Chapter
3
“Your Promise…”
Jungkookpun berlari sangat kencang
menuju kearah seorang namja yang berada didepannya lalu merangkulnya dengan
erat.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kau membuatku terkejut. Paboo!!” Taehyung yang memukul
kepala Jungkook dengan pelan.
“Mianhae, kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin?”
Jungkook yang menyamakan langkah kakinya sama seperti Taehyung.
“Oh, Mian. Kemarin pulsaku habis.” Taehyung yang tersenyum
kepada Jungkook.
“Hm, arraseo. Lalu kau ini ingin kemana hyung?” Tanya
Jungkook.
“Seperti biasa menemui teman kecil kita.” Taehyung.
“Dana-ya hyung?” Jungkook, Taehyungpun menganggukkan
kepalanya.
~Sementara itu…~
“Hya’, Arin-ah kau lihat namja kita?” Irene. Arin hanya
menganggukan kepalanya.
“Kau tahukan mereka akan menuju kemana?” Tambah Irene.
“Ne, arraseo. Mereka pasti akan menuju ke Dana, kenapa
mereka setiap hari selalu saja seperti itu? Apa mereka tidak bosan? Bahkan aku
saja yang menjadi yeojachingunya Taehyung bertemu saja hanya beberapa menit
paling lama hanya 1 jam. Dan tidak seperti Taehyung bertemu dengan Dana
seharianpun Taehyung betah dengannya.” Arin yan mengeluarkan semua keluhannya.
“Nah itu kau tahu. Bahkan aku saja pernah melihat Dana
memakai Beanie yang sama dengan Jungkook dan sepasang sapu tangan yang sama
dengan Taehyung saat mereka berkumpul bersama, bukankah itu keterlaluan.
Merekakan hanya berteman, apa harus sebegitu juga? Bahkan aku melihatnya dengan
mata kepalaku sendiri kalau Jungkook dan Taehyunglah yang memakaikannya kepada
Dana.” Irene.
“Mwo? Bahkan Taehyung saja tidak pernah menawariku sapu
tangan, setelah aku memintanya baru Taehyung memberikannya. Bahkan aku sendiri
yang memakai sapu tangan itu, sepertinya aku mulai benci kepada Dana. Aku baru
mengetahuinya dasar yeoja jalang!” Arin.
“Nado, akupun sangat marah waktu itu. Tapi kaukan tidak
melihatnya secara langsung tetapi aku melihatnya secara langsung. Seakan-akan
jantungku hampir copot begitu saja.” Irene.
“Tapi bukankah kau setiap hari sudah bertemu dengan
Jungkook? Seharusnya kau itu bersyukur, bahkan bukankah karna kau Jungkook
sekarang jarang berkumpul dengan mereka.” Arin.
“Hya’ neon paboya! Jungkook harus tetap bersamaku agar Dana
tidak merebutnya. Seharusnya Taehyung juga bersamu, tetapi kau malah
merelakannya dia terus berjalan dengan Dana. Apa kau tidak takut?” Irene.
“Aku takut, Taehyung saja waktu itu yang tidak menyatakan
perasaannya kepadaku melainkan aku yang menyatakan perasaanku kepadanya.” Arin.
“Geurae, kalau begitu ikutlah aku jika kau tidak mau
kehilangan Taehyungiemu itu.” Irene.
>>>>>
Saat yang ditunggu semua muridpun
telah tiba, bel pulang sekolahpun telah berbunyi. Danapun berjalan keluar kelasnya,
Dana tidak sabar akan hal yang dijanjikan oleh Jungkook padanya sewaktu pagi
tadi.
Dengan wajah yang penuh dengan
kebahagiaan Danapun berjalan dengan sangat cepat sampai…
“Hya’ Dana-ya chakkaman!!” Irene menarik tangan Dana.
“Appo, ya’ kau mau apa?” Dana.
“Ya’ neon (Irene sambil mendorong-dorong kening Dana dengan
jari telunjuknya) apa kau puas?” Irene.
“Irene kau mau membully Dana? Kenapa kau ikutkan aku
disini?” Arin.
“Sudah kau diamlah!” Irene.
“Puas apa maksudmu?” Dana.
“Kau sudah merebut kedua namja kami dari kami, seharusnya
kau malu dengan semua itu.” Irene. Arinpun hanya terdiam dam melihati terus
Dana.
“Aku tidak merasa merebut kedua namja kalian, kami hanya
bersahabat arraseo!” Dana.
“Halah, tidak usah banyak alasan. Apa berteman harus
memakaikan beanie dan sepasang sapu tangan kepadamu? Huh?” Irene yang menarik
kerah baju Dana.
“Memanglah begitu kami sejak kecil, apa kau baru tahu itu?
Kami juga pernah makan bersama, pergi bersama, dan bahkan tidur bersama.” Dana.
“Nya’ neon!!!” Irene yang mengayunkan tangannya dan ingin
menampar Dana.
“Irene, sudahlah tidak usah seperti ini.” Arin yang memegang
tangan Irene.
“Hya’ sudah kau diamlah.” Irene. Irenepun kembali dan
terfokus dengan tangannya dan ingin menampar Dana, Irenepun mulai mengayunkan
tangannya dan…
“Irene!!!” Taehyung. Arinpun terkejut dengan kedatangan
Tahyung pada sore itu.
“Taehyung-ah, jinjja aku tidak ikut melakukan hal ini.”
Arin. Taehyungpun mendorong Irene dengan pelan lalu menarik lengan Dana.
“Dana-ya neon gwenchana?” Taehyung.
“Gumawo, jinjja nae gwenchana.” Dana.
“Hya’ Irene sebenarnya apa yang ada dipikiramu saat ini? Apa
gara-gara Jungkook kau gila seperti ini?” Taehyung.
“Taehyung-ah, jinjja gwenchana. Gumawo sudah menolongku,
tapi aku ada janji hari ini. Jadi aku harus pergi.” Dana lalu membalikkan badan
dan berlari meninggalkan mereka ber-3.
Taehyung berganti arah melihat
Arin.
“Taehyung-ah jinjja aku tidak ikut-ikut. Aku hanya, ini
semua salah Irene aku dijebak oleh Irene.”
Arin sambil menunjuk kearah Irene.
“Sudah diamlah kau, ikuti aku.” Taehyung yang menarik lengan
Arin.
>>>>>
Volume detak jantungku semakin
cepat dan cepat saat Taehyung menarik tanganku. Akupun takut dengan kelakuan
Taehyung seperti ini tapi disamping itu aku juga merasa senang.
Taehyungpun melepaskan genggaman
tangannya dari lenganku.
“Arin-ah…” Taehyung.
“Ne, Taehyung-ah.” Arin.
“Aku tidak akan berbicara panjang lebar padamu, jadi tolong
dengarkanlah aku.” Taehyung. Akupun menganggukan kepalaku.
“Aku tidak suka dengan kelakuanmu tadi dengan Irene kepada
Dana, sebenarnya apa yang kau masalahkan dengan Dana? Katakan kepadaku.”
Taehyung yang melihatku dengan tatapan serius.
“Sebenarnya saat istirahat tadi aku dan Irene melihatmu
bersama Jungkook menuju ke Dana, kalian ber-2 selalu bersama Dana. Bahkan aku
yang menjadi yeojachingumu saja bertemu denganmu itu jarang aku lakukan, lalu
aku merasa kau akan meninggalkanku Taehyung-ah jadi aku tidak mau kehilanganmu.
Irene bilang kepadaku jika kalau aku tidak ingin kehilanganmu aku harus
mengikutinya, tapi benar aku tidak tahu kalau Irene akan melakukan hal ini.”
Jelasku kepada Taehyung.
“Arin-ah kau tahu aku juga menyukaimu, bukankah sudah cukup
aku menjadi namjachingumu? Setidaknya kau berfikir aku adalah yeojachingunya
Taehyung sedangkan Dana hanyalah sahabatnya Taehyung saja, bukankah aku nanti
akan menjadi salah satu kehidupannya kelak (Taehyung menjelaskan dari sisi pandangan
Arin kepada Taehyung). Dana hanyalah sahabatku sejak kecil Arin-ah, seharusnya
kau tahu itu dan kau seharusnya juga tidak cemburu seperti ini.” Taehyung.
“Taehyung-ah mianhaeyo, seharusnya aku tidak cemburu seperti
anak kecil.” Arin.
“Apa kau baru menyadarinya Arin-ah, ini sudah terlambat kau
membahayakan diri sahabatku.” Taehyung.
“Taehyung-ah aniya, aku tidak mau mengahkiri hubunganku
denganmu.” Arin.
“Begitu juga denganku Arin-ah aku juga tidak mau
mengakhirnya denganmu tetapi kau yang memulainya, jadi terimalah akibat dari semua
yang kau lakukan.” Taehyung yang mulai brjalan meninggalkanku.
“Taehyung-ah, apa karna dia sahabatmu sejak kecil kau terus
saja membelanya? Huh?” Arin. Taehyungpun seketika berhenti setelah mendengarkan
perkataan yang keluar dari muutku tadi.
“Bahkan aku saja yang menjadi yeojamu apa pernah sekali saja
kau membelaku? Bahkan sekalipun kau melihatku sebagai yeojamu itu, TIDAK!”
Teriakku kepada Taehyung. Lalu Taehyung membalikkan tubuhnya dan menatapku dari
kejauhan.
Taehyung telah melihat air mataku
mengalir kebawah pada pertama kalinya. Akupun sudah berusaha menahan semua
air mataku sejak awal aku mempunyai
hubungan dengannya tetapi kali ini aku sudah lelah untuk menahannya. Aku berusaha
mengumpulkan sisa-sisa energi yang berada didalam tubuhku hanya untuk
mengatakan sesuatu kepada Taehyung.
“Taehyung-ah, jawab pertanyaanku untuk terakhir kalinya.”
Bilangku padanya sambil mengusap air mata yang telah sukses membasahi semua
pipiku. Akupun perlahan berjalan mendekatinya sampai 3 langkah darinya.
“Apa kau menyukai Dana?” Tanyaku, setelah Taehyung mendengar
pertanyaanku yang mungkin tidak diduganya seketika mata Taehyung itupun yang
awal menyipit berubah menjadi bulat sempurna.
Akupun menunggu jawaban darinya,
tetapi dia hanya terdiam. Sebenarnya aku sudah tahu jawaban apa yang ada
didalam pikirannya.
“Aniya, aku tidak menyukainya.” Jawabnya.
“Kau berbohong kepadaku.” Jawabku.
Akupun langsung melangkahkan kakiku pergi untuk menjauh
darinya.
“Arin-ah… Arin-ah!!! Chakkaman!!” Panggil Taehyung.
Akan aku ingat suara itu selamanya
bukankah hari ini detik inipun juga aku akan mendengar suara itu untuk terakhir
kalinya? Aku sangat sakit sekarang entah apa yang harus aku lakukan sekarang.
Aku tahu Taehyung berkata bohong padaku sebenarnya dia menyukai Dana sahabatnya
sendiri.
Akupun mendudukkan diriku disebuah
tempat duduk, akupun menangis sepuasku disana. Aku telah berjuang cukup berat
untuk mendapatkannya tetapi Taehyung tidak pernah menghargai perjuanganku untuk
mendapatkannya.
Berulang kali aku mengusap air mataku yang
berjatuhan dan mengalir begitu saja, aku terus saja berpikir apa tidak adakah
seseorang yang dapat menenangkanku saat ini dan menjadi tempat bersandarku saat
ini?
>>>>>
Aish, kurang ajar Irene. Apa dia
tadi akan membullyku dengan mengajak Arin? Huh, membuatku terlambat saja.
Akupun berjalan dengan cepat menuju ketaman kota tetapi setelah aku sampai
namja yang berjanji denganku tadi pagi belumlah sampai.
Akupun memutuskan untuk duduk dan
menunggunya saja disana, sesekali akupun juga menghidupkan ponselku dan melihat
layar ponselku. Apakah ada pesan masuk atau telephone tak terangkat yang tidak
aku ketahui, tetapi tidak ada satupun.
Jampun telah menunjukkan pukul 7
malam, akupun juga belum menganti seragam sekolahku dengan pakaian hangat.
Berulang kali aku menggosok kedua telapak tanganku dan mengelus-elus lenganku,
akupun juga menggerakkan sesekali kakiku agar udara dingin tidak menyelimuti
tubuhku tapi udara masih tetap saja sangatlah dingin. Tetapi aku terus saja
menunggu Jungkook.
~Sementara itu…~
Taehyungpun berjalan menikmati
dinginnya kota Seoul pada malam hari itu, sambil memakan ddeukbokki yang ia
beli ditaman kota. Tidak salah lihat Taehyung melihat seorang yeoja yang duduk
sendirian yang memakai seragam sekolah yang sama ditempat ia sekolah.
Taehyungpun berinisiatif untuk
mendekatinya terlihat yeoja itu sangat kedinginan.
>>>>>
Akupun terus saja mengelus-elus
lengan tanganku dan menggerak-gerakan kecil kakiku, tapi udara dingin tidak mau
hilang dari tubuhku. Seakan-akan udara dingin ini mulai seperti pecahan kaca
yang menusuk-nusuk tubuhku satu persatu.
Dari kejauhan terlihat seorang
namja mendekat kearahku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku masih tetap
terfokus dengan menghangatkan tubuhku, mungkin setibanya Jungkook disini dia
akan memberikan jaket hangat untukku.
“Hya’ Dana-ya!!” Panggil seorang namja, yang telah tahu itu
aku. Dan berlari begitu cepat setelah ia tahu kalau ia mengenalku.
“Taehyung-ah?” Jawabku.
“Kenapa kau disini?” Dana.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu. Kenapa kau
disini? Lihatlah bibirmu mulai pucat dan tanganmu sangat dingin.” Taehyung yang
langsung duduk disampingku dan melihati diriku dari atas hingga bawah.
Akupun tersenyum “Aku sedang menunggu seseorang, dia telah
berjanji padaku sewaktu pagi tadi kalau dia berjanji akan megajakku bermain
hari ini.” Dana.
“Nuguya?” Taehyung.
“Jeon Jungkook.” Dana.
“Oh, tapi kau bawa pakaian hangatkan?” Taehyung, akupun
menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Aish, yeoja pabo.” Taehyung yang mendorong kepala Dana
kedepan dengan pelan.
“Hya’!!!” Pekikku.
“Yasudah kau pakailah ini.” Taehyung.
“Shireo!! Aniya, aniya. Kau pakailah saja, kaukan cuman
memakai jaket hangat itu kalau aku memakainya bukankah sama saja kau juga akan
kedinginan sepertiku?” Dana.
“Tidak apa-apa, aku masih memakai baju hangat.” Taehyung.
“Aniya, pakailah. Biar tubuhmu benar-benar hangat. Bukankah
eommamu selalu mengkhawatirkamu jika kau kedinginan?” Dana.
“Jinjja? Kau tidak mau memakainya?” Tawar Taehyung lagi
kepadaku. Akupun menganggukkan kepalaku berulang kali agar meyakinkannya.
“Oh, arraseo kalau itu maumu. Tapi kau makanlah dan minum
ini setidaknya kau isi perutmu lalu hangatkan tubuhmu.” Taehyung.
“Gumawoyo, hari ini kau menyelamatkanku 2 kali.” Akupun
tersenyum kepadanya.
“Palliwa kau pulanglah. Udara disini semakin dingin.”
Tambahku. Lalu Taehyung menuruti apa yang aku katakan, akhirnya Taehyung
berjalan pulang.
Berulang kali Taehyung berjalan
lalu membalikkan badan untuk melihatku. Apakah aku baik-baik saja dengan
keadaan udara dingin seperti ini.
“Jinja neon gwenchana?” Teriak Taehyung dari kejauhan.
“Ne, nae jinjja gwenchana Taehyung-ah.” Akupun melambaikan
tanganku kepada Taehyung agar Taehyung percaya kepadaku. Taehyungpun akhirnya
meninggalkanku.
Setelah Taehyung pergi, akupun
menghela nafasku dalam-dalam lalu memakan ddeukbokki dan coffe latte yang
diberikan Taehyung padaku.
~Sementara itu…~
Akupun berjalan meninggalkan Dana.
Sepertinya Dana berbohong kalau dia mengucapkan tidak apa-apa kepadaku, mungkin
dia mengatakan hal itu agar aku tidak mengkhawatirkannya. Tapi Jungkook-ah kau
dimana? Sebenarnya ada apa denganmu? Jika kau sudah melakukan janji kepada Dana
bukankah kau akan bertemu dengannya.
Tapi kau tidak ada disana, aku
lihat tadi Dana spertinya sudah lama menunggu. Bahkan dia tidak mengganti
seragam sekolahnya.
Akupun terus memikirkan Dana
sampai…
“Mwoya? Jeon Jungkook!!!” Panggilku.
Jungkookpun menoleh kearahku sambil
melambaikan tangannya.
“Hyung….” Jawab Jungkook yang juga tersenyum kepadaku.
Akupun melangkahkan kakiku dengan
cepat menuju Jungkook, bukankah dia telah berjanji dengan Dana pada malam hari
ini. Setelah aku sampai teryata tebakkanku selama ini benar.
“Oppa, annyeong!” Sapa Irene.
“Jungkook-ah kau benar-benar.” Bilangku kepada Jungkook.
“Jangan panggil aku ini Oppa, aku seumuran dengan Jungkook.
Arra!!” Betakku ke Irene. Akupun dengan cepat berlari meninggalkan Jungkook
bersama yeojanya.
Beberapa kali aku menubruk orang
dikeramaian taman kota, banyak orang disana sangatlah bahagia dan memamerkan
kebahagian mereka satu sama lain . Tetapi setelah aku sampai disana seorang
yeoja disanalah yang duduk sendirian, aku lihat dialah yang berbeda.
“Dana-ya…” Panggilku, nama itulah yang terus saja keluar
dari mulutku. Aku hampir tidak bosan memanggil nama itu.
“Taehyung-ah? Kenapa kau balik kesini lagi?” Dana.
“Kajja, aku akan mengantarmu pulang.” Taehyung.
“Mwoya? Shireo! Jungkook akan mencariku disini.” Dana.
“Dia tidak akan datang! Percayalah!” Bentakku yang membuat
Dana terkejut.
“Apa yang kau katakan itu benar?” Dana. Akupun menganggukkan
kepalaku.
“Kajja, kau naiklah kepunggungku aku akan mengendongmu.”
Tawarku, tetapi Dana berjalan begitu saja. Akupun memakaikan pakaian hangat ke
tubuhnya, tetapi Dana hanya diam dan terus saja berjalan.
Bahkan coffe latte yang aku berikan
sejak tadi lamanya, ia belum juga menghabiskannya. Tiba-tiba Danapun berhenti
lalu tangannya seperti mengusap matanya, akupun mencoba mendekatinya.
“Taehyung-ah, apa kau tahu?” Dana.
“Dana-ya…” Aku memegang pundaknya, tetapi Dana jatuh
tersungkur.
“Taehyung-ah, jebal…” Jerit Dana, akupun yang merupakan
sahabat Dana sejak kecil baru melihat Dana menjerit seperti ini. Akupun duduk
jongkok menyamakan diri seperti Dana.
“Dana-ya sudahlah, arraseo.” Bilangku mencoba menenagkan
Dana sambil menepuk-nepuk punggung Dana.
Danapun menangis menghadap dadaku
dan menarik baju hangatku berulang kali, Danapun tak henti-hentinya
memukul-mukul dadaku. Akupun tidak kuat melihat Dana seperti ini, akupun
mencoba menahan air mataku tetapi melihat sahabatku seperti ini. Aku tidak
bisa.
Malam itupun aku baru mengetahui
sebenarnya Dana menyukai Jungkook sudah begitu lama dan aku juga baru melihat
Dana menangis lalu menjerit seperti itu. Akupun menggenggam tangan Dana dengan
erat untuk menuntunnya pulang. Tapi sebelum itu…
Aku melihat Dana kembali, sekarang
bukanlah aku yang mengekor dibelakangnya melainkahlah Dana yang sekarang
mengekor dibelakangku. Dana masih saja menundukkan kepalanya dan tangan
kanannya masih juga memegang gelas coffe yang aku beri tadi.
“Jeon Jungkook…” Taehyung.
“Hyung, kau kembali lagi.” Jungkook.
Akupun menarik kerah baju Jungkook
dan menepatkan sebuah hantaman diwajahnya, Jungkookpun terjatuh dihadapan Dana.
Danapun hanya terdiam, akupun menarik kerah baju Jungkok lagi dan berulang kali
aku menepatkan hantamanku keperut Jungkook.
“Jungkook-ah Dana telah menunggumu sejak sore tadi, lihatlah
bukankah kau sudah berjanji akan bermain dengannya? Lihaltah tubuhnya sudah
sangat dingin hanya untuk menunggumu! Apa kau mau sahabat kita mati kedinginan
hanya untuk menunggumu yang tak kunjung datang?Huh?” Bilangku kepada Jungkook.
Irenepun berlari kearah Dana dan
meminta pertolongan darinya tetapi Dana melihat wajah Irene dan langsung
menamparnya.
“Mwoya? Kau
menamparku?” Irene.
*PLAK* Suara itupun terdengar lagi olehku. “Apa kau masih
berani berbicara kepadaku?” Dana.
Akupun mendorong Jungkook dan
menghentikan semua ini. Akupun berusaha meredam emosiku, Danapun berjalan
kearahku dan menarik lenganku.
To Be
Continue…







