Jumat, 10 Juli 2015

My Flower Boys (Chapter 2)

Chapter 2
“Really?”
Gemerlap gemerlip lampu kota pada malam hari menghiasi pinggiran jalan kota Seoul. Anginpun mulai behembus sangat kencang ditambah hawa dingin yang menemani 3 orang sahabat dimalam itu.
Danapun mengosok-gosokkan kedua telapak tangannya agar menghasilkan hawa hangat disekitarnya. Lalu sesekali Dana juga memegangi kedua telinganya. Taehyung dan Jungkookpun berjalan disamping kanan dan kirinya layaknya seorang pengawal yang menjaga Dana.
“Huft, apa kalian tidak merasakan kedinginan?” Dana yang mengawali pembicaraan.
“Aniya. Aku sudah terbiasa.” Taehyung.
“Oh, apa kau kedinginan?” Jungkook yang mengambilkan sebuah beanie dari dalam ranselnya. Yang dimana beanie itu sama persis yang Jungkook pakai.
“Gumawo.” Dana.
“Biarkan aku yang memakaikannya.” Jungkook.
“Bukankah tanganmu juga kedinginan?” Taehyung. Lalu Taehyung juga mengeluarkan sepasang sapu tangan yang sama persis juga dengan yang dipakai oleh Taehyung.
Danapun hanya terdiam saat kedua teman namja Dana sejak kecil itu memakaikan beanie dan sapu tangan untuknya. Beberapa detik kemudian…
“Hm, aku lapar.” Dana.
“Kau lapar Dana?” Jungkook. Danapun tersenyum lalu menundukkan kepalanya.
“Kajja, kita pergi ketempat yang biasanya untuk kita berkumpul.” Sela Taehyung.
Dana memulai langkah kakinya menuju ketempat yang biasanya mereka kunjungi untuk berkumul bersama. Jungkook dan Taehyung berjalan dibelakangnya layaknya mengekor dibelakang.
“Jungkook-ah sepertinya Dana sudah mulai sembuh.” Taehyung sambil merangkul pundak Jungkook.
“Ne hyung, hah syukurlah.” Jungkook yang juga merangkul pundak Taehyung.
~Sesampainya ketempat yang biasanya untuk berkumpul~
“Jungkook-ah Taehyung-ah palliwa!!!” Panggil Dana dengan sangat senang sambil melambaikan tangannya.
Jungkook dan Taehyungpun menuju kearah Dana, lalu duduklah mereka ber-3.
“Bukankah sudah lama kita ber-3 tidak berkumpul seperti ini?” Dana.
“Hah, ne kita sudah tidak lama berkumpul seperti ini.” Jungkook sambil tertawa.
“Ne, semua karna kua punya yeoja.” Taehyung.
“Hya’ hyung jangan kau salahkan yeojaku ya. Dia sangat baik kepadaku jangan kau salahkan dia.” Jungkook.
“Hya’ bocah apa kau mengancamku?” Taehyung.
 “Ne, wae? Tapi hyung kaukan juga punya yeoja.” Jungkook.
“Ne, tapi aku tidak sepertimu.” Taehyung.
 “Dana-ya keluarkan ponselmu, kajja kita mengabadikan moment ini. Bukankah kita juga sudah lama tidak foto bersama?” Jungkook yang mengalihkan ppembicaraan.
Mereka ber-3pun tertawa bersamaan. Setelah lama mereka bergurau mereka benar-benar lupa dengan waktu dan semua yang berada disekitar mereka. Sampai suatu seketika…
“Jungkook-ah, apa itu kau?” Panggil seorang yeoja.
Meraka ber-3pun berhenti tertawa dan menoleh kearah yang telah mengacaukan keceriaan mereka.
“Oh, Irene.” Jungkook.
“Jungkook-ah, kenapa yeojamu berada disini?” Taehyung. Seketika Danapun mulai menghilangkan kesenangan yang baru ia tebarkan tadi.
“Hm, sebenarnya setelah aku berkumpul dengan kalian aku akan pergi dengan Irene.” Jungkook.
“Eodi?” Dana.
“Disini, ditempat ini kami akan pergi. Soalnya tempat ini milik appaku.”Sela  Irene.
“Mwoya?” Danapun beranjak dari tempat duduknya.
“Dana-ya kau mau kemana?” Taehyung .
“Kau ikut aku atau tidak?” Dana.
“Dana-ya, chakkaman.” Jungkook.
>>>>>
Akupun berjalan dengan sangat cepat entah apa yang merasukiku saat ini. Taehyungpun berulang kali memanggilku tetapi aku tidak menghiraukannya, sampai akhirnya aku lelah dan menghentikan langkahku disebuah taman kota.
Kududukkan diriku dibangku itu. Malam itu sudah tengah malam, hawa pada malam itu juga semakin dingin. Tetapi aku hanya mendudukkan diriku tidak menghiraukan apa yang akan terjadi nanti kepadaku.
Aku juga masih memikirkan kejadian tadi, entah kenapa dengan diriku. Disetiap aku melihat Jungkook dengan Irene bersama, semua perasaanku menjadi berubah total. Aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan saat ini. Ini membuatku iri, sakit dan marah, aku bingung dengan penyakit yang aku punyai saat ini.
“Dana-ya, kenapa kau tadi pergi?” Taehyung. Akupun hanya terdiam.
Lalu Taehyung duduk didekatku untuk menemaniku. Ponsel Taehyung pada hari itu bergetar, aku tahu pasti ada sebuah pesan masuk didalam ponselnya.
From: Jungkook
“Hyung mianhae telah mengacaukan malam ini.”
Aku mulai menoleh kearah Taehyung, Taehyungpun mulai menekan satu persatu huruf yang berada dilayar ponselnya. Akupun juga tidak tahu ia membalas pesan dari siapa.
To: Jungkook
“Jungkook-ah seharusnya kau tidak melakukan hal ini, aku tahu memang bertemu dengan yeojachingu itu sangat menyenangkan. Tetapi tidak harus berulang kali bukan? Atau tidak dilain hari selain dihari kita seharusnya berkumpul seperti ini.”
Taehyungpun dengan tiba-tiba menoleh kearahku dan terkejutnya aku. Akupun langsung menoleh dan melihat objek lain.
“Kau penasaran? Ini pesan dari Jungkook. Dia meminta maaf karna sudah mengacaukan malam ini.” Jelas Taehyung.
“Hanya itu saja Taehyung-ah?” Dana. Taehyunpun hanya menganggukan kepalanya.
“Oh, dia membalasnya.” Taehyung.
From: Jungkook
“Hyung aku juga mempunyai kehidupan, aku juga berhak melakukan apa yang aku suka!”
Aku mulai penasaran apa yang sebenarnya yang mereka bicarakan saat ini dan Taehyungpun mulai menekan huruf-huruf yang berada di layar ponselnya kembali.
To:  Jungkook
“Jungkook-ah arraseo. Tapi bukankah kau sudah berjanji kepada Dana? Apa kau lupa? Bukankah kau tadi juga bilang kepadaku kalau Dana sudah kembali lagi seperti biasa, tetapi disaat Dana mulai kembali lagi kau membuatnya dingin seperti es.”
“Taehyung-ah aku ingin bertanya sesuatu?” Aku yang memulai percakapan.
“Oh, bertanyalah akan aku jawab.” Taehyung yang langsung menghadap kearahku.
“Hm, apa kau tahu penyakit yang membuat iri, sakit dan marah? Penyakit ini seperti menyerang pada perasaan. Apa kau tahu?” Dana.
“Oh, Hm…” Taehyungpun masih memikirkan hal itu, sampai beberapa detik kemudian.
“Aku rasa itu bukan penyakit tetapi melainkan seorang itu sedang merasakan jatuh cinta.” Taehyung.
“Mwo? Mwo? Apa yang kau katakan?” Dana.
“ Ya, seperti yang aku ketahui itu bukan penyakit Dana. Melainkan jatuh cinta, arra?” Taehyung.
“Seperti Jungkook-ah itu?” Dana.
“Ne Dana-ya, hya’ kau polos sekali. Aigoo sahabatku ini.” Taehyung sambil mengusap-usap rambutku.
Akupun hanya bisa terdiam, tubuhku mulai seperti membeku. Aku tidak percaya dengan jawaban atas pertanyaanku tadi. Apa aku benar sedang merasakan jatuh cinta?
>>>>>
Setelah aku berkumpul dengan ke-2 sahabatku dan setelah itu bertemu dengan yeojaku, aku merasakan hal aneh setelah yeojaku datang dan sebelum yeojaku datang menemuiku saat aku, Dana, dan Taehyung hyung berkumpul bersama.
Akupun menghempaskan tubuhku yang sangat lelah di sebuah kasur empuk itu. Akupun terus memikirkan kejadian itu, apa yeojaku punya salah kepada Dana? Sampai-sampai saat kedatangan Irene, Danapun langsung pergi begitu saja.
Ponsel yang berada di ranselku dengan cepat aku ambil, setelah itu mataku berusaha mencari nama kontak yang berawalan dengan H. Akupun mengirimkan pesan lagi kepada Taehyung hyung.
To: Hyung
“Hyung apa kau masih bersama Dana?”
Setelah pesan singkat itu terkirim, aku merebahkan badanku sambil melihat langit-langit kamarku. Beberapa menit kemudian…
From: Hyung
“Aniya, dia sudah pulang. Aku yang mengantarkannya.”
To: Hyung
“Oh, lalu sekarang kau dimana?”
Beberapa detikpun telah berlalu Taehyung Hyungpun belum juga membalas pesanku, lalu aku berhenti melihati layar ponselku. Seketika aku juga tidak tahu kenapa, kepalaku menoleh begitu saja dan mataku langsung tertuju oleh sebuah foto yang berada diatas rak meja belajarku.
Akupun berusaha untuk meraihnya lalu aku tersenyum setelah melihat foto itu. Terlihat dididalam foto itu kami ber-3 sangat bahagia, bermain bersama, makan bersama, tidur bersama, bercerita bersama, saling menasehati, saling membantu, dan masing-masing dari kami sebagai tempat bersandar jika salah satu dari kami mendapatkan masalah.
Tapi sekarang itu semua sudah mulai jarang kami lakukan, sebenarnya aku ingin kami ber-3 melakukan hal itu kembali. Andai saja waktu bisa kuputar dan kembali kemasa itu, setelah itu aku ingin waktu berhenti dan menikmati masa itu selamanya.
>>>>>
Seperti biasa aku menjalani hidupku seperti ini, banyak orang selalu berkata kepadaku. “Bukankah kau sangat beruntung kemana-mana ada 2 namja yang sangat tampan selalu mengekor dibelakangmu.” Tidak hanya itu bahkan “Hya’ Dana, aku ingin operasi plastik dan menganti wajahku menjadi wajahmu agar aku bisa dekat dengan Taehyung dan Jungkook.”
Lalu ada juga yang mengatakan “Seharusnya kau bersyukur Dana-ya dengan 2 namja itu yang selalu menempel kepadamu! Tetapi kau selalu meremehkan mereka ber-2, jika aku jadi kau salah satu dari namja itu sudah aku jadikan namjaku.”
Oh, ayolah kenapa mereka melakukan hal itu kepadaku? Aku tahu 2 namja yang selalu menempel seperti perangko kepadaku itu tampan dan juga keren, tetapi jika kalian selalu bersama mereka kau akan ikut konyol bahkan tolol seperti mereka.
Hah mereka semua memang yeoja yang gila dan sangat paranoid kepada 2 namja konyol itu, kenapa mereka semua harus menyalahkanku saja? Huh? Seharusnya mereka menyalahkan Arin dan Irene, mereka berduakan adalah yeojachingunya Taehyung dan Jungkook.
Kalau seperti ini siapa yang harus aku salahkan? Wae? Naega? Wae?
Ponselku tiba-tiba berbunyi, akupun dengan cepat mengambil ponsel yang berada disaku bajuku. Terlihat Jungkook menelphoneku.
“Ne, Jungkook-ah waeyo kau menelphoneku?” Aku yang mengangkat telephone dari Jungkook sambil berjalan menuju kesekolah.
“Hm, Dana-ya. Mianhae telah mengacaukan malam kemarin saat kita ber-3 berkumpul bersama.” Jungkook.
“Oh itu, gwenchana tidak usah kau pikirkan lagi. Toh kita akan berkumpul bersama kembalikan?” Dana.
“Ne, Dana-ya apa hari ini kau ada kegiatan?” Jungkook.
“Aniya, wae Jungkook-ah?” Dana.
“Aku ingin mengajakmu bermain hari ini, bisa?” Jungkook.
“Hm, Taehyung-ah? Apa dia juga ikut?” Dana.
“Aniya hanya kau dan aku saja.” Jungkook.
“Okelah.” Akupun menjawab dengan tersenyum.
“Geurae. Setelah pulang sekolah kau tunggulah ditaman kota, arraseo?” Jungkook.
Setelah aku mematikan ponselku, akupun mendekap dengan erat ponselku didepan dadaku. Akupun tidak percaya degan apa yang dikatakan Jungkook, kalau dia akan menganjakku bermain. Hanya aku dan dia saja.
Akupun berteriak dan meloncat-loncat dipinggir jalan seperti seorang fans yang bertemu dengan idolnya. Akupun masih tidak percaya lalu aku menampar pipiku sangat kencang dan aku merasa kesakitan.

To Be Continue…
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar