Chapter
2
“Really?”
Gemerlap gemerlip lampu kota pada
malam hari menghiasi pinggiran jalan kota Seoul. Anginpun mulai behembus sangat
kencang ditambah hawa dingin yang menemani 3 orang sahabat dimalam itu.
Danapun mengosok-gosokkan kedua
telapak tangannya agar menghasilkan hawa hangat disekitarnya. Lalu sesekali
Dana juga memegangi kedua telinganya. Taehyung dan Jungkookpun berjalan
disamping kanan dan kirinya layaknya seorang pengawal yang menjaga Dana.
“Huft, apa kalian tidak merasakan kedinginan?” Dana yang
mengawali pembicaraan.
“Aniya. Aku sudah terbiasa.” Taehyung.
“Oh, apa kau kedinginan?” Jungkook yang mengambilkan sebuah
beanie dari dalam ranselnya. Yang dimana beanie itu sama persis yang Jungkook
pakai.
“Gumawo.” Dana.
“Biarkan aku yang memakaikannya.” Jungkook.
“Bukankah tanganmu juga kedinginan?” Taehyung. Lalu Taehyung
juga mengeluarkan sepasang sapu tangan yang sama persis juga dengan yang
dipakai oleh Taehyung.
Danapun hanya terdiam saat kedua
teman namja Dana sejak kecil itu memakaikan beanie dan sapu tangan untuknya.
Beberapa detik kemudian…
“Hm, aku lapar.” Dana.
“Kau lapar Dana?” Jungkook. Danapun tersenyum lalu
menundukkan kepalanya.
“Kajja, kita pergi ketempat yang biasanya untuk kita
berkumpul.” Sela Taehyung.
Dana memulai langkah kakinya
menuju ketempat yang biasanya mereka kunjungi untuk berkumul bersama. Jungkook
dan Taehyung berjalan dibelakangnya layaknya mengekor dibelakang.
“Jungkook-ah sepertinya Dana sudah mulai sembuh.” Taehyung
sambil merangkul pundak Jungkook.
“Ne hyung, hah syukurlah.” Jungkook yang juga merangkul
pundak Taehyung.
~Sesampainya ketempat yang biasanya
untuk berkumpul~
“Jungkook-ah Taehyung-ah palliwa!!!” Panggil Dana dengan
sangat senang sambil melambaikan tangannya.
Jungkook dan Taehyungpun menuju
kearah Dana, lalu duduklah mereka ber-3.
“Bukankah sudah lama kita ber-3 tidak berkumpul seperti
ini?” Dana.
“Hah, ne kita sudah tidak lama berkumpul seperti ini.”
Jungkook sambil tertawa.
“Ne, semua karna kua punya yeoja.” Taehyung.
“Hya’ hyung jangan kau salahkan yeojaku ya. Dia sangat baik
kepadaku jangan kau salahkan dia.” Jungkook.
“Hya’ bocah apa kau mengancamku?” Taehyung.
“Ne, wae? Tapi hyung
kaukan juga punya yeoja.” Jungkook.
“Ne, tapi aku tidak sepertimu.” Taehyung.
“Dana-ya keluarkan
ponselmu, kajja kita mengabadikan moment ini. Bukankah kita juga sudah lama
tidak foto bersama?” Jungkook yang mengalihkan ppembicaraan.
Mereka ber-3pun tertawa
bersamaan. Setelah lama mereka bergurau mereka benar-benar lupa dengan waktu
dan semua yang berada disekitar mereka. Sampai suatu seketika…
“Jungkook-ah, apa itu kau?” Panggil seorang yeoja.
Meraka ber-3pun berhenti tertawa
dan menoleh kearah yang telah mengacaukan keceriaan mereka.
“Oh, Irene.” Jungkook.
“Jungkook-ah, kenapa yeojamu berada disini?” Taehyung.
Seketika Danapun mulai menghilangkan kesenangan yang baru ia tebarkan tadi.
“Hm, sebenarnya setelah aku berkumpul dengan kalian aku akan
pergi dengan Irene.” Jungkook.
“Eodi?” Dana.
“Disini, ditempat ini kami akan pergi. Soalnya tempat ini
milik appaku.”Sela Irene.
“Mwoya?” Danapun beranjak dari tempat duduknya.
“Dana-ya kau mau kemana?” Taehyung .
“Kau ikut aku atau tidak?” Dana.
“Dana-ya, chakkaman.” Jungkook.
>>>>>
Akupun berjalan dengan sangat
cepat entah apa yang merasukiku saat ini. Taehyungpun berulang kali memanggilku
tetapi aku tidak menghiraukannya, sampai akhirnya aku lelah dan menghentikan
langkahku disebuah taman kota.
Kududukkan diriku dibangku itu.
Malam itu sudah tengah malam, hawa pada malam itu juga semakin dingin. Tetapi
aku hanya mendudukkan diriku tidak menghiraukan apa yang akan terjadi nanti
kepadaku.
Aku juga masih memikirkan
kejadian tadi, entah kenapa dengan diriku. Disetiap aku melihat Jungkook dengan
Irene bersama, semua perasaanku menjadi berubah total. Aku tidak tahu apa yang
sedang aku rasakan saat ini. Ini membuatku iri, sakit dan marah, aku bingung
dengan penyakit yang aku punyai saat ini.
“Dana-ya, kenapa kau tadi pergi?” Taehyung. Akupun hanya
terdiam.
Lalu Taehyung duduk didekatku
untuk menemaniku. Ponsel Taehyung pada hari itu bergetar, aku tahu pasti ada
sebuah pesan masuk didalam ponselnya.
From: Jungkook
“Hyung mianhae telah mengacaukan malam ini.”
Aku mulai menoleh kearah
Taehyung, Taehyungpun mulai menekan satu persatu huruf yang berada dilayar
ponselnya. Akupun juga tidak tahu ia membalas pesan dari siapa.
To: Jungkook
“Jungkook-ah seharusnya kau tidak melakukan hal ini, aku
tahu memang bertemu dengan yeojachingu itu sangat menyenangkan. Tetapi tidak
harus berulang kali bukan? Atau tidak dilain hari selain dihari kita seharusnya
berkumpul seperti ini.”
Taehyungpun dengan tiba-tiba
menoleh kearahku dan terkejutnya aku. Akupun langsung menoleh dan melihat objek
lain.
“Kau penasaran? Ini pesan dari Jungkook. Dia meminta maaf
karna sudah mengacaukan malam ini.” Jelas Taehyung.
“Hanya itu saja Taehyung-ah?” Dana. Taehyunpun hanya
menganggukan kepalanya.
“Oh, dia membalasnya.” Taehyung.
From: Jungkook
“Hyung aku juga mempunyai kehidupan, aku juga berhak
melakukan apa yang aku suka!”
Aku mulai penasaran apa yang
sebenarnya yang mereka bicarakan saat ini dan Taehyungpun mulai menekan
huruf-huruf yang berada di layar ponselnya kembali.
To: Jungkook
“Jungkook-ah arraseo. Tapi bukankah kau sudah berjanji kepada
Dana? Apa kau lupa? Bukankah kau tadi juga bilang kepadaku kalau Dana sudah
kembali lagi seperti biasa, tetapi disaat Dana mulai kembali lagi kau
membuatnya dingin seperti es.”
“Taehyung-ah aku ingin bertanya sesuatu?” Aku yang memulai
percakapan.
“Oh, bertanyalah akan aku jawab.” Taehyung yang langsung
menghadap kearahku.
“Hm, apa kau tahu penyakit yang membuat iri, sakit dan
marah? Penyakit ini seperti menyerang pada perasaan. Apa kau tahu?” Dana.
“Oh, Hm…” Taehyungpun masih memikirkan hal itu, sampai
beberapa detik kemudian.
“Aku rasa itu bukan penyakit tetapi melainkan seorang itu
sedang merasakan jatuh cinta.” Taehyung.
“Mwo? Mwo? Apa yang kau katakan?” Dana.
“ Ya, seperti yang aku ketahui itu bukan penyakit Dana.
Melainkan jatuh cinta, arra?” Taehyung.
“Seperti Jungkook-ah itu?” Dana.
“Ne Dana-ya, hya’ kau polos sekali. Aigoo sahabatku ini.”
Taehyung sambil mengusap-usap rambutku.
Akupun hanya bisa terdiam,
tubuhku mulai seperti membeku. Aku tidak percaya dengan jawaban atas
pertanyaanku tadi. Apa aku benar sedang merasakan jatuh cinta?
>>>>>
Setelah aku berkumpul dengan ke-2
sahabatku dan setelah itu bertemu dengan yeojaku, aku merasakan hal aneh
setelah yeojaku datang dan sebelum yeojaku datang menemuiku saat aku, Dana, dan
Taehyung hyung berkumpul bersama.
Akupun menghempaskan tubuhku yang
sangat lelah di sebuah kasur empuk itu. Akupun terus memikirkan kejadian itu,
apa yeojaku punya salah kepada Dana? Sampai-sampai saat kedatangan Irene,
Danapun langsung pergi begitu saja.
Ponsel yang berada di ranselku
dengan cepat aku ambil, setelah itu mataku berusaha mencari nama kontak yang
berawalan dengan H. Akupun mengirimkan pesan lagi kepada Taehyung hyung.
To: Hyung
“Hyung apa kau masih bersama
Dana?”
Setelah pesan singkat itu
terkirim, aku merebahkan badanku sambil melihat langit-langit kamarku. Beberapa
menit kemudian…
From: Hyung
“Aniya, dia sudah pulang. Aku
yang mengantarkannya.”
To: Hyung
“Oh, lalu sekarang kau dimana?”
Beberapa detikpun telah berlalu
Taehyung Hyungpun belum juga membalas pesanku, lalu aku berhenti melihati layar
ponselku. Seketika aku juga tidak tahu kenapa, kepalaku menoleh begitu saja dan
mataku langsung tertuju oleh sebuah foto yang berada diatas rak meja belajarku.
Akupun berusaha untuk meraihnya
lalu aku tersenyum setelah melihat foto itu. Terlihat dididalam foto itu kami
ber-3 sangat bahagia, bermain bersama, makan bersama, tidur bersama, bercerita
bersama, saling menasehati, saling membantu, dan masing-masing dari kami
sebagai tempat bersandar jika salah satu dari kami mendapatkan masalah.
Tapi sekarang itu semua sudah
mulai jarang kami lakukan, sebenarnya aku ingin kami ber-3 melakukan hal itu
kembali. Andai saja waktu bisa kuputar dan kembali kemasa itu, setelah itu aku
ingin waktu berhenti dan menikmati masa itu selamanya.
>>>>>
Seperti biasa aku menjalani
hidupku seperti ini, banyak orang selalu berkata kepadaku. “Bukankah kau sangat
beruntung kemana-mana ada 2 namja yang sangat tampan selalu mengekor
dibelakangmu.” Tidak hanya itu bahkan “Hya’ Dana, aku ingin operasi plastik dan
menganti wajahku menjadi wajahmu agar aku bisa dekat dengan Taehyung dan
Jungkook.”
Lalu ada juga yang mengatakan
“Seharusnya kau bersyukur Dana-ya dengan 2 namja itu yang selalu menempel
kepadamu! Tetapi kau selalu meremehkan mereka ber-2, jika aku jadi kau salah
satu dari namja itu sudah aku jadikan namjaku.”
Oh, ayolah kenapa mereka
melakukan hal itu kepadaku? Aku tahu 2 namja yang selalu menempel seperti
perangko kepadaku itu tampan dan juga keren, tetapi jika kalian selalu bersama
mereka kau akan ikut konyol bahkan tolol seperti mereka.
Hah mereka semua memang yeoja
yang gila dan sangat paranoid kepada 2 namja konyol itu, kenapa mereka semua
harus menyalahkanku saja? Huh? Seharusnya mereka menyalahkan Arin dan Irene,
mereka berduakan adalah yeojachingunya Taehyung dan Jungkook.
Kalau seperti ini siapa yang
harus aku salahkan? Wae? Naega? Wae?
Ponselku tiba-tiba berbunyi,
akupun dengan cepat mengambil ponsel yang berada disaku bajuku. Terlihat Jungkook
menelphoneku.
“Ne, Jungkook-ah waeyo kau menelphoneku?” Aku yang
mengangkat telephone dari Jungkook sambil berjalan menuju kesekolah.
“Hm, Dana-ya. Mianhae telah mengacaukan malam kemarin saat
kita ber-3 berkumpul bersama.” Jungkook.
“Oh itu, gwenchana tidak usah kau pikirkan lagi. Toh kita
akan berkumpul bersama kembalikan?” Dana.
“Ne, Dana-ya apa hari ini kau ada kegiatan?” Jungkook.
“Aniya, wae Jungkook-ah?” Dana.
“Aku ingin mengajakmu bermain hari ini, bisa?” Jungkook.
“Hm, Taehyung-ah? Apa dia juga ikut?” Dana.
“Aniya hanya kau dan aku saja.” Jungkook.
“Okelah.” Akupun menjawab dengan tersenyum.
“Geurae. Setelah pulang sekolah kau tunggulah ditaman kota,
arraseo?” Jungkook.
Setelah aku mematikan ponselku,
akupun mendekap dengan erat ponselku didepan dadaku. Akupun tidak percaya degan
apa yang dikatakan Jungkook, kalau dia akan menganjakku bermain. Hanya aku dan
dia saja.
Akupun berteriak dan
meloncat-loncat dipinggir jalan seperti seorang fans yang bertemu dengan
idolnya. Akupun masih tidak percaya lalu aku menampar pipiku sangat kencang dan
aku merasa kesakitan.
To Be
Continue…








0 komentar:
Posting Komentar