Minggu, 05 April 2015

"24/7 = Milk Box" (Chapter 2)



Chapter 2
“Karna susu kotak ini, Aku mulai menjadi akrab denganmu…”
~Keesokan harinya~
*TINGTONG,TINGTONG* Bel rumah Hye Ri dan Danapun berbunyi. Mereka berdua masih asyik memakan makanan paginya.
“Biar aku saja yang membukanya, kau makanlah!” Hye Ri. Dana hanya diam.
Hye Ri membukakan pintu rumahnya dan terkejutnya dia. “Jungkookie? Wae kau disini? Dan bagaimana kau bisa tahu rumahku?” Hye Ri.
“Noona guru lesku, teryata rumahmu disini?” Jungkook.
“Ah, ne.” Hye Ri tersenyum malu.
“Tapi benarkan ini rumah Seo Dana?”Hye Ri.
“Apa kau mengenalnya? Bagaimana bisa kau mengenalnya?” Hye Ri.
“Aish, Eonni kenapa kau lama sekali? Sebenarnya siapa yang bertamu pagi-pagi sekali?” Dana beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk pergi melihat siapa yang berkunjung.
“Sebenarnya kami kemarin…” Jungkook.
“Namja susu kotak!! Kenapa kau pagi-pagi sudah datang kemari?” Sela Dana.
“Ah, kau meninggalkan ponselmu dikeranjangku kemarin.” Jungkook.
“Tapi apa kau ini benar-benar namja susu kotak kemarin yang menabrakku?” Dana bingung. Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya.
“Gayamu sangat beda dari yang kemarin, kau sangat tampan hari ini.” Dana. Jungkook tersenyum.
“Apa kau mengenalnya?” Sela Hye Ri.
“Ne dia yang membuat kakiku seperti ini.” Dana sambil menunjuk kearah lukanya.
“Jinjja mianhae, kemarin aku tidak berhati-hati menaiki sepeda. Maafkan aku.” Jungkook sambil membungkukkan badannya.
“Ah gwenchana tidak usah minta maaf, tidak lama lagi lukanya juga akan sembuh.” Hye Ri.
“Oh ya, gumawo sudah mengantarkannya. Mian jadi merepotkanmu.” Dana.
Tiba-tiba…
“Danaya!!!! Hosh, Hosh,…” Jimin berlari sangat kencang menuju rumah Hye Ri dan Dana.
“Mwo? Jimin Oppa wae?” Dana.
“Ini aku mengembalikannya, headsheet dan mp3mu.” Jimin.
“Oh, apa kau sudah merasa baikkan?” Dana.
“Ne, karnamu aku merasa lebih baik.” Jimin.
“Jungkook apa kau sudah makan? Kajja masuklah aku membuat sarapan tadi.” Sela Hye Ri.
“Gwenchana? Haha, lagian tadi aku kemari belum sempat makan.” Jungkook, Jungkook masuk dan Hye Ri masih berdiri didekat pintu.
“Jimin Oppa apa kau juga sudah makan pagi, kajja masuklah tidak apa-apa kok.” Dana, Jiminpun masuk.
Lalu Hye Ri memegang tangan Dana “Hya bocah jika kau menyukai Jungkook, akanku bunuh kau.” Hye Ri yang berbicara lirih.
“Eonni kau ini berbicara apa? Oh jadi namja susu kotak itu Jungkook, gumawo sudah mengingatkan namanya.” Dana yang tersenyum licik dan menyusul Jimin.
***
“Hya’ suasana macam apa ini?” Dana yang menggebrak meja.
“Yasudah aku keluar saja, membosankan!” Tambah Dana. Lalu Dana keluar dari rumahya.
“Hm, noona aku juga akan pergi pulang. Mungkin eommaku sudah mencariku, gamsahamnida atas makanannya.” Jungkook. Lalu Jungkookpun pergi untuk pulang.
“Jungkookkie…” Panggil Hye Ri. Tetapi Jungkook masih tetap saja berjalan pergi.
“Hye Ri… Apa namja itu yang membuat hubungan kita seperti ini?” Jimin.
***
“Danaya…” Panggil Jungkook sambil mengayuh sepeda. Dana membalikkan badannya.
“Oh, Jungkookie? Kau tidak dirumahku untuk memakan sarapan?” Dana.
“Aniya, lagian aku sebelum kesini memang belum makan tapi setidaknya tadi aku sudah meminum susu kotak.” Jungkook.
“Kau ini setidaknya makanlah dahulu. Pabo!” Dana.
Jungkook tersenyum “Kau ingin kemana?” Tanya Jungkook.
***
“Ne, wae?” Hye Ri.
“Bukankah dia masih terlalu kecil untukmu?” Jimin.
“Biarkan saja, cinta itu tidak pernah memandang umur.” Hye Ri.
“Hye Ri… Apa kau tahu sebenarnya aku sanagt menyukaimu, kenapa kau menyia-nyiakan aku seperti ini?” Jimin.
***
“Molla, aku tidak tahu.” Dana melanjutkan jalannya.
Jungkook mengayuh sepedanya dengan pelan “Hm, kalau begitu mainlah kerumahku. Kaukan belum tahu rumahku masak eonnimu sendiri sudah tahu ruamahku?” Jungkook.
“Hm, mwo? Apa yang kau katakan?” Dana berhenti jalan.
“Sudahah kau naik saja, nanti akan aku ceritakan semuanya.” Jungkook menarik tangan Dana untuk duduk digoncengan sepeda miliknya.
“Hya’ Jungkook… Aku ingatkan jangan mengayuhnya dengan cepat, Arra!!” Dana.
“Ne arraseo.” Tetapi Jungkook mengayuhnya dengan sangat cepat sampai Dana memeluk Jungkook sangat erat.
***
“Aku tidak pernah menyia-nyiakankanmu Jimin. Aku hanya ingin hubungan kita akhiri sampai sini, aku tidak mau kau terus saja tersakiti karnaku. Jimin mianhae sekarang aku sudah tidak menyukaimu lagi, mianhae.” Hye Ri.
“Dan aku ingin mengakhiri hubungan kita secara baik-baik Jiminie.” Tambah Hye Ri.
“Apa sebegitu mudahnya kau mengatakan hal itu semua kepadaku?” Jimin, lalu Jimin beranjak dari tempat yang ia duduki dan pergi begitu saja.
Setelah Jimin pergi Hye Ri membersihkan tempat makan dirumahnya dan tiba-tiba air mata Hye Ri jatuh membasahi matanya. “Mianhae Jimin, kau terlalu sempurna untukku.” Hye Ri.
Piring yang dibawa Hye Ripun seketika terjatuh dan Hye Ri juga jatuh kebawah lalu menekuk lututnya. “Jiminnie, Jinjja mianhae. Aku semua melakukan ini karna eommamu yang menyuruhku agar tidak berhubungan lagi denganmu, aku sudah sangat lelah Jimin karna eommamu terus saja mengatakan hal buruh kepadaku.” Hye Ri.
***
“Ya’ Jungkook, jika kau mengulanginya lagi akanku pukul kepalamu!” Ancam Dana.
“Haha, mianhae. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.” Lalu Jungkook menarik tangan Dana dan berlari bersama menuju kesebuah tempat duduk ditaman rumahnya.
“Ya’ Jungkook, kenapa kau sangat suka menarik tanganku? Wah, jinjja daebak. Apa ini benar rumahmu?” Dana takjub.
“Ne, kau duduklah. Aku akan menceritakan sesuatu.” Jungkook. Seketika Dana menoleh langsung kearah Jungkook dan terus memandanginya.
“Apa kau benar-benar namja susu kotak kemarin?” Dana penasaran.
“Ne, wae?” Jungkook.
“Tapi kaukan anak orang kaya, kenapa kau jualan susu kotak? Aneh…” Dana sambil duduk didekat Jungkook.
“Apa itu tidak boleh, lagian susu kotak itu adalah produksi dari keluargaku jadi aku ingin merasakan saja bagaiamana rasanya menjual susu kotak produksi sendiri seperti karyawan yang bekerja di perusahaan susu kotak milik keluargaku.” Jungkook.
“Apa kau kurang kerjaan?” Dana menoleh lagi kearah Jungkook.
“Hm, mungkin dari itu aku kurang kerjaan jadi aku melakukan hal itu menjual susu kotak.” Jungkook.
“Oh, sekarang kau mulai pandai bicara ya!” Dana. Jungkookpun tertawa dengan Dana.
***
“Apakah aku sebegitu buruk didepanmu Hye Ri?” Jimin yang menyusuri jalan.
“Aku sudah melakukan hal yang aku bisa, sebenarnya aku ini kurang apa dimatamu Hye Ri? Kita sudah menjalin hubungan begitu lama apa sekarang kau baru merasakan hal seperti ini?” Jimin yang terus saja menyusuri jalan.
“Aku lelah Hye Ri, tidak bisakah kau menghargai usahaku?” Jimin, dan sampailah di sebuah Jembatan.
***
“Jadi sebenarnya dia bukan eonni kandungmu?” Jungkook.
“Ne, dia hanyalah keponakanku. Aku sudah menganggapnya sebagai eonniku sendiri, karna aku dan eonniku itu sudah dirawat dengan Ahjummaku sejak kecil. Dan biarpun eonniku itu selalu marah-marah kepadaku tetapi aku sangat menyanyanginya karna tanpa dia mungin aku sudah mati.” Dana.
“Sudah mati bagaimana maksudmu?” Jungkook.
“Ne, dialah yang telah bekerja pagi hingga malam untuk mencari uang dan telah memenuhi kebutuhanku setiap hari, jadi mungkin aku tanpa dia aku telah tiada.” Dana.
“Oh, aku tahu sebenarnya eonnimu itu juga menyanyangimu biarpun dia bukanlah eonni kandungmu setidaknya kalian berdua sudah diasuh sejak kecil. Mungkin jika kalian pergi atau berpisah salah satu dari kalian akan merasa kesepian atau kehilangan.” Jungkook.
“Mungkin juga.” Dana.
“Oh, jadi teryata eonniku adalah guru private belajarmu? Haha daebak lantas saja dia selalu bersamamu dan membuat dia jadi menyukaimu.” Tambah Dana.
“Mwo? Apa yang kau katakan barusan?” Jungkook.
“Omo, Omo… Pabo, Pabo!!!” Dana sambil memukul-mukul mulutnya.
“Aniya, bukan apa-apa.” Dana tersenyum.
“Bukan apa-apa bagaimana? Tadi kau mengatakan kalau eonnimu menyukaikukan?” Jungkook.
“Aish, Jinjja mian eonni aku keceplosan. Semoga dia tidak memarahiku.” Dana yang menundukkan kepalanya memukul-mukulnya.
“Haha, gwenchana. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya kalau dia dari awal menyukaiku.” Jungkook.
“Jinjja? Lalu apa kau akan menerimanya?” Dana yang ingin tahu.
“Hm, mianhae aku tidak bisa. Karna aku sudah menyukai yeoja lain.” Jelas Jungkook.
“Oh, gwenchana. Aku mengerti kok.” Dana.
“Mianhae, maka dari itulah aku berpura-pura tidak mengetahuinya. Agar pada akhirnya dia tidak tersakiti, aku tidak mau orang yang menyukaiku merasa tersakiti meskipun pada akhirnya aku tidak membalas rasa sukanya. Aku menghargai usaha eonnimu.” Jungkook.
“Hm, kau namja yang sangat baik. Gumawo.” Dana sambil menepuk-nepuk pundak Jungkook.
“Yasudahlah, seharian aku sudah mengobrol serta bermain denganmu. Gumawo sudah mengajakku untuk bermain kerumahmu, aku akan pulang mungkin eonniku sudah mencariku.” Pamit Dana, lalu Dana berjalan pergi untuk pulang.
“Chakkaman, aku akan mengantarmu pulang.” Jungkook.
“Oh, Gwenchana? Apa tidak merepotkanmu? Bukankah hari sudah hampir malam.” Dana.
“Gwenchana.” Jungkook.
~Saat diperjalanan~
“Jungkook kenapa kau mengambil arah sini? Bukannya akan lebih jauh untuk menuju rumahku?” Dana.
“Haha, gwenchana. Kau nikmatilah.” Jungkook sambil mengayuh sepedanya.
“Danaya, bukankah besok hari minggu?” Tambah Jungkook.
“Ne, wae?” Dana.
“Maukah kau besok bermain denganku?” Jungkook.
“Mwo? Bermain denganmu? Hm, sebenarnya aku disuruh eonniku untuk menjaga rumah seharian karna dia juga akan pergi besok. Tapi akan kuusahakan.” Dana sambil menikmati perjalanan.
“Gumawo, Danaya besok aku akan mengatakan sesuatu kepadamu.” Jungkook.
“Mwo? Kau mengatakan apa, aku tidak bisa mendengarmu.” Dana.
Tiba-Tiba…
“Jungkookkie, berhenti. Hentikan sepedanya!!” Dana.
“Mwo? Memangnya kenapa?” Jungkook, Dana langsung berlari begitu saja menuju seseorang yang berdiri dipinggir jembatan.
“Jiminnie Oppa, aniya…!!! Oppaa….” Dana terus saja berlari sambil berteriak.
“Danaya…” Panggil Jungkook lalu kembali mengayuh sepedanya.
“Oppa, kumohon jangan kau lakukan itu!!! Mianhae jika eonniku telah menyakitimu Oppa.” Dana sambil memeluk kedua kaki Jimin dari belakang.
“Oppa, kumohon turunlah.” Dana. Lalu Jimin mengurungkan niatnya.
“Oppa neon paboya?” Dana sambil mengusap air matanya.
“Apa pada akhirnya kau akan mengakhiri hidupmu karna hanya masalah sepele seperti ini?” Dana, Jimin hanya terdiam.
“Kajja aku akan mengantarmu pulang.” Dana. Lalu Dana menoleh kearah Jungkook.
“Apa kau ikut denganku?” Dana. Jungkook menganggukan kepalanya.
~Setelah mengantarkan pulang…~
Jungkook tidak lagi mengayuh sepedahnya melainkan menuntunnya dan berjalan sama seperti Dana.
“Danaya… Apa kau menyukai namja di jembatan itu?” Jungkook.
“Ne, Nae joha.” Dana.
“Tetapi aku dengar tadi bukankah dia tersakiti karna eonnimu, jadi dia namja eonnimu begitu?” Jungkook.
“Ne, dia namjachingu eonniku.” Dana.
“Tetapi kenapa kau malah menyukai namja eonnimu sendiri?” Jungkook.
“Sebenarnya aku telah menyukainya terlebih dahulu dan aku juga telah berteman lama dengannya sebelum aku mengajaknya bermain kerumahku, aku dengannya berteman begitu lama sampai pada akhirnya aku mulai menyukainya tetapi dia tidak pernah mengetahui perasaanku bahkan dia tidak pernah melihatku. Sejak itulah aku mengajaknya main kerumahku dan dia bertemu dengan eonniku, dia begitu cepatnya langsung menyukai eonniku. Awalnya aku tidak mengetahuinya kalau dia menyukai eonniku sampai dia mengatakan sendiri kepadaku dengan jelas kalau dia sangat menyukai eonniku.” Jelas Dana.
“Bukankah itu sangat sakit?” Jungkook yang menoleh kearah Dana. Danapun mengentikan jalannya.
“Hm, sebenarnya sebelum aku mengajaknya bermain kerumah eonniku sudah mengetahui kalau aku menyukai Jimin sangat lama.” Dana.
Dana balik menoleh kearah Jungkook “Saat aku mendengarkannya sendiri dari mulutnya, seakan-akan nafasku saat itu juga mulai berhenti dan sangat sakit. Tapi aku berusaha untuk memendam semua rasa sukaku aku pedam sangat dalam, semua itu aku lakukan hanya untuk eonniku.” Dana.
Sampailah didepan rumah Dana “Jungkookkie, bisakah besok aku mengajak Jimin Oppa juga? Aku hanya tidak ingin melihat oang yang aku sukai merasa sakit. Jika tidak boleh tidak apa-apa kok.” Dana.
“Hm, sudahlah ajaklah dia.” Jungkook. Danapun masuk kedalam rumah.
Jungkookpun kembali menaiki sepedanya dan mengayuhnya tapi tiba-tiba disaat Jungkook mengayuh dengan kencangnya air matapun berjatuhan dari matanya.
“Aku tahu Dana, aku merasakan hal yang kau rasakan. Aku tahu mungkin yang membuatmu tidak akrab sampai sekarang dengan eonnimu adalah namja itu.” Batin Jungkook.
“Dana mulai besok aku berjanji aku akan mengubah semua kenanganmu itu dan mengapus rasa sakit yang kau pendam bertahun-tahun.” Bantin Jungkook lagi.
~Setelah Jungkook sampai dirumahnya~
“Ya’ lelahnya…” Jungkook menghempaskan badannya ditempat tidur.
“Jungkookie kenapa ada 8 bekas tempat susu kotak ini kau simpan disini?” Jungkook eomma yang tiba-tiba berada dikamar Jungkook.
“Eomma, oh aniya aku hanya mengoleksinya saja. Eomma sudahlah aku lelah.” Jungkook menuntun Eommanya untuk keluar dari kamarnya.
Lalu Jungkook menyandarkan badannya dibalik pintu kamar miliknya “Hampir saja.” Jungkook menoleh kearah bekas susu kotak yang diminum oleh Dana.
Jungkook kembali lagi untuk menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya untuk tidur.
“Ah, kasur ini sangat nyaman.” Jungkook.
Beberapa jam kemudian, jungkook terbangun dari tidurnya.
“Apakah sudah pagi?” Jungkook melihat jam dinding dikamarnya.
“Ya’ kenapa lama sekali, god tolonglah percepat waktu. Terbitkanlah matahari dengan cepat, aku terus saja memikirkan hari esok dengannya.” Jungkook yang lagi menghempasnya tubuhnya.
To Be Continue…
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar