Selasa, 06 Desember 2016

My Life In 2016



Original story by Shyqilla Nabiila Daffa (SN.d)
FF ONESHOOT
Main cast : Ryo Cho Mu, Jung Sa Ka, Seo Dana, Hyo So Ta
Other cast: Han Hiya, Park Keli, Kim Luna
Genre : Hurt romance
 (INSPIRED BY SND STORY)
Januari 2016
Pandangan kedua mataku hanya tertuju kesebuah objek yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Seperti waktu berhenti dan terhenti kepadamu dan karenamu.
Entah mungkin karena aku terlalu hanyut didalamnya atau bagaimana? Ketika kedua matanya menyipit, bibirnya tersenyum lebar, gigi putih susunya yang terlihat saat ia tertawa dan itu semua membuatku benar-benar hanyut karenanya.
Akupun mulai memikirkan suatu hal, disaat tahun 2015 aku telah patah hati. Menyukai seorang sahabatku sendiri dan itu membuatku sangat sakit.
Saat itu aku sedang duduk sendirian didalam kelas, moodku sedang down. Pikiranku sedang tidak normal mungkin lelah atau stress. Seseorangpun datang ia duduk didepanku, dengan cara entah bagaimana ia membuat bibirku menggambarkan sebuah senyuman.
Saat aku tertawa iapun menatapku, entah ia memikirkan hal apa.  Waktupun begitu cepat setelah mengetahui aku baik-baik saja iapun meninggalkanku.

Februari 2016
Aku terus memikirkan perasaanku yang mulai tumbuh sedikit demi sedikit ini. Tetapi aku tidak terlalu banyak untuk memikirkannya. Tetapi ada kalanya juga aku memikirkannya hal kecil ini. Mungkin aku masih labil kadang bertingkah laku tidak sesuai perkataan yang telah aku ucapkan.
Pikiranku sedang kosong saat itu, aku hanya bermain dengan menggeser berulang kali layar ponselku. Iapun datang lalu duduk disampingku, aku menatap wajahnya sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu. Entah apa...
Cukup lama ia duduk disampingku, sebenarnya aku ingin menanyakan apa yang sedang ia alami karena aku teman perempuan sekelasnya yang bisa dikatakan cukup dekat dengannya, mungkin jika aku cukup dekat ia bisa sedikit terbuka denganku dan mungkin juga aku bisa memberikan saran jika ia ada masalah. Tetapi aku terus memikirkannya berulang kali sampai...
“Kau tidak apa-apa?”
Ia hanya menatapku tetapi aku mengalihkan pandanganku dengan menggeser berulang kali layar poselku. Tanpa aba-aba ia pergi begitu saja.
Itulah pertama kalinya volume detak jantungku tidak karuan karna ia menatapku  hanya beberapa detik saja, ia bisa membuat jantungku terkoyak.

Maret 2016
Perasaanku mulai tidak karuan, aku sangat membencinya. Apa mungkin benar tentang perasaanku ini? Bagaimana bisa aku menyukai sahabatku lagi? Apa aku tidak takut jika kejadian tahun lalu terulang kembali? Jelas! Sudah terjawab! Aku tidak mau kejadian tahun lalu itu terulang kembali dengan menyukai sahabatku sendiri. Aku sangat membencinya, semua tentang perasaanku saat ini.
Ini membuat perasaanku benar-benar seperti terulang ke masa lalu dimana aku menyukai seseorang tetapi dengan egoisnya ia tidak memikirkan perasaaku sama sekali. Aku takut semua itu terulang kembali. Ini semua membuatku gelisah hingga...
“Dana... Kau tidak apa-apa?”
Akupun menoleh, ia sedikit khawatir denganku. Ia adalah teman sebangkuku Han Hiya, dia mengetahui semua tentang perjalanan cerita cintaku. Dimana karena hanya aku menyukai seseorang aku jarang masuk sekolah karena sakit. Ia sangat khawatir. Mungkin aku sungguh berlebihan karena menyukai seseorang saja aku bisa sakit, tapi itulah yang terjadi waktu itu aku tidak bisa mengelak.
Kuceritakan semua yang aku rasakan dan ia berkata “Gwenchana. Tidak apa-apa.”
“Aniya! Tidak mungkin. Bagaimana bisa aku menyukainya?” Tanyaku.
“Apanya yang tidak mungkin. Sudah jelas sekarang ini kau bimbang menyukainya atau tidak. Hya’ dengarkan kata-kataku ini, manusia berkata tidak mungkin hanya untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana untuk kesempatan yang kedua nanti? Tidak mungkin itu akan menjadi mungkin.” Jawab Han Hiya.

April 2016
Sesuai berjalannya waktu. Aku harus menjawab sedang apa dan kenapa dengan perasaaku ini yang selalu membuatku gelisah. Memang tahun lalu adalah masa terkelam dalam hidupku dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Aku telah berjanji menutup hati dan persaanku untuk menyukai orang lain.
Tetapi aku hanyalah seorang manusia, seorang perempuan yang lemah yang tidak bisa lari dari sebuah kenyataan bahwa aku menyukai sahabatku. Ryo Cho Mu...
Aku pernah mengatakan dengan nada tinggi “Untuk apa menyukai Cho Mu? Namja seperti Cho Mu saja! Hah!”
“Apa yang disukai dari Cho Mu? Kenapa kau menyukai Cho Mu coba?”
Semua perkataanku itu keluar begitu saja dari mulutku pada tahun lalu dan apa sekarang? Aku malah berbalik arah menyukainya. Aku menarik semua perkataanku. Aku menelan sendiri semua perkataanku terhadap Cho Mu. Apakah ini hukuman? Atau sebuah kebiasaan jika seorang tidak menyukai seseorang itu dan ia menjelek-jelekannya ia akan berbalik rasa benci itu menjadi rasa suka? Apakah seperti ini?
Akupun berusaha bersikap seperti biasa dengan tidak terlalu menampakkan perasaanku.

Mei 2016
Kamipun berkumpul seperti biasa bermain bersama meluangkan waktu bersama untuk menikmati hari. Entah bagaimana awalnya topikpun berganti menjadi tentang perasaan. Kami memang dekat Aku, Jung Sa Ka, Hyo So Ta dan Ryo Cho Mu. Karena kami selalu bermain, mengerjakan tugas dan keluar bersama-sama mungkin itu yang membuat kami ber-4 menjadi dekat. Suatu ketika topikpun menjadi...
“Kemarin Cho Mu memikirkan So Ta.” Sa Ka.
“Hee? Aku pikir itu tidak mungkin.” So Ta.
“Hya’ kau memikirkan hal itu? Mana mungkin aku memikirkan So Ta, kau tahu bukan kami sudah berteman sejak sekolah dasar.” Cho Mu.
Akupun hanya menatap Cho Mu dengan tatapan sayu, apa mungkin kejadian tahun lalu akan terjadi kembali? Seperti dulu aku menyukai Sa Ka tetapi kenyataanya Sa Ka menyukai So Ta?
Dengan lirih sebuah perkataan muncul lewat bibirku “Apa itu benar?”
Iapun menatapku dengan ekspresi wajah sedang memikirkan sesuatu lalu “Ne. Benar aku tidak memikirkan So Ta.”
~Keesokan harinya~
“Dana-ya...” Sa Ka.
Dari kejadian tahun lalu hubungan pertemanan kami menjadi dekat dan kami telah benar-benar melupakan kejadian itu. Mungkin tidak sepenuhnya tapi setidaknya kami telah menghilangkan rasa canggung kami dan dia adalah orang pertama yang mengetahui kalau aku menyukai Cho Mu.
“Kemarin Cho Mu mengatakan sesuatu kepadaku.”
“Mwo? Mengatakan apa?”
“Ia mengatakan “Sa Ka-ya sepertinya Dana menyukaiku.” Dia mengatakan seperti itu kepadaku.”
Kedua mataku membulat sempurna dan degup jantungku semakin cepat. Aku bingung harus melakukan apa, karena itu merupakan reaksi pertamaku dalam menghadapi perasaanku yang baru.

Juni 2016
Bulan dimana pesta perayaan sekolah. Ada bebagai pentas seni didalamnya. Kelas kamipun mendapatkan flashmop jadi kami sekelas harus menampilkannya saat hari jadi sekolah nanti.
Akupun menjadi dekat dengan Cho Mu tapi tidak sepenuhnya. Akupun terus memendam perasaanku. Akupun membicarakannya kepada So Ta, Keli dan Luna merekapun terkejut dengan apa yang aku bicarakan kalau sebenarnya aku menyukai Cho Mu.
Tetapi mereka memakluminya dan mereka mulai mendukungku.

Juli 2016
Kami telah duduk di bangku kelas 2 menengah atas. Kami telah beranjak tumbuh dewasa walaupun tidak sepenuhnya, tetapi perasaanku masih tetapi ada.
Akupun mulai overprotectif dengannya. Karena orang yang menyukai Cho Mu tidaklah hanya aku seorang di sekolah. Dari kelas 1 sampai kelas 3 pasti ada dan aku memakluminya. Sifatnya yang perhatian dan membuat tertawa orang itulah yang membuatnya disukai banyak orang. Disukai dalam hal keterampilannya dan menyukainya dalam hal perasaan untuk memilikinya.

Agustus 2016
Bulan kelahiranku. Tanggal 04 agustus 2016 akupun mendapatkan ucapan dan doa dari banyak orang yang mengenalku, aku sangat senang bahkan berali-kali aku mengucapkan banyak terimakasih kepada orang yang telah mengucapkan kata, keinginan dan doa untuk umurku yang ke 16 tahun ini.
Tetapi aku menunggu seseorang untuk mengucapkan sesuatu di hari spesialku ini. Akupun merebahkan tubuhku ditempat tidur empukku. Kupasang earphone ditelingaku sesekali kubuka aplikasi komik online di ponselku dan membalas chat group kelas hanya untuk menghilangkan rasa kantuk dan bosan.
Kedua mataku telah mengisyaratkan untuk menutup tetapi aku berusaha menolaknya. Ku berusaha bangun sampai tengah malam. Aku benar-benar menunggunya hingga tengah malam hari inipun berganti esok pukul 00:01. Yah, benar ia tidak mengucapkannya. Akupun menutup kedua mataku.
~Keesokan harinya~
Kami sekelas mendapatkan sebuah proyek membuat mading 3 dimensi. Akupun duduk didepannya iapun menatapku lalu kembali mengerjakan proyek kami.
Aku hanya menatap apa yang sedang ia kerjakan lalu...
“Heum, hya orang ini ulang tahun bukan?”
“Hya’ So Ta, apakah orang ini berulang tahun kemarin?”
Ia hanya mengatakan hal itu berulang kali tanpa mengucapkan kata apapun. Tanpa memberi embel-embel “Kau ulang tahunkan kemarin? Selamat ulang tahun ya.” atau “Ciee ulang tahun. Selamat ya. Traktiran jangan lupa.” Itupun tidak.
Fakkk! Hanya batin yang bisa bercerita.
~Beberapa hari kemudian~
“Ini mau pada kemana?” Cho Mu Noona.
“Traktiran Dana. Dana ulang tahun.” Cho Mu.
“Jinjja?” Cho Mu Noona.
“Noonaku juga ulang tahun tanggal 17 kemarin.” Cho Mu.
“Saengil Chukkae Dana.”
What the... Apa itu barusan? Noonanya mengucapkan ulang tahun kepadaku? Hash ini mimpi atau?God? Apa tadi? Bagaimana ekspresiku? Seperti apa wajahku? Apa aku seperti orang bodoh?
“Nugu? Siapa yang ulang tahun?” Cho Mu Eomma.
“Dana, Eomma..” Cho Mu.
“Selamat ulang tahun ya..” Cho Mu Eomma.
AAAAA, sekeluarga tahu aku ulang tahun. Mereka mengucapkan dihari yang sama Oh god kenapa aku terlalu membawa perasaanku disini? Mereka hanya mengucapkan ulang tahun saja dan itu wajar bukan?

September 2016
Aku selalu chat dengan Sa Ka dengan tujuan memantau secara tidak langsung seperti apa saja yang ia lakukan dirumah, sedang apa? Jika Sa Ka tidak membalas aku akan chat terus menerus sampai ia membalas chatku. Aku mungkin telah over terhadapnya tetapi secara tidak sadar itu terlalu menonjol dan sepertinya Cho Mu telah mengetahuinya.
Terlalu terbawa soal perasaan atau takut kehilangannya aku terus seperti ini memantaunya melalui Sa Ka. Ketakutanku adalah jika ia mengetahui kalau aku menyukainya dan ia akan menjauhiku. Tetapi saat aku mendekatinya atau berbicara dengannya responya hanya biasa saja. Mungkin dia belum mengetahuinya.
“Dana-ya...” So Ta.
“Wae?”
“Apa kau benar-benar menyukai Cho Mu?”
“Heum, Ne. Wae?”
“Hm, bukannya apa. Tetapi aku merasa kasihan kepadamu. Sampai kapan kau akan seperti ini? Lihatlah Cho Mu dia namja kurang ajar, aku bingung harus menggambarkan sifatnya seperti apa dan bagaimana. Apa kau benar menyukainya?”
Aku hanya terdiam sesaat dan memikirkan pertanyaan So Ta. “Ne. Naega johaeyo.”
“Geurae. Aku akan mendukungmu.”
 
Oktober 2016
Kebiasaan stalkingku mulai berhenti di bulan oktober ini. Aku telah menyimpulkan bahwa Cho Mu telah mengetahui perasaanku kepadanya. Tetapi aku membiarkanya selama aku masih dekat dengannya tidak masalah bukan?
Banyak perempuan yang menyukai Cho Mu. Tetapi aku tidak menghiraukannya silahkan kalian menyukainya toh aku teman sekelasnya dan teman dekatnya, jadi akulah yang mendapatkan hal yang paling banyak dengan Cho Mu. Bukannya aku ingin memamerkan atau menyombongkan apa yang aku punyai tetapi ini adalah sebuah fakta yang dimana aku harus mensyukuri dengan apa yang aku rasakan dan aku punyai sekarang.
Apakah kalian pernah tertawa bersama? Digonceng? Bermain kerumahnya? Diucapkan selamat ulangtahun dengan Eonni dan Eommanya? Mengerjakan tugas bersama? Bermain hingga larut malam bersama? Makan bersama?
Kalian belum pernah bukan? Aku telah merasakannya.
Tetapi chinguku pernah mengatakan kepadaku sebuah kata-kata yang selalu membuatku terbayang-bayang “Mendung belum tentu hujan dan Dekat belum tentu jadian.”
Akupun mulai lelah menunggunya dan selalu memperhatikannya. Sampai kapan ceritaku seperti ini? Apakah akan seperti ini terus hingga akhir? Sekejab pikiranku memikirkan hal apakah aku harus move on?
Hai!! Itu tidak segampang seperti kau membalikkan telapak tanganmu. Tapi aku memulainya dengan menganti nama kontaknya yang dulu Bantet menjadi Cho Mu.
~Keesokan harinya~
Aku mulai berpikir oke aku akan memperhatikannya sampai dihari ulang tahunnya. Setelah itu aku akan benar-benar meninggalkannya dan mengubur perasaanku ini dalam-dalam.
Didalam kelas aku terus terfokus dengan layar laptopku karena tugas yang belum selesai. Seseorangpun dengan percaya dirinya duduk disampingku dan itu terlalu dekat. Akupun menoleh dan what?
Itu Cho Mu! Wae? Wae? Kenapa kau tidak memberikanku sedikit ruang untuk aku berusaha meninggalkan perasaanku. Aku berusaha keras walaupun itu baru dimulai.
Degan spontan aku mengarahkan posisi dudukku agak menjauh darinya. Aku ingin benar-benar pergi dari perasaanku ini.

November 2016
Bulan kelahiran Cho Mu. Secara fisik aku telah merasakan semua hal kesenangan bersamanya. Tertawa, sedih, pergi, bermain semua telah aku rasakan bersamanya. Aku telah bersyukur karena Tuhan telah memberikanku izin untuk merasakan hal itu tetapi ada sedikit rasa kurang puas di dalam diriku. Aku belum merasakan satu hal yaitu rasa perhatiannya terhadapku.
Tanggal 13 November 2016 aku rela bangun hinga tengah malam hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun terhadapnya dan apa? Ia membalasnya pagi sekitar jam 7. Semua chat dari Cho Mu tidak pernah ku hapus aku selalu membiarkannya.
Akupun berinisiatif menyatakan perasaaku karena aku sudah merancangnya dari tempo hari yang lalu.
Akupun menyatakannya “ Hm, mianhae jika selama ini aku menyukaimu seburuk ini. Aku membuat rasa canggung seandainya kita bertemu atau berkumpul bersama. Aku tahu maksudmu kau pura-pura tidak tahu perasaanku ini. Gwenchana, jika kau tidak menyukaiku. Tapi setiap canggunng tolong kau juga jangan ikut canggung karena itu juga akan membuatku canggung. Aku takut kejadian tahun lalu itu saat aku menyukai Sa Ka terulang kembali. Mianhae, jinjja mianhae jika aku membuatmu tidak nyaman dengan perasaanku. Semisalnya kau sudah mengajakku bicara atau tertawa bersama tolong tetaplah seperti itu, jangan tiba-tiba kau mendiamkanku tanpa sebab itu membuatku semakin bingung.”
Aku sudah menjelaskannya dan merangkai kata sebaik mungkin tetapi ia hanya membalas “Yaelah slow aja Dana. Mungkin itu hanya perasaanmu saja.”
Fakkk sumpah ini. Tetapi gwenchana setidaknya aku telah menyatakannya dan responnya sejauh ini baik-baik saja kepadaku.
Sejak itulah aku dan Cho Mu semakin dekat. Cho Mu selalu chat menanyakan tugas kepadaku dan kami akhir-akhir ini mendapatkan kelompok tugas yang bersamaan dan itu juga membuat kami semakin dekat.
Disaat ia meminta untuk mengirimi foto tugas dengan bodoh dan senangnya aku mengiriminya jelas-jelas kuota internetku sedang menipis dan apa? Keesokan harinya ia tidak mengerjakaanya dan untuk apa aku mengiriminya kemarin?
Lalu disaat malam hujan deras aku mengurungkan niatku untuk pergi les tetapi ia memintaku untuk datang dan mengajarinya. Jelas-jelas hujan dan itu malam, aku sangat tidak suka disaat aku berkendara montor sendiran saat malam hari ditambah lagi hujan, aku sangat membencinya karena suatu trauma dahulu. Dan dengan bodohnya lagi aku melakukannya aku pergi les. Setelah aku mengajarinya susah payah pada akhirnya ia mengatakan “Sepertinya aku sudah tidak mood untuk belajar.”
Hya’ aku rela kehujanan demi kau bodoh! Hanya demi kau bisa mendapatkan nilai baik, aku ingin membantumu dan aku tulus tapi kau menyia-nyiakannya!
Apa aku terlalu baik dan aku terlalu bodoh? Akupun menjawabnya sendiri itu tidak beda tipis. Semua hal disaat ia datang kepadaku dan meminta pertolongan aku selalu dengan tangan terbuka menolongnya tetapi disaat aku meminta tolong kepadanya atau meminta sedikit perhatianya dia menghilang entah kemana. Ucapan terimakasihpun bahkan tidak pernah ia katakan kepadaku, aku tidak butuh barang apa-apa darimu aku hanya ingin rasa terimakasihmu karena aku sudah menolongmu pun itu tidak!
Kenapa aku sebigitu bodohnya? Wae naega jinjja jinjja paboya? Wae? Sudah jelas ia tidak pernah merespon perasaanmu tetapi kau selalu memperhatikannya.

***
Semua yang aku rasakan tidak semudah apa yang aku jabarkan dalam tulisan ini. Begitu sulit aku gambarkan lalu aku tuangkan dalam bentuk kata-kata. Cho Mu sekarang bukanlah Ryo Cho Mu yang dulu seperti yang kalian kenal. Sekarang telah berbeda semua orang mengatakan jalan pikirnya sulit ditebak, pemikiranya luas bahkan hitam seperti dalam gegelapan kalian tidak akan bisa melihat apa-apa seperti itulah bentuknya. Kadang kami tidak menyangka bila ia melakukan hal yang tidak seperti yang kami bayangkan.
Kalian hanya tahu dari luar fisiknya Cho Mu seperti apa bukan? Kalian hanya mengetahui jika ia supel, banyak teman dan banyak orang yang mengenalinya, pemikirannya luas, jago dance, bisa membuat orang tersenyum atau istilahnya moodboster. Itulah yang kalian ketahui dari luarnya. Tetapi ketahuilah semua itu busuk! Kau tahu memang benar ia mempunyai banyak teman tapi kadang kalanya ia masa bodoh dengan teman yang sangat dekat dengannya contohnya teman sekelasnya bagaimana ia memperlakukannya. Ia hanya ingin dilihat dari sudut pandang orang lain atau yang tidak begitu mengenalnya bahwa ia sebenarnya namja yang cool, keren dan tampan. Tapi ia juga ingin dilihat dari sudut teman dekatnya bahwa sebenarnya ia iblis. Cho Mu sangat mempunyai banyak wajah asalkan kalian tahu. Jadi kalian jangan sekali-kali bermain dengannya. Karena ia begitu licik.
***
Desember 2016
Sepertinya acara move onku itu benar-benar gagal malah sekarang perasaanku mulai terbiasa dengan keadaan. Aku telah mengikuti semua seperti alurnya, sedikit demi sedikitku ikuti alurnya bahkan aku tidak tahu bagaimana berakhirnya alur yang aku ikuti itu. Apakah indah atau buruk? Aku tidak tahu.
Biasanya aku selalu chat Sa Ka untuk memantau Cho Mu sekarang aku benar-benar jarang bahkan tidak pernah melakukannya lagi. Dulu selalu bingung ingin chat dengan Cho Mu atau bingung kenapa Cho Mu tidak chat tetapi sekarang aku telah terbiasa apabila tidak chat atau Cho Mu tidak chat.
Seorang teman sekelaskupun mengatakan hal kepadaku “Dana-ya jika ku perhatikan perjuanganmu itu tidak kecil dan tidak sedikit. Kau tahu perjuanganmu sangat besar.”
Apa karena semua tergantung bagaimana waktu dan keadaan yang membawa kita kemana? Dan dalam keadaan seperti apa?
“Dana-ya...” So Ta.
“Ne, wae?”
“Aku ingin menceritakan sesuatu kepadamu.” So Ta.
“Ne, ceritalah aku akan mendengarkannya.”
“Kemarin sore setelah kau pulang. Aku dan kelompokknya Keli masih disini teryata Cho Mu datang kemari dan pertama kali yang ia tanyakan adalah kau. “Dana eodi?” Seperti itu.” So Ta.
“Jinjja? Mungkin ia ingin meminta tolong sesuatu.” Jawabku.
“Lalu aku menyuruhnya untuk mengatarkanku untuk mejilid tugas. Sesampainya ia datang kerumahku dan aku mendekatinya ia berkata “Sebenarnya aku ingin mengerjakan tugas bersama Dana.” Itulah yang ia katakan Dana. Jinjja aku mengatakan dengan sungguh-sungguh aku tidak berbohong.” So Ta.
Aku hanya terdiam. Lantas apa semua itu? Apakah hanya permintaan sebatas pertolongan atau yang lainnya? Kali ini aku menjawabnya lagi, ini adalah permintaan pertolongan sebuah teman.
Ujian semester awalpun tiba. Dihari pertama ujianpun aku bertemu dengan seorang namja, dia adalah Hoobae. Tingkahnya hasshh sangat menjengkelkan dan aku sangat tidak menyukai tingkah lakunya. So Ta pernah berkata kepadaku kalau hoobae itu bisa melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat.
Suatu ketika ia mengatakan kepadaku “Eonni aku sangat kasihan kepadamu. Aku benar-benar kasihan kepadamu. Kau selalu memperhatikannya dari bagian terkecil hingga terbesar terdalam maupan luar tetapi dia tidak.”
Deg!  Akupun hanya bisa terdiam apakah seperti itukah? Kau? Cho Mu? Perjuangku selama ini tidak pernah kau perdulikan? Aku rela melakukan semua hal bahkan sampai hal yang aku takuti dan aku benci aku rela untuk melampauinya.
Akupun menatapnya, ia sedang mengisi lembar kerjanya. “Apa sedikit saja kau tidak pernah memikirkannya seperti apa perjuanganku? Aku telah mengikuti alurnya sebisa yang aku bisa, aku juga lelah mengikutinya. Tetapi sedikit saja kau tidak pernah menoleh untuk melihatku.”
Haripunku lewati dengan duduk dekat dengan hoobae aneh itu dan ia terus mengangguku. Tapi itu membuat aneh bagiku. Di hari pertama ujian saat aku melihat Cho Mu, Cho Mu akan mengatakan sudah selesai? Kurang berapa nomer? Tetapi ini berbeda ia malah memalingkan wajahnya.
Apa dia marah denganku? Karena apa? Hm, mungkin moodnya sedang down atau ada masalah  mungkin dirumah. Akupun tidak menghiraukannya, tetapi ini berjalan terus kamipun tidak berbicara sama sekali.
Biasanya entah sedang apa ia memanggil namaku karena hanya membicarakan hal yang tidak penting sama sekali. Tetapi ini tidak. Oh god apa lagi ini? Kau Cho Mu yang telah memulai permainannya dan aku dengan senang hati mengikuti permainanmu lalu pada akhirnya kau menghilang dari permainan dan membiarkanku sendirian menanggung akhir permainannya.
Akupun berbicara dengan So Ta dan So Ta juga menyadarinya. Lalu ia mengatakan apa karena hoobae yang duduk disampingku itu yang selalu menganggumu? Dan membuat Cho Mu cemburu kepadamu?
Haish tidak mungkin seorang Cho Mu seperti itu. Mungkin hanya moodnya yang sedang tidak membaik dan aku juga tidak ingin terlalu percaya diri dan terlalu membawa perasaan dalam hal ini.
Hingga saat ini dia masih tidak berbicara denganku. Berulang kali aku mencoba membantunya dan aku juga mencoba untuk mengajaknya berbicara tetapi usahaku sepertinya sia-sia, ia tidak meresponya sama sekali.
Entah sampai kapan ia akan mendiamkanku tanpa sebab seperti ini. Kurang sabar seperti apa aku ini? Aku tahu aku hanya bisa menunggu, sabar dan selalu menerima kenyataan bahwa pada akhirnya dan sampai sekarang hanya akulah yang berjuangan sendirian sampai akhir.
Kenapa aku sangat dan benar-benar bodoh seperti ini? Dari awal hingga akhir hanya aku yang memperjuangkan perasaan ini. Banyak chingu seperti So Ta, Keli, Han Hiya, Luna dan teman namja yang lainnya sudah memberiku nasehat dan memperingatiku berhentilah menyukai Cho Mu tetapi aku tidak menghiraukannya dan malah mengikuti hawa nafsuku saja. Memang semua ini salahku, semua permasalahan berawal padaku. Kenapa aku juga harus menyukai Cho Mu bila awalnya aku telah tahu jika aku tidak bisa memilikinya.
Tapi cobalah untuk mengahargai cara prosesku sampai sekarang. Perjuanganku mempertahankan perasaanku terhadapmu. Aku tulus dalam semua hal tentangmu, aku tidak ingin imbalan apapun darimu. Aku hanya ingin kau berbalik, menoleh lalu melihat semua perjuanganku kepadamu selama ini. Itu tidak semudah yang kau bayangkan. Ini sangat sulit dan begitu sakit melebihi tahun lalu.
Aku hanya ingin rasa perhatianmu entah itu dalam bentuk perkataan atau perbuatan bahkan tak terlihat. Aku akan menghargainya walaupun itu kecil. Seandainya sedikit saja kau melihat perjuanganku seperti apa dan sesuli apa? Hah, apakah aku terlalu suka meninggikan imajinasiku? Semua yang aku inginkan mungkin hah bahkan tidak akan pernah terjadi. Itu hanyalah fantasi imajinasi dalam pikiranku.

END.

Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar