Chapter
2
“Karna
susu kotak ini, Aku mulai menjadi akrab denganmu…”
~Keesokan harinya~
*TINGTONG,TINGTONG* Bel rumah Hye
Ri dan Danapun berbunyi. Mereka berdua masih asyik memakan makanan paginya.
“Biar aku saja yang membukanya, kau makanlah!” Hye Ri. Dana
hanya diam.
Hye Ri membukakan pintu rumahnya dan terkejutnya dia.
“Jungkookie? Wae kau disini? Dan bagaimana kau bisa tahu rumahku?” Hye Ri.
“Noona guru lesku, teryata rumahmu disini?” Jungkook.
“Ah, ne.” Hye Ri tersenyum malu.
“Tapi benarkan ini rumah Seo Dana?”Hye Ri.
“Apa kau mengenalnya? Bagaimana bisa kau mengenalnya?” Hye
Ri.
“Aish, Eonni kenapa kau lama sekali? Sebenarnya siapa yang
bertamu pagi-pagi sekali?” Dana beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan
untuk pergi melihat siapa yang berkunjung.
“Sebenarnya kami kemarin…” Jungkook.
“Namja susu kotak!! Kenapa kau pagi-pagi sudah datang
kemari?” Sela Dana.
“Ah, kau meninggalkan ponselmu dikeranjangku kemarin.”
Jungkook.
“Tapi apa kau ini benar-benar namja susu kotak kemarin yang
menabrakku?” Dana bingung. Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya.
“Gayamu sangat beda dari yang kemarin, kau sangat tampan
hari ini.” Dana. Jungkook tersenyum.
“Apa kau mengenalnya?” Sela Hye Ri.
“Ne dia yang membuat kakiku seperti ini.” Dana sambil
menunjuk kearah lukanya.
“Jinjja mianhae, kemarin aku tidak berhati-hati menaiki
sepeda. Maafkan aku.” Jungkook sambil membungkukkan badannya.
“Ah gwenchana tidak usah minta maaf, tidak lama lagi lukanya
juga akan sembuh.” Hye Ri.
“Oh ya, gumawo sudah mengantarkannya. Mian jadi
merepotkanmu.” Dana.
Tiba-tiba…
“Danaya!!!! Hosh, Hosh,…” Jimin berlari sangat kencang
menuju rumah Hye Ri dan Dana.
“Mwo? Jimin Oppa wae?” Dana.
“Ini aku mengembalikannya, headsheet dan mp3mu.” Jimin.
“Oh, apa kau sudah merasa baikkan?” Dana.
“Ne, karnamu aku merasa lebih baik.” Jimin.
“Jungkook apa kau sudah makan? Kajja masuklah aku membuat
sarapan tadi.” Sela Hye Ri.
“Gwenchana? Haha, lagian tadi aku kemari belum sempat
makan.” Jungkook, Jungkook masuk dan Hye Ri masih berdiri didekat pintu.
“Jimin Oppa apa kau juga sudah makan pagi, kajja masuklah
tidak apa-apa kok.” Dana, Jiminpun masuk.
Lalu Hye Ri memegang tangan Dana “Hya bocah jika kau
menyukai Jungkook, akanku bunuh kau.” Hye Ri yang berbicara lirih.
“Eonni kau ini berbicara apa? Oh jadi namja susu kotak itu
Jungkook, gumawo sudah mengingatkan namanya.” Dana yang tersenyum licik dan
menyusul Jimin.
***
“Hya’ suasana macam apa ini?” Dana yang menggebrak meja.
“Yasudah aku keluar saja, membosankan!” Tambah Dana. Lalu
Dana keluar dari rumahya.
“Hm, noona aku juga akan pergi pulang. Mungkin eommaku sudah
mencariku, gamsahamnida atas makanannya.” Jungkook. Lalu Jungkookpun pergi
untuk pulang.
“Jungkookkie…” Panggil Hye Ri. Tetapi Jungkook masih tetap
saja berjalan pergi.
“Hye Ri… Apa namja itu yang membuat hubungan kita seperti
ini?” Jimin.
***
“Danaya…” Panggil Jungkook sambil mengayuh sepeda. Dana
membalikkan badannya.
“Oh, Jungkookie? Kau tidak dirumahku untuk memakan sarapan?”
Dana.
“Aniya, lagian aku sebelum kesini memang belum makan tapi
setidaknya tadi aku sudah meminum susu kotak.” Jungkook.
“Kau ini setidaknya makanlah dahulu. Pabo!” Dana.
Jungkook tersenyum “Kau ingin kemana?” Tanya Jungkook.
***
“Ne, wae?” Hye Ri.
“Bukankah dia masih terlalu kecil untukmu?” Jimin.
“Biarkan saja, cinta itu tidak pernah memandang umur.” Hye
Ri.
“Hye Ri… Apa kau tahu sebenarnya aku sanagt menyukaimu,
kenapa kau menyia-nyiakan aku seperti ini?” Jimin.
***
“Molla, aku tidak tahu.” Dana melanjutkan jalannya.
Jungkook mengayuh sepedanya dengan pelan “Hm, kalau begitu
mainlah kerumahku. Kaukan belum tahu rumahku masak eonnimu sendiri sudah tahu
ruamahku?” Jungkook.
“Hm, mwo? Apa yang kau katakan?” Dana berhenti jalan.
“Sudahah kau naik saja, nanti akan aku ceritakan semuanya.”
Jungkook menarik tangan Dana untuk duduk digoncengan sepeda miliknya.
“Hya’ Jungkook… Aku ingatkan jangan mengayuhnya dengan
cepat, Arra!!” Dana.
“Ne arraseo.” Tetapi Jungkook mengayuhnya dengan sangat
cepat sampai Dana memeluk Jungkook sangat erat.
***
“Aku tidak pernah menyia-nyiakankanmu Jimin. Aku hanya ingin
hubungan kita akhiri sampai sini, aku tidak mau kau terus saja tersakiti
karnaku. Jimin mianhae sekarang aku sudah tidak menyukaimu lagi, mianhae.” Hye
Ri.
“Dan aku ingin mengakhiri hubungan kita secara baik-baik
Jiminie.” Tambah Hye Ri.
“Apa sebegitu mudahnya kau mengatakan hal itu semua
kepadaku?” Jimin, lalu Jimin beranjak dari tempat yang ia duduki dan pergi
begitu saja.
Setelah Jimin pergi Hye Ri membersihkan tempat makan
dirumahnya dan tiba-tiba air mata Hye Ri jatuh membasahi matanya. “Mianhae
Jimin, kau terlalu sempurna untukku.” Hye Ri.
Piring yang dibawa Hye Ripun seketika terjatuh dan Hye Ri
juga jatuh kebawah lalu menekuk lututnya. “Jiminnie, Jinjja mianhae. Aku semua
melakukan ini karna eommamu yang menyuruhku agar tidak berhubungan lagi
denganmu, aku sudah sangat lelah Jimin karna eommamu terus saja mengatakan hal
buruh kepadaku.” Hye Ri.
***
“Ya’ Jungkook, jika kau mengulanginya lagi akanku pukul
kepalamu!” Ancam Dana.
“Haha, mianhae. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Lalu Jungkook menarik tangan Dana dan berlari bersama menuju kesebuah tempat
duduk ditaman rumahnya.
“Ya’ Jungkook, kenapa kau sangat suka menarik tanganku? Wah,
jinjja daebak. Apa ini benar rumahmu?” Dana takjub.
“Ne, kau duduklah. Aku akan menceritakan sesuatu.” Jungkook.
Seketika Dana menoleh langsung kearah Jungkook dan terus memandanginya.
“Apa kau benar-benar namja susu kotak kemarin?” Dana
penasaran.
“Ne, wae?” Jungkook.
“Tapi kaukan anak orang kaya, kenapa kau jualan susu kotak?
Aneh…” Dana sambil duduk didekat Jungkook.
“Apa itu tidak boleh, lagian susu kotak itu adalah produksi
dari keluargaku jadi aku ingin merasakan saja bagaiamana rasanya menjual susu
kotak produksi sendiri seperti karyawan yang bekerja di perusahaan susu kotak
milik keluargaku.” Jungkook.
“Apa kau kurang kerjaan?” Dana menoleh lagi kearah Jungkook.
“Hm, mungkin dari itu aku kurang kerjaan jadi aku melakukan
hal itu menjual susu kotak.” Jungkook.
“Oh, sekarang kau mulai pandai bicara ya!” Dana. Jungkookpun
tertawa dengan Dana.
***
“Apakah aku sebegitu buruk didepanmu Hye Ri?” Jimin yang
menyusuri jalan.
“Aku sudah melakukan hal yang aku bisa, sebenarnya aku ini
kurang apa dimatamu Hye Ri? Kita sudah menjalin hubungan begitu lama apa
sekarang kau baru merasakan hal seperti ini?” Jimin yang terus saja menyusuri
jalan.
“Aku lelah Hye Ri, tidak bisakah kau menghargai usahaku?”
Jimin, dan sampailah di sebuah Jembatan.
***
“Jadi sebenarnya dia bukan eonni kandungmu?” Jungkook.
“Ne, dia hanyalah keponakanku. Aku sudah menganggapnya
sebagai eonniku sendiri, karna aku dan eonniku itu sudah dirawat dengan
Ahjummaku sejak kecil. Dan biarpun eonniku itu selalu marah-marah kepadaku
tetapi aku sangat menyanyanginya karna tanpa dia mungin aku sudah mati.” Dana.
“Sudah mati bagaimana maksudmu?” Jungkook.
“Ne, dialah yang telah bekerja pagi hingga malam untuk
mencari uang dan telah memenuhi kebutuhanku setiap hari, jadi mungkin aku tanpa
dia aku telah tiada.” Dana.
“Oh, aku tahu sebenarnya eonnimu itu juga menyanyangimu
biarpun dia bukanlah eonni kandungmu setidaknya kalian berdua sudah diasuh
sejak kecil. Mungkin jika kalian pergi atau berpisah salah satu dari kalian
akan merasa kesepian atau kehilangan.” Jungkook.
“Mungkin juga.” Dana.
“Oh, jadi teryata eonniku adalah guru private belajarmu?
Haha daebak lantas saja dia selalu bersamamu dan membuat dia jadi menyukaimu.” Tambah
Dana.
“Mwo? Apa yang kau katakan barusan?” Jungkook.
“Omo, Omo… Pabo, Pabo!!!” Dana sambil memukul-mukul
mulutnya.
“Aniya, bukan apa-apa.” Dana tersenyum.
“Bukan apa-apa bagaimana? Tadi kau mengatakan kalau eonnimu
menyukaikukan?” Jungkook.
“Aish, Jinjja mian eonni aku keceplosan. Semoga dia tidak
memarahiku.” Dana yang menundukkan kepalanya memukul-mukulnya.
“Haha, gwenchana. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya kalau
dia dari awal menyukaiku.” Jungkook.
“Jinjja? Lalu apa kau akan menerimanya?” Dana yang ingin
tahu.
“Hm, mianhae aku tidak bisa. Karna aku sudah menyukai yeoja
lain.” Jelas Jungkook.
“Oh, gwenchana. Aku mengerti kok.” Dana.
“Mianhae, maka dari itulah aku berpura-pura tidak
mengetahuinya. Agar pada akhirnya dia tidak tersakiti, aku tidak mau orang yang
menyukaiku merasa tersakiti meskipun pada akhirnya aku tidak membalas rasa
sukanya. Aku menghargai usaha eonnimu.” Jungkook.
“Hm, kau namja yang sangat baik. Gumawo.” Dana sambil
menepuk-nepuk pundak Jungkook.
“Yasudahlah, seharian aku sudah mengobrol serta bermain
denganmu. Gumawo sudah mengajakku untuk bermain kerumahmu, aku akan pulang
mungkin eonniku sudah mencariku.” Pamit Dana, lalu Dana berjalan pergi untuk
pulang.
“Chakkaman, aku akan mengantarmu pulang.” Jungkook.
“Oh, Gwenchana? Apa tidak merepotkanmu? Bukankah hari sudah
hampir malam.” Dana.
“Gwenchana.” Jungkook.
~Saat diperjalanan~
“Jungkook kenapa kau mengambil arah sini? Bukannya akan
lebih jauh untuk menuju rumahku?” Dana.
“Haha, gwenchana. Kau nikmatilah.” Jungkook sambil mengayuh
sepedanya.
“Danaya, bukankah besok hari minggu?” Tambah Jungkook.
“Ne, wae?” Dana.
“Maukah kau besok bermain denganku?” Jungkook.
“Mwo? Bermain denganmu? Hm, sebenarnya aku disuruh eonniku
untuk menjaga rumah seharian karna dia juga akan pergi besok. Tapi akan
kuusahakan.” Dana sambil menikmati perjalanan.
“Gumawo, Danaya besok aku akan mengatakan sesuatu kepadamu.”
Jungkook.
“Mwo? Kau mengatakan apa, aku tidak bisa mendengarmu.” Dana.
Tiba-Tiba…
“Jungkookkie, berhenti. Hentikan sepedanya!!” Dana.
“Mwo? Memangnya kenapa?” Jungkook, Dana langsung berlari
begitu saja menuju seseorang yang berdiri dipinggir jembatan.
“Jiminnie Oppa, aniya…!!! Oppaa….” Dana terus saja berlari
sambil berteriak.
“Danaya…” Panggil Jungkook lalu kembali mengayuh sepedanya.
“Oppa, kumohon jangan kau lakukan itu!!! Mianhae jika
eonniku telah menyakitimu Oppa.” Dana sambil memeluk kedua kaki Jimin dari
belakang.
“Oppa, kumohon turunlah.” Dana. Lalu Jimin mengurungkan
niatnya.
“Oppa neon paboya?” Dana sambil mengusap air matanya.
“Apa pada akhirnya kau akan mengakhiri hidupmu karna hanya
masalah sepele seperti ini?” Dana, Jimin hanya terdiam.
“Kajja aku akan mengantarmu pulang.” Dana. Lalu Dana menoleh
kearah Jungkook.
“Apa kau ikut denganku?” Dana. Jungkook menganggukan
kepalanya.
~Setelah mengantarkan pulang…~
Jungkook tidak lagi mengayuh
sepedahnya melainkan menuntunnya dan berjalan sama seperti Dana.
“Danaya… Apa kau menyukai namja di jembatan itu?” Jungkook.
“Ne, Nae joha.” Dana.
“Tetapi aku dengar tadi bukankah dia tersakiti karna
eonnimu, jadi dia namja eonnimu begitu?” Jungkook.
“Ne, dia namjachingu eonniku.” Dana.
“Tetapi kenapa kau malah menyukai namja eonnimu sendiri?”
Jungkook.
“Sebenarnya aku telah menyukainya terlebih dahulu dan aku
juga telah berteman lama dengannya sebelum aku mengajaknya bermain kerumahku,
aku dengannya berteman begitu lama sampai pada akhirnya aku mulai menyukainya
tetapi dia tidak pernah mengetahui perasaanku bahkan dia tidak pernah
melihatku. Sejak itulah aku mengajaknya main kerumahku dan dia bertemu dengan
eonniku, dia begitu cepatnya langsung menyukai eonniku. Awalnya aku tidak
mengetahuinya kalau dia menyukai eonniku sampai dia mengatakan sendiri kepadaku
dengan jelas kalau dia sangat menyukai eonniku.” Jelas Dana.
“Bukankah itu sangat sakit?” Jungkook yang menoleh kearah
Dana. Danapun mengentikan jalannya.
“Hm, sebenarnya sebelum aku mengajaknya bermain kerumah
eonniku sudah mengetahui kalau aku menyukai Jimin sangat lama.” Dana.
Dana balik menoleh kearah Jungkook “Saat aku mendengarkannya
sendiri dari mulutnya, seakan-akan nafasku saat itu juga mulai berhenti dan
sangat sakit. Tapi aku berusaha untuk memendam semua rasa sukaku aku pedam
sangat dalam, semua itu aku lakukan hanya untuk eonniku.” Dana.
Sampailah didepan rumah Dana “Jungkookkie, bisakah besok aku
mengajak Jimin Oppa juga? Aku hanya tidak ingin melihat oang yang aku sukai
merasa sakit. Jika tidak boleh tidak apa-apa kok.” Dana.
“Hm, sudahlah ajaklah dia.” Jungkook. Danapun masuk kedalam
rumah.
Jungkookpun kembali menaiki
sepedanya dan mengayuhnya tapi tiba-tiba disaat Jungkook mengayuh dengan
kencangnya air matapun berjatuhan dari matanya.
“Aku
tahu Dana, aku merasakan hal yang kau rasakan. Aku tahu mungkin yang membuatmu
tidak akrab sampai sekarang dengan eonnimu adalah namja itu.” Batin Jungkook.
“Dana
mulai besok aku berjanji aku akan mengubah semua kenanganmu itu dan mengapus
rasa sakit yang kau pendam bertahun-tahun.” Bantin Jungkook lagi.
~Setelah Jungkook sampai dirumahnya~
“Ya’ lelahnya…” Jungkook menghempaskan badannya ditempat
tidur.
“Jungkookie kenapa ada 8 bekas tempat susu kotak ini kau simpan
disini?” Jungkook eomma yang tiba-tiba berada dikamar Jungkook.
“Eomma, oh aniya aku hanya mengoleksinya saja. Eomma
sudahlah aku lelah.” Jungkook menuntun Eommanya untuk keluar dari kamarnya.
Lalu Jungkook menyandarkan badannya dibalik pintu kamar
miliknya “Hampir saja.” Jungkook menoleh kearah bekas susu kotak yang diminum
oleh Dana.
Jungkook kembali lagi untuk
menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya untuk tidur.
“Ah, kasur ini sangat nyaman.” Jungkook.
Beberapa jam kemudian, jungkook
terbangun dari tidurnya.
“Apakah sudah pagi?” Jungkook melihat jam dinding
dikamarnya.
“Ya’ kenapa lama sekali, god tolonglah percepat waktu.
Terbitkanlah matahari dengan cepat, aku terus saja memikirkan hari esok
dengannya.” Jungkook yang lagi menghempasnya tubuhnya.
To Be
Continue…







.jpg)
0 komentar:
Posting Komentar