Selasa, 07 April 2015

"24/7 = Milk Box" (Chapter 3 = Ending)



Chapter 3
Bertemu denganmu di hari minggu, menunggu untuk hari minggu ini.”
~Keesokan harinya~
Jungkook telah bangun dari tidurnya, setelah selesai mandi dan berpakaian dengan cepat Jungkook berjalan menuju kesebuah kaca dikamarnya untuk merapikan dirinya lagi.
“Aku terus melihat ke kaca
Hatiku tetap berpacu
Aku tidak mau mengatakannya lagi
Terasa seperti aku tidak mau mengatakannya lagi
oh kau, membuat
Hariku seperti dalam film
Hari ini hari minggu, hari demi hari, hari minggu
Tiba-tiba Tersenyum beberapa waktu sehari
Aku pikir aku akan tersenyum.”
Jungkookpun tersenyum malu jika memikirkannya terus.
***
“Eonni sudah jam 9 pagi kau tidak pergi?” Tanya Dana yang duduk melihat acara di tv.
“Aniya, seseorang yang aku ajak tidak bisa pergi karna dia ada urusan yang juga akan pergi hari ini.” Hye Ri.
“Yasudah kalau begitu aku saja yang akan pergi keluar.” Dana.
“Pergilah kalau kau mau pergi.” Hye Ri.
“Jinjja? Gwenchana?” Dana, Hye Ri menganggukan kepalanya.
“Ne pergilah, tapi kau akan pergi dengan siapa?” Hye Ri.
“Kau tidak usah perlu tahu eonni, kaupun pergi aku tidak perna menanyakan hal seperti itu.” Dana.
“Hya’ bocah tengik! Jika kau pulang nanti akan kukunci pintu masuk rumah.” Ancam Hye Ri.
“Kuncilah, aku akan tetap bisa masuk.” Ejek Dana. Danapun langsung saja pergi meluncur keluar.
“Hya’ bocah, awas kau!!!” Hye Ri.
Dana masih menunggu kedatangan 2 namja yang telah membuat janji kepadanya untuk pergi di hari minggu. Danapun menoleh kearah kanan dari kejauhan Nampak seorang namja yang melanbaikan tangannya kearah Dana dan datang mendekatinya.
“Jungkookkie…” Dana membalas lambaianya.
“Apa kau menunggu lama?” Jungkook.
“Aniya, mungkin aku saja yang terlalu bersemangat untuk bermain dengan kalian berdua.” Dana. Jungkookpun tersenyum.
“Hm, selanjunya kita akan kemana?” Jungkook.
“Apa kau lupa Jimin Oppa belum datang.” Dana.
“Oh mian, aku lupa.” Jungkook tersenyum sambil menggaruk-garuk belakang lehernya.
“Hari ini, hari minggu, matahari memanggilmu untuk bersinar di hari minggu
Kencan pertamaku denganmu, hatiku terus berdebar seperti anak kecil
Sepanjang malam
Aku memikirkanmu sepanjang malam
Aku akan melihatmu, kapan besok datang
Dan aku tidak tahu apa yang harus aku katakan”

Tiba-tiba…
“Hya’ kalian berdua…” Panggil Jimin sambil berlari.
“Apa aku terlambat?” Jimin.
“Aniya Oppa, kau tepat waktu kami juga baru datang.” Dana. Lalu tangan kanan Dana menggandeng tangan kiri Jimin dan tangan kiri Dana menggandeng tangan kanan Jungkook.
“Kajja, kita menghabiskan hari minggu kita bersama.” Dana.
“24/7 semua hari, aku hanya memikirkanmu
Kencan pertama kita yang aku tunggu-tunggu
Aku rasa ini  akan manjadi hari yang spesial, aku bisa jadi gentleman
Karena aku pacarmu
Setelah berpikir tentang itu untuk beberapa saat
Aku terbangun sepanjang malam
Kapan matahari tebit
Kenapa sangat lama? Aku marah pada jam
Namun sejak aku mulai berkencan denganmu, aku merasa seperti terisi penuh”

Lalu mereka bertigapun berjalan menyusuri taman kota bersama, mereka bertiga memang benar menepati janji mereka masing-masing untuk pergi menghabiskan waktu hari minggu mereka.
“Jungkook, Jimin Oppa apa kau tahu hanya dalam 7 hari dan 1 harinya yaitu 24 jam kita bisa melakukan ini, kajja aku tidak mau menyia-nyiakan 24 jam dalam 7 hari itu.” Dana. Jimin dan Jungkookpun tersenyum.
Mereka bertiga layaknya seorang merebutkan sepasang kekasih, tetapi mereka tidak menampakkannya. Mereka bertiga sangat bahagia dan benar-benar menikmati hari minggu mereka bersama.
“Oppa bisakah kau mendapatkan gantungan susu kotak itu?” Tiba-tiba Dana melepaskan tangan Jungkook dan masih menggandeng tangan Jimin. Jungkookpun terkejut.
“Ne kajja kita dapatkan itu.” Jimin, lalu Dana berjalan dengan Jimin dan Jungkook berjalan dibelakang mereka.
“Ahjussi berikan bolanya, aku ingin melemparkannya.” Jimin.
“Hm, ahjussi jika Oppa ini dapat menjatuhkan semuanya ketiga gantungan susu kotak itu harus menjadi milik kita.” Dana.
“Ne, aku setuju. Aku memberikan 3 bola untuk kalian.” Jawab Ahjussi itu, Jungkook hanya diam melihatnya.
Jiminpun melempar tapi gagal lalu “Mana Hyung berikan bolanya kepadaku, begitu saja kau tidak bisa.” Jungkook. Lalu Jungkook melemparnya dengan sangat kencang dan BRAKK kaleng yang dilemparnya dengan bolapun terjatuh semua.
“Wah jungkookkie kau daebak!!!” Jimin.
“Oppa, kita menang….” Teriak Dana yang langsung memeluk Jimin.
“Danaya kau tidak memberi ucapan selamat kepadaku? Misalnya memelukku seperti yang kau lakukan kepada Jimin Hyung?” Jungkook.
“Kau ingin? Kemarilah.” Dana melapangkan kedua tangannya.
“Chukkae, kau memang hebat namja susu kotak.” Dana sambil menepuk-nepuk Jungkook, Jungkookpun tersenyum malu, jiminpun juga ikut tersenyum.
“Ini aku berikan kepada kalian, ambilah.” Ahjussi.
“Gamsahamnida Ahjussi.” Jungkook.
“Kajja kita pakai gantungan ini di ponsel kita masing-masing.” Jimin. Dan mereka bertigapun melakukannya.
~Setelah lamanya mereka bermain…~
“Oppa aku lapar, tidak bisakah kalian para namja membelikanku sebuah makanan.” Gerutu Dana.
“Ne, ne aku akan membelikanmu makanan. Kalian duduklah disini, aku akan mencarikan makanan untuk kita.” Jimin.
“Yasudah Oppa, cepatlah perutku mulai lapar.” Dana. Lalu Jungkook dan Danapun duduk bersama untuk mennggu kedatangan makanan mereka. Mereka duduk dikursi pinggir jalan yang sudah disediakan disana.
Beberapa menit kemudian…
“Danaya apa kau ingat kemarin?” Jungkook.
“Ingat apa?” Dana.
“Yang aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.” Jungkook.
“Oh itu, mian kemarin aku tidak mendengar suaramu. Jadi aku tidak tahu.” Dana.
“Tetapi kenapa kau malah canggung seperti ini? Biasalah bukankah kita berteman? Coba katakanlah aku akan mendengarkannya.” Dana.
Jungkook menghembuskan nafasnya lalu menghadap kearah Dana serta memegang kedua tangan Dana “Danaya, aku menyukaimu.” Jungkook.
Sontak Dana terkejut “Kau menyukaiku? Apa kau ngelantur?” Dana.
Lalu tangan Jungkook menyentuh kedua pipi Dana dan Jungkook mencium kening Dana. Seketika bulu kuduk Dana mulai berdiri, Dana hanya melihat kebawah karna malu.
“Apa itu cukup?” Jungkook. Dana hanya terdiam malu.
“Apa kau akan menerimaku?” Jungkook. Dana tidak bisa mengatakan apa-apa karna malu dengan perbuatan Jungkook.
“Aku melakukan hal ini karna aku tidak mau melihatmu terus saja memendam rasa sakitmu sendiri Dana, aku ingin merubahnya.” Jungkook, seketika Dana menoleh kearah Jungkook.
“Apa yang kau katakan semua itu benar?” Dana.
Jungkook menganggukan kepalanya “Ne, aku mengatakan yang sebenarnya.” Jungkook, dengan cepat Danapun memeluk Jungkook.
“Ne aku akan menerimamu.” Dana.
“Gumawo.” Jungkook.
Tiba-tiba…
“Hya’, bocak tengik lepaskan pelukanmu dengan Jungkook!!” Hye Ri yang tiba-tiba muncul.
“Eonni kenapa kau disini?” Dana langsung berdiri.
“Noona, kenapa ada disini? Kau juga ikut untuk menghabiskan hari minggumu bersama kami?” Jungkookpun juga berdiri.
“Aniya, aku tidak menghabiskan waktu mingguku bersama kalian. Jungkookie bukankah kau sudah janji denganku untuk pergi bersama?” Hye Ri.
“Noona sebenarnya disaat kau mengajakku untuk pergi aku ingin menlaknya tapi aku merasa tidak enak denganmu.” Jungkook.
“Yasudahlah eonni kau bergabunglah dengan kami, kau pasti suka.” Sela Dana.
“Kau diamlah bocah tengik, bukankah aku sudah pernah bilang kepadamu kalau aku menyukai Jungkook tetapi kau malah menerimanya menjadi namjamu! Keponakan macam apa kau ini?” Hye Ri.
“Eonni akupun sama sepertimu, apa kau lupa dulu aku juga sudah mengatakan hal yang sama sepertimu saat ini. Aku dulu menyukai Jimin Oppa tapi apa setelah aku mengajaknya bermain kerumah dan kau tahu kalau aku menyukainya dan saat itu dia menyukaimu kau juga menerimanya begitu saja, tanpa memikirkan perasaanku.” Dana.
Tiba-tiba Hye Ri menarik kerah baju Dana keatas “Hya’ kau seharusnya bersyukur kau mempunyai aku Dana, aku yang setiap hari selalu membutuhi kebutuhnmu.” Hye Ri.
“Eonni, kau menariknya sangat kencang. Leherku sakit aku hampir tidak bisa bernafas, eonni…” Dana.
“Noona tolong lepaskan tanganmu darinya!” Jungkook.
“Diamlah kau Jungkook jika kau mendekat aku akan menariknya lebih kencang.” Hye Ri.
“Seharusnya kau ini berterimakasih kepadaku Dana, karna aku kau bisa hidup sampai saat ini. Apa kau tidak bisa melihat eonnimu ini bahagia sedikit? Dan tidak selalu melihat eonnimu menderika karna harus menaggung biaya hidupmu!!!” Hye Ri.
“Eonni lepaskan, aku tidak bisa bernafas.” Dana sambil memukul-mukul tangan Hye Ri.
Akhirnya Hye Ri melepaskan tarikannya lalu setelah Hye Ri menarik Dana ia mendorongnya ke jalan.
“Kau seharusnya berterimakasih kepadaku Dana.” Hye Ri.
Dana masih menepuk-nepuk dadanya karna sesak akibat tarikan Hye Ri, lalu Dana melihat kearah Hye Ri dan BRAKK... Sebuah mobil menabrak Dana sangat kencang, Hye Ri yang berada didepan tepat Dana tertabrakpun terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Jungkookpun langsung berlari kearah Dana, Jimin yang saat itu datang tepat Dana tertabarak mobil makanan yang ia belipun jatuh kebawah. Dengan cepat Jimin juga berlari kearah Dana.
Danapun tertabarak dan terjatuh 2 m dari sebelum ia tertabrak, Jungkookpun datang dan meletakkan kepala Dana dipangkuannya.
“Danaya… Neon gwenchana? Danaya…” Teriak Jungkook.
Dana saat itu berlumuran darah disekujur tubuhnya, Jungkook tidak bisa berkata apa-apa air matanyapun mulai berjatuhan sampai seluruh baju Jungkookpun juga terkena darah. Jungkook melihat darah Dana berlumuran ditangannya begitu banyak.
“Dana, hajiman. Hajiman…!!! Bangun Dana palli bangun.” Jungkook yang mengoyang-goyangkan badan Dana.
“Jungkook, Dana Gwenchana?” Jimin.
“Hyung eotheohkae? Aku tidak mau kehilangannya.” Jungkook, lalu dengan cepat Jimin mengangkat Dana dan membawanya kerumah sakit.
~Di Rumah Sakit~
Jimin, Jungkook dan Hye Ri menunggu Dana didepan ruang UGD, Jungkookpun tidak henti-hetinya mengeluarkan air matanya. Jimin hanya bisa menenangkan Jungkook, sedangkan Hye Ri yang sudah dianggap sendiri sebagai eonni kandung oleh Danpun mulai khawatir dengan Dana.
Akhirnya Danapun bia diselamatkan dan dipindah ke kamar untuk pasien. Jungkookpun memegang erat tangan Dana terus menerus.
“Hyung aku tiak ingin kehilangannya.” Jungkook.
“Aku juga menginginkan hal itu, semoga Dana bisa bangun dari komanya.” Jimin.
Hye Ri hanya terdiam dan terus melihat serta berdiri disamping Dana.
“Noona apa kau puas? Apa kau puas dengan semua ini?” Jungkook.
“Aniya, aku tidak puas. Aku merasa bersalah, mianhae.” Hye Ri.
“Noona asalkan kau tahu, Dana telah berjuang untuk memendam rasa sukanya kepada Jimin Hyung. Bukankah sebenarnya disini yang jahat adalah kau karna kau menyakiti hatinya?” Jungkook.
“Mwo? Nae? Dana menyukaiku?” Jimin.
“Hyung apa kau tidak merasakan selama kalian dulu berteman sangat lama, bukankah Dana selalu memberikanmu hal yang sangat special dan apa kau tidak merasakan kalau kau itu dianggap Dana menjadi orang yang angat special untuk dirinya?” Jungkook.
“Apa dia bertahun-tahun memendam rasa sakitnya sendiri? Asih, yeoja pabo!” Jimin, lalu Jimin duduk disebuah sofa sambil menundukkan kepalanya.
“Hye Ri, kumohon bisakah kau pulang?” Jimin.
“Tapi Jimin-ah…” Hye Ri.
“Kumohon pulanglah, GHA!!” Jimin, Hye Ripun berjalan keluar membuka pintu kamar Dana.
~Keesokan harinya~
Keesokan harinya Jungkook melihat Dana sedang duduk diatas tempat tidur di ruang rawatnya dan tersenyum sambil melihat kearah Jendela.
Jungkook juga melihat Dana menghempuskan nafasnya sambil tersenyum bahagia. Dana menoleh kearahnya juga sambil tersenyum
“Jungkookie? Apakah itu kau?” Dana. Dengan cepat setelah Jungkook membuka pintu kamar rawat Dana ia langsung memeluknya.
“Dana, neon gwenchana? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Jungkook.
“Ne, nae gwenchana. Gumawo sudah menjagaku semalaman bersama Jimin Oppa.” Dana.
“Saat ini juga aku akan terus menjagamu, aku tidak mau hal ini terulang lagi.” Jungkook yang melepaskan pelukannya.
“Aku pikir kau tidak usah menjagaku lagi.” Dana tersenyum dihadapan Jungkook.
“Bagaimana maksudmu?” Jungkook.
“Aniya, gumawo sudah menjadi namjaku untuk terakhir kalinya.” Dana.
“Mwo? Kau ini berbicara apa?” Jungkook.
“Kemarilah aku ingin memelukmu.” Dana melapangkan tangannya seperti di hari minggu kemarin.
Setelah mereka berpelukkan Dana mengucapkan sesuatu ditelinga Jungkook “Jungkookkie gumawo telah menjadi namjaku yang terakhir untuk selamanya, gumawo. Saranghae Jungkookie.” Dana.
Tiba-tiba Jungkook terjatuh ditempat tidur dikamar rawat Dana dan Dana sudah tidak ada dipelukan Jungkook lagi.
 *NIT,NIT,NIT,NIT,NIT,NIT* Jungkookpun terbangun dari tidurnya yang masih memegang tangan Dana, alat itupun berbunyi sangat kencang sampai membangunkan Jungkook dan Jimin.
“Hyung, apa yang terjadi?” Jungkook.
Dokter dan perawatpun seketika mulai berdatangan dikamar rawat Dana, Jungkook dan Jiminpun keluar untuk menunggu didepan. Jungkook melihat dari balik pintu alat pacu jantungpun dikeluarkan semua alatpun telah dikeluarkan, Jugkookpun membalikkan badannya lalu dudk didekat Jimin.
“Hyung, eotheohkae? Aku takut.” Jungkook.
“Tenanglah Jungkook, aku yakin Dana pasti akan selamat.” Jimin yang terus menepuk punggung Jungkook.
Beberapa menit kemudian dokter dan seluruh perawat itupun keluar dari kamar rawat Dana. Jimin dan Jungkookpun terkejut.
Jungkookpun berlari kedalam kamar rawat Dana, Jungkook tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Seluruh tubuh Dana telah ditutup oleh selimut putih, dokter dan seluruh perawat yang telah keluar itupun Nampak murung. Jiminpun juga ikut masuk kedalam.
“Danaya bangun… Danaya…!!!” Teriak Jungkook histeris.
Jiminpun meneteskan air matanya dan mendekat kearah Jungkook.
“Jungkook, aku tahu dia telah bahagia disana. Ikhlaskanlah kepergiannya.” Jimin.
“Hyung, kemarin aku baru saja menyatakan perasaanku kepadanya dan Dana telah menerimaku menjadi Namjanya lalu dengan cepatnya dia meninggalkanku?” Jungkook yang menangis sesengukkan.
Jimin hanya terdiam saja, Jimin tidak bisa lagi berkata apa-apa. Jungkook masih tetap menangis dan terus saja memegang erat tangan Dana yang tidak lagi bernyawa. Pada hari itu Dana telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Baru saja kemarin Dana bermain dengan Jungkook serta Jimin dengan begitu banya canda dan tawa tetapi Jungkook tidak menyangka begitu cepat Dana meninggalkannya.
~Dihari pemakamannya~
Pada hari itu semua mata berderai degan air mata yang mengalir begitu saja, Jungkook hanya pasrah dengan kepergian Dana. Jiminpun berjalan untuk pulang karna ia tidak tahan dengan orang selama ini memendam rasa suka kepadanya dan sekarang pergi meninggalkannya begitu saja. Jimin berjalan menuju kemobilnya dan menunggu Jungkook didalam mobil karna ia datang bersama Jungkook.
“Jiminnie…” Panggil Hye Ri.
Jimin menoleh kearah Hye Ri “Kumohon jangan berbicara dengan aku lagi, aku ingin semua hubungan kita berakhir sampai sini.” Bilang Jimin yang melanjutkan jalannya.
Hye Ripun hanya bisa terdiam lalu ia berjalan menuju tempat terakhir Dana, disana Hye Ri melihat Jungkook sendirian menangisi kepergian Dana lalu ia mendekatinya.
“Jungkookie… Neon Gwenchana?” Hye Ri.
Jungkook mengusap air mata yang jatuh dipipinya. Lalu menoleh kearah Hye Ri.
“Kenapa kau kesini?” Jungkook yang langsung berdiri.
 “Bukankah dia adalah keponakanku? Semua orang boleh mengunjunginya bukan?” Hye Ri.
“Kecuali kau noona.” Jungkook.
“Kenapa harus aku? Aku adalah eonninya yang selalu bersamanya, bagaimana bisa aku tidak diperbolehkan melihat dongsaengnya untuk terakhir kalinya?” Hye Ri.
“Kau bukanlah eonninya Dana, kau hanyalah keponakannya yang sangat kejam. Apa kau tidak melihatnya untuk terakhir kalinya kemarin? Setelah kau mendorongnya ke jalan dia sepat melihatmu dengan wajah yang bersalah, apa kau tidak melihatnya?” Jungkook.
Hye Ripun terjatuh kebawah “Danaya, mianhae. Maafkanlah eonnimu ini Dana, eonnimu ini memang bodoh. Bahkan aku tidak pernah merasakan perasaanmu diasaat aku menjalin hubungan degan Jimin, mianhae Dana. Jinjja Mianhae.” Hye Rin.
“Noona mulai saat ini, berhentilah menjadi guru private belajarku. Aku lelah noona.” Jungkook yang berjalan menuju ke mobil Jimin.
Jungkoook masih tidak percaya atas kepergian Dana yang sangat begitu cepat, Jiminpun juga seperti itu tidak percaya dengan apa yang ia alami.
“Gumawo Jungkook namja susu kotak serta namjaku dan gumawo Jimin Oppa, disaat hari terakhirku aku sempat tertawa bercanda gurau dengan kalian berdua. Gumawo kalian telah memberikan kenangan yang tidak pernah akan aku lupakan untuk selamanya.”
Seo Dana.

The End.

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar