Chapter
5
“About
dead!”
“Jungkook-ah kau sangatlah tampan hari ini.” Taehyung.
“Haha, hyung apa kau menggodaku saat ini?” Jungkook.
“Geurae, wae? Jungkook-ah apa malam ini kau bebas? Jika
bebas tolong temani aku tidur.” Taehyung yang berbicara seperti wanita.
“Hyung!!!” Jungkook.
“Hya’ kalian berdua bisa saja.” Dana.
“Hah, kita sampai.” Jungkook.
“Oh, oke kami berdua akan menunggumu disini.” Dana.
“Jungkook-ah jangan lama-lama disana, Palliwa!!!” Taehyung.
Jungkookpun perlahan berjalan
meninggalkan mereka berdua sambil melambaikan tangannya dan Dana membalas lambainya
lalu…
“Dana-ya…” Taehyung.
“Hm, wae?” Dana yang masih terus terfokus kepada Jungkook.
“Apa kau sudah mengatakan isi hatimu kepada Jungkook?”
Taehyung.
“Sudah.” Dana.
“Lantas apa yang ia katakan?” Taehyung. Lalu Dana
mengalihkan pandangannya ke Taehyung.
“Dia hanya berkata ‘Dana-ya kau menyukaiku?’ hanya itu
saja.” Dana.
“Jinjja? Tidak ada yang lain?” Taehyung.
“Ne, karna waktu itu aku menyelanya dengan memanggil
namamu.” Dana.
~Sementara itu…~
Akupun berlari menuju ke tempat
penginapan Irene dengan sangat cepat, akupun telah membulatkan tekatku untuk
mengatakan hal ini kepadanya.
Akhirnya akupun telah sampai
dipenginapan Irene dan aku telah berada di depan pintu penginapannya, tetapi
anehnya pintu itu tidak terkunci. Lalu aku mencoba untuk membuka dan masuk
kedalam, akupun perlahan-lahan melangkahkan kakiku.
Setelah aku sampai akupun melihat
Irene sedang tertidur lelap tetapi tidak sendiri melainkan dengan namja lain.
Akupun terkejut dengan semua yang aku lihat, tiba-tiba Irenepun terbangun dia
juga terkejut saat melihatku disana.
Tubuhku mulai melemas bahkan serasa
ingin jatuh, tetapi aku berusaha untuk pergi dan menjauh dari apa yang aku
lihat tadi. Akupun keluar dari tempat yang menjijikkan itu, aku terus saja
berjalan dan aku juga tidak bisa mengatakan apa-apa lagi.
Dadaku serasa begitu sesak bahkan
sakit, disaat aku akan memutuskan hubungan dengannya apa aku yang harus
menerima rasa sakit ini dahulu?
>>>>>
Danapun melihat Jungkook yang telah
keluar dari pintu penginapan Irene dan berjalan dengan cepat keluar, Danapun
bingung dengan Jungkook.
Dana berpikir setelah kau sampai
kesini ke aku dan Taehyung, kami akan membantumu menyelesaikan masalahmu itu.
Tetapi Jungkook tidak menuju kearah
Dana dan Taehyung melainkan berjalan cepat kearah lain.
“Taehyung, Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Kau lihat Jungkook, dia tidak punya penyakit pikun
dinikan?” Dana. Taehyungpun melihat kerah Jungkook.
“Hya’ bocah kau mau kemana?” Teriak Taehyung tetapi Jungkook
tidak menghiraukannya.
“Dana kajja kita ikuti Jungkook, aku takut bila terjadi
sesuatu kepadanya.” Teahyung.
Dana dan Taehyungpun mengikuti
Jungkook berjalan tetapi semakin Dana dan Taehyung mendekat Jungkook semakin
kencang ia berjalan.
“Jungkook-ah kau mau kemana?” Teriak Dana.
“Jungkook apa kau punya masalah ceritalah kepada kami!”
Taehyung.
“Hyung, Dana berhentilah mengikutiku. Pergilah aku hanya
ingin sendiri.” Jungkook yang tiba-tiba berlari kencang begitu saja dan
langsung menaiki bus.
“Hya’ bocah!!!”
Taehyung.
“Taehyung-ah kajja!!!” Dana yang telah menaiki sebuah sepeda
yang memiliki 2 tempat duduk dan 2 pasang pedal.
Mereka berduapun dengan sekuat tenaga
mengayuh pedal sepeda, setelah lama mengejar Jungkook.
“Taehyung-ah bukankah ini menuju ke sebuah tebing pantai?”
Dana.
“Ah, ne.” Taehyung yang menambah kecepatan sepeda mereka.
Danapun mulai sangat khawatir.
~Sesampainya disana…~
Taehyungpun dengan cepat berlari
menuju ke tebing yang berada disana tetapi tidak dengan Dana yang lumayan jauh
dari tebing pantai.
Dana juga terus mencari Jungkook
dan…
“Jungkook-ah!!! Andhwae!!!!” Teriak Dana.
Taehyungpun mendekat kearah Dana
dan juga meneriaki Jungkook.
“Jungkook-ah apa kau gila? Tidak bisakah kau membicarakannya
dengan baik-baik kepada kami?” Teriak Taehyung.
“Aniya Hyung, ini sudah tidak bisa lagi. Aku begitu
menyukainya dan hari ini sebenarnya aku akan mengakhiri hubungan kami, tetapi
dia telah menusukku dari belakang dari dulu lamanya dan aku baru mengetahuinya
sekarang ini!!! Ini tidak adil Hyung!!!” Jungkook.
“Dunia memang tidak adil dari dulu Jungkook-ah.” Taehyung.
“Jungkook-ah sadarlah kau sudah kelewatan ada banyak yeoja
di seoul kau bisa mencarinya nanti. Euh, dadaku sesak.” Dana memegang dadanya.
“Neon gwenchana?” Taehyung, Dana mengangguk.
“Tidak Dana-ya, aku sudah lelah dengan semua ini.” Jungkook.
“Bagaimana denganku? Bukankah aku malah beratusan, beribuan,
berjuta-jutaan bahkan tidak bisa dihitung lagi aku lebih lelah daripada kau
Jungkook-ah. Apa kau tidak tahu tentang semua perasaanku saat itu?” Dana.
“Dana-ya mianhae biarkan aku menanggung dosaku saat ini.
Hyung, Dana biarkanlah aku pergi saat ini.” Jungkook.
“Jungkook-ahhh!!!!” Teriak Dana.
Jungkook telah menutup kedua
matanya dan siap untuk terjut bebas mengakhiri kehidupannya tetapi…
“Jungkook-ah apa kau sudah gila? Taehyung yang dengan cepat
tadi menarik Jungkook dan menghempaskannya ke belakang.
“Hyung!!! Kenapa kau menarikku? Wae? Biarkanlah saja aku
mati!” Jungkook.
“Hya’ bocah dimana akal sehatmu? Lalu setelah kau mati dan
kami pulang hanya berdua lantas apa yang harus kami berdua katakan kepada
eommamu? Huh?” Bentak Taehyung.
“Jungkook-ah neon gwenchana?” Dana yang memegang pipi Jungkook sambil
melihat seluruh badan Jungkook.
“Gwenchana Jungkook-ah, aku ada disini. Kami berdua selalu
bersamamu.” Dana yang memeluk Jungkook sambil menepuk-nepuk punggungnya.
“Hya’ kenapa kalian berdua menangis? Hya’ sudahlah kalian
berdua.” Taehyung yang mulai mendekati Dana dan Jungkook.
“Jungkook-ah namja tidak boleh menangis!” Tetapi air mata
Taehyungpun menetes dan mulai membasahi pipinya.
Lalu Taehyungpun memeluk mereka berdua “Jungkook-ah, kau
benar-benar kelewatan. Bukan ini caranya, bukan ini.” Taehyung yang terus
mengusap air matanya sambil memeluk kedua sahabat karibnya itu.
~Setelah itu…~
“Lebih baik kita pulang jalan kaki saja, mustahil menemukan
kendaraan pada jam seperti ini.” Taehyung.
“Heum, jinjja?” Dana. Taehyung menganggukan kepalanya.
“Oke, arraseo kita jalan kaki saja toh berjalan kaki dari
sini sampai kepenginapan tidak membuat kita matikan?” Dana.
“Dana-ya apa kau mengejekku?” Jungkook.
“Haha, aniya. Tapi jika kau merasa tak apalah.” Dana dan
Taehyungpun tertawa.
“Dana-ya bisakah aku bertanya kepadamu?” Taehyung.
“Oh, bertanyalah.” Dana.
“Kenapa disaat kita sampai ke tebing kau tidak berlari
menuju lebih dekat ketebing? Dan kenapa tiba-tiba dadamu sesak seperti itu?”
Taehyung.
“Hm, itu. Heum, kalian tahukan tentang kematian Oppaku saat
itu. Sebenarnya aku tidak menceritakan keseluruhannya kepada kalian.” Dana.
“Hm, kalau begitu ceritakanlah sekarang aku dan Hyung akan
mendengarkannya.” Sela Jungkook.
“Hm okelah, saat itu kira-kira aku berumur 6 tahun dan
Oppaku berumur 8 tahun. Oppaku sangatlah menyayangiku disaat apapun aku
mengajaknya main atau aku bermain sendiri dia selalu mau ikut denganku dan
menemaniku. Aku bermain dimanapun ia selalu menemaniku bahkan menjagaku dan
pada suatu saat itu kami sekeluarga bermain di pantai, aku dan Oppaku sangatlah
senang bahkan kami memamerkannya kepada teman kami sebelum kami pergi. Sama
seperti kalian ber-2 yang suka kepada pantai, saat itu aku sedang bermain
dipinggir tebing dan tebing itu tidak terlalu tinggi lalu Oppaku datang dan menemaniku.”
Dana.
“Lalu apa yang terjadi?” Taehyung.
“Hm, kami sangat gembira dan menikmati suasana pantai
bersama tetapi tiba-tiba ombak besar di pantai itu datang dan menghembaskan
kami kelaut secara bersamaan. Meskipun aku tidak tahu, pasti keluargaku sangat
mengkhawatirkan kami berdua. Aku masih mengingat saat aku berada didalam air
laut saat itu. Akupun berusaha berenang tetapi waktu itu aku masik kecil dan
tidak kuat untuk berenang menarik Oppaku tetapi aku terus saja memegang tangan
kanan Oppaku, saat itu posisiku berada diatas dan Oppaku berada dibawah. Aku
sangat ketakutan dan aku juga tidak mau kehilangan Oppaku, akupun terus saja
memegang tangan Oppaku dengan erat tetapi tidak tahu kenapa ada sesuatu yang
membuat pegangan kami terlepas.” Dana.
“Dana-ya sudah hentikan…” Jungkook.
“Akupun melihat sendiri dengan mata kepalaku, aku melihat
Oppaku tersenyum kepadaku dan tenggelam semakin dalam di bawah laut yang begitu
menyeramkan. Setelah itu ada sebuah tangan yang menarikku dan membawaku
disebuah kapal, aku tahu itu adalah kapan penyelamat. Saat itu akupun masih
setengah sadar dan aku masih mendengar dengan jelas tim penyelam kembali
kebawah dan mencari Oppaku tetapi anehnya Oppaku belum juga ditemukan, padahal
saat itu Oppaku denganku perpisah hanya beberapa menit sampai tim penyelamat
menarikku keatas. Kira-kita mungkin dari setelah aku ditemuakan lewat satu jam dari
itu Oppaku telah ditemukan dengan keadaan sudah tidak bernyawa.” Dana.
“Dana-ya aku tidak bermasud membuatmu mengenang masa lalumu
itu.” Taehyung.
“Haha, gwenchana. Itu adalah masa lalu dan kejadian dari
masa lalu itu terjadi untuk dijadika pelajaran di masa depan nanti, hah aku
sangat menyesal waktu itu seharusnya aku memegang kedua tangan Oppaku
seandainya waktu bisa diputar aku harap kejadian itu tidak akan pernah terjadi
kepadaku dan Oppaku.” Dana.
“Dana-ya aku turut berduka atas kematian Oppamu.” Jungkook.
“Hah, gumawo. Hm, Jungkook-ah jika mungkin tadi kau mati aku
dan Taehyung hari ini pasti akan berduka atas kematianmu.” Dana yang tertawa.
“Hah, jinjja!!” Jungkook.
“Eum, mungkin jika Seok Jin Oppaku sampai sekarang masih
hidup pasti dia akan tumbuh menjadi namja yang tampan melebihi kalian.” Dana.
“Ne, arraseo!” Taehyung dan Jungkook yang berbicara secara
bersamaan.
“Tapi aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian ber-2.”
Dana.
“Kau ingin mengatakan sesuatu?” Jungkook.
“Mwoyo?” Taehyung.
“Bisakah kita besok pulang ke Seoul?” Dana.
Taehyung dan Jungkookpun seketika
menghentikan langkah kaki mereka.
“Kenapa kau ingin pulang begitu terburu-buru ke Seoul?
Jungkook.
“Kita baru seminggu disini, apa ada sesuatu?” Sela Taehyung.
“Haha, aniya aku hanya rindu dengan eommaku dan masakannya
saja.” Dana.
“Bagaimana? Jika kalian tidak mau, minggu ke-3 disini kita
baru pulang. Aku tidak keberatan kok.” Tambah Dana.
“Hm, aniya. Setidaknya sewaktu pulang ke Seoul kita masih
bisa berkumpul bersama dan menghabiskan sisa liburan sekolah kita.” Taehyung.
“Hyung aku setuju denganmu, okelah besok kita akan pulang.”
Jungkook.
>>>>>
Setelah mereka menghabiskan liburan
sekolah bersama akhirnya hari dimana mereka masuk kesekolah kembalipun tiba,
pada malam harinya saat keesokan harinya sekolah Dana menelphone Taehyung.
“Taehyung-ah…” Dana.
“Wae?” Taehyung.
“Apa kau bersama dengan Jungkook?” Dana.
“Ne, aku bersamanya.” Taehyung.
“Hah, kalian berkumpul pasti tidak mengajakku.” Dana.
“Ini perkumpulan antara namja.” Sela Jungkook.
“Yasudahlah mumpung kalian berdua bersama, tolong
loudspeaker ponselmu aktifkan agar kalian berdua bisa mendengarnya.” Dana.
“Memangnya kau ingin mengatakan apa? Sampai loudspeaker
harus diaktifkan?” Jungkook.
“Hm, aku ingin mengatakan sesuatu yang penting kepada kalian
berdua. Jadi tolong dengarkanlah!” Dana.
Taehyung dan Jungkookpun mulai mendengarkan.
“Hm, huh Taehyung-ah, Jungkook-ah aku sangat bersyukur
terlahir dan bisa bertemu dengan kalian bahkan sekarang aku bersahabat dengan
kalian.” Dana.
“Hya’ kenapa kau mengatakan hal ini membuat aku merinding
saja.” Jungkook.
“Karna aku hanya ingin mengatakan hal ini saja kepada
kalian, aku ingin kita selamanya menjadi sahabat tanpa pertengkaran lagi. Aku
sangat menyayangi kalian bahkan mencintai kalian seperti keluargaku sendiri.”
Dana.
“Apa kau menangis?” Jungkook.
“Dana-ya apa kau ingin pergi jauh?” Taehyung.
“Ne, aku menangis karna terharu melihat semua persahabatan
kita dari awal hingga saat ini. Aniya aku tidak akan pergi jauh aku selalu
dekat dengan kalian.” Dana.
“Apa kau berbohong kepada kami?” Taehyung.
“Aniya aku berkata sejujurnya kepada kalian, aku menyayangi
kalian. Apa kalian sudah menyiapkan kebutuhan sekolah kalian untuk besok?”
Dana.
“Ne.” Taehyung dan Jungkook berkata secara bersamaan.
“Okelah, sampai bertemu besok disekolah.” Dana yang
mengakhiri percakapan begitu saja.
Setelah Dana mengakhiri percakapan…
“Hyung aku merasa tidak enak dengan keadaan Dana.” Jungkook.
“Ne, nado. Tidak seperti biasanya dia seperti ini.”
Taehyung.
“Yasudah Hyung kita tunggu saja dia besok di sekolah dan
bertanya kenapa dia seperti itu.” Jungkook.
“Hm, oke.” Taehyung.
“Hyung kajja kita pulang sudah malam.” Jungkook.
To Be Continue…








0 komentar:
Posting Komentar