal 17 kemarin.” Cho Mu.
“Saengil Chukkae Dana.”
What the... Apa itu barusan? Noonanya mengucapkan ulang tahun kepadaku? Hash ini mimpi atau?God? Apa tadi? Bagaimana ekspresiku? Seperti apa wajahku? Apa aku seperti orang bodoh?
“Nugu? Siapa yang ulang tahun?” Cho Mu Eomma.
“Dana, Eomma..” Cho Mu.
“Selamat ulang tahun ya..” Cho Mu Eomma.
AAAAA, sekeluarga tahu aku ulang tahun. Mereka mengucapkan dihari yang sama Oh god kenapa aku terlalu membawa perasaanku disini? Mereka hanya mengucapkan ulang tahun saja dan itu wajar bukan?

September 2016
Aku selalu chat dengan Sa Ka dengan tujuan memantau secara tidak langsung seperti apa saja yang ia lakukan dirumah, sedang apa? Jika Sa Ka tidak membalas aku akan chat terus menerus sampai ia membalas chatku. Aku mungkin telah over terhadapnya tetapi secara tidak sadar itu terlalu menonjol dan sepertinya Cho Mu telah mengetahuinya.
Terlalu terbawa soal perasaan atau takut kehilangannya aku terus seperti ini memantaunya melalui Sa Ka. Ketakutanku adalah jika ia mengetahui kalau aku menyukainya dan ia akan menjauhiku. Tetapi saat aku mendekatinya atau berbicara dengannya responya hanya biasa saja. Mungkin dia belum mengetahuinya.
“Dana-ya...” So Ta.
“Wae?”
“Apa kau benar-benar menyukai Cho Mu?”
“Heum, Ne. Wae?”
“Hm, bukannya apa. Tetapi aku merasa kasihan kepadamu. Sampai kapan kau akan seperti ini? Lihatlah Cho Mu dia namja kurang ajar, aku bingung harus menggambarkan sifatnya seperti apa dan bagaimana. Apa kau benar menyukainya?”
Aku hanya terdiam sesaat dan memikirkan pertanyaan So Ta. “Ne. Naega johaeyo.”
“Geurae. Aku akan mendukungmu.”
 
Oktober 2016
Kebiasaan stalkingku mulai berhenti di bulan oktober ini. Aku telah menyimpulkan bahwa Cho Mu telah mengetahui perasaanku kepadanya. Tetapi aku membiarkanya selama aku masih dekat dengannya tidak masalah bukan?
Banyak perempuan yang menyukai Cho Mu. Tetapi aku tidak menghiraukannya silahkan kalian menyukainya toh aku teman sekelasnya dan teman dekatnya, jadi akulah yang mendapatkan hal yang paling banyak dengan Cho Mu. Bukannya aku ingin memamerkan atau menyombongkan apa yang aku punyai tetapi ini adalah sebuah fakta yang dimana aku harus mensyukuri dengan apa yang aku rasakan dan aku punyai sekarang.
Apakah kalian pernah tertawa bersama? Digonceng? Bermain kerumahnya? Diucapkan selamat ulangtahun dengan Eonni dan Eommanya? Mengerjakan tugas bersama? Bermain hingga larut malam bersama? Makan bersama?
Kalian belum pernah bukan? Aku telah merasakannya.
Tetapi chinguku pernah mengatakan kepadaku sebuah kata-kata yang selalu membuatku terbayang-bayang “Mendung belum tentu hujan dan Dekat belum tentu jadian.”
Akupun mulai lelah menunggunya dan selalu memperhatikannya. Sampai kapan ceritaku seperti ini? Apakah akan seperti ini terus hingga akhir? Sekejab pikiranku memikirkan hal apakah aku harus move on?
Hai!! Itu tidak segampang seperti kau membalikkan telapak tanganmu. Tapi aku memulainya dengan menganti nama kontaknya yang dulu Bantet menjadi Cho Mu.
~Keesokan harinya~
Aku mulai berpikir oke aku akan memperhatikannya sampai dihari ulang tahunnya. Setelah itu aku akan benar-benar meninggalkannya dan mengubur perasaanku ini dalam-dalam.
Didalam kelas aku terus terfokus dengan layar laptopku karena tugas yang belum selesai. Seseorangpun dengan percaya dirinya duduk disampingku dan itu terlalu dekat. Akupun menoleh dan what?
Itu Cho Mu! Wae? Wae? Kenapa kau tidak memberikanku sedikit ruang untuk aku berusaha meninggalkan perasaanku. Aku berusaha keras walaupun itu baru dimulai.
Degan spontan aku mengarahkan posisi dudukku agak menjauh darinya. Aku ingin benar-benar pergi dari perasaanku ini.

November 2016
Bulan kelahiran Cho Mu. Secara fisik aku telah merasakan semua hal kesenangan bersamanya. Tertawa, sedih, pergi, bermain semua telah aku rasakan bersamanya. Aku telah bersyukur karena Tuhan telah memberikanku izin untuk merasakan hal itu tetapi ada sedikit rasa kurang puas di dalam diriku. Aku belum merasakan satu hal yaitu rasa perhatiannya terhadapku.
Tanggal 13 November 2016 aku rela bangun hinga tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun terhadapnya dan apa? Ia membalasnya pagi sekitar jam 7. Semua chat dari Cho Mu tidak pernah ku hapus aku selalu membiarkannya.
Akupun berinisiatif menyatakan perasaaku karena aku sudah merancangnya dari tempo hari yang lalu.
Akupun menyatakannya “ Hm, mianhae jika selama ini aku menyukaimu seburuk ini. Aku membuat rasa canggung seandainya kita bertemu atau berkumpul bersama. Aku tahu maksudmu kau pura-pura tidak tahu perasaanku ini. Gwenchana, jika kau tidak menyukaiku. Tapi setiap canggunng tolong kau juga jangan ikut canggung karena itu juga akan membuatku canggung. Aku takut kejadian tahun lalu itu saat aku menyukai Sa Ka terulang kembali. Mianhae, jinjja mianhae jika aku membuatmu tidak nyaman dengan perasaanku. Semisalnya kau sudah mengajakku bicara atau tertawa bersama tolong tetaplah seperti itu, jangan tiba-tiba kau mendiamkanku tanpa sebab itu membuatku semakin bingung.”
Aku sudah menjelaskannya dan merangkai kata sebaik mungkin tetapi ia hanya membalas “Yaelah slow aja Dana. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
Fakkk sumpah ini. Tetapi gwenchana setidaknya aku telah menyatakannya dan responnya sejauh ini baik-baik saja kepadaku.
Sejak itulah aku dan Cho Mu semakin dekat. Cho Mu selalu chat menanyakan tugas kepadaku dan kami akhir-akhir ini mendapatkan kelompok tugas yang bersamaan dan itu juga membuat kami semakin dekat.
Disaat ia meminta untuk mengirimi foto tugas dengan bodoh dan senangnya aku mengiriminya jelas-jelas kuota internetku sedang menipis dan apa? Keesokan harinya ia tidak mengerjakaanya dan untuk apa aku mengiriminya kemarin?
Lalu disaat malam hujan deras aku mengurungkan niatku untuk pergi les tetapi ia memintaku untuk datang dan mengajarinya. Jelas-jelas hujan dan itu malam, aku sangat tidak suka disaat aku berkendara montor sendiran saat malam hari ditambah lagi hujan, aku sangat membencinya karena suatu trauma dahulu. Dan dengan bodohnya lagi aku melakukannya aku pergi les. Setelah aku mengajarinya susah payah pada akhirnya ia mengatakan “Sepertinya aku sudah tidak mood untuk belajar.”
Hya’ aku rela kehujanan demi kau bodoh! Hanya demi kau bisa mendapatkan nilai baik, aku ingin membantumu dan aku tulus tapi kau menyia-nyiakannya!
Apa aku terlalu baik dan aku terlalu bodoh? Akupun menjawabnya sendiri itu tidak beda tipis. Semua hal disaat ia datang kepadaku dan meminta pertolongan aku selalu dengan tangan terbuka menolongnya tetapi disaat aku meminta tolong kepadanya atau meminta sedikit perhatianya dia menghilang entah kemana. Ucapan terimakasihpun bahkan tidak pernah ia katakan kepadaku, aku tidak butuh barang apa-apa darimu aku hanya ingin rasa terimakasihmu karena aku sudah menolongmu pun itu tidak!
Kenapa aku sebigitu bodohnya? Wae naega jinjja jinjja paboya? Wae? Sudah jelas ia tidak pernah merespon perasaanmu tetapi kau selalu memperhatikannya.

***
Semua yang aku rasakan tidak semudah apa yang aku jabarkan dalam tulisan ini. Begitu sulit aku gambarkan lalu aku tuangkan dalam bentuk kata-kata. Cho Mu sekarang bukanlah Ryo Cho Mu yang dulu seperti yang kalian kenal. Sekarang telah berbeda semua orang mengatakan jalan pikirnya sulit ditebak, pemikiranya luas bahkan hitam seperti dalam gegelapan kalian tidak akan bisa melihat apa-apa seperti itulah bentuknya. Kadang kami tidak menyangka bila ia melakukan hal yang tidak seperti yang kami bayangkan.
Kalian hanya tahu dari luar fisiknya Cho Mu seperti apa bukan? Kalian hanya mengetahui jika ia supel, banyak teman dan banyak orang yang mengenalinya, pemikirannya luas, jago dance, bisa membuat orang tersenyum atau istilahnya moodboster. Itulah yang kalian ketahui dari luarnya. Tetapi ketahuilah semua itu busuk! Kau tahu memang benar ia mempunyai banyak teman tapi kadang kalanya ia masa bodoh dengan teman yang sangat dekat dengannya contohnya teman sekelasnya bagaimana ia memperlakukannya. Ia hanya ingin dilihat dari sudut pandang orang lain atau yang tidak begitu mengenalnya bahwa ia sebenarnya namja yang cool, keren dan tampan. Tapi ia juga ingin dilihat dari sudut teman dekatnya bahwa sebenarnya ia iblis. Cho Mu sangat mempunyai banyak wajah asalkan kalian tahu. Jadi kalian jangan sekali-kali bermain dengannya. Karena ia begitu licik.
***
Desember 2016
Sepertinya acara move onku itu benar-benar gagal malah sekarang perasaanku mulai terbiasa dengan keadaan. Aku telah mengikuti semua seperti alurnya, sedikit demi sedikitku ikuti alurnya bahkan aku tidak tahu bagaimana berakhirnya alur yang aku ikuti itu. Apakah indah atau buruk? Aku tidak tahu.
Biasanya aku selalu chat Sa Ka untuk memantau Cho Mu sekarang aku benar-benar jarang bahkan tidak pernah melakukannya lagi. Dulu selalu bingung ingin chat dengan Cho Mu atau bingung kenapa Cho Mu tidak chat tetapi sekarang aku telah terbiasa apabila tidak chat atau Cho Mu tidak chat.
Seorang teman sekelaskupun mengatakan hal kepadaku “Dana-ya jika ku perhatikan perjuanganmu itu tidak kecil dan tidak sedikit. Kau tahu perjuanganmu sangat besar.”
Apa karena semua tergantung bagaimana waktu dan keadaan yang membawa kita kemana? Dan dalam keadaan seperti apa?
“Dana-ya...” So Ta.
“Ne, wae?”
“Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu.” So Ta.
“Ne, ceritalah aku akan mendengarkannya.”
“Kemarin sore setelah kau pulang. Aku dan kelompokknya Keli masih disini teryata Cho Mu datang kemari dan pertama kali yang ia tanyakan adalah kau. “Dana eodi?” Seperti itu.” So Ta.
“Jinjja? Mungkin ia ingin meminta tolong sesuatu.” Jawabku.
“Lalu aku menyuruhnya untuk mengatarkanku untuk mejilid tugas. Sesampainya ia datang kerumahku dan aku mendekatinya ia berkata “Sebenarnya aku ingin mengerjakan tugas bersama Dana.” Itulah yang ia katakan Dana. Jinjja aku mengatakan dengan sungguh-sungguh aku tidak berbohong.” So Ta.
Aku hanya terdiam. Lantas apa semua itu? Apakah hanya permintaan sebatas pertolongan atau yang lainnya? Kali ini aku menjawabnya lagi, ini adalah permintaan pertolongan sebuah teman.
Ujian semester awalpun tiba. Dihari pertama ujianpun aku bertemu dengan seorang namja, dia adalah Hoobae. Tingkahnya hasshh sangat menjengkelkan dan aku sangat tidak menyukai tingkah lakunya. So Ta pernah berkata kepadaku kalau hoobae itu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat.
Suatu ketika ia mengatakan kepadaku “Eonni aku sangat kasihan kepadamu. Aku benar-benar kasihan kepadamu. Kau selalu memperhatikannya dari bagian terkecil hingga terbesar terdalam maupan luar tetapi dia tidak.”
Deg!  Akupun hanya bisa terdiam apakah seperti itukah? Kau? Cho Mu? Perjuangku selama ini tidak pernah kau perdulikan? Aku rela melakukan semua hal bahkan sampai hal yang aku takuti dan aku benci aku rela untuk melampauinya.
Akupun menatapnya, ia sedang mengisi lembar kerjanya. “Apa sedikit saja kau tidak pernah memikirkannya seperti apa perjuanganku? Aku telah mengikuti alurnya sebisa yang aku bisa, aku juga lelah mengikutinya. Tetapi sedikit saja kau tidak pernah menoleh untuk melihatku.”
Haripunku lewati dengan duduk dekat dengan hoobae aneh itu dan ia terus mengangguku. Tapi itu membuat aneh bagiku. Di hari pertama ujian saat aku melihat Cho Mu, Cho Mu akan mengatakan sudah selesai? Kurang berapa nomer? Tetapi ini berbeda ia malah memalingkan wajahnya.
Apa dia marah denganku? Karena apa? Hm, mungkin moodnya sedang down atau ada masalah  mungkin dirumah. Akupun tidak menghiraukannya, tetapi ini berjalan terus kamipun tidak berbicara sama sekali.
Biasanya entah sedang apa ia memanggil namaku karena hanya membicarakan hal yang tidak penting sama sekali. Tetapi ini tidak. Oh god apa lagi ini? Kau Cho Mu yang telah memulai permainannya dan aku dengan senang hati mengikuti permainanmu lalu pada akhirnya kau menghilang dari permainan dan membiarkanku sendirian menanggung akhir permainannya.
Akupun berbicara dengan So Ta dan So Ta juga menyadarinya. Lalu ia mengatakan apa karena hoobae yang duduk disampingku itu yang selalu menganggumu? Dan membuat Cho Mu cemburu kepadamu?
Haish tidak mungkin seorang Cho Mu seperti itu. Mungkin hanya moodnya yang sedang tidak membaik dan aku juga tidak ingin terlalu percaya diri dan terlalu membawa perasaan dalam hal ini.
Hingga saat ini dia masih tidak berbicara denganku. Berulang kali aku mencoba membantunya dan aku juga mencoba untuk mengajaknya berbicara tetapi usahaku sepertinya sia-sia, ia tidak meresponya sama sekali.
Entah sampai kapan ia akan mendiamkanku tanpa sebab seperti ini. Kurang sabar seperti apa aku ini? Aku tahu aku hanya bisa menunggu, sabar dan selalu menerima kenyataan bahwa pada akhirnya dan sampai sekarang hanya akulah yang berjuangan sendirian sampai akhir.
Kenapa aku sangat dan benar-benar bodoh seperti ini? Dari awal hingga akhir hanya aku yang memperjuangkan perasaan ini. Banyak chingu seperti So Ta, Keli, Han Hiya, Luna dan teman namja yang lainnya sudah memberiku nasehat dan memperingatiku berhentilah menyukai Cho Mu tetapi aku tidak menghiraukannya dan malah mengikuti hawa nafsuku saja. Memang semua ini salahku, semua permasalahan berawal padaku. Kenapa aku juga harus menyukai Cho Mu bila awalnya aku telah tahu jika aku tidak bisa memilikinya.
Tapi cobalah untuk mengahargai cara prosesku sampai sekarang. Perjuanganku mempertahankan perasaanku terhadapmu. Aku tulus dalam semua hal tentangmu, aku tidak ingin imbalan apapun darimu. Aku hanya ingin kau berbalik, menoleh lalu melihat semua perjuanganku kepadamu selama ini. Itu tidak semudah yang kau bayangkan. Ini sangat sulit dan begitu sakit melebihi tahun lalu.
Aku hanya ingin rasa perhatianmu entah itu dalam bentuk perkataan atau perbuatan bahkan tak terlihat. Aku akan menghargainya walaupun itu kecil. Seandainya sedikit saja kau melihat perjuanganku seperti apa dan sesuli apa? Hah, apakah aku terlalu suka meninggikan imajinasiku? Semua yang aku inginkan mungkin hah bahkan tidak akan pernah terjadi. Itu hanyalah fantasi imajinasi dalam pikiranku.

END.

Senin, 27 Juni 2016

Who Do You Choose?

Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
Cover by leenArt design
FF ONESHOOT
Main cast : Park Jimin (BTS), Suga (BTS), Seo Dana, Ryu Soo Jeong (Lovelyz)
Othercast : Park Leen.a , Jungkook (BTS)
Genre : Frienship, Hurt romance
Rating : Maybe teen
Sepasang siswa siswi sekolah menegah atas sedang menyusuri lorong sekolah. Dimana seorang siswi itu terus meminum minuman yang ia beli dari kantin bersama seorang siswa yang dimana adalah teman sekelasnya.
Seorang siswapun mencoba menjahilinya dengan menarik rok minim siswi yang didekatnya itu.
“Ya’ Jimin-na!” Dana. Jimin tersenyum.
“Habisnya kau sibuk dengan minumanmu. Sehingga aku disini tidak kau hiraukan. Lagian juga lihat rok minimmu itu apa kau mencoba menggodaku?” Jimin.
“Ne. Aku mencoba menggodamu. Wae Park Jimin?” Dana
“Apa kau selalu menghiraukan tentang perasaanku?” Tambah Dana.
“Mwo?” Jimin.
“Aniya.... Ttttt...dakkk usah kau pikirkan.” Dana.
“Hm, aku rasa itu penting.” Jimin yang terus menguras habis pikirannya dengan perkataan Dana.
“Apa kau ingin tahu?” Dana.
Jimin menoleh kearah Dana. Danapun langsung mengecup bibir Jimin tanpa aba-aba lalu berlari meninggalkan Jimin.
Jimin yang beberapa detik mematungpun mulai sadar akan hal yang dilakukan Dana.
 “Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu. Bisa?” Suara Jimin yang begitu nyaring. Dana hanya menganggukan kepalanya dan  terus berlari.
Ya itulah nama panggilanku Dana. Aku duduk di kelas 2 sekolah mengah atas, aku mempunyai seorang namjadongsaeng dan dulu aku mempunyai seorang Oppa. Ah, aniya sampai sekarang aku mempunyai Oppa dia selalu bersamaku biarpun banyak orang tidak pernah menganggapnya ada. Aku merupakan seorang yeoja yang bisa dikatakan sedikit nakal. Tapi jika itu dilihat dari penampilanku. Jika kau melihat dalamnya entah kau akan berkata apa, mungkin kau akan mengatakan hal yang lain.
~Sepulang sekolah~
“Dana, kau duduklah disini.” Jimin sambil memberikan sebuah lollipop ke Dana. Danapun duduk disamping Jimin.
“Oh, Gumawoyo. Sebenarnya kau ingin berbicara apa denganku?” Dana sambil menjilati sebuah permen lollipop yang diberi Jimin. Berharap Jimin lupa dengan apa yang Dana lakukan tadi terhadapnya.
“Cuaca sore ini sangat indah bukan? Bila aku tanya sesuatu kepadamu kau pasti bisa langsung menjawabnya.” Jimin.
“Tergantung.” Dana sambil terus menjilati permen lollipop.
“Sebenarnya aku ingin menyatakan isi hatiku.” Jimin. Dana mulai berhenti menjilati permen lollipop dan mulai menoleh kearah Jimin.
“Menyatakan isi hatimu?” Dana. Jimin menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
Senyuman yang dibuat Jimin itu membuat tempo degupan jantung Dana semakin bertambah dan terus bertambah saat Jimin ingin mengatakan isi hatinya. Dana seperti tidak percaya dengan kaliamat apa yang dikeluarkan dari mulut Jimin barusan.
Danapun memandangi terus wajah Jimin tanpa mengedipkan salah satu kelopak matanya. Seperti tidak ingin melewatkan satu detikpun kenangan yang tercipta hari ini.
Aku ingin menyatakan isi hatiku kepada Soo Jung teman yang selalu dekat denganmu itu.” Jimin.
Permen lollipop yang Dana genggampun terjatuh dari tangannya. Beberapa detik Dana mencuri pandangannya dari Jimin sampai Jimin menoleh kearah Dana karena permen lollipop yang Dana jatuhkan. Dana dengan segera memalingkan wajahnya, membuang-buang jauh pandangannya terhadap Jimin.
“Wae? Kenapa kau menjatuhkannya?” Jimin.
“Rasa dari lollipopnya seketika mulai hambar.” Dana.
“Jadi bagaimana apa kau bisa membantuku dekat dengannya?” Jimin.
“Asal kau tahu Soo Jung bukanlah teman dekatku!” Dana.
“Apa kau lupa dengan kejadian 3 tahun yang lalu? Tentang Taehyung Oppa?” Tambah Dana.
“Kenapa dengan kejadian 3 tahun yag lalu? Bukankah semua telah selesai? Jangan mengungkit-ungkit kenangan itu kembali jika itu membuatmu semakin terpuruk.” Jelas Jimin.
Danapun beranjak dari tempat duduk dan menghadap ke Jimin “Apa sebegitu mudahnya menghilangkan kenangan yang begitu buruknya didalam kehidupanku? Oppaku mati dipenjara karena mulut jalang itu!” Air mata Dana telah membasahi pipinya.
“Apa salah jika Oppaku tidak menyukai Soo Jung? Kenapa jalang itu harus mengatakan kalau Oppaku memperkosanya sampai dia tidak berdaya? Tidak mungkin Oppaku melakukan hal sekeji seperti itu!” Tambah Dana.
Jiminpun memeluk Dana dengan sangat erat. Dana yang merasa kenyamanan itu berhenti berbicara sesaat dan menikmatinya dengan memejamkan matanya sambil menghirup aroma tubuh Jimin.
“Aku tahu yang kau rasakan sampai sekarang ini. Aku mengerti semua kesusahan yang kau lalui, aku berjanji aku selalu berada disampingmu. Setiap kau menemui masalah aku selalu bersama denganmu dan menolongmu. Tapi kumohon untuk satu kali ini saja bantulah aku dekat dengan Soo Jung.” Jimin.
Danapun membelalakan kedua matanya dan langsung mendorong tubuh Jimin. Dana masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Jimin. Dana hanya menatap wajah Jimin dengan pandangan kosong, tidak tahu apa lagi yang ingin dikatakan oleh Dana.
Dana mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya lalu meninggalkan Jimin. Jiminpun menghalanginya dengan memegang lengan Dana.
“Kumohon Dana...” Jimin.
Dana membalikkan tubuhnya dan melepas genggaman tangan Jimin “Kumohon hargailah perasaanku juga Jimin-sshi.” Dana yang langsung melanjutkan langkah kakinya.
Jimin berusaha mengolah perkataan Dana yang terakhir Dana ucap mencoba menghargai perasaannya.
~Perjalanan kerumah~
Cuacapun mulai mendung dan berawan abu-abu  sepertinya cuaca mengerti perasaan Dana saat ini. Awan yang mulai menggunduk berwarna abu-abu pekat itupun mulai meneteskan sedikit demi sedikit air.
“Dana-ya…”Panggil seseorang dari belakang dan Dana membalikkan badannya.
 “Bagaimana tadi? Apa Jimin mengatakan isi hatinya kepadamu?” Leen A.
“Mengatakan isi hatinya? Dengkulmu itu.” Dana.
“Lantas kalau begitu dia mengatakan apa tadi sampai begitu lamanya denganmu?” Leen A.
“Dia menyuruhku untuk membantunya dekat dengan Soo Jung.” Dana.
“Soo Jung? Cuihh si jalang bedebah itu?” Leen A, Dana hanya menganggukan kepalanya.
“Ya’ tersenyumlah. Mungkin dia belum menyadarinya.” Leen A.
“Belum menyadarinya bagaimana Leen A? Aku sudah menyukainya sejak sekolah menegah pertama dan itu dia tidak menyadarinya. Apa dia tidak tahu? Aku selalu menyeritakan semua masalahku terhadapnya. Setiap hari aku selalu pergi kepadanya. Pergi kepundaknya untuk mengeluhkan semua masalahku. Semua itu lakukan karena aku menyukainya sangat menyukainya.”Dana.
Hujan turun begitu deras tanpa ada peringatan apapun. Dana tetap saja berjalan santai meninggalkan Leen A.
“Dana-ya hujan turun begitu lebat kau berteduhlah saja disini.” Teriak Leen A.
“Hujan tidak akan mebuatku mati, mebuat Jimin suka terhadapku dan membuat Oppaku kembali dari kematiaan.” Dana.
Leen A yang mendengar perkataan yang dilontarkan Dana langsung tercengang diam hanya melihati Dana berjalan menerobos hujan.
~Sementara itu…~
Seorang namja sedang melihat Dana yang menerobos derasnya hujan pada sore hari itu.
“Dana apa kau tidak melihat salah satu namja yang berada didekatmu ini yang sedang terus melihatmu? Kenapa kau harus menyukai seseorang yang bahkan seseorang itu tidak membalasmu?” Batin Suga sambil membawa payung yang melindunginya dari derasnya hujan.
“God, aku tidak tahu sampai kapan aku harus menyukai Jimin. Bahkan Jimin sendiri tidak pernah membalas perasanku yang selalu aku berikan kepadanya? Apa memang ini takdirku? Jika memang aku tidak bersama Jimin, aku ingin cepat melupakan semua ini dan memendamnya dalam-dalam.” Batin Dana sambil menyusuri jalan dengan menundukkan kepalanya.
Hujan yang tambah begitu deras ditambah petir yang begitu menggelegar tidak mematahkan Dana untuk berhenti lalu berteduh. Dana berhenti ditengah jalan menuju arah rumahnya lalu mendangakkan kepalanya keatas untuk melihat hujan yang jatuh mengenai seluruh badannya.
Rasa sakit di matanya akibat tetesan air hujan itulah yang hati Dana rasakan saat ini. Lalu Dana memejamkankan matanya seketika hujan tidak lagi membasahi seluruh tubuhnya. Dana membalikkan badannya.
“Suga Oppa… Kenapa hujan-hujan seperti ini kau ada disini.” Dana sambil membersihkan air hujan yang membasahi wajahnya. Suga hanya tersenyum.
“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu saat ini. Kenapa hujan deras seperti ini kau belum sampai rumah juga?” Suga.
“Aniya, tidak kenapa-kenapa.” Lalu Dana membalikkan badannya.
Suga membalikkan badan Dana dan langsung memeluknya. Tangan kanan Suga masih terus mengenggam badan payung dan tangan kirinya mencoba memeluk erat Dana.
Dana hanya terdiam tidak tahu maksud dari pelukan yang dia rasakan saat ini.
“Oppa...” Suara Dana dibalik tubuh Suga.
“Biarkan seperti ini dulu.” Suga.
“Oppa aku tidak bisa bernafas.” Rintih Dana. Sugapun melepas pelukannya sedangkan Dana menarik banyak-banyak udara dari sekitar.
“Akan kuantar kau sampai rumah.” Suga.
Apa tidak apa-apa Oppa?” Dana sambil menoleh kearah Suga, Suga menganggukan kepalanya.
***
“Noona, kenapa kau murung seperti itu? Apa kau sakit?” Tanya Jungkook yang melihat Noonanya berjalan lalu duduk dipinggir kasur.
“Noona apa kau mau makan? Akan aku ambilkan.” Jungkook. Dana hanya menidurkan badannya ke tempat tidurnya.
Jungkookpun melihat Noonanya dari balik skat kayu yang menutupi ruang kamarnya dimana tempat tidurnya satu ruangan dengan Noonanya.
“Noona...” Panggil Jungkook yang lalu menghampiri Noonanya.
“Noona lalu apa yang terjadi? Katakanlah.”Jungkook yang duduk didekat Dana.
“Apa kau tahu Park Jimin, Jungkook?” Dana. Jungkook menganggukkan kepalanya.
“Dan kau tahu kalau aku berteman dengannya sejak kau belum lahir dan aku mulai menyukainya sejak SMP.” Dana, Jungkook berulang kali hanya menganggukan kepalanya.
“Ne Noona, arraseo. Tapi apa yang salah?” Jungkook sambil mendirikan Dana.
“Dia telah menyukai seseorang.” Dana, seketika itu Dana meneteskan air matanya.”
“Mwo??? Noona apa yang kau katakan itu benar?” Jungkook.
“Ne, jungkook aku pulang terlambat karna Jimin mengajakku untuk pulang dengannya. Lalu ia mengatakan ia menyukai Soo Jung dan dia menyuruhku untuk mendekatkannya dengan Soo Jung.” Dana.
“Soo Jung yang membunuh Hyung?” Jungkook. Dana mengangguk.
“Bahkan dia tidak pernah melihat perasaanku yang selalu ada untuknya. Dia bahkan tidak melihatku sebagai yeoja pada umumnya, dia melihatku hanya sebagai teman masa kecilnya. Dan itu membuatku sakit hati Jungkook.” Dana yang mulai menagis tanpa henti.
Lalu Jungkook mengambilkan sebuah tissue untuk Noonanya “Noona aku tahu Jimin Hyung hanya belum menyadarinya kalau sebenarnya ada yeoja yang sangat berharga.” Jungkook membenarkan rambut Noonanya yang tidak karuan.
“Noona percayalah padaku, sebenarnya Jimin Hyung hanya terlambat menyadarinya saja. Noona jika kau memerlukan seseorang untuk bersandar mengatakan semua keluh kesalmu. Datanglah kepadaku dan bersandarlah dipundakku, aku akan selalu mendengarkanmu dan menjagamu Noona.” Jungkook yang menepuk-nepuk pundak Dana.
“Noona istirahatlah, bukankah besok kau harus lebih berusaha lagi?” Jungkook sambil mencium kening Noonanya.
“Terimakasih telah menjadi dongsaengku.” Dana yang mengelus-elus rambut Jungkook.
~Keesekon harinya~
Dana berjalan dengan rangkul lengan Jungkook. Dana terus menundukkan kepalanya disepanjang perjalanan menuju kesekolah.
“Noona dangakkanlah kepalamu.” Jungkook yang mengayunkan tangannya dan mengarahkan wajah Noonanya.
Sampai Leen A berjalan menuju ke Jungkook dan Dana.
 “Dana... Jungkook..” Panggil Leen A. Dana dan Jungkook berhenti dan menoleh.
Dana yang melihat kehadiran Leen A langsung memulai pembicaraan “Leen A maafkanlah aku karna kemarin aku telah membentakmu.” Dana.
“Oh, gwenchana. Aku menegerti kok, kemarin perasaanmu sedang kacau balau jadi aku bisa mengertinya.” Leen A.
“Gumawo Leen A (Danapun teringat dengan kejadian sewaktu ia berhenti di tengah jalan dan bertemu dengan Oppanya Leen A) dan sampaikan ucapan terimakasihku untuk Oppamu karna kemarin dia telah mengantarkanku sampai kerumah.” Dana. Leen A menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Dana….” Panggil Jimin dari kejauhan sambil melambaikan tangan yang telah menunggu didepan gerbang sekolah.
Dana membuang pandangannya dan terus merangkul Jungkook.
Jimin yang seperti diacuhkan oleh Dana langsung beralan cepat menuju ke Dana.
“Apa kau sudah siap untuk membantuku?” Jimin. Dana hanya terdiam. Sedangkan Jungkook dan Leen A mengeluarkan pandangan sinis kearah Jimin.
 “Wae? Kenapa Dana dan kalian seperti ini? Dana kau kenapa sejak kemarin seperti ini? Kalau kau tidak mau membantuku, oke tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksamu. Tapi jangan acuhkan aku seperti ini, bukankah kita teman?” Jimin. Dana menambah erat rangkulan tangannya ke Jimin.
“Apa yang seperti itulah yang dinamakan teman?” Jungkook.
“Apa kau tidak menyadarinya? Bahwa...” Dana langsung menarik lengan Jungkook untuk berjalan.
 “Noona apa kau akan terus menutupi perasaanmu seperti ini?” Jungkook.
“Ya’ Jimin-sshi kau diberikan sebuah hati dan perasaan yang sempurna oleh Tuhan tanpa ada cacat sedikitpun. Kenapa kau masih tidak bisa merasakan apa yang telah Dana rasakan sejak dulu lamanya terhadapmu. Sebenarnya apa kau itu punya hati?” Leen A.
Jiminpun menoleh kearah Dana dimana yang masih berjalan dengan Jungkook dan langsung berlari kearah mereka. Jiminpun memegang lengan Dana. Danapun terkejut.
“Dana apa kau menyukaiku?” Jimin.
Danapun menoleh wajah Jugkook. Jungkookpun menganggukkan perlahan kepalanya mengisyaratkan katakanlah yang ingin kau katakan.
Dana memandang Jimin penuh dengan rasa amarah dan bercampur hati yang begitu rapuh “Ne! Naega johaeyo! Wae? Aku menyukaimu sejak kita duduk di sekolah menegah pertama. 5 tahun aku mencoba memendam perasaanku terhadapmu. Aku mencoba bersabar dengan semua yang aku rasakan sampai sekarang. Aku lelah Jimin, apa kau tidak pernah melihat semua usahaku terhadapmu? Apa kau tidak pernah memikirkan perasaanku yang selalu aku berikan terhadapmu setiap harinya?” Dana yang mencoba menyeka air mata yang sempat belum menetes dipipinya.
“Apa aku salah? Apa aku bodoh sampai mau menunggumu begitu lamanya?” Dana berlari meninggalkan Jimin, Jungkook dan Leen A.
“Hyung aku harap kau tidak akan membuat Noonaku menambahkan daftar kenangan terburuk didalam hidupnya setelah kematin Taehyung Hyung.” Jungkook yang berlari mengikuti Noonanya. Sedangkan Leen A hanya menyasikkan drama yang terjadi dihadapannya.
~Sewaktu didalam kelas~
“Mwo? Dana menyukaiku? Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang? Aish, pabo!!! Seharusnya aku mengetahuinya terlebih dahulu dan mengatakan padanya agar dia tidak semakin menyukaiku. Hah, senyumnya itu, perasaan itu, perhatiaanya terhadapku itu semua karena dia menyukaiku?Batin Jimin sambil menampar-nampar wajahnya.
“Jimin bisakah aku meminjam buku catatanmu?” Dana. Jimin terkejut dan langsung beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas.
“ Ya’ Jimin-na, kau ingin kemana?” Leen A yang meneriaki Jimin karena pekerjaan kelompok mereka belum selesai.
“Oh, Oh, cinta bertepuk sebelah tangan ya?” Soo Jung.
“Haha, cinta bertepuk sebelah tangan aku kira hanya di dalam serial drama di Tv saja. Teryata disini ada juga yang seperti itu? Hah, omong kosong.” Soo Jung.
“Ya’ kau ini berbicara apa?” Dana.
“Memang benarkan dirimu sebenarnya menyukai Jimin, tetapi Jimin tidak.” Soo Jung.
*PLAAK* “Apa kau ingin lebih dari ini?” Dana.
“Aku bisa melakukan lebih dari ini.” Dana sambil mendorong Soo Jung sampai terjatuh.
“Ya’, dasar wanita jalang.” Soo Jung ingin menapar balik Dana tapi itu dihalangi oleh Jimin.
“Siapa yang kau anggap jalang? Hah? Lalu bagaimana dengan Oppaku yang mati 3 tahun lalu karena mulut bedebahmu itu? Sekarang siapa yang kau sebut jalang hah? Nugu-nde?” Dana yang berusaha menjambak Soo Jung tetapi segera Jimin menarik tangan Dana dan mengajaknya keluar dari kelas.
~Ditaman sekolah~
“Mianhae, aku tidak bisa menerimamu.” Jimin. Seketika air mata Dana ingin keluar tetapi itu ditahannya.
“Aku sudah tidak memikirkannya lagi.” Dana.
“Apa secepat itukah kau tidak menyukaiku lagi?” Jimin.
Dana mengangguk “Lantas apa aku harus menunggumu lagi? Berapa tahun lagi aku harus menunggumu dan terus menahan sakit?” Dana.
“Aku tidak menyuruhmu untuk melupakan perasaanmu terhadapku seutuhnya. Sisakan perasaanmu terhadapku sebagai teman yang sesungguhnya.” Jelas Jimin.
“Aku lelah. Aku tidak mau membahas ini lagi.” Dana yang langsung berjalan meninggalkan Jimin.
“Kau tidak mengerti Dana!” Jimin.
“Memang aku tidak mengerti!” Dana yang menambah tempo jalannya yang diamana air mata sedikit demi sedikit telah terbendung.
“Kau bodoh!” Jimin.
“Memang aku bodoh! Bodoh telah menunggu seorang namja sepertimu sebegitu lamanya!” Dana yang langsung berlari dan mengeluarkan air matanya.
Jimin terus menahan air mata yang telah membendung di kedua kelopak matanya. Jiminpun menggigit ujung bibirnya,menundukkan kepalanya sambil menyeka air matanya.
~Sementara itu…~
“Noonaku ada dimana?” Jungkook yang menghampiri Noonanya.
“Itu dia.” Leen A. Dana masuk kekelas dengan mengusap air matanya berulang kali.
“Noona neon gwenchana?” Jungkook. Dana menganggukkan kepalanya berulang kali.
“Haha, sudah kubilang percuma saja kau mencintai Jimin. Jimin itu sebenarnya tidak menyukaimu.” Soo Jung.
“Ya’, wanita jalang. Berani sekali kau mengatakan hal itu kepada Noonaku? Apa kau lupa kejadian 3 tahun yang lalu? Kaulah yang jalang! Kau membunuh Hyungku dengan mulut jalangmu itu! Bahkan sedikitpun saja Hyungku jijik melihat tubuhmu! Apalagi menyentuhnya bagaiamana bisa kau memenjarakan seorang yang tidak salah sampai membusuk dipenjara hah JALANG?” Jungkookpun wajahnya dengan Soo Jung hampir menempel.
“Sekali lagi aku mendengar kata-kata yang keluar dari mulutmu dan itu tidak baik untuk Noonaku, jangan harap kau menpunyai kesempatan hidup. Biarpun aku masuk penjara karena aku membunuhmu itu tidak apa asalkan Noonaku tidak akan pernah mendengar perkataan dari mulut bedebahmu itu. Maupun itu untuk Namja ataupun Yeoja mereka tidak akan mempunyai kesempatan untuk melihat hari esok.” Jungkook.
Lalu Jungkook mengambil 1 langkah kebelakang dan membalikkan badannya, Jungkook yang tidak tega melihat keadaan Noonanya menarik tangan Noonanya untuk pulang.
Sampai didepan halaman sekolah, semua orang yang satu kelas dengan Dana tetap melihat dari jendela kelas. Seketika Jungkook berhenti melangkahkan kakinya.
“Noona apa kau lelah?” Jungkook.
“Jika kau lelah naiklah kepunggungku, aku akan menggendongmu.” Lalu Dana mengikuti perkataan dongsaengnya itu.
~Sementara itu Jimin kembali didalam kelas…~
“Teryata kematian Taehyung sunbae itu akibat ulahmu?” Tanya seorang yeoja teman sekelasnya.
“KAU PEMBUNUH!” Teriak seorang yeoja.
“JALANG PEMBUNUH! PERGILAH DARI KELAS KAMI!” Tambah seorang namja. Sekarang teman sekelas Soo Jungpun berbisik-bisik tentang kejadia 3 tahun lalu.
“PERGILAH KE NERAKA JALANG BUSUK!!!” Teriak yeoja teman sekelasnya.
“Kenapa kalian semua melihat kejendela dan sangat berisik?” Jimin. Lalu semua teman sekelasnya berbalik dan melihat Jimin.
“Jimin, aku tidak habis pikir dengan perbuatanmu itu. Kaukan temannya Dana sejak masa kecilnya tetapi kenapa kau melakukan hal ini sampai membuat Dana seperti itu.” Leen A.
“Bahkan baru kali ini aku melihat Dana seperti ini.” Tambah Leen A yang mengemasi barang sekolahnya. Lalu Soo Jung mendekati Jimin.
“Sepertinya yang dikatakan Leen A itu benar.” Soo Jung, lalu Leen A sontak terkejut dan melihat kearah Soo Jung.
“Aku bahkan tidak mengerti semua hal ini. Setelah Jungkook mengatakan semua hal itu kepadaku, aku sadar bahwa dia sangat menyayangi dan menjaga Noonanya lebih dari menyanyangi dan menjaga dirinya sendiri.” Soo Jung.
“Aku mengatakan seperti ini bahwa aku sadar semua perkataanku dan kelakuaanku tadi salah ke Dana. Aku melupakan kejadian 3 tahun yang lalu terhadap keluarganya Dana. Aku sangat merasa berdosa sekarang.” Tambah Soo Jung.
“Jadi Jimin mianhae, aku tidak bisa menerimamu. Aku adalah pilihan yang salah jika kau memilihnya, aku adalah yeoja yang tidak seharusnya kau pilih dan kau sukai. Dan aku adalah apa yang tidak kau butuhkan. Aku adalah yeoja yang tidak pantas kau pilih dan kau miliki.” Tambah Soo Jung yang lalu meninggalkan Jimin untuk mengemasi barangnya sama seperti yang dilakukan Leen A.
Detik, menit, jam telah berlalu. Hari, minggu telah dijalani Dana dengan perasaannya yang bertepuk sebelah tangan. Sewaktu Dana bertemu dengan Jimin, Jimin selalu memalingkan wajahnya atau menghindar darinya. Seakan-akan Dana musuh baginya.
“Jimin, sebenarnya apa yang kau lakukan ini? Aku sudah lelah dengan semua ini, aku benar-benar lelah Jimin. Tidak bisakah kita menjadi teman selamanya jika kau tidak mau menerimaku, nafasku seakan- akan mulai berhenti dengan semua ini. Kumohon Jimin aku tidak mau seperti ini, jika kau tidak mau menerimaku bertemanlah saja denganku. Berteman saja itu sudah lebih dari cukup biarpun itu membuatku sakit hati setidaknya aku sudah bisa dekat denganmu.” Batin Dana.
~Keesokan harinya, saat ditaman~
Dana duduk ditaman dekat rumahnya yang menemani Jungkook disana. Dana berusaha untuk menghilangkan semua perasaannya kepada Jimin.
Lalu ada seorang namja yang tiba-tiba duduk disamping Dana dan menyandarkan kepalanya kepundak Dana. Dana sontak terkejut…
“Jimin-na….” Dana.
“Jimin?” Suga.
“Oh, Mianhae Oppa aku kira kau Jimin.” Dana.
“Lantas dimana Leen A?” Tambah Dana. Lalu Suga menunjuk kearah Leen A yang sedang membeli ice cream bersama Jungkook.
“Apa kau masih memikirkan namja yang kau sukai itu?” Suga.
“Oppa, aku sudah berusaha untuk melupakannya dan memendamnya. Tetapi itu sangat sulit.” Dana sambil mendagakkan kepalanya melihat awan.
“Lantas kau bagaimana sekarang?” Suga sambil memberikan sebuah permen lollipop kepada Dana.
“Ini untukmu, makanlah mungkin ini bisa melupakan sedikit demi sedikit masalahmu.” Suga. Dana menoleh kearah pemberiaan Suga tadi. Dan tess, sebuah air mata langsung saja jatuh membasahi pipinya.
“Mwo? Kenapa denganmu? Apa kau sakit?” Suga sambil memegang kening Dana.
“Singkirkan benda itu dariku, aku tidak mau melihatnya.” Dana.
Jungkook dongsaengnya yang melihat Noonanya seperti itu seketika berhenti menjilati ice creamnya dan Leen A yang melihat itu hanya bisa terdiam saja dan menoleh kearah Jungkook.
“Oh, mianhae. Aku tidak tahu soal itu.” Suga.
“Dana sebenarnya aku menyukaimu.” Tambah Suga.
“Mwo Oppa? Kau menyukaiku?” Dana. Suga menganggukkan kepalanya.
“Tapi Oppa aku…” Dana.
Suga memotong pembicaraan Dana “Tidak usah dijawab aku tahu, kau pasti akan menolakku.” Suga.
“Oppa mianhae, bagaimanpun juga aku masih saja menyukai Jimin bahkan Jimin tidak menyukaiku.” Dana.
~Sementara itu…~
“Apa kau sangat menyayangi Noonamu?” Leen A, Jungkook menganggukkan kepalanya
“Seberapa besar?” Leen A.
“Bahkan aku berani menaruhkan nyawaku untuk Noonaku.” Jungkook kembali menjilati ice creamnya kembali layaknya anak kecil.
“Jika ada seorang yeoja yang menyukaimu? Apa kau akan juga menaruhkan nyawamu untuk yeoja yang menyukaimu itu?” Leen A.
“Hm, mungkin aku akan menaruhkan nyawaku saja kepada Noonaku. Karna Noonaku merupakan saudara kandungku jadi aku akan terikat dengan Noonaku selamanya dan jika ada yeoja yang menyukaiku mungkin aku tidak bisa menaruhkan nyawaku kepadanya karna yeoja itu tidak akan selamanya meyukaiku dan suatu saat dia akan bosan kepadaku dan akan meninggalkanku begitu saja. Jadi aku tidak mau menaruhkan nyawaku untuk yeoja yang menyukaiku dan jika itu terjadi kehidupanku selama didunia ini percuma saja.” Jelas Jungkook.
“Oh, daebak aku kagum denganmu.” Leen A yang dengan perlahan-lahan mendekati Jungkook.
“Wae Noona? Kau menyukaiku?” Jungkook.
“Mwo?? Omo kenapa kau sangat percaya diri seperti ini?” Leen A.
“Bukankah aku mengatakan hal yang sebenarnya, lihatlah pipimu bersemu merah.” Jungkook sambil menunjuk kepipi Leen A. Leen A menutupi pipinya.
Sedangkan Jungkook hanya tersenyum “Yasudah Noona aku akan pulang dahulu, aku akan menjemput Noonaku.” Jungkook yang tiba-tiba memeluk Leen A. dan mengatakan sesuatu…
“Gamsahamnida Noona telah berteman dengan Noonaku dan selalu menjaganya selama ini.” Bisik Jungkook dan melepaskan pelukannya.
“Daaa Noona, kapan-kapan kita membicarakan hal ini lagi. Saat ini aku belum bisa menjawab karna Noonaku masih menyuruhku untuk belajar dulu.” Jungkook sambil berlari menghampiri Noonanya.
~1 tahun kemudian~
Bel pulang sekolahpun berbunyi, hujanpun turun begitu deras. Jungkook sudah pulang lebih dahulu karna Dana ada tambahan jam pelajaran jadi ia tidak bisa pulang dengan Jungkook. Dana tidak merasa takut dengan hujan, setelah keluar dari pintu sekolahan Dana begitu saja berjalan diantara derasnya hujan yang begitu banyak dilihat seluruh sekolah.
Dana tetap saja berjalan dan terus berjalan berharap hujan dapat menghapus semua memori yang ada dipikirannya. Berhentilah disebuah jalan sepi, Danapun melihat lurus kedepan dan teryata tepat dihadapannya ada seorang namja yang membuat hidupnya berlayar hilang arah. Ya Park Jimin.
Jimin tetap saja terus berjalan begitu saja dengan Dana yang melanjutkan jalannya tiba saat mereka berjalan berdekatan…
“Jimin-na…” Sebuah kata muncul dari mulut Dana. Dan Jimin berhenti lalu membalikkan badannya begitu juga Dana.
“Kenapa kau lakukan ini kepadaku?” Dana sambil memegangi tali tas yang ada dikedua pundaknya.
“Karna aku tidak mau kau menyukaiku Dana.” Jimin.
“Setidaknya kalau kau tidak mau menerimaku, tidak bisakah kita menjadi teman seperti dahulu? Bukankah kita teman? Kau pernah bilang kepadaku disebuah sore yang cerah bahwa kau akan selau berada untukku jika aku menemukan masalah. Lantas sekarang aku menemukan masalah itu, kau pergi kemana Jimin-na?” Dana.
“Jimin-sshi apa kau tahu, aku sangat lelah bahkan tidak satupun orang yang dapat membuatku sembuh seperti dulu kecuali kau.” Tambah Dana.
“Cobalah kau melihat hujan yang jatuh membasahi tubuhmu.” Tambah Dana lagi. Lalu Jimin melakukannya.
“Ini sangat sakit. Jika terkena mata. Apa kau selalu melakukan hal itu?” Jimin sambil mengusap-usapkan tangan dimatanya.
“Itulah yang saat ini aku rasakan, jika kau menghindariku seperti ini.” Dana.
“Lalu cobalah pejamkan matamu. Apa yang kau rasakan?” Tambah Dana. Lalu Jimin memejamkan matanya.
Sambil memejamkan mata “Tidak ada yang aku rasakan, cuma hitam dan gelap.” Jimin.
“Itulah yang kurasakan saat ini gelap, kesepian tanpa kau didalam hari-hariku. Dunia ini serasa mati tidak ada kehidupan didalamnya. “ Dana.
Lalu Jimin membuka matanya dan Dana seketika memeluk Jimin “Lalu sekarang apa yang kau rasakan?” Dana.
“Sebuah kehangatan dan kenyamanan.” Jimin.
“Itulah yang aku rasakan jika aku berada disampingmu, dimana itu, saat apapun itu juga. Biarpun itu hanya dekat denganmu inilah yang aku rasakan.” Dana, lalu Dana melepaskan pelukannya.
“Aku hanya ingin berteman denganmu lagi Jimin, jika kau tidak bisa menerimanku itu tidak apa-apa meskipun akhirnya aku sakit karna itu. Tapi setidaknya berteman denganmu dan dekat denganmu seperti dulu itu sudah lebih dari cukup.” Dana. Lalu Dana berjalan dan meninggalkan Jimin.
Jimin hanya melihat Dana meninggalkannya begitu saja sampai bayangan Dana tidak terlihat lagi. Seketika Jimin baru sadar bahwa dia telah menyia-nyiakan seseorang yang telah lama menyukainya. Lalu Jimin berlari dan mencari Dana.
Akhirnya Jimin menemukan Dana yang sedang duduk disebuah halte bus sendirian. Dana berusaha untuk menahan air matanya dan itu gagal berulang kali Dana mengusap air matanya tetapi air matanya tetap saja mengalir begitu saja. Lalu Jimin menghampirinya lalu duduk jongkok didepannya.
“Apa kau baik-baik saja?” Jimin yang mengusap-usap kepala Dana.
Lalu Dana mendanggakkan kepalanya dan melihat kearah Jimin, begitu terkejutnya Dana. Dan Dana hanya terdiam.
“Aniya! Aku tidak baik-baik saja. Aku hanya berusaha kuat didepanmu! Arra!” Dana yang menyeka air matanya
“Mianhae Dana telah menyia-nyiakanmu, aku baru menyadari saat ini. Mianhae aku baru menyadarinya saat ini.” Jimin yang mengenggam kedua tangan Dana dengan tangan kirinya lalu tangan kanan Jimin mengusap air mata Dana.
“Mianhae yang telah membuat air matamu terus mengalir keluar, seharusnya aku temanmu sejak masa kecil tidak seharusnya melakukan hal sperti ini.” Jimin.
“Dana mianhae, aku memang namja yang bodoh yang menyia-nyiakan yeoja sepertimu. Yeoja yang mau lama menungguku, dan bodohnya dia mau membantuku untuk mendapatkan yeoja lain.” Jimin tersenyum.
“Lantas apa? Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Aku telah pasrah tentang semua jalan alur takdirku sekarang ini! Kau mau aku apa Jimin? Enyah dari kehidupanmu?” Dana yang berusaha melepaskan genggaman Jimin.
“Dana, maafkanlah aku. Jinnja mianhae, sekarang aku telah sadar bahwa kau adalah yeoja pilihanku dan bukanlah Soo Jung, kau adalah yang seharusnya aku pilih dan aku sukai dan bukanlah Soo Jung dan kau adalah yeoja pilihanku yang benar dan yang akan aku miliki selamanya dan bukanlah Soo Jung. Dan kau adalah yeoja yang benar bagiku, aku beruntung mempunyai yeoja sepertimu Dana dank au adalah yeoja yang aku butuhkan untuk selamanya.” Jelas Jimin.
 “Apa yang kau katakan itu benar Jimin?” Dana yang tidak percaya.
“Lalu apa yang membuatmu agar percaya denganku?” Jimin.
Seketika Dana memeluk Jimin dan berkata “Gumawo sudah menerimaku.” Dana.
Dana terus memandangi wajah Jimin begitu juga dengan Jimin memandangi raut wajah Dana. Jiminpun mendekatkan wajahnya lalu menciup bibir Dana dimana ditemani oleh suasana derasnya hujan.
“Jimin gumawo telah menerimaku, aku berjanji aku tidak akan menyia-nyiakanmu butuh waktu lama aku bisa mendapatkanmu dan membutuhkan banyak perjuangan bisa mendapatkanmu. Jimin Gumawo sudah menjadi tempat bersandarku.”
Seo Dana.
“Dana Gumawo, kau sudah mau menungguku. Begitu lama dan waktu yang terbuang bagimu hanya untuk menungguku. Aku memang namja yang bodoh yang menyia-nyiakan teman bahkan yeoja sepertimu, aku berjanji Dana aku tidak akan melakukan hal ini lagi kepadamu. Saranghae Dana.”
Park Jimin.

End.