Sabtu, 31 Oktober 2015

My Flower Boys (Chapter 5)

Chapter 5
“About dead!”
“Jungkook-ah kau sangatlah tampan hari ini.” Taehyung.
“Haha, hyung apa kau menggodaku saat ini?” Jungkook.
“Geurae, wae? Jungkook-ah apa malam ini kau bebas? Jika bebas tolong temani aku tidur.” Taehyung yang berbicara seperti wanita.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kalian berdua bisa saja.” Dana.
“Hah, kita sampai.” Jungkook.
“Oh, oke kami berdua akan menunggumu disini.” Dana.
“Jungkook-ah jangan lama-lama disana, Palliwa!!!” Taehyung.
Jungkookpun perlahan berjalan meninggalkan mereka berdua sambil melambaikan tangannya dan Dana membalas lambainya lalu…
“Dana-ya…” Taehyung.
“Hm, wae?” Dana yang masih terus terfokus kepada Jungkook.
“Apa kau sudah mengatakan isi hatimu kepada Jungkook?” Taehyung.
“Sudah.” Dana.
“Lantas apa yang ia katakan?” Taehyung. Lalu Dana mengalihkan pandangannya ke Taehyung.
“Dia hanya berkata ‘Dana-ya kau menyukaiku?’ hanya itu saja.” Dana.
“Jinjja? Tidak ada yang lain?” Taehyung.
“Ne, karna waktu itu aku menyelanya dengan memanggil namamu.” Dana.
~Sementara itu…~
Akupun berlari menuju ke tempat penginapan Irene dengan sangat cepat, akupun telah membulatkan tekatku untuk mengatakan hal ini kepadanya.
Akhirnya akupun telah sampai dipenginapan Irene dan aku telah berada di depan pintu penginapannya, tetapi anehnya pintu itu tidak terkunci. Lalu aku mencoba untuk membuka dan masuk kedalam, akupun perlahan-lahan melangkahkan kakiku.
Setelah aku sampai akupun melihat Irene sedang tertidur lelap tetapi tidak sendiri melainkan dengan namja lain. Akupun terkejut dengan semua yang aku lihat, tiba-tiba Irenepun terbangun dia juga terkejut saat melihatku disana.
Tubuhku mulai melemas bahkan serasa ingin jatuh, tetapi aku berusaha untuk pergi dan menjauh dari apa yang aku lihat tadi. Akupun keluar dari tempat yang menjijikkan itu, aku terus saja berjalan dan aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Dadaku serasa begitu sesak bahkan sakit, disaat aku akan memutuskan hubungan dengannya apa aku yang harus menerima rasa sakit ini dahulu?
>>>>>
Danapun melihat Jungkook yang telah keluar dari pintu penginapan Irene dan berjalan dengan cepat keluar, Danapun bingung dengan Jungkook.
Dana berpikir setelah kau sampai kesini ke aku dan Taehyung, kami akan membantumu menyelesaikan masalahmu itu.
Tetapi Jungkook tidak menuju kearah Dana dan Taehyung melainkan berjalan cepat kearah lain.
“Taehyung, Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Kau lihat Jungkook, dia tidak punya penyakit pikun dinikan?” Dana. Taehyungpun melihat kerah Jungkook.
“Hya’ bocah kau mau kemana?” Teriak Taehyung tetapi Jungkook tidak menghiraukannya.
“Dana kajja kita ikuti Jungkook, aku takut bila terjadi sesuatu kepadanya.” Teahyung.
Dana dan Taehyungpun mengikuti Jungkook berjalan tetapi semakin Dana dan Taehyung mendekat Jungkook semakin kencang ia berjalan.
“Jungkook-ah kau mau kemana?” Teriak Dana.
“Jungkook apa kau punya masalah ceritalah kepada kami!” Taehyung.
“Hyung, Dana berhentilah mengikutiku. Pergilah aku hanya ingin sendiri.” Jungkook yang tiba-tiba berlari kencang begitu saja dan langsung menaiki bus.
“Hya’ bocah!!!”  Taehyung.
“Taehyung-ah kajja!!!” Dana yang telah menaiki sebuah sepeda yang memiliki 2 tempat duduk dan 2 pasang pedal.
Mereka berduapun dengan sekuat tenaga mengayuh pedal sepeda, setelah lama mengejar Jungkook.
“Taehyung-ah bukankah ini menuju ke sebuah tebing pantai?” Dana.
“Ah, ne.” Taehyung yang menambah kecepatan sepeda mereka. Danapun mulai sangat khawatir.
~Sesampainya disana…~
Taehyungpun dengan cepat berlari menuju ke tebing yang berada disana tetapi tidak dengan Dana yang lumayan jauh dari tebing pantai.
Dana juga terus mencari Jungkook dan…
“Jungkook-ah!!! Andhwae!!!!” Teriak Dana.
Taehyungpun mendekat kearah Dana dan juga meneriaki Jungkook.
“Jungkook-ah apa kau gila? Tidak bisakah kau membicarakannya dengan baik-baik kepada kami?” Teriak Taehyung.
“Aniya Hyung, ini sudah tidak bisa lagi. Aku begitu menyukainya dan hari ini sebenarnya aku akan mengakhiri hubungan kami, tetapi dia telah menusukku dari belakang dari dulu lamanya dan aku baru mengetahuinya sekarang ini!!! Ini tidak adil Hyung!!!” Jungkook.
“Dunia memang tidak adil dari dulu Jungkook-ah.” Taehyung.
“Jungkook-ah sadarlah kau sudah kelewatan ada banyak yeoja di seoul kau bisa mencarinya nanti. Euh, dadaku sesak.” Dana memegang dadanya.
“Neon gwenchana?” Taehyung, Dana mengangguk.
“Tidak Dana-ya, aku sudah lelah dengan semua ini.” Jungkook.
“Bagaimana denganku? Bukankah aku malah beratusan, beribuan, berjuta-jutaan bahkan tidak bisa dihitung lagi aku lebih lelah daripada kau Jungkook-ah. Apa kau tidak tahu tentang semua perasaanku saat itu?” Dana.
“Dana-ya mianhae biarkan aku menanggung dosaku saat ini. Hyung, Dana biarkanlah aku pergi saat ini.” Jungkook.
“Jungkook-ahhh!!!!” Teriak Dana.
Jungkook telah menutup kedua matanya dan siap untuk terjut bebas mengakhiri kehidupannya tetapi…
“Jungkook-ah apa kau sudah gila? Taehyung yang dengan cepat tadi menarik Jungkook dan menghempaskannya ke belakang.
“Hyung!!! Kenapa kau menarikku? Wae? Biarkanlah saja aku mati!” Jungkook.
“Hya’ bocah dimana akal sehatmu? Lalu setelah kau mati dan kami pulang hanya berdua lantas apa yang harus kami berdua katakan kepada eommamu? Huh?” Bentak Taehyung.
“Jungkook-ah neon gwenchana?”  Dana yang memegang pipi Jungkook sambil melihat seluruh badan Jungkook.
“Gwenchana Jungkook-ah, aku ada disini. Kami berdua selalu bersamamu.” Dana yang memeluk Jungkook sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Hya’ kenapa kalian berdua menangis? Hya’ sudahlah kalian berdua.” Taehyung yang mulai mendekati Dana dan Jungkook.
“Jungkook-ah namja tidak boleh menangis!” Tetapi air mata Taehyungpun menetes dan mulai membasahi pipinya.
Lalu Taehyungpun memeluk mereka berdua “Jungkook-ah, kau benar-benar kelewatan. Bukan ini caranya, bukan ini.” Taehyung yang terus mengusap air matanya sambil memeluk kedua sahabat karibnya itu.
~Setelah itu…~
“Lebih baik kita pulang jalan kaki saja, mustahil menemukan kendaraan pada jam seperti ini.” Taehyung.
“Heum, jinjja?” Dana. Taehyung menganggukan kepalanya.
“Oke, arraseo kita jalan kaki saja toh berjalan kaki dari sini sampai kepenginapan tidak membuat kita matikan?” Dana.
“Dana-ya apa kau mengejekku?” Jungkook.
“Haha, aniya. Tapi jika kau merasa tak apalah.” Dana dan Taehyungpun tertawa.
“Dana-ya bisakah aku bertanya kepadamu?” Taehyung.
“Oh, bertanyalah.” Dana.
“Kenapa disaat kita sampai ke tebing kau tidak berlari menuju lebih dekat ketebing? Dan kenapa tiba-tiba dadamu sesak seperti itu?” Taehyung.
“Hm, itu. Heum, kalian tahukan tentang kematian Oppaku saat itu. Sebenarnya aku tidak menceritakan keseluruhannya kepada kalian.” Dana.
“Hm, kalau begitu ceritakanlah sekarang aku dan Hyung akan mendengarkannya.” Sela Jungkook.
“Hm okelah, saat itu kira-kira aku berumur 6 tahun dan Oppaku berumur 8 tahun. Oppaku sangatlah menyayangiku disaat apapun aku mengajaknya main atau aku bermain sendiri dia selalu mau ikut denganku dan menemaniku. Aku bermain dimanapun ia selalu menemaniku bahkan menjagaku dan pada suatu saat itu kami sekeluarga bermain di pantai, aku dan Oppaku sangatlah senang bahkan kami memamerkannya kepada teman kami sebelum kami pergi. Sama seperti kalian ber-2 yang suka kepada pantai, saat itu aku sedang bermain dipinggir tebing dan tebing itu tidak terlalu tinggi lalu Oppaku datang dan menemaniku.” Dana.
“Lalu apa yang terjadi?” Taehyung.
“Hm, kami sangat gembira dan menikmati suasana pantai bersama tetapi tiba-tiba ombak besar di pantai itu datang dan menghembaskan kami kelaut secara bersamaan. Meskipun aku tidak tahu, pasti keluargaku sangat mengkhawatirkan kami berdua. Aku masih mengingat saat aku berada didalam air laut saat itu. Akupun berusaha berenang tetapi waktu itu aku masik kecil dan tidak kuat untuk berenang menarik Oppaku tetapi aku terus saja memegang tangan kanan Oppaku, saat itu posisiku berada diatas dan Oppaku berada dibawah. Aku sangat ketakutan dan aku juga tidak mau kehilangan Oppaku, akupun terus saja memegang tangan Oppaku dengan erat tetapi tidak tahu kenapa ada sesuatu yang membuat pegangan kami terlepas.” Dana.
“Dana-ya sudah hentikan…” Jungkook.
“Akupun melihat sendiri dengan mata kepalaku, aku melihat Oppaku tersenyum kepadaku dan tenggelam semakin dalam di bawah laut yang begitu menyeramkan. Setelah itu ada sebuah tangan yang menarikku dan membawaku disebuah kapal, aku tahu itu adalah kapan penyelamat. Saat itu akupun masih setengah sadar dan aku masih mendengar dengan jelas tim penyelam kembali kebawah dan mencari Oppaku tetapi anehnya Oppaku belum juga ditemukan, padahal saat itu Oppaku denganku perpisah hanya beberapa menit sampai tim penyelamat menarikku keatas. Kira-kita mungkin dari setelah aku ditemuakan lewat satu jam dari itu Oppaku telah ditemukan dengan keadaan sudah tidak bernyawa.” Dana.
“Dana-ya aku tidak bermasud membuatmu mengenang masa lalumu itu.” Taehyung.
“Haha, gwenchana. Itu adalah masa lalu dan kejadian dari masa lalu itu terjadi untuk dijadika pelajaran di masa depan nanti, hah aku sangat menyesal waktu itu seharusnya aku memegang kedua tangan Oppaku seandainya waktu bisa diputar aku harap kejadian itu tidak akan pernah terjadi kepadaku dan Oppaku.” Dana.
“Dana-ya aku turut berduka atas kematian Oppamu.” Jungkook.
“Hah, gumawo. Hm, Jungkook-ah jika mungkin tadi kau mati aku dan Taehyung hari ini pasti akan berduka atas kematianmu.” Dana yang tertawa.
“Hah, jinjja!!” Jungkook.
“Eum, mungkin jika Seok Jin Oppaku sampai sekarang masih hidup pasti dia akan tumbuh menjadi namja yang tampan melebihi kalian.” Dana.
“Ne, arraseo!” Taehyung dan Jungkook yang berbicara secara bersamaan.
“Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian ber-2.” Dana.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Jungkook.
“Mwoyo?” Taehyung.
“Bisakah kita besok pulang ke Seoul?” Dana.
Taehyung dan Jungkookpun seketika menghentikan langkah kaki mereka.
“Kenapa kau ingin pulang begitu terburu-buru ke Seoul? Jungkook.
“Kita baru seminggu disini, apa ada sesuatu?” Sela Taehyung.
“Haha, aniya aku hanya rindu dengan eommaku dan masakannya saja.” Dana.
“Bagaimana? Jika kalian tidak mau, minggu ke-3 disini kita baru pulang. Aku tidak keberatan kok.”  Tambah Dana.
“Hm, aniya. Setidaknya sewaktu pulang ke Seoul kita masih bisa berkumpul bersama dan menghabiskan sisa liburan sekolah kita.” Taehyung.
“Hyung aku setuju denganmu, okelah besok kita akan pulang.” Jungkook.
>>>>>
Setelah mereka menghabiskan liburan sekolah bersama akhirnya hari dimana mereka masuk kesekolah kembalipun tiba, pada malam harinya saat keesokan harinya sekolah Dana menelphone Taehyung.
“Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Apa kau bersama dengan Jungkook?” Dana.
“Ne, aku bersamanya.” Taehyung.
“Hah, kalian berkumpul pasti tidak mengajakku.” Dana.
“Ini perkumpulan antara namja.” Sela Jungkook.
“Yasudahlah mumpung kalian berdua bersama, tolong loudspeaker ponselmu aktifkan agar kalian berdua bisa mendengarnya.” Dana.
“Memangnya kau ingin mengatakan apa? Sampai loudspeaker harus diaktifkan?” Jungkook.
“Hm, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada kalian berdua. Jadi tolong dengarkanlah!” Dana.  Taehyung dan Jungkookpun mulai mendengarkan.
“Hm, huh Taehyung-ah, Jungkook-ah aku sangat bersyukur terlahir dan bisa bertemu dengan kalian bahkan sekarang aku bersahabat dengan kalian.” Dana.
“Hya’ kenapa kau mengatakan hal ini membuat aku merinding saja.” Jungkook.
“Karna aku hanya ingin mengatakan hal ini saja kepada kalian, aku ingin kita selamanya menjadi sahabat tanpa pertengkaran lagi. Aku sangat menyayangi kalian bahkan mencintai kalian seperti keluargaku sendiri.” Dana.
“Apa kau menangis?” Jungkook.
“Dana-ya apa kau ingin pergi jauh?” Taehyung.
“Ne, aku menangis karna terharu melihat semua persahabatan kita dari awal hingga saat ini. Aniya aku tidak akan pergi jauh aku selalu dekat dengan kalian.” Dana.
“Apa kau berbohong kepada kami?” Taehyung.
“Aniya aku berkata sejujurnya kepada kalian, aku menyayangi kalian. Apa kalian sudah menyiapkan kebutuhan sekolah kalian untuk besok?” Dana.
“Ne.” Taehyung dan Jungkook berkata secara bersamaan.
“Okelah, sampai bertemu besok disekolah.” Dana yang mengakhiri percakapan begitu saja.
Setelah Dana mengakhiri percakapan…
“Hyung aku merasa tidak enak dengan keadaan Dana.” Jungkook.
“Ne, nado. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.” Taehyung.
“Yasudah Hyung kita tunggu saja dia besok di sekolah dan bertanya kenapa dia seperti itu.” Jungkook.
“Hm, oke.” Taehyung.
“Hyung kajja kita pulang sudah malam.” Jungkook.
To Be Continue…
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar