Senin, 20 Juli 2015

My Flower Boys (Chapter 3)

Chapter 3
“Your Promise…”
Jungkookpun berlari sangat kencang menuju kearah seorang namja yang berada didepannya lalu merangkulnya dengan erat.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kau membuatku terkejut. Paboo!!” Taehyung yang memukul kepala Jungkook dengan pelan.
“Mianhae, kenapa kau tidak membalas pesanku kemarin?” Jungkook yang menyamakan langkah kakinya sama seperti Taehyung.
“Oh, Mian. Kemarin pulsaku habis.” Taehyung yang tersenyum kepada Jungkook.
“Hm, arraseo. Lalu kau ini ingin kemana hyung?” Tanya Jungkook.
“Seperti biasa menemui teman kecil kita.” Taehyung.
“Dana-ya hyung?” Jungkook, Taehyungpun menganggukkan kepalanya.
~Sementara itu…~
“Hya’, Arin-ah kau lihat namja kita?” Irene. Arin hanya menganggukan kepalanya.
“Kau tahukan mereka akan menuju kemana?” Tambah Irene.
“Ne, arraseo. Mereka pasti akan menuju ke Dana, kenapa mereka setiap hari selalu saja seperti itu? Apa mereka tidak bosan? Bahkan aku saja yang menjadi yeojachingunya Taehyung bertemu saja hanya beberapa menit paling lama hanya 1 jam. Dan tidak seperti Taehyung bertemu dengan Dana seharianpun Taehyung betah dengannya.” Arin yan mengeluarkan semua keluhannya.
“Nah itu kau tahu. Bahkan aku saja pernah melihat Dana memakai Beanie yang sama dengan Jungkook dan sepasang sapu tangan yang sama dengan Taehyung saat mereka berkumpul bersama, bukankah itu keterlaluan. Merekakan hanya berteman, apa harus sebegitu juga? Bahkan aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri kalau Jungkook dan Taehyunglah yang memakaikannya kepada Dana.” Irene.
“Mwo? Bahkan Taehyung saja tidak pernah menawariku sapu tangan, setelah aku memintanya baru Taehyung memberikannya. Bahkan aku sendiri yang memakai sapu tangan itu, sepertinya aku mulai benci kepada Dana. Aku baru mengetahuinya dasar yeoja jalang!” Arin.
“Nado, akupun sangat marah waktu itu. Tapi kaukan tidak melihatnya secara langsung tetapi aku melihatnya secara langsung. Seakan-akan jantungku hampir copot begitu saja.” Irene.
“Tapi bukankah kau setiap hari sudah bertemu dengan Jungkook? Seharusnya kau itu bersyukur, bahkan bukankah karna kau Jungkook sekarang jarang berkumpul dengan mereka.” Arin.
“Hya’ neon paboya! Jungkook harus tetap bersamaku agar Dana tidak merebutnya. Seharusnya Taehyung juga bersamu, tetapi kau malah merelakannya dia terus berjalan dengan Dana. Apa kau tidak takut?” Irene.
“Aku takut, Taehyung saja waktu itu yang tidak menyatakan perasaannya kepadaku melainkan aku yang menyatakan perasaanku kepadanya.” Arin.
“Geurae, kalau begitu ikutlah aku jika kau tidak mau kehilangan Taehyungiemu itu.” Irene.
>>>>>
Saat yang ditunggu semua muridpun telah tiba, bel pulang sekolahpun telah berbunyi. Danapun berjalan keluar kelasnya, Dana tidak sabar akan hal yang dijanjikan oleh Jungkook padanya sewaktu pagi tadi.
Dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan Danapun berjalan dengan sangat cepat sampai…
“Hya’ Dana-ya chakkaman!!” Irene menarik tangan Dana.
“Appo, ya’ kau mau apa?” Dana.
“Ya’ neon (Irene sambil mendorong-dorong kening Dana dengan jari telunjuknya) apa kau puas?” Irene.
“Irene kau mau membully Dana? Kenapa kau ikutkan aku disini?” Arin.
“Sudah kau diamlah!” Irene.
“Puas apa maksudmu?” Dana.
“Kau sudah merebut kedua namja kami dari kami, seharusnya kau malu dengan semua itu.” Irene. Arinpun hanya terdiam dam melihati terus Dana.
“Aku tidak merasa merebut kedua namja kalian, kami hanya bersahabat arraseo!” Dana.
“Halah, tidak usah banyak alasan. Apa berteman harus memakaikan beanie dan sepasang sapu tangan kepadamu? Huh?” Irene yang menarik kerah baju Dana.
“Memanglah begitu kami sejak kecil, apa kau baru tahu itu? Kami juga pernah makan bersama, pergi bersama, dan bahkan tidur bersama.” Dana.
“Nya’ neon!!!” Irene yang mengayunkan tangannya dan ingin menampar Dana.
“Irene, sudahlah tidak usah seperti ini.” Arin yang memegang tangan Irene.
“Hya’ sudah kau diamlah.” Irene. Irenepun kembali dan terfokus dengan tangannya dan ingin menampar Dana, Irenepun mulai mengayunkan tangannya dan…
“Irene!!!” Taehyung. Arinpun terkejut dengan kedatangan Tahyung pada sore itu.
“Taehyung-ah, jinjja aku tidak ikut melakukan hal ini.” Arin. Taehyungpun mendorong Irene dengan pelan lalu menarik lengan Dana.
“Dana-ya neon gwenchana?” Taehyung.
“Gumawo, jinjja nae gwenchana.” Dana.
“Hya’ Irene sebenarnya apa yang ada dipikiramu saat ini? Apa gara-gara Jungkook kau gila seperti ini?” Taehyung.
“Taehyung-ah, jinjja gwenchana. Gumawo sudah menolongku, tapi aku ada janji hari ini. Jadi aku harus pergi.” Dana lalu membalikkan badan dan berlari meninggalkan mereka ber-3.
Taehyung berganti arah melihat Arin.
“Taehyung-ah jinjja aku tidak ikut-ikut. Aku hanya, ini semua salah Irene aku dijebak oleh Irene.”  Arin sambil menunjuk kearah Irene.
“Sudah diamlah kau, ikuti aku.” Taehyung yang menarik lengan Arin.
>>>>>
Volume detak jantungku semakin cepat dan cepat saat Taehyung menarik tanganku. Akupun takut dengan kelakuan Taehyung seperti ini tapi disamping itu aku juga merasa senang.
Taehyungpun melepaskan genggaman tangannya dari lenganku.
“Arin-ah…” Taehyung.
“Ne, Taehyung-ah.” Arin.
“Aku tidak akan berbicara panjang lebar padamu, jadi tolong dengarkanlah aku.” Taehyung. Akupun menganggukan kepalaku.
“Aku tidak suka dengan kelakuanmu tadi dengan Irene kepada Dana, sebenarnya apa yang kau masalahkan dengan Dana? Katakan kepadaku.” Taehyung yang melihatku dengan tatapan serius.
“Sebenarnya saat istirahat tadi aku dan Irene melihatmu bersama Jungkook menuju ke Dana, kalian ber-2 selalu bersama Dana. Bahkan aku yang menjadi yeojachingumu saja bertemu denganmu itu jarang aku lakukan, lalu aku merasa kau akan meninggalkanku Taehyung-ah jadi aku tidak mau kehilanganmu. Irene bilang kepadaku jika kalau aku tidak ingin kehilanganmu aku harus mengikutinya, tapi benar aku tidak tahu kalau Irene akan melakukan hal ini.” Jelasku kepada Taehyung.
“Arin-ah kau tahu aku juga menyukaimu, bukankah sudah cukup aku menjadi namjachingumu? Setidaknya kau berfikir aku adalah yeojachingunya Taehyung sedangkan Dana hanyalah sahabatnya Taehyung saja, bukankah aku nanti akan menjadi salah satu kehidupannya kelak (Taehyung menjelaskan dari sisi pandangan Arin kepada Taehyung). Dana hanyalah sahabatku sejak kecil Arin-ah, seharusnya kau tahu itu dan kau seharusnya juga tidak cemburu seperti ini.” Taehyung.
“Taehyung-ah mianhaeyo, seharusnya aku tidak cemburu seperti anak kecil.” Arin.
“Apa kau baru menyadarinya Arin-ah, ini sudah terlambat kau membahayakan diri sahabatku.” Taehyung.
“Taehyung-ah aniya, aku tidak mau mengahkiri hubunganku denganmu.” Arin.
“Begitu juga denganku Arin-ah aku juga tidak mau mengakhirnya denganmu tetapi kau yang memulainya, jadi terimalah akibat dari semua yang kau lakukan.” Taehyung yang mulai brjalan meninggalkanku.
“Taehyung-ah, apa karna dia sahabatmu sejak kecil kau terus saja membelanya? Huh?” Arin. Taehyungpun seketika berhenti setelah mendengarkan perkataan yang keluar dari muutku tadi.
“Bahkan aku saja yang menjadi yeojamu apa pernah sekali saja kau membelaku? Bahkan sekalipun kau melihatku sebagai yeojamu itu, TIDAK!” Teriakku kepada Taehyung. Lalu Taehyung membalikkan tubuhnya dan menatapku dari kejauhan.
Taehyung telah melihat air mataku mengalir kebawah pada pertama kalinya. Akupun sudah berusaha menahan semua air  mataku sejak awal aku mempunyai hubungan dengannya tetapi kali ini aku sudah lelah untuk menahannya. Aku berusaha mengumpulkan sisa-sisa energi yang berada didalam tubuhku hanya untuk mengatakan sesuatu kepada Taehyung.
“Taehyung-ah, jawab pertanyaanku untuk terakhir kalinya.” Bilangku padanya sambil mengusap air mata yang telah sukses membasahi semua pipiku. Akupun perlahan berjalan mendekatinya sampai 3 langkah darinya.
“Apa kau menyukai Dana?” Tanyaku, setelah Taehyung mendengar pertanyaanku yang mungkin tidak diduganya seketika mata Taehyung itupun yang awal menyipit berubah menjadi bulat sempurna.
Akupun menunggu jawaban darinya, tetapi dia hanya terdiam. Sebenarnya aku sudah tahu jawaban apa yang ada didalam pikirannya.
“Aniya, aku tidak menyukainya.” Jawabnya.
“Kau berbohong kepadaku.” Jawabku.
Akupun langsung melangkahkan kakiku pergi untuk menjauh darinya.
“Arin-ah… Arin-ah!!! Chakkaman!!” Panggil Taehyung.
Akan aku ingat suara itu selamanya bukankah hari ini detik inipun juga aku akan mendengar suara itu untuk terakhir kalinya? Aku sangat sakit sekarang entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tahu Taehyung berkata bohong padaku sebenarnya dia menyukai Dana sahabatnya sendiri.
Akupun mendudukkan diriku disebuah tempat duduk, akupun menangis sepuasku disana. Aku telah berjuang cukup berat untuk mendapatkannya tetapi Taehyung tidak pernah menghargai perjuanganku untuk mendapatkannya.
 Berulang kali aku mengusap air mataku yang berjatuhan dan mengalir begitu saja, aku terus saja berpikir apa tidak adakah seseorang yang dapat menenangkanku saat ini dan menjadi tempat bersandarku saat ini?
>>>>> 
Aish, kurang ajar Irene. Apa dia tadi akan membullyku dengan mengajak Arin? Huh, membuatku terlambat saja. Akupun berjalan dengan cepat menuju ketaman kota tetapi setelah aku sampai namja yang berjanji denganku tadi pagi belumlah sampai.
Akupun memutuskan untuk duduk dan menunggunya saja disana, sesekali akupun juga menghidupkan ponselku dan melihat layar ponselku. Apakah ada pesan masuk atau telephone tak terangkat yang tidak aku ketahui, tetapi tidak ada satupun.
Jampun telah menunjukkan pukul 7 malam, akupun juga belum menganti seragam sekolahku dengan pakaian hangat. Berulang kali aku menggosok kedua telapak tanganku dan mengelus-elus lenganku, akupun juga menggerakkan sesekali kakiku agar udara dingin tidak menyelimuti tubuhku tapi udara masih tetap saja sangatlah dingin. Tetapi aku terus saja menunggu Jungkook.
~Sementara itu…~
Taehyungpun berjalan menikmati dinginnya kota Seoul pada malam hari itu, sambil memakan ddeukbokki yang ia beli ditaman kota. Tidak salah lihat Taehyung melihat seorang yeoja yang duduk sendirian yang memakai seragam sekolah yang sama ditempat ia sekolah.
Taehyungpun berinisiatif untuk mendekatinya terlihat yeoja itu sangat kedinginan.
>>>>>
Akupun terus saja mengelus-elus lengan tanganku dan menggerak-gerakan kecil kakiku, tapi udara dingin tidak mau hilang dari tubuhku. Seakan-akan udara dingin ini mulai seperti pecahan kaca yang menusuk-nusuk tubuhku satu persatu.
Dari kejauhan terlihat seorang namja mendekat kearahku, tetapi aku tidak menghiraukannya. Aku masih tetap terfokus dengan menghangatkan tubuhku, mungkin setibanya Jungkook disini dia akan memberikan jaket hangat untukku.
“Hya’ Dana-ya!!” Panggil seorang namja, yang telah tahu itu aku. Dan berlari begitu cepat setelah ia tahu kalau ia mengenalku.
“Taehyung-ah?” Jawabku.
“Kenapa kau disini?” Dana.
“Seharusnya aku yang mengatakan hal itu kepadamu. Kenapa kau disini? Lihatlah bibirmu mulai pucat dan tanganmu sangat dingin.” Taehyung yang langsung duduk disampingku dan melihati diriku dari atas hingga bawah.
Akupun tersenyum “Aku sedang menunggu seseorang, dia telah berjanji padaku sewaktu pagi tadi kalau dia berjanji akan megajakku bermain hari ini.” Dana.
“Nuguya?” Taehyung.
“Jeon Jungkook.” Dana.
“Oh, tapi kau bawa pakaian hangatkan?” Taehyung, akupun menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Aish, yeoja pabo.” Taehyung yang mendorong kepala Dana kedepan dengan pelan.
“Hya’!!!” Pekikku.
“Yasudah kau pakailah ini.” Taehyung.
“Shireo!! Aniya, aniya. Kau pakailah saja, kaukan cuman memakai jaket hangat itu kalau aku memakainya bukankah sama saja kau juga akan kedinginan sepertiku?” Dana.
“Tidak apa-apa, aku masih memakai baju hangat.” Taehyung.
“Aniya, pakailah. Biar tubuhmu benar-benar hangat. Bukankah eommamu selalu mengkhawatirkamu jika kau kedinginan?” Dana.
“Jinjja? Kau tidak mau memakainya?” Tawar Taehyung lagi kepadaku. Akupun menganggukkan kepalaku berulang kali agar meyakinkannya.
“Oh, arraseo kalau itu maumu. Tapi kau makanlah dan minum ini setidaknya kau isi perutmu lalu hangatkan tubuhmu.” Taehyung.
“Gumawoyo, hari ini kau menyelamatkanku 2 kali.” Akupun tersenyum kepadanya.
“Palliwa kau pulanglah. Udara disini semakin dingin.” Tambahku. Lalu Taehyung menuruti apa yang aku katakan, akhirnya Taehyung berjalan pulang.
Berulang kali Taehyung berjalan lalu membalikkan badan untuk melihatku. Apakah aku baik-baik saja dengan keadaan udara dingin seperti ini.
“Jinja neon gwenchana?” Teriak Taehyung dari kejauhan.
“Ne, nae jinjja gwenchana Taehyung-ah.” Akupun melambaikan tanganku kepada Taehyung agar Taehyung percaya kepadaku. Taehyungpun akhirnya meninggalkanku.
Setelah Taehyung pergi, akupun menghela nafasku dalam-dalam lalu memakan ddeukbokki dan coffe latte yang diberikan Taehyung padaku.
~Sementara itu…~
Akupun berjalan meninggalkan Dana. Sepertinya Dana berbohong kalau dia mengucapkan tidak apa-apa kepadaku, mungkin dia mengatakan hal itu agar aku tidak mengkhawatirkannya. Tapi Jungkook-ah kau dimana? Sebenarnya ada apa denganmu? Jika kau sudah melakukan janji kepada Dana bukankah kau akan bertemu dengannya.
Tapi kau tidak ada disana, aku lihat tadi Dana spertinya sudah lama menunggu. Bahkan dia tidak mengganti seragam sekolahnya.
Akupun terus memikirkan Dana sampai…
“Mwoya? Jeon Jungkook!!!” Panggilku.
Jungkookpun menoleh kearahku sambil melambaikan tangannya.
“Hyung….” Jawab Jungkook yang juga tersenyum kepadaku.
Akupun melangkahkan kakiku dengan cepat menuju Jungkook, bukankah dia telah berjanji dengan Dana pada malam hari ini. Setelah aku sampai teryata tebakkanku selama ini benar.
“Oppa, annyeong!” Sapa Irene.
“Jungkook-ah kau benar-benar.”  Bilangku kepada Jungkook.
“Jangan panggil aku ini Oppa, aku seumuran dengan Jungkook. Arra!!” Betakku ke Irene. Akupun dengan cepat berlari meninggalkan Jungkook bersama yeojanya.
Beberapa kali aku menubruk orang dikeramaian taman kota, banyak orang disana sangatlah bahagia dan memamerkan kebahagian mereka satu sama lain . Tetapi setelah aku sampai disana seorang yeoja disanalah yang duduk sendirian, aku lihat dialah yang berbeda.
“Dana-ya…” Panggilku, nama itulah yang terus saja keluar dari mulutku. Aku hampir tidak bosan memanggil nama itu.
“Taehyung-ah? Kenapa kau balik kesini lagi?” Dana.
“Kajja, aku akan mengantarmu pulang.” Taehyung.
“Mwoya? Shireo! Jungkook akan mencariku disini.” Dana.
“Dia tidak akan datang! Percayalah!” Bentakku yang membuat Dana terkejut.
“Apa yang kau katakan itu benar?” Dana. Akupun menganggukkan kepalaku.
“Kajja, kau naiklah kepunggungku aku akan mengendongmu.” Tawarku, tetapi Dana berjalan begitu saja. Akupun memakaikan pakaian hangat ke tubuhnya, tetapi Dana hanya diam dan terus saja berjalan.
Bahkan coffe latte yang aku berikan sejak tadi lamanya, ia belum juga menghabiskannya. Tiba-tiba Danapun berhenti lalu tangannya seperti mengusap matanya, akupun mencoba mendekatinya.
“Taehyung-ah, apa kau tahu?” Dana.
“Dana-ya…” Aku memegang pundaknya, tetapi Dana jatuh tersungkur.
“Taehyung-ah, jebal…” Jerit Dana, akupun yang merupakan sahabat Dana sejak kecil baru melihat Dana menjerit seperti ini. Akupun duduk jongkok menyamakan diri seperti Dana.
“Dana-ya sudahlah, arraseo.” Bilangku mencoba menenagkan Dana sambil menepuk-nepuk punggung Dana.
Danapun menangis menghadap dadaku dan menarik baju hangatku berulang kali, Danapun tak henti-hentinya memukul-mukul dadaku. Akupun tidak kuat melihat Dana seperti ini, akupun mencoba menahan air mataku tetapi melihat sahabatku seperti ini. Aku tidak bisa.
Malam itupun aku baru mengetahui sebenarnya Dana menyukai Jungkook sudah begitu lama dan aku juga baru melihat Dana menangis lalu menjerit seperti itu. Akupun menggenggam tangan Dana dengan erat untuk menuntunnya pulang. Tapi sebelum itu…
Aku melihat Dana kembali, sekarang bukanlah aku yang mengekor dibelakangnya melainkahlah Dana yang sekarang mengekor dibelakangku. Dana masih saja menundukkan kepalanya dan tangan kanannya masih juga memegang gelas coffe yang aku beri tadi.
“Jeon Jungkook…” Taehyung.
“Hyung, kau kembali lagi.” Jungkook.
Akupun menarik kerah baju Jungkook dan menepatkan sebuah hantaman diwajahnya, Jungkookpun terjatuh dihadapan Dana. Danapun hanya terdiam, akupun menarik kerah baju Jungkok lagi dan berulang kali aku menepatkan hantamanku keperut Jungkook.
“Jungkook-ah Dana telah menunggumu sejak sore tadi, lihatlah bukankah kau sudah berjanji akan bermain dengannya? Lihaltah tubuhnya sudah sangat dingin hanya untuk menunggumu! Apa kau mau sahabat kita mati kedinginan hanya untuk menunggumu yang tak kunjung datang?Huh?” Bilangku kepada Jungkook.
Irenepun berlari kearah Dana dan meminta pertolongan darinya tetapi Dana melihat wajah Irene dan langsung menamparnya.
 “Mwoya? Kau menamparku?” Irene.
*PLAK* Suara itupun terdengar lagi olehku. “Apa kau masih berani berbicara kepadaku?” Dana.
Akupun mendorong Jungkook dan menghentikan semua ini. Akupun berusaha meredam emosiku, Danapun berjalan kearahku dan menarik lenganku.

To Be Continue…
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar